sheepfilms

roma★

izzy's playlists!

Love Begins

No title available
Keni
will byers stan first human second

JVL
we're not kids anymore.

tannertan36
noise dept.
One Nice Bug Per Day
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kaledo Art
d e v o n
Cosimo Galluzzi
Game of Thrones Daily

oozey mess

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Venezuela

seen from Australia
seen from Canada

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from Japan

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Dominican Republic
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@mkurniasari
Apa yang Salah dengan Volunteer?
Ditulis oleh Butet Manurung, Pendiri dan Direktur SOKOLA-Literasi dan Advokasi untuk Masyarakat Adat Indonesia, dalam Harian Kompas
“Kamu perempuan, lahir dan besar di Jakarta, sekolah tinggi, kenapa mau bekerja keluar-masuk hutan hanya untuk orang-orang seperti mereka?”
Begitu pertanyaan yang sering saya dapatkan selama tak kurang dari 15 tahun terakhir ini. Tidak ada jawaban yang memuaskan mereka. Setiap jawaban malah melahirkan pertanyaan baru.
“Memangnya di kota tidak bisa berarti?”
“Di hutan, kan, tidak ada mal, sinyal telepon, teve, internet, bakso?” Atau, “Hobi, ya, hobi, pekerjaan itu pekerjaan, tidak bisa disatukan!” Lalu, “Tidak takut binatang buas, kena malaria, diperkosa, atau bertemu setan?”
Bekerja di kota, di mana banyak orang berkompetisi memperebutkan sedikit kesempatan, yang tak jarang hanya demi kesenangan dan memuaskan panca indra semata, sampai-sampai harus sikut kanan-sikut kiri, bagi saya justru lebih menakutkan dibandingkan kemungkinan bertemu binatang buas di hutan. Tapi, kenyataannya, pekerjaan di kota memang menjadi incaran banyak orang. Teramat banyak sehingga kantor-kantor itu harus menyeleksi calon karyawannya habis-habisan dengan berbagai persyaratan. Pada situasi ini tampak sekali kalau kita yang memburu pekerjaan, bukan pekerjaan yang membutuhkan kita.
Masih ingatkah bagaimana rasanya langkah jadi ringan dan senyum terkembang seharian setelah bantuan kecil yang kita lakukan tulus untuk orang lain? Misalnya, setelah membantu seorang nenek menyeberang jalanan yang ramai penuh mobil, atau saat membantu anak tetangga yang kesulitan menyelesaikan pekerjaan rumahnya?
Sulit digambarkan perasaan saya ketika mendengar kata pertama yang berhasil dibaca oleh murid saya, lalu di lain waktu melihatnya membantu orangtuanya di pasar menghitung hasil penjualan produk hutannya. Bantuan kecil kita bisa jadi besar maknanya bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Saya merasa dibutuhkan. Butuh dan dibutuhkan menghasilkan perasaan yang berbeda. Letaknya jauh di kedalaman hati, membuat kita merasa berharga, menghargai hidup dan akhirnya bersyukur.
Kerja suka dan rela
Orang banyak mengatakan kegiatan ini sebagai voluntary service. Voluntary biasa diterjemahkan sebagai sukarela, sedangkan service dalam makna luas berarti pelayanan, bakti, jasa, atau pengabdian. Maka, mari kita artikan voluntart service sebagai pekerjaan (kalau memang disebut pekerjaan) yang dilakukan bukan hanya dengan penuh suka, juga rela; bukan untuk mencari keuntugan pribadi, tetapi memberi apa yang kiranya dibutuhkan orang.
Indonesia punya 13.000 lebih pulau dan tak kurang dari 250 juta jiwa penduduk. Dengan luas hampir 2 juta kilometer persegi, tentu ada banyak peluang yang terbuka. Apalagi kalau kita baca surat kabar, rasanya tak pernah selesai persoalan di negeri ini.
Bagaimana kita bisa terlibat?
Kita hanya perlu lebih banyak dan mendengar langsung. Langsung itu artinya dari luar layar monitor HP, tablet, atau laptopmu! Ada banyak hal yang tak berada di tempatnya. Datang ke sana, diam, dan amati dengan rendah hati. Rendah hati artinya kita datang dengan pertanyaan, bukan jawaban. Sekalipun ada perasaan dibutuhkan, kita datang bukan untuk jadi pahlawan, bukan untuk menggurui, tapi mempelajari, mengenali, sambil mencari apa yang bisa kita bantu. Lalu biarkan hatimu mengatakan apa yang harus kamu lakukan.
Konon, ada tiga kekuatan dahsyat, mengutip Pramoedya dalam novelnya Rumah Kaca, “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang bisa timbul pada samudra, gunung berapi, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” Saya setuju. Sekali kita menentukan tujuan, biarkan ia jadi kekuatan yang menggerakkan.
