Aku mau hidup 200 tahun lagi
Bila harus disandingkan pada teduh sikapmu;
atau aman rangkulmu

blake kathryn
Game of Thrones Daily
dirt enthusiast

Love Begins
No title available
h

oozey mess
taylor price

祝日 / Permanent Vacation
Alisa U Zemlji Chuda
wallacepolsom
hello vonnie

izzy's playlists!

Origami Around
Show & Tell
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
d e v o n

Andulka

titsay
🪼
seen from Netherlands
seen from Uruguay

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from India

seen from Netherlands
seen from Malaysia
seen from Spain
seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Pakistan

seen from United States

seen from United States
@menguning
Aku mau hidup 200 tahun lagi
Bila harus disandingkan pada teduh sikapmu;
atau aman rangkulmu
Well, it’s been a while
Hello! It’s me, menguning. Hope you guys stay safe and sane (well I know it’s hard in the pandemic)
Sorry for not posting anything for these past years, I’m struggling A LOT with my own feelings and college-things so I have to deal with some lack and writer blocks. I always want to come back to tumblr reallyyyy soon but lately it’s hard to stay sane from this excessive task ugh.
yup maybe someday when my healing is done and I have a lot of phrase to share, I will happily to start to write again but not in the near future hehe. See u when I see u! xo
p.s pardon my nazi grammar :(
Tidak mudah menjadi seseorang yang mencintai diri sendiri. Oleh sebab perasaanmu sendiri yang seringkali tidak dapat kau lawan. Perasaan tidak menentu yang telah membuatmu tenggelam dalam ketidakpastian.
Bahkan kau lebih memilih menahan rasa sakit meski sudah dikecewakan berkali-kali. Dengan alasan menjaga perasaan seseorang, takut kehilangan, dan enggan menyakiti, kau lebih memilih bertahan memperjuangkannya sendirian.
Mungkin kau berharap suatu saat waktu dapat mengubah semuanya. Kebahagiaan yang berpihak padamu, pun situasi yang dapat kembali seperti yang kau inginkan. Namun sayangnya waktu tidak selalu menjawab demikian.
Ada kalanya kau harus melangkah pergi, menerima kenyataan pahit yang kau telan sendiri. Menerima kekecewaan yang mungkin saja membuatmu merasa semakin tidak berharga.
Terkadang untuk berhenti disakiti kau memang harus memaksa diri untuk menyelesaikannya. Menghapus harapan, menghapus kenangan, menghapus segala hal indah yang telah kau perjuangkan selama ini.
Bisa jadi sementara waktu kau akan merasa sangat hancur. Tetapi tidak apa-apa, kau akan belajar bangkit dari patah yang membuatmu lelah. Sebab jika bukan kau sendiri yang dapat menjaga perasaanmu, siapa lagi.
Selamat berjuang memeluk diri sendiri.
Can relate.
Ramadhan Kareem
Hari ini, selepas buka puasa di luar dengan kawan, saya sengaja menggantung kunci kamar kos di sisi luar karena akan pergi lagi setelah ini. Lalu ada seseorang mengetuk pintu
"Mba, kuncinya ketinggalan di luar"
Sesederhana itu
Ramadhan Kareem
Kemarin, saya sedang menjalankan sholat tarawih di luar. Lalu ketika hendak witir, ada ibu paruh baya mencolek lututku yang sedang duduk melamun.
"Rambutmu kelihatan"
Sesederhana itu.
Tak seorang pun pantas mendengar keluhmu
Bagaimana bila bukan hanya kau yang menantinya pulang?
Hujan
Sahutan air yang datang terasa memabukkan pendengarnya. Mabuk yang membawamu menjelajahi imajinasi terindah atau mabuk yang membuatmu mual, memilukan hatimu, mendatangkan kenangan yang mulai terkubur.
Sahutan air yang jatuh sebagian membuai orang-orang, menina-bobok mereka yang butuh keheningan dalam pikiran. Sebagian lagi terbangun mendapati pikirannya terlampau kosong dibanding hujan.
Sahutan tetesan yang berasal dari antah-berantah, turun kemari karena angin; meresahkan mereka yang lalu-lalang mengejar waktu. Alis yang bertaut, bibir yang melengkung ke bawah dan gerakan gerakan mereka yang tidak nyaman merutuki hujan, waktu, atau diri sendiri, bahkan orang lain. Tapi karena angin yang meniupkan gumpalan air itu kemari; juga menenangkan hati yang telah lama tersayat. Pejaman mata; lamunan lama; hembusan napas yang lega setelah tertahan; dan tangisan yang dikeluarkan sekencangnya, bersama derasnya hujan.
Air hujan tak segan membawa petir dan gemuruhnya, serta angin dan debunya, entah seakrab apa mereka. Mereka sering kali tak dianggap manusia yang berkegiatan terlindungi dalam gedung. Tapi mereka sering diperhatikan oleh manusia yang akan berkegiatan atau mengemas dekorasi kegiatan di alam terbuka. Memikirkan kerusakan dan lembabnya.
