Plot Twist
Kau pasti pernah merasakan cemas, khawatir berlebihan, tiba-tiba merasa kosong, tidak tau harus berbuat apa, dan seakan melamun adalah satu-satunya hal yang bisa kau lakukan saat itu. Waktumu terasa terbuang percuma, yang seharusnya bisa kau gunakan untuk diisi dengan hal-hal yang lebih produktif, malah dihabiskan sia-sia demi kekosongan yang tak berarti. Lalu kau mencoba memutar sebuah musik yang dapat mengembalikan inspirasimu. Hasilnya? Sama saja. Kau masih mencoba menemukan tujuanmu, alasan sebenarnya kau ada, di dunia yang bahkan mungkin tak peduli jika kau hadir. Dunia yang sepertinya belum bisa menjamin kau akan sukses atau tidak. Menjebak memang, rasanya tidak adil mengetahui kau bisa begitu naif dengan mengatakan kau tidak berguna sama sekali tentang keberadaanmu di dunia ini. Lalu apa? Kau mempertanyakan hal yang paling tidak penting, seperti mengapa kau terjebak dengan situasi membingungkan nan aneh ini, paling tidak seharusnya kau perlu tahu alasanmu untuk berimajinasi ria. Lalu kau mencoba mencari kegiatan lain, mencuci? Atau mungkin memasak? Atau mungkin menjelajah? Tapi ke mana? Rasanya sedikit membosankan jika memikirkannya saja. Bagaimana dengan menghayalkan hal lainnya? Seperti pergi ke luar angkasa, menyentuh awan, menikmati hujan, menemukan bintang, melayang-layang seperti kapas yang tertiup angin, menjelajah angkasa, ah tidak. Terlalu jauh, bahkan untuk melihat ketinggian dari lantai 2 pun kau sudah merinding. Selanjutnya, masih terjebak ruang, berpikir kembali apa yang sama sekali belum kau lakukan saat ini. Resolusi tahun kemarin mungkin ada yang belum tercapai? Memiliki peliharaan, atau menanam tanaman? Olahraga, mencintai seseorang lalu menjadikannya salah satu pusat kehidupanmu, memiliki tempat merenung dan jalan sendiri, nongkrong dengan teman sebaya di salah satu kafe terkenal, ah, terlalu kasual. Masih bukan, bukan hal itu yang kau benar-benar perlukan. Kembali dengan pertanyaan kenapa kau bisa hidup, masih bertanya-tanya dengan keberadaanmu yang sebenarnya menakjubkan. Ketika kau mengingat beberapa prestasi yang kau buat, ketika kau membanggakan orang tuamu, membuat senyum mereka mekar mendengar dengan hal unik yang telah kau perbuat. Ya, kau mulai ingat saat-saat itu. Saat-saat di mana hidupmu bisa berharga, saat kau tahu itu baik untukmu dan orang di sekitarmu. Menempa hobi dan menambah akal, melatih otak lalu menggunakannya demi kepentingan bersama. Kau terhentak, ya, itu dia. Itu yang kau butuhkan, hal mendasar yang kadang lupa kau utarakan setelah menginjak usia keberapa. Oh, betapa nestapanya jika terkadang kau bisa melupakan mereka dengan mudah. Orang-orang dengan kemampuan yang kadang bisa membuatmu bertanya-tanya mengapa kau bisa terikat bersama mereka. Kemudian semua jadi sedikit jelas, hal paling kecil yang kau butuhkan mulai terlihat. Kejelasan hidupmu, sedikit demi sedikit terajut kembali. Bangkit dari lamunanmu, kau melangkahkan kaki dengan mantap ke salah satu sudut ruangan. Mencoba meraih asa kembali sembari menarik nafas.
“ Let’s move. “
Kau membuka mata, yang tadi hanya khayalan, sekarang kau dengan posisi terhempas menghadap ke bawah. Setengah meter sebelum menghantam tanah. Rupanya lantai 2 kemarin tidak berhasil, maka lantai 15 sudah cukup mewakili.
Brukk.. darah mengucur perlahan. Terdengar suara teriakan seorang wanita.
Selamat tinggal 🙂
- V















