Tak Pernah Menyangka
Hari ini adalah deadline pengumpulan tugas kedua dari kelas menulis. Tema dari tugas hari ini adalah tentang Paragon. Berbicara tentang Paragon, hal ini mengingatkan saya pada kejadian 5 tahun yang lalu. Tepat pada bulan Maret tahun 2015, saya sedang proses menyelesaikan tugas akhir (TA). Proses pengerjaan TA yang sedang mandeg dan stuck membuat saya mencari angin segar. Berani-beraninya ya lagi mengerjakan TA eh cari angin segarnya malah mengikuti proses rekrutmen dari PT Paragon Technology and Innovation, atau sering lebih kita kenal dengan nama Paragon. Bukan iseng semata, memang mengikuti rekrutmen dari perusahaan-perusahaan sudah saya rencanakan jauh-jauh hari karena saya memiliki target untuk mendapatkan pekerjaan sebelum saya lulus.
Dari awal mengikuti proses rekrutmen entah mengapa saya sudah yakin akan diterima di perusahaan ini. Mohon maaf ya udah ambisius anaknya kepedean lagi hehe. Singkat cerita saya diterima di Paragon pada April 2015, namun karena saya masih proses mengerjakan TA saya ditargetkan oleh perusahaan untuk memulai bekerja pada awal Agustus 2015 dan saya menyanggupinya. Lagi-lagi kepedeannya tingkat dewa banget, padahal TA lagi bener-bener mandeg hehe. Tapi bener deh menurut salah satu peribahasa orang Sunda yang berbunyi mun keuyeung tangtu pareung yang kurang lebih artinya “jika bersungguh-sungguh maka tujuan yang dicita-citakan akan tercapai”. Ternyata memang setelah mendapatkan pengumuman bahwa saya diterima bekerja di Paragon, entah mengapa Allah SWT memberikan kemudahan kepada saya dalam mengerjakan TA. Hasilnya saya berhasil di wisuda pada 1 Agustus 2015 dan memulai bekerja di Paragon pada 3 Agustus 2015.
Hari pertama bekerja, saya melakukan penandatanganan kontrak dan langsung bertemu dengan Pak Harman di head office. Pak Harman ini adalah salah satu direksi dari Paragon. Setelah itu, saya dan Pak Harman berangkat bersama ke pabrik. Karena memang penempatan saya bekerja adalah di pabrik, tepatnya di bagian logistik. Sesampainya di pabrik saya diminta bertemu dengan bu Ika yang merupakan head of packaging warehouse (kepala gudang packaging). Namun karena bu Ika memang sudah ada agenda, maka hari pertama saya bekerja adalah membaca buku. Hayo ada yang sama gak hari pertama bekerjanya malah baca buku? Hehe.
Hari kedua bekerja, saya bertemu kembali dengan bu Ika dan saya ikut briefing pagi dengan rekan-rekan logistik. Briefing tersebut dihadiri oleh seluruh personil gudang packaging, kalau saya hitung-hitung saat itu sepertinya ada sampai 40 orang. Wah deg-degan dong yang namanya pertama kali bekerja dan langsung dikenalkan kepada banyak orang. Bu Ika memimpin briefing dan mengenalkan saya kepada seluruh personil gudang. Bu Ika membuka perkenalan dengan, “Iya selamat pagi semua, perkenalkan ini mbak Mety yang akan menggantikan saya sebagai kepala gudang packaging”. Tiba-tiba otak saya berhenti sejenak, mencoba memahami apa yang bu Ika baru saja jelaskan. Dalam otak saya, “Whaaatttt??? Jadi kepala gudang packaging? Bukannya bu Ika itu superior saya? Apaaa? Jadi semua 40 orang ini akan jadi subordinate saya?”. Saya berusaha tenang dan mencoba membaca situasi terlebih dahulu serta melakukan perkenalan kepada seluruh personil gudang. Sebenarnya gimana gak kaget? Seorang saya yang masih fresh graduate yang saat kuliah hanya kuliah – lab – kosan tiba-tiba diberikan tanggung jawab untuk memimpin gudang packaging dan langsung memiliki subordinate sebanyak 40 orang.
Hari ketiga bekerja, saya masih didampingi oleh bu Ika karena memang masih proses job transfer. Saya kira saya akan didampingi oleh bu Ika hingga sebulan lamanya setidaknya. Ternyata belum sampai seminggu saya ditinggal oleh Bu Ika karena beliau memang harus sudah fokus untuk mengerjakan tanggung jawabnya yang lain. Betul-betul memang Paragon ini tempat belajar. Saya langsung nyemplung, belajar berenang dan cari cara bagaimana saya bisa bertahan. Kalau kata Kelly Clarkson “What doesn’t kill you makes you stronger” dan berdasarkan surat Al – Insyirah ayat 6 “ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Hal tersebut yang selalu saya ingat supaya tidak mudah menyerah. Apapun kesulitan yang kita hadapi, yang membuat kita hidup adalah bukan hal yang melemahkan kita. Justru hal itu merupakan bagian dari proses pembelajaran yang membuat kita tetap kuat hingga saat ini.
Hari ini 5 tahun sudah saya bergabung dengan Paragon. Tak pernah menyangka bahwa Paragon akan menjadi sebesar ini dan tak pernah menyangka bahwa saya pun ikut bertumbuh seiring perkembangan dari Paragon. Siapa yang sangka saya yang sedang stuck TA dan ikut tes Paragon eh keterima. Siapa yang sangka saya yang tidak pernah memimpin banyak orang ternyata diberi kesempatan untuk memimpin banyak orang. Siapa sangka ternyata saya bisa berenang bahkan berhasil menyelam sendiri. Akan ada banyak hal lainnya yang tak pernah kita sangka dalam hidup, yang penting selalu bersyukur, berdoa dan berusaha.












