Bismillah.. postingan pertama di tahun 2021, semoga tidak pernah ada keinginan untuk bunuh diri lagi. Aku lebih baik sekarang. Harus lebih baik.
2020, tahun paling menyeramkan. Selain karena pandemi, i was struggling with baby blues syndrome since 2018. Hamil yang dikatakan tak mudah, melahirkan dengan proses yang melelahkan, menyusui tiada akhir seolah-olah menyedot seluruh energi dalam tubuhku. Hamil dengan tubuh kurus dianggap tak lazim, bahkan dianggap “kayak orang masuk angin”. Setelah melahirkan lebih rumit lagi, “nenennya kecil emang ada air susunya?”. Syukur, Allah menciptakan nenen tidak seperti teko tapi seperti spons yg menempel pada mata air. Semakin disedot semakin yahud isinya. Jadi tenang ya, karena Allah Maha Adil untuk wanita-wanita yg bernenen kecil jangan insecure karena ASI tidak bergantung dari besarnya nenen. Aku pernah menjadi ibu yang sangat berambisi tapi sekarang tidak. Mengalir saja seperti air lebih menenangkan. Menjadi ibu itu bukan kompetisi, menjadi ibu yg baik saja itu sudah prestasi.
Kemudian harus dihadapi dengan kenyataan, suami sekantor dengan mantannya. Dari sekian ratus pegawai kenapa harus mantannya yg mutasi ke kantor tempat suamiku bertugas? Ia memintaku untuk baik-baik saja, menjelaskan alasan mengapa aku harus percaya padanya. Matanya mengiba, “tolong percaya aku” meski pada akhirnya kita sering bertengkar karena hal sepele yang dibesar-besarkan.
Ada hal lain yang tak mudah: mengasuh anak dua dalam kondisi jiwa tidak baik-baik saja. Entah, berapa kali aku berpikiran ingin bunuh diri saja. Satu kali percobaan bunuh diri. Namun masih diselamatkan oleh senyuman anak-anakku.
Sekarang, semuanya sudah berlalu. Suami sudah mutasi ke kantor yang lebih dekat dengan rumah. Sudah tidak sekantor lagi dengan mantan. Anak-anak sudah mulai besar, tidak terlalu sering menyusu. Jadi punya waktu untuk menyendiri, membaca buku, pakai skincare, etc.
Pelajaran selama 2018-2020
- jangan terlalu mendengarkan perkataan oranglain, mungkin orang tsb tidak tau kalau itu perkataan yg salah. Fokus pada prinsip hidup sendiri. Kalau bisa kasih tau, kalau tidak bisa jangan dipaksa.
- komunikasi. Komunikasi. Komunikasi! Segala sesuatu harus dikomunikasikan biar tidak disimpan sendirian.
- kalau ketemu ketimun pahit ya dibuang saja! Kalau ketemu orang nyebelin ya tinggalin aja! Apalagi yg suka melemahkan mental kita.
- suami memberi kasih sayang kepada istri, istri memberi kasih sayang kepada anak-anak. Suami melihat anak-anak penuh kasih dan merasa bersyukur.
-karena waktu hamil perutnya kecil, jadi gak punya strechmark. Suami like it. Ada hikmahnya ya bund
- seharusnya perilaku oranglain tidak mempengaruhi kebahagiaan kita
- oranglain berpotensi menyebalkan, ingat kita juga punya potensi itu jg. Jd bersikap biasa ajalah
- lakukan apa yg disukai, seperti membaca buku-buku baru yang membuatmu senang
- hati-hati dalam berteman, jangan percaya semua perkataannya, bisa jadi muka dua
- anak-anak senang kalau ibunya senang
- anak-anak punya watak yg mirip ibu atau bapaknya, tidak bisa diubah tapi perbaguslah
- tidak perlu bertanya kenapa sesuatu terjadi padamu, seperti “kenapa mantan mutasi ke kantor suami?” Tidak perlu, hiduplah selaras dengan alam. Fokus pada solusi ..