Fanatisme dan Monster Semu
Akhir-akhir ini kayaknya lagi marak soal fanatisme terhadap orang/kelompok tertentu. Yah, lagi ada momentumnya sih ya, makanya rame. Tapi dari momentum itu, kita bisa ngeliat, betapa banyaknya orang yang seperti kehilangan akal ketika bertemu dengan idolanya. Ada yang tiba-tiba lari ramean, ada yang teriak-teriak, dan ya banyak lah pokoknya, sampe susah nyebutin satu-satu. Lalu apa hal ini wajar?
Ya kalo dibilang wajar, ya sebenernya wajar-wajar aja sih. Namanya juga ketemu idola yang biasanya cuman bisa diliat lewat instagram/youtube. Tapi coba kita kulik dengan sumber buku "Politik Kuasa Media" oleh Noam Chomsky.
Di buku ini, kita dijelaskan banyak soal bagaimana media menjadi media propaganda para elit. Yang intinya, masyarakat dilarang untuk berpikir. Itu kenapa masyarakat dilarang untuk berorganisasi/berserikat, tentu supaya mereka tidak berpikir. Berpikir apa? Berpikir bahwa sistem masyarakat itu tidak adil bagi mereka. Apabila mereka sudah sadar? Wah bakal hancur sistem ini. Siapa yang dirugikan? Siapa lagi kalau bukan kaum elit.
Bagi yang pernah bekerja, pernah nggak kalian dilarang untuk ikut serikat? Bagi yang pernah berkuliah, pernah nggak kalian dilarang untuk ikut organisasi? Atau minimal, dicekokin dengan pemikiran bahwa organisasi itu menghambat akademismu? Kira-kira kenapa ya?
Lalu sebagai media propaganda, mereka juga turut menghadirkan monster-monster semu, supaya 'nasionalisme' masyakarat turut terjaga. Presiden AS pun turut bermain peran, dan selalu ada monster semu yang dihadirkan. Rusia, Vietnam, Cuba, Afghanistan, dan banyak lagi. Ganti periode, ganti juga musuhnya.
Lalu kalau dipikir-pikir lagi, apa iya ya propaganda menyibukkan masyarakat cuma berhenti sampai urusan militer aja? Tentu saja enggak.
Balik lagi ke poin dimana kita dilarang untuk berserikat/berorganisasi. Kita akan selalu disibukkan dengan hal-hal lain. Dan di jaman sekarang, apa yang paling bisa memabukkan kita? Yak benar sekali, smartphone dengan akses ke internet.
Dengan akses tak terbatas dan platform populer dengan konten yang tiada henti seperti TikTok dan Instagram, akan semakin banyak waktu yang kita buang kesana. Dan tentu saja, menarik perhatian kita dari permasalahan hidup sebenarnya. Dunia entertainment adalah dunia yang menyedot perhatian kita tanpa henti. Mulai dari kpop, jpop, perfilman macam MCU, dan lain-lain. For disclaimer, i likes MCU, so i mean no offense. Tapi tentu, segala hal yang berlebihan itu juga nggak baik.
Dan dengan kasus yang baru-baru ini terjadi terkait 'perjuangan' orang-orang bertemu idolanya, tentu perlu menjadi perhatian kita bersama. Mengapa kita bisa sefanatik itu akan sesuatu atau seseorang? Ini nggak berhenti soal urusan entertainment, tapi juga soal politik. Betapa orang juga akan berusaha membela mati-matian terhadap orang yang padahal juga blunder.
Why we stop looking at the whole world for only one person/group? Is there nothing else better to do? Are we too blind to see how those elites destroying our societies?










