Canggung
Gimana rasanya sekolah di SMA umum setelah tiga tahun bersekolah di SMP khusus laki-laki?
Bersekolah di sekolah khusus laki-laki telah membentuk diri gua menjadi pribadi yang canggung tiap ketemu cewek. Tiap ketemu cewek, entah kenapa gua selalu ragu buat natap matanya, dan selalu ada dorongan untuk cepar-cepat menjauh. Terdengar aneh memang, tapi begitu adanya gua saat itu.
Awal-awal sekolah di sini, gua ga ada masalah dengan kecanggungan ini, karena walaupun ini sekolah umum cowok cewek, ternyata kelasnya dipisah, cowok sendiri, cewek sendiri. Jadi gua juga ga ada urusan buat interaksi sama mereka, sampai akhirnya gua gabung ke OSIS dan gua diterima jadi anggota divisi lingkungan
“Cukup sekian pengantar dari saya. Setelah ini, setiap divisi silahkan mendiskusikan rencana program kerja masing-masing”. Ketua OSIS baru terpilih sekolah gua menutup sambutannya di rapat perdana OSIS.
Gua kurang tau kenapa sistemnya gini, mungkin karena ini sekolah asrama dan cukup ,njaga interaksi cowok cewek atau gimana, tapi entah kenapa, setiap rencana proker bakal dibahas sama perwakilan anggota cowok dan perwakilan anggota cewek. Oke, begitu denger penjelasan itu, gua mulai deg-degan dan khawatir, “ini nanti gua gimana ya bahasnya kalo gua masih canggung begini” kata gua dalam hati.
Akhirnya gua kebagian rencana program kerja yang arahan dari ketuanya adalah untuk menjaga kebersihan dan kerapihan ruang OSIS. Gua bakal diskusiin itu, nyusun detail prokernya mau kegiatannya apa aja, indikator keberhasilannya gimana, dan lain-lain, dengan seorang cewek yang sebelumnya ga gua kenal mukanya, gua cuma dapet info kalo namanya Dina. Gua ga tau orangnya gimana karena gua ga fokus ketika sesi perkenalan anggota divisi lingkungan.
Akhirnya sesi diskusi dimulai, ketemulah gua sama cewek itu.
“Mamat” gua nyebut nama gua buat memulai obrolan
“Dina” cewek itu nimpalin dengan nyebut nama juga
Mendadak hening beberapa saat. Gua bingung banget saat itu. Gua ga berani natap matanya buat ngobrol. Pandangan gua berkeliaran ke sekitar, berharap tiba-tiba datang keberanian sehingga gua bisa memulai obrolan.
“Jadi...kita harus nyusun program kerja untuk menjaga lebersihan ruang OSIS, kamu ada pendapat nggak bentuk prokernya?”. Akhirnya dia yang mulai obrolan. Terima kasih ya Tuhan, akhirnya ga perlu gua yang mulai obrolan yang akan sangat canggung ini.
Waktu itu, gua ga bisa fokus. Selama ngobrolin proker, gua cuma sesekali natap muka dia, sisanya gua pura-pura nulis biar bisa nunduk aja ngeliat kertas. Mungkin saat itu ga sopan banget gua ya, orang ngajak ngobrol tapi ga ditatap mukanya. Saking jarangnya gua natap muka dia selama ngobrol, otak gua belom bisa ngesave dengan baik muka dia tadi kayak gimana. Mungkin, kalo gua ditanya Dina yang mana, selesai dari rapat perdana itu, gua ga bakal bisa nunjuk mana orangnya.
Rapat perdana OSIS itu buat gua jadi kepikiran. Gua ngerasa ga enak kalo misalnya mau ngobrolin lagi urusan urusan OSIS ini, gua ga tau orangnya, jadi gua ga bisa nyapa. Akhirnya, demi mengais kembali sedikit ingatan tentang gambaran muka dia waktu sesekali ngeliat saat rapat perdana, tiap pulang sekolah, dari jauh, gua ngamatin cewek-cewek yang seangkatan sama gua, dan tiap ketemu seseorang yang mirip sama sekelumit ingatan di otak gua, gua bergumam, “ini bukan ya orangnya?”. Oiya, walaupun di SMA gua ini kelasnya dipisah cowok cewek, tapi tiap pulang sekolah balik ke asrama, bisa ketemu di jalan. Kita juga bisa ketemu di tempat-tempat umum di sekolah, misalnya gedung serbaguna, masjid sekolah, atau kantin.
Meski udah berapa hari mengamat, gua masih belum bisa yakin kalo Dina itu sebenernya yang mana sih, apalagi gua juga gabisa nanya ke cewek lain buat konfirmasi Dina itu yang mana, ya tentunya karena kecanggungan gua. Tapi gara-gara aktivitas gua ini, gua jadi semakin penasaran sama Dina itu, dan dia jadi lebih sering muncul di pikiran gua.
-bersambung-













