Dari sebuah kedatangan dan kepergian,
keduanya mengajarkan bahwa cara semesta meletakkan benih harapan, dan menggenggam kenangan tanpa harus terikat rasa sakit.
Sebuah kedatangan seperti fajar yg membawa hangat, warna-warni baru, dalam debar yg menolak runtuh. Ia mengajarkan kita cara membuka pintu rumah, merapikan sudut hati, dan merayakan kehadiran tanpa sempat memikirkan akhir cerita.
Dan sebuah kepergian datang bagai senja yg perlahan meredupkan apa yg semula benderang, meninggalkan bayang-bayang yg panjang. Namun ia tidak datang untuk merusak; ia hadir untuk mengajarkan kita cara melepaskan tanpa harus membenci.
Luka yang Mendewasakan
Kita adalah sekumpulan manusia yg gemar mengemis keabadian pada dunia yg fana. Kamu menangisi apa yang hilang, meratapi punggung yg menjauh, seolah duniamu runtuh bersama kepergiannya.
Ketahuilah, itu bukan hukuman. Itu adalah tamparan lembut dari nyatanya hidup.
"Tuhan mematahkan hatimu untuk menyelamatkan jiwamu dari orang yang tak layak untukmu."
Sebab jika hatimu tidak pernah digores, kamu akan selamanya menyembah ilusi, mengira semua yang datang berniat untuk menetap.
Kehilangan adalah cara waktu membersihkan ruangmu, menyapu debu-debu yg kamu kira "cinta", agar kamu punya tempat untuk sesuatu yang benar-benar layak.
Buat kamu yg sedang di fase ini;
Berhentilah mengemis pada hati yg telah terkunci. Tajamnya rasa sakit ini bukan untuk membunuhmu, melainkan untuk menikam ilusimu, sampai kamu terbangun dan menyadari bahwa satu-satunya yg bertanggung jawab atas bahagiamu adalah dirimu sendiri, bukan mereka yg datang dan pergi sesuka hati.
Ciptakan bahagiamu sendiri, jangan menaruhnya pada pundak orang lain.










