Langit hari ini menyaksikan kecanggungan suasana itu. Udara yang kurasa seperti tak mengudara, dia mati semu seolah merasakan situasi. Dia berbicara kepadaku. Aku tak dapat banyak berkata. Lalu aku pergi. Dan kamipun berlalu.
seen from Saudi Arabia
seen from Brazil
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Egypt

seen from Egypt
seen from United States
seen from Russia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Bolivia
seen from Norway
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Spain
seen from China
Langit hari ini menyaksikan kecanggungan suasana itu. Udara yang kurasa seperti tak mengudara, dia mati semu seolah merasakan situasi. Dia berbicara kepadaku. Aku tak dapat banyak berkata. Lalu aku pergi. Dan kamipun berlalu.
JANGAN ADA CENGANG DI ANTARA KITA
Jangan ada cengang di antara kita.
Kesempatan yang mungkin nanti hadir
memunculkan kata-kata yang begitu satir
hingga tak ada lagi yang bisa diukir.
Jangan ada cengang di antara kita.
Pertemuan berikutnya pasti sedikit canggung
padahal dulu berdansa di atas satu panggung
sembari tertawa, kakiku kau injak tak terhitung.
Jangan ada cengang di antara kita.
Berapakalipun serpih kita bersihkan
tetap saja kita pecahkan segala hiasan
karena kita manusia yang paling akur dengan candaan.
Jangan ada cengang di antara kita.
Lagu lama iringi dua hati yang terpana
yang suatu saat bisa saling menghina
sebentar-sebentar renjana, sebentar-sebentar semenjana.
Jangan ada cengang di antara kita.
Bila tak ada lagi kata yang saling berbalas
harmoni hilang, masing-masingnya meregas
tidur berdua beda arah tak ada yang pulas.
Jangan ada cengang di antara kita.
Baik-baiklah mulai sekarang pada waktu
ialah sang penguasa temu
tak berhati pun rasa bagai batu.
Jangan ada cengang di antara kita.
Pada akhirnya, semua terasa begitu lengang
semua yang bisa mengingatkan terpaksa harus dibuang
kita dibawa terjun ke dalam jurang
karena lupa jalan pulang.
Jangan ada cengang di antara kita.
Jangan.
— Bandung, A.
(´-﹏-`;)
(´-﹏-`;) Merasa canggung dan bingung bagaimana harus merespons, tapi tetap menunjukkan rasa simpati. Ada sedikit rasa tidak enak hati. Wajah kebingungan juga tergambar.
"Your Istighfar Need Istighfar."
Begitulah yang sahabat Ali bin Abi Thalib katakan kepada seseorang yang beristighfar tanpa disertai kesadaran. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," kalimat itu keluar dengan sangat mudahnya.
Ini berkaitan dengan ekspektasi, soalnya sebagian orang, jauh di dalam pikirannya, sudah menginternalisasi asumsi bahwa:
"Aku sudah banyak melakukan hal buruk. Aku tau Allah nggak mau aku melakukan hal ini, tapi aku tetap melakukannya dan aku ulangi lagi berkali-kali. Doaku tidak berarti. Apakah taubatku yang sekarang benar-benar dapat menghentikan semuanya secara total?"
Kamu tau nggak? Saat kita berasumsi tentang seseorang, akan muncul kecanggungan atau suasana nggak betah saat berlama-lama berhadapan dengan orang tersebut.
Oalah, makes sense. Ternyata pengen cepet-cepet beres saat shalat, dan beristighfar tanpa melibatkan kesadaran yang lebih dalam, adalah indikator bahwa kita sedang canggung kepada Allah sebab berasumsi tentang Dia yang tidak sesuai dengan sifat-Nya.
Bahkan ya, di momen canggung ke Allah kaya gini, aku sampai di titik seneng/berharap didoain orang lain karena nggak pede dengan doaku sendiri. Karena kupikir orang lain punya hubungan yang jauh lebih baik dengan Allah daripada aku. Pikirku:
"Apakah doa yang datang dari hamba yang kotor ini punya kesempatan untuk di-notice Allah? Masih banyak doa lain dari hamba yang lebih saleh yang perlu diprioritaskan deh kayanya? Aku kurang pantes untuk dapat perhatian itu."
*sebelum lanjut, disclaimer bahwa tulisan ini mungkin tidak bisa diselesaikan dengan 100% consciousness terutama bagi yang memiliki kemalasan emosional untuk berhadapan dengan dirinya sendiri
Tapi surat Nuh (71) memberiku keyakinan yang ingin terus menerus aku re-learn sepanjang hidupku. Omong-omong surat ini punya hubungan paling personal dalam hidupku, surat yang pernah paling jauh mencapai kedalaman hatiku dan punya tempat tersendiri secara emosional di hatiku, seperti kisah Nabi Yunus di urutan kedua.
Bayangkan, untuk ukuran kaum yang dikasih umur panjang dan kesempatan bertaubat lebih banyak, namun terus menerus melakukan kesombongan yang sulit digambarkan (wastakbarustikbaro), Allah saja beri keoptimisan. Apalagi untuk kita yang (mudah-mudahan) tidak sesombong kaum Nabi Nuh.
Bahkan istighfarmu perlu diistighfari.
Emang istighfar itu seharusnya gimana? Kata "istighfar" punya tiga arti:
Meminta ampunan (ask)
Menginginkan ampunan (want)
Mencari ampunan (try to, looking for)
Orang-orang yang punya kemalasan emosional hanya stuck di tahap satu. Kadang-kadang kita meminta ampunan, tapi dari sikap, perhatian, dan kesadaran, keliatan jelas kalau kita ga pengen-pengen amat.
Sama kaya anak kecil yang bertengkar lalu disuruh minta maaf. Ya udah, mereka lakukan sambil memalingkan wajah dan tidak menghadirkan perasaan bersalah. Tidak benar-benar menginginkan pemaafan itu sendiri.
Aku pernah menyuruh seseorang berhenti meminta maaf saking kesalnya karena dia cuma meminta maaf berulang kali tanpa realize seberapa fatal kesalahannya. Kata orang sunda mah haha-hehe dengan watados (wajah tanpa dosa).
Maka kita tidak seharusnya beristighfar, sampai kita sadar (notice-realize-aware) akan hal-hal buruk yang kita lakukan serta menyadari tingkat kefatalannya.
Konyolnya kita suka berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kita dengan Allah. Merasa tidak berutang apapun terhadap Dia yang memberi kesempatan hidup. Duh, paling tidak, milikilah rasa bersalah (feeling bad) dan cobalah ubah diri!
Kita harus menginginkan ampunan. Meminta itu perkara lisan, tapi menginginkan itu perkara hati. Dan istighfar menggabungkan kedua perkara ini. Kemudian, mencari ampunan artinya kita mencoba melakukan usaha agar diampuni. Lidahnya terlibat, hatinya terlibat, serta orangnya, waktunya, tindakannya juga terlibat.
Selain mengingat seberapa fatal hal buruk yang kita lakukan, bagian dari mencari ampunan Allah juga adalah membenahi hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan dengan lebih baik serta memperhatikan hal-hal yang selama ini kita sepelekan. Untuk pembahasan fatal dan sepele, bisa merujuk ke tulisanku tentang Sense of Urgency and Severity.
"Innahuu kaana Ghaffaraan."
Dialah yang sudah, masih, akan, terus menerus, mengampuni. Dengan kata lain, bahkan jika kamu tidak meminta ampunan, sudah banyak hal yang Dia ampuni atas perilakumu. Sudah banyak hal-hal yang sebenarnya kamu layak dihukum secara langsung, tapi Allah memberikanmu kesempatan.
Di lain surat, Allah mengatakan, "jika Allah menghukum manusia karena dosa yang diperbuatnya, maka tidak ada satupun manusia yang tersisa."
Artinya, bahkan ketika kita tidak meminta ampunan atas banyak hal, sesungguhnya Allah sudah mengampuni kita. Tapi terlepas itu, ampunan akan berhenti saat kita wafat dan kita akan dihakimi di akhirat jika tidak bertaubat.
Jika Allah sudah selalu mengampuni, lantas untuk apa kita meminta ampun?
Meminta, menginginkan, dan mencari ampunan bukan jaminan akan memperoleh ampunan. Maka fungsi beristighfar di hadapan Allah adalah untuk memposisikan diri kita serendah-rendahnya sebagai makhluk dan hamba yang tidak sempurna, lemah, dan rentan berbuat salah. Untuk melatih ego agar jadi biasa patuh pada perintah Allah. Serta untuk menunjukkan bahwa Allah—tidak diragukan lagi— selalu jadi tempat kembali seburuk apapun kita keadaannya.
Know ur place, human! Jangan karena Allah Maha Pengampun, kita jadi seenaknya berbuat.
Semoga kita punya kesediaan dan energi untuk menyelami dan berhadapan dengan pekatnya lumpur dosa diri sendiri, serta Dia berikan kemampuan untuk "lizzakaati faailuun" alias "proaktif dalam membersihkan diri."
— Giza, re-learn makna istighfar sambil terus unlearn asumsi yang keliru tentang Allah (nangis dikit ga ngaruh)
Sumber rujukan:
Ust. Nouman Ali Khan
Tafsir Abul A'la al-Maududi
Setiap orang seperti kupu-kupu, mereka awalnya jelek dan canggung dan kemudian berubah menjadi kupu-kupu anggun yang indah yang disukai semua orang
Bedah (bernyanyi dalam hati) tidak perlu disombongkan
Fokus kepada Tuhan (bedah) tidak hebat kali (tidak perlu disombongkan), sebab saat kita menyanyikannya langsung di dunia luar: rasanya lama-kelamaan jadi canggung-canggung sendiri. Tetapi yang membuat aktivitas ini indah adalah karena sudah terbiasa melakukannya dengan rendah hati (disembunyikan tetapi tidak didiamkan).
View On WordPress
Canggung.
Kita berdiri dibawah atap yang sama saling berdiam diri, rasanya sepi dan sunyi namun bingung bagaimana cara mengakhiri kecanggungan ini karna dalam hati ingin menyapa tapi mulut tak bisa berkata.
Wattpad : Dari Kata Menjadi Cerita