Suara Terindah di Dunia
Selasa, 28/7/2015
Aku seharusnya menuliskan hal ini di jurnal kehamilan yang kutulis untuk dibaca anakku kelak.
Tapi bukunya belum ada, dan sebelum perasaan ini menyublim menjadi hampa di udara, aku ingin segera menuangkannya ke dalam tulisan.
Nantinya, entah akan aku salin kembali ke buku, atau sekedar aku cetak dan aku sisipkan di jurnal tersebut.
Hari ini aku memulai hari dengan cukup baik, meskipun sekarang sudah sudah ngantuk lagi bawaannya :p
Semalam, aku kontrol ke dokter Achmad Mediana, yang dekat kosan (akhirnya!). Antre, tapi untungnya dekat kosan, jadi sambil menunggu, aku bisa pulang dulu ke kosan.
Sebelumnya, aku dan Rangga mengambil hasil tes darah di RSIA KMC. Aku sedih, karena di hasil tes itu dikatakan aku positif Toxo dan Rubella (setidaknya aku yang awam membacanya seperti itu). Aku sudah khawatir, anakku akan berpotensi untuk tumbuh tidak sempurna :(
Tapi lalu dokter menjelaskan, semuanya baik2 saja. Hasil tes darah baik. Katanya virus Rubella dan toxo terdeteksi dalam darahku, tapi dia tidak reaktif. Dengan kata lain, itu adalah “bekas” infeksi terdahulu.
Lalu dimulailah pemeriksaan USG. Sudah mulai membesar, dokter menunjukkan kantung ketuban, kuning telur, dan si janin. Janinnya sudah sepanjang 2 cm. Tentang si kuning telur, dokter bilang aman. Besarnya 6,6 mm. Katanya, batas normalnya 4-8mm. Kurang dari itu lemah, sedangkan lebih dari itu berarti cacat. Janinku normal, alhamdulillah. Ternyata tidak ada kabar yang lebih melegakan daripada mengetahui bahwa anak kita normal :’) . Menurut USG, usia kehamilanku tadi malam 8 minggu dan 4 hari. HPL 1 Maret 2016. Ada kemungkinan lahir tanggal 29 Feb, heheee. (tapi mudah2an engga deh. Walaupun kalau iya, aku yakin itu membuat anakku “spesial” ;) ).
Lalu terjadilah hal itu. Dokter Achmad memperdengarkan padaku suara detak jantungnya.
... dan aku langsung menangis.
Itu suara terindah di dunia, and i never imagined i would ever feel something like that. Rasanya... luar biasa. Ajaib. Ada suatu kehidupan dalam badanku.
And suddenly, nothing else matters anymore. Saat itu, rasanya Cuma aku (& Rangga), dan bayi itu. Rasanya tidak ada lagi yang kuinginkan di dunia, selain melindunginya. Menjaganya supaya tetap sehat, berjuang untuknya. Bahagia untuknya.
Aku tahu, aku pun meyakini kata2 mama bahwa “kamu tak akan tau rasanya hingga kamu betul2 punya anak”. Sebelum ini aku memang percaya, tapi kini, aku betul2 merasakannya. Itu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tidak ada kata-kata di dunia yang sanggup melukiskan perasaan itu. Harus dialami sendiri. It’s beyond anything in this world. Ini seperti kebahagiaan surgawi. Someone is alive inside of me!
It makes me want to fight anything, just to keep him/her safe. It gives me spirit to fight the morning sickness, or the bad mood that has been dragging me down. I’m willing to do anything, anything it takes.
Aku tak tahu perasaan Rangga gimana. Bagaimanapun setengah dari bayi itu ada karena dia, tapi yang merasakan dan menumbuhkan bayi ini kan badanku. Aku tak tau apakah Rangga merasakan keajaiban/keharuan yang sama denganku, namun kuanggap saja ini ikatan eksklusif antara ibu dan anaknya