Tetesan hujan yang lama dalam kawasan anti saluran air akan bertahan, menghiasi kawasan mereka dalam beberapa jam, bahkan hari. Tetesan hujan yang berada dalam kawasan bersaluran lancar akan mengalir, untuk kembali mengawan dan jatuh lagi, dimana pun angin membawa, kapan pun matahari menjatuhkannya.
Aku mau bermitra sama kamu, bersama dalam rumit hingga sejahtera
Traveloka Ads
Karena malam, kamu bangkit diingatan
(i)
Angin malam
Menusukkan udara secara tajam
Pada sekujur badan yang terasa lebam
Menyapu pelan
Mata yang terpejam
(ii)
Bintang malam
Bergerombol menjadi susunan
Sinarnya memilukan
Rasaku terbangkitkan
Membuatnya ingin tersampaikan
Seakan terlupa pada kodratnya
Untuk berdiam tenang
Di dalam tumpukan rasa, menggenang
Merajut kasih yang mulai kukenang
Yang lama kemudian mengering
Kemudian meredup dari kuning
(iii)
Sinar bulan menidurkan
Dan semua kenangan
Diredupkan
Seluruh perasaan
Disembunyikan
Wajahmu yang kurindukan
Terlupakan
Alpa
Hujan merintik lagi
Pada setengah jam menuju pergantian hari
Apa yang sedang kutangisi?
Kerinduan yang tak terbendung ini?
Atau menuntut keadilan bagiku?
Ah, mungkin karena keberanianku
Menghujam dia tanpa ampun
Yang tengah berlutut mengaku keliru
.
Dingin menyelimuti kembali
Pada seperempat jam menuju hari sabtu
Apa yang sedang mengusikku?
Cemas dia akan mendiamkanku?
Atau sikapnya yang terasa berkhianat padaku?
Ah, ini sebab rasa bersalahku
Memarahinya tak ada jeda
Padahal ia tengah kesulitan pula dalam keadaannya
.
Hujan sudah berhenti
Pada sepuluh menit menuju dini hari
Apa yang menahanku terlelap?
Mengingat ia ingkar pada kata yang telah terucap?
Atau aku yang gagal mengabaikan kealpaannya?
Ah, sebab rindu aku tak berdaya
.
Kita ini lebih luas dari jarak
Lagi lebih lama dari waktu
Tapi sesekali kau juga perlu menangkapku
Yang terhempas kaku ke arahmu
Lalu akan kutuntun kau agar tau
Agar kita bersama sampai di titik temu
Bukan diam diam saling mencari tahu
Lalu melewati dimana kita jadi lebih utuh
Ungaran, 18 Januari 2019
Duka, biarlah malam membalutmu dengan sunyinya. Berteriaklah, berteriaklah diantara gumpalan yang menutupi seluruh ruang gerakmu
hingga pecah
hingga pecah
hingga sirna
Aku juga ingin dibujuk dan dirayu hingga luluh amarahku beserta rasa bersalahmu
Ibarat kau
Aku menghitung seberapa biru kau pagi ini
Meraba dan mengira
Awan hitam akan merebah pukul 18
Tergantung selama 3 jam setebal hancur yang kau siratkan
Masih pukul 10, pikirku
Pantaskah aku meraih abadimu?
Dan kau merengkuh utuh
Menjadi naungan si asing yang sendu
Pada sadarmu yang rapuh
Aku menghitung seberapa biru kau pagi ini
Mengira dan menerka
Sinar mentari akan kau pantulkan lebih lembut dan menyambut dibanding kemarin
Menatap kilau dan ombak menyatu
Bau anyir laut seakan riuh merebut hirup
Lalu sapuanmu menangkapku
Menenggelamkan segala ragu pada sela jari jariku
Mlati, 15 Desember 2018
“Kantung matanya menebal. Setebal waktu yang dihabiskannya dalam keadaan terjaga. Bawah matanya menghitam. Sehitam malam yang menemaninya.”
—
Dari Tepi Hutan Mangrove
(i) Dari hutan mangrove
Buih tertatih pulang
Meraih peraduan
Pelukan air menangkapku
Melanglang buana
Lantas tenggelam
(ii) Dari arah mentari merebah
Kepakan sayap menyela
Hadirnya sekelebat jejak
Dan ramai tawamu menggema
Menarikku paksa
Lantas terbangun
(iii) Dari langkah ketam yang merangkak
Sumpah, mengapa waktu terasa lamban?
segala asaku menguar
Seluruh nadiku berkobar
Ku tak mau mati cuma cuma
Ku tak mau jadi bangkai sia sia
Ku tak mau lenyap begitu saja
(iv) Dari tepi hutan mangrove
Meradang aku melihat redupnya api ambisi
Kutemui ia yang menjilati udara
Kulebur diriku bersamanya
Dengan semangatku sebagai sumbunya
Dan mimpiku sebagai minyak tanahnya
Jogja, 26 September 2018
Untuk musikalisasi puisi POV VAF 2018
Pelarian
Aku ingin mengembara
Jauh menukik bukit
Gesit menaklukkan langit
Aku ingin mengguncang kapal
Dengan tajam petir
Dan gulungan ombak
Aku ingin memecah laut
Bersapa dengan maujud yang hanyut
Sendirian
Pasir memenuhi sela jari kakiku
Derai ombak mengiringi detak jantungku
Rasa yang telah lama bersarang
Meremuk dadaku dari dalam
Betapa pun sering hatiku mengusirnya
Badai bertahan di otakku
Menghancurkan memori yang ada
Sedang petir memecah tempurung kepalaku
Menyisakan sesuatu yang sia-sia
Menghancurkan jiwa
Seluruhnya
In collab w/ @kataseekormanusia
Yogyakarta-Jakarta