Ada lagi model pertanyaan yang sering saja jumpai, “Kak, saya suka berutalang, saya juga ingin mengajar di rimba, tapi saya takut gelap. Bagaimana, ya?” Atau, “Kak, saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan, tapi orangtua ingin saya jadi PNS.” Menghadapi pertanyaan itu, saya biasanya senyum-senyum saja. Atau kalau sudah terpojokkan, saya bilang, “Bereskan dulu tapimu, ya, setelah itu baru kita ngobrol lagi.”
Rasanya sulit menumbuhkan kekuatan pikiran dan hati kita kalau kita sendiri sudah membatasi diri kita dengan banyak “tapi”. Akan selalu ada alasan kalau kita fokus pada kalimat di belakang kata “tapi”. Karena bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, bukan? Bahwa dia tidak (akan) berusaha ke rimba atau apa pun mimpunya karena dia punya banyak “tapi”. Bagaimana kalau kalimat “tapi” itu kita balik? “Kak, sebenarnya orangtua saya ingin saya jadi PNS, tetapi saya sangat ingin mengajar anak-anak jalanan.” Dan, “Kak, saya itu sangat takut gelap, tapi saya suka bertualang dan ingin mengajar di rimba!”
Bekerja, apa pun itu, termasuk pekerjaan sukarela, menurut saya selalu dimulai dari menghargai diri sendiri, menghormati hidup kita sendiri. Bahwa kita begitu berharga, bermanfaat, dan berarti, sehingga kita ingin membagikan anugerah yang kita punya kepada orang lain melalui segala daya dan kreativitas. Melalui penghargaan kepada diri sendiri, kita akan menemukan banyak hal menarik dan berguna yang bisa dilakukan. Ini memang terlihat seperti pengabdian terhadap orang lain. Tapi tidak, karena sebenarnya kita mengabdi pada kemanusiaan yang sejati.
Menghargai diri sendiri
Pertanyaan yang lain, “Saya ingin bergabung. Saya ingin bekerja sosial, mungkin satu atau dua tahun, tapi setelah itu saya akan bekerja serius. Saya tak munafik, hidup tentu butuh uang.”
Kalau memang begitu, mengapa tak bekerja serius dulu sampai punya cukup uang banyak lalu baru bekerja sosial sehingga tidak perlu lagi mencemaskan keuangan? Satu hal yang mengganjal, bahwa sering kali kerja sukarela tidak dianggap sebagai pekerjaan serius. Mungkin karena pekerjaan serius itu didefinisikan sebagai rutinitas kantor Senin sampai Jumat, berpakaian rapi, dan segala formalitas lainnya. Padahal, kerja sukarela tak kalah seriusnya, sama-sama menguras pikiran dan tenaga. Hanya karena formalitas yang berbeda, bukan berarti keduanya berlawanan.
Bagaimana dengan uang? Jutaan rupiah yang sudah habis untuk biaya sekolah, ditambah lagi tahun-tahun yang telah dilewati dengan penuh harap, seringkali dianggap sebagai piutang yang pada saatnya nanti harus bisa dipetik hasilnya. Setidaknya balik modal, syukur-syukur kalau bisa kembali dengan berlipat ganda. Ah, mari berhenti menyogok masa depan. Sekolah tidak ada hubungannya dengan banyaknya gaji yang akan kita terima. Demikian halnya dengan prestasi (achievement), tidak selamanya diukur dengan uang.
Teman saya, lulusan S2 dari universitas negeri di Jakarta yang juga bekerja di hutan, pernah ditanyai seorang wartawan yang berkunjung ke rimba dengan penuhi apriori, “Berapa gaji yang kamu terima untuk pekerjaan gila seperti ini? Kalau tidak besar, mana mungkin ada yang mau?”
Teman saya menjawab dengan jengkel, setengah bercanda, “Kalau untuk mencari uang banyak, saya mendingan piara tuyul saja, Pak, bukan bekerja seperti ini. Uang bukan tujuan saya.” Si penanya tentu tidak puas, tetapi bagaimana menjelaskan keindahan lautan kepada orang yang tidak pernah tahu apa itu laut.
Lagi-lagi memang kembali kepada tujuan dan keberanian kita menjalani tujuan itu. Keberanian untuk menjadi berbeda dengan ribuan orang yang mengantre pekerjaan di kota. Pikiran-pikiran kami sering dianggap ajaib oleh kebanyakan orang. Sering juga setelah beberapa waktu bercakap-cakap, mereka seperti disadarkan bahwa mereka juga ingin punya perasaan-perasaan seperti itu: melakukan hal yang disenangi, merasa bermanfaat.
Kekayaan batin akan senantiasa membuat kita bergairah. Namun, tentu gairah akan berlipat ganda kalau kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Kerja sukarela tak hanya bisa dilakukan di hutan, di dunia politik, atau di medan perang, tapi bisa di mana pun. Tidak perlu bermimpi menyelamatkan bumi karena itu tugas Superman dan James Bond. Tak juga harus baik hati selemah Cinderella yang mengharap uluran Ibu Peri karena yang kita perlukan justru kekuatan dan keberanian. Tidak juga sibuk cari pengakuan atas yang kita lakukan karena yang kita cari adalah penghargaan kita terhadap diri sendiri. Tidak juga harus mengikuti petunjuk orang-orang terkemuka yang seolah berhati peri karena dalam beberapa kasus yang menumbalkan rakyat negeri ini ternyata malah didalangi mereka. Tak juga harus sepakat dengan saya.
Seperti kita tahu, setiap orang memiliki ketertarikan, prioritas, dan kemampuan sendiri-sendiri. “Jadilah diri sendiri”, seringkali dikumandangkan di mana-mana. Sekali lagi, taruh gadget-mu, lihat lekat-lekat dunia di luar sana, lalu dengarkan hatimu. Sebab, kita perlu menghargai hidup yang hanya sekali ini. Bayangkan jika suatu hari nanti, di usia 75 tahun, tiba-tiba kita merasa hampa dan baru tersadar bahwa kita belum melakukan apa-apa untuk menghargai satu kali hidup kita.”
Akan selalu menjadi motivasi.
ArtJog #9 Universal Influence
Synchronizing the idea of universal influences with contemporary art has become a concept that is not easy to achieve. This ideal is not a mandatory dogma, but a personal choice of each artist in presenting their artworks. However, the use of symbols that speak universally will affect the outlook and understanding of an audience about an artwork. While interpretation is entirely the audience’s right, the main idea of the concept is for artists to communicate their work properly.
Stefanus Ajie - The Jakarta Post (Universal signals detected at ARTJOG 2016)
Poso - 2016
Bukannya saya suka ke tempat-tempat konflik atau pasca-konflik (Read: Myanmar before opening, Papua), tapi saya bisa apa ketika jam 3 sore diajakin ke Poso dengan pesawat paling pagi esok harinya?
Tahun lalu saya bantu-bantu sedikit riset tentang ikhwan-ikhwan di Poso yang dulu menjadi bagian dari konflik di sana. Membantu mendengarkan cerita-cerita mereka tentang satu bagian kecil kehidupan pasca-konflik masyarakat di pojok kecil desa nelayan di sana. Tahun ini riset sudah hampir selesai, saatnya dosen-dosen saya kembali ke tanah Sulawesi untuk ngobrol lagi dengan ikhwan-ikhwan tentang apa yang mereka temukan. Tahun ini, saya diajak kesana.
Perkara ketemu Santoso atau tidak, cabut lah, batin saya.
Dan, ya, bukankah Indonesia Timur akan selalu indah?
Tempat workshop kami sederhana. Gubuk beratap daun sagu, begitu deskripsi dari satu ikhwan, di depan Teluk Tomimi.
Semesta selalu bermain di tiap kebetulan yang ia buat dan turns out, this short journey means a lot to me.
Saya punya stigma negatif tentang mereka. 2009, mau nonton MU di Jakarta, naik kereta baru sampai Wates eh Ritz-Carlton di bom, siapa yang nggak kesel sama terorisnya. I resented them, my mind punished them harshly. Jenggot + alkacong = teroris, that's a running joke for me. And not to mention, media.
Banyak hal yang luput dari saya. They were young when they did what they did and they are still young now, PTSD, societal and institutional judgement, and coping up with a new modified Islamic identity. Those are four among many things.
And thus, saya mendengar cerita-cerita ikhwan yang berjuang dalam berbagai keterbatasan yang sedari awal ada dan yang dibuat ada oleh orang-orang lain. Lalu dosen-dosen saya membantu menjelaskan bahwa mereka berhak untuk berkumpul, berhak untuk memulai kembali hidup tanpa label, berhak untuk menyuarakan apa yang ada di benak mereka, berhak untuk tidak terjebak dalam logika permainan sistem.
Berhak untuk tidak dieksklusi, oleh masyarakat, oleh media, oleh negara.
"These kids... they are not elite kids," kata dosen Sosiologi, teman perjalanan, di mobil di tengah gelap tanah Sulawesi, "…yet their minds wander far and above all of us, they want to be useful towards others, let alone themselves. Where are we in all of this?"
Ada ikhwan yang punya keinginan untuk bikin pelatihan peternakan ayam. Yang lainnya ingin buat kerajinan dari kayu hitam, untuk cinderamata khas Poso. Satu lagi ingin pelatihan buat kue untuk ibu-ibu dan janda-janda. Ada juga yang ingin tahu caranya membantu mencari teman-teman yang hilang di laut atau di gunung.
Cerita mereka membantu saya untuk mengerti bahwa dunia tidak berhenti di penjara bagi para napi. Bahwa ada hidup yang mereka lanjutkan setelah mereka keluar dan bahwa hidup, apalagi sebagai eks-napi terorisme, banyak sekali benturannya.
Jangankan mereka. Kami, untuk sekedar berdiskusi bersama mereka di Rumah Katu pun, beberapa mata awas merasa perlu melihat kami dari dekat dan juga dari jauh.
Dan rasanya, saya perlu belajar lebih banyak tentang being a citizen on a basic level.
Meski klise, tiap manusia punya cerita. Tiap manusia berhak bercerita. Tiap manusia berhak didengar. Tiap manusia berhak bermimpi. Whether they are ex-convict or not.
Yet, where are we in all of this? Kita bisa apa?
Kita bisa main ke Rumah Katu Marine Park, mendorong usaha komunitas mereka tanpa perlu memberi label.
Daripada kitorang baku iri dan baku pukul lagi toh?
...
Berbagi impian sederhana
Menjadi pecinta semesta
Berharap yang terbaik
Meski dunia tak lagi percaya
...
My favorite love story
I am such a sucker for chill-electronica-y song
sealust
Feliz Navidad!
Be merry on Christmas and may all your troubles soon be gone!
...all these everyday occurrences, brimming with wonders that are casually overlooked
Aoki Takamasa
Normally, I am a happy-go-lucky, dynamic member of society. But I do have moments when I have to deal with unwillingness to gauge with the outside world. Nowadays, those moments come more often than it used to.
I decided that I have to go talk to a psychologist after those moments started to affect my physical health and sort of messed up my routines. Besides, I have had enough with people telling me that it probably happened because of stress from overworking. Probability irks me even though some of the times I used it anyway, guilty pleasure kind of stuff.
From that particular session, I learned one or two things about myself, and about mental health. Turns out, stress does not happen suddenly, like, that. It is varied, but basically a compilation of unpleasant stuffs that happened to someone and lingered on their mind for certain long period of time. And those unpleasant stuffs does not have to be a big traumatic events or sort of.
Even the kindest person can rub you off in the wrong way.
How so? It can be anything, even the most useless thing ever. It can be the way they talk, do, see something, or react to anything. For me, for instance, when I feel a bit down and people say semangat ya. Oh go fuck yourself, whoever you are. But before, please educate yourself with google that those kind of phrases are the worst possible thing that you could possibly say to people who felt down or in grief.
Another example is, for me, when I stare at a word or a thing for so long, it started to look absurd and I questioned everything about it and its existence. How does the alphabet “g” shaped that way? Who invents it? Why do people come in consensus to shape the alphabet “g” as “g” and use it until now? Why does “g” sounds like that? Why can’t “g” sounds like “h”? And so on and so on. And I turn to google to get those answers. Alas, google is my friend. Is google your friend?
The complicated thought took place in human brain is fascinating. And in my brain, it tend to over-think towards a more negative side. I am no manic pixie dream girl kind of type to start with but negativity is somewhat a bias. Bias lies. Even though my case can’t be considered a depression that needed medical solution-in which I should take antidepressant to numb myself to anxiety or make myself happier-negativity should be balanced out with positivity.
I always remember an episode of Doraemon where it give Nobita a magic belt that can measure how much happy-positive stuff and sad-negative stuff can happen to a person in a day. The amount of happiness must be the same with the amount of sadness. Thus, the happier you are in a day, the sadder you are. It is twisted, but aren’t all child cartoon are twisted in some sort of degree?
So, I work with that logic. With the amount of suffering I could take in a period, I should reward myself with things that makes me happy. The psychologist suggested to start with what used to be my hobby.
Then I talk to closest friends. One thing that we always experience is a crave for travel. The Germans have the word for it: Fernweh. Travel always give me a sense of enjoyment and excitement even before it take place, talking about it is already fun and made my day. Moreover, after buying the ticket, I have hopes and purposes of living until the day I finished traveling. I started to save money, check for trails, places, and interesting path in the destination, and keep up my health. In other words, travel makes me keeping a positive outlook towards life. And it’s good, it’s a good mean to balance out my brain’s negative bias.
It took me a while to come to an epiphany about travel and how it makes me delighted. Still and all, I buy one ticket for next year. A ticket to a land where plains and rivers and old temples existed. A ticket to where the probability of happiness is abundant, even when it’s not happening yet (I know I said probability is a guilty pleasure, I just can’t help it).
Right here and now, I am grinning ear to ear just by thinking about it.
If I were a performing artist, this would be the cover of my first album. Well, I am always more of a constructivist anyway. Besides, how do you perceive something as a truth when your perception of the world as a human and social experience plays along to shape your being as a functioned human?
Thus, truth itself is constructed, verus ipsum factum says Giambattista Vico.
Reason to be US citizen exhibit one. But then I realize that I have a bachelor degree not from STEM field. Hear that? The sound of my heart breaking into pieces
Meet Arthur.
Dia adalah CEO sebuah lembaga riset philanthropy di salah satu sekolah bisnis terkemuka di Paris. He is eloquent, smart, ambitious, and insightful. Sudah sebulan ini dia tinggal di Singapore dan somehow dengan beberapa kata bujukan atasan saya dia mau main ke Jogja.
Saya dan Mentari adalah, well… mkurniasari dan thatthingumabob.
Weekend kemarin kami bertiga ke Candi Prambanan, the usual visiting place for Jogja’s first-timer dan nongkrong di Roaster and Bear. Setengah jam pertama ketemu Arthur, saya dan Mentari masih berusaha ngobrol dengan keterbatasan pengetahuan kita tentang Paris dan Perancis dengan English a la a la 9gag (Tru dat, that escalates quickly, say no more etc.). Apa sih yang kami tahu? Ya soal Amelie, keindahan Paris, dan bonjour bonjour.
Lalu dia bilang: aku adik kelasnya Audrey Tautou loh.
And that sort of started our long winded conversations about anything, everything. Dari hal standar macam sejarah dan relief candi, turis yang jadi walking advertisement buat batik, how to find shady places karena siang itu panas banget, sampai dia yang isin karena beli payung warna hijau cetar di supermarket.
Dua jam kita barengan sama Arthur, dia mulai ngajakin kita jeering orang-orang yang, menurut dia, malas jalan dan memilih naik kereta buat keliling kompleks Candi. Semenit kemudian dia menarik kata-katanya: except for that old lady at the back, of course.
Sampai kemudian dia punya ide untuk membawa burung kasuari yang dipelihara di Candi ke mobil karena saya bilang saya merasa sedih melihatnya sendirian dan orang-orang di Candi juga nggak akan peduli kalo kasuarinya ilang.
Sir, are you okay? Like, really okay? Batin kami. Sudah gitu, kemudian dia milih beli trico ketika kami beli ice cream. I lost it.
Selama seharian, entah kenapa, kita ngobrol soal macem-macem sambil dengerin album barunya Jono Terbakar. Mungkin karena saya dan Tari ini nampak begitu kumbah-able dan sinting karena suka tiba-tiba saling makakke satu sama lain kalo tiba-tiba nggak ada topik. Arthur, Mentari is one of the greatest church organist. Arthur, Muti knows everything about history. Faktanya palsu. Tapi dia nyauri aja, dengan gelagat ngumbah, kayak pemain bulutangkis Denmark ngeliatin pemain bulutangkis Indonesia: piye piye? Yen ra reti ki googling wae, rasah dipekso. Terutama waktu aku dan Tari ndongeng Roro Jonggrang:
Once upon a time, there is a princess called Roro Jonggrang. Her dad set her up with some random guy, I mean, some random prince. She hated it and so she asked the prince to build her 1000 temples in a night if he wants to be his husband. The prince asked the help from beasts and other spirits. Seeing the prince almost completed the 1000 temples, she went to the chicken place. You know, princess has chickens. The princess brought fire and the chickens do cook-a-doodle-doo. The beasts and spirits realized it was morning already and disappears, leaving the prince baffled. The prince realized the trick and got mad. He turned the princess into the 1000th temple.
High as fuck. Dan paragraf di atas adalah versi yang lebih baik dari apa yang terlontar dari mulut kita waktu itu.
Tapi nggak cuma saya sama Tari sih yang high. Pas kita tanya sebenernya potato au gratin