Saya besar dari bacaan buku AKU karya Sjuman Djaya yang mengisahkan script kehidupan seorang penyair besar era kemerdekaan, Chairil Anwar, yang terkenal dengan puisinya berjudul “Aku”. Ini bacaan saya dulu, seorang anak SD yang akhirnya mengungkit nama penyair besar dengan Puisi jaman perjuangannya ini, di depan Kepala Sekolah saya yang ketika itu menggantikan guru saya yang tidak masuk karena ada urusan penting. Ternyata beliau suka juga dengan karya Chairil Anwar. Dampak akhirnya dari kebetulan tersebut, beliau memutuskan ujian praktek bahasa Indonesia pada tahun tersebut adalah membaca Puisi, menggunakan materi puisi-puisi Chairil Anwar. Lanjut pada daftar buku bacaan favorit saya, tentu saja sebagai anak-anak ketika itu saya juga membaca buku fiksi, salah satunya, Supernova karya Dee atau Dewi Lestari. Meski saat itu kurang paham dan banyak bertanya pada orang tua tentang arti dari beberapa kalimat yang tidak saya pahami, tapi sebagai anak SD yang tidak menyerah membaca buku fiksi yang berbobot seperti itu, membuat saya bangga pada diri saya sendiri, haha. “Harry Potter” juga masuk daftar favorit, bacaan wajib setiap anak, meski saat itu semua buku yang saya baca saya pinjam dari tante saya. Saya ingat bahwa saat itu saya hanya membaca sampai buku ke 4. Buku ke 5 sampai ke 7 baru saya baca ketika saya SMP. Ketika SMP ini pula saya pertama kali membaca buku yang sangat membekas, tentang kisah nyata karya Dave Pelzer yang terkenal, A CHILD CALLED IT, buku tentang seorang anak yang disiksa ibunya sendiri sedari kecil dan trauma hingga remaja, bahkan ketika dewasa ia akhirnya bercerai, tapi ia sangat menyayangi anaknya, meski single father.
Tidak lupa, ketika saya SMA dan ada tugas membaca suatu karya sastra, saya mencari buku bagus, KERUDUNG MERAH KIRMIZI karya Remy Sylado, yang akhirnya juga jadi salah satu bacaan favorit, dulu. THE GODFATHER, karya Mario Puzo paling ngetop yang bahkan sampai dibuat film. Juga diikuti karya beliau THE SICILIAN yang sangat saya suka(bukan karena saru, meski seru juga untuk dibaca haha). Ada lagi trilogy HIS DARK MATERIAL(lebih dikenal dengan The Golden Compass) karya Philip Pullman, khususnya terfavorit THE SUBTLE KNIFE, yaitu buku kedua yang bercerita tentang pisau yang mampu dipakai untuk membuka dunia lain, berbeda dengan film golden compass dari buku pertama dimana pemeran utamanya anak perempuan, dalam buku kedua ini pemeran utama atau pemegang pisau ini adalah anak laki-laki(saya berharap filmnya segera dibuat, sayangnya film pertamanya sudah menimbulkan kontroversi sehingga sepertinya mustahil akan diteruskan). ERAGON karya Christopher Paolini juga pernah saya baca meski kurang begitu membekas. INKHEART karya Cornelia Funke juga sudah saya baca jauh sebelum filmnya dibuat dan jadi terkenal, kalau cerita buku ini, saya sangat hapal. Beda lagi dengan karya Rick Riordan, buku series PERCY JACKSON, yang saya baca setelah film-nya booming, saya akhirnya beli buku-buku seriesnya itu karena seru untuk diikuti. Pokoknya masih banyak judul lainnya yang saya baca semasa saya SMA kelas 2 itu. Nilai saya jadi gak karu-karuan karena terlalu banyak baca buku diluar buku pelajaran(mohon jangan ditiru).
Waktu kuliah, paling dikit baca buku begini. Tapi jelas gak ketinggalan ikut baca “Membongkar Gurita Cikeas” karya almarhum George Junus Aditjondro. Ya jadi tau dikitlah penyebab orang-orang Jogja pada kurang demen sama bapak no 1 kala itu. Saya baca buku Kokology pertama dan kedua karya orang Jepang yang saya lupa namanya. Itu waktu kuliah saya baca karena tiba-tiba inget temen perempuan waktu dulu di SMA pernah kasih banyak pertanyaan dari buku itu. Seinget saya sih cuma itu. Saya cuma rajin beli buku yang berhubungan sama kuliah waktu itu.
Jadi saya ini NERD, ya boleh lah dibilang begitu. Tapi selera saya itu yang serius, karya yang boleh fiksi boleh non fiksi tapi bukan yang sekedar haha hihi. Sebenernya saya juga baca 5cm, buku yang dibeli kakak saya, tapi kurang membekas, saya cuma inget bagian awalnya mereka gak akur karena ada yang tipe adu domba, terus mereka ke sekolah malem-malem, ya sampe segitu, sisanya samar. Saya gak bilang buku ini kurang serius isinya, tapi ya bukan tipe saya saja. Seperti buku Dewi Lestari yang lain tidak ada yang saya beli atau baca, selain supernova. Padahal lumayan berat juga untuk dipahami anak SD buku itu, tapi karena standar saya tentang tulisan beliau bermula dari buku tersebutlah yang bikin saya berharap lebih dari buku-buku beliau yang lain, sehingga akhirnya saya merasa buku beliau yang lain bukan tipe bacaan yang saya gemari lagi.
Ya pada akhirnya, buku-buku tersebut yang membentuk karakter saya saat ini. Saya peduli pada sejarah bangsa karena Chairil Anwar dan Sjuman Djaya, penulis script buku AKU. Saya menghargai sastrawan karena bukunya Remy Sylado. Saya peduli politik karena buku Membongkar Gurita Cikeas. Saya jadi ogah beli buku berdasar kisah nyata gara-gara tulisan Dave Pelzer yang positive tapi juga menyedihkan. Saya jadi suka nonton karena banyak buku fiksi bagus yang pernah saya baca tersebut. The hobbit dan Lords of The Ring adalah film favorit saya, meski saya belum pernah baca bukunya, dan ini bisa terjadi karena akhirnya saya gak fanatik dengan buku lagi. Kalau bisa baca ya baca kalau enggak ya nonton aja juga ok, prinsip saya soal film dari buku bagus, sekarang begitu. Dulu saya gak peduli itu buku ada filmnya atau enggak, tapi kalau saya ke toko buku(grarned dan togarnas paling sering), buka buku, baca sekilas, dan merasa tertarik, pasti langsung saya beli.
Selera saya terlalu biasa mungkin untuk kalian yang bangga pernah baca Mein Kampf, atau baca karya masterpiece William Shakespeare, Dan Brown, dll. Percayalah, saya pernah baca buku mereka, cuma gak tertarik untuk baca lebih lanjut. Mein Kampf gak tertarik karena buku itu cuma alibi, pura-pura membela Yesus, tapi ngebunuh orang Yahudi yang bunuh Yesus, padahal Yesus sendiri orang Yahudi, what? Buku macam apa itu. William Shakespeare, walaupun bukunya bagus, rasanya saya lebih baik nonton daripada bacanya, terlalu puitis, terlalu lebai untuk ukuran orang yang minim sisi romantis seperti saya. Dan Brown menulis buku-bukunya yang kontroversial, menurut saya isinya terlalu lebai. Banyak pemikirannya yang kurang sesuai dengan fakta lapangan, meski usahanya sampai mencari kitab-kitab terbuang boleh diacungi jempol. Tapi ya, saya tetap tidak terkesan pada bukunya.
Jadi maaf, mungkin pada tulisan sebelumnya saya seolah merendahkan orang yang puitis. Tidak saya tidak merendahkan, asal puisi yang dibuat bermutu, sah-sah saja. Puisi yang romantis, saya gak peduli, gak bakal ada niat untuk baca apa lagi denger. Begitu juga dengan cerita, baik cerita nyata atau fiksi, saya juga punya standar sendiri. Karya Remy Sylado, Kerudung Merah Kirmizi, mungkin sedikit romantis, tapi tidak lebai, masih bisa ditoleransi. Tapi isi tulisan yang hanya romantis dan galau sepanjang cerita, bikin mulut saya berbusa dan mata saya kejang. Intinya terserah kalau mau berkarya, tapi karena selera orang beda-beda, jadi ya pasti ada saja orang seperti saya yang gak akan peduli atas karya galau dan romantis semacam itu.
Kalau ada buku yang recommended, dari dalam maupun luar negeri, baik bahasa maupun English, boleh lah kasih info di message atau di tab “ANY QUESTION?”
Saya sangat menghargai setiap rekomendasi. Terimakasih sudah membaca. Selamat beraktivitas dan semoga sukses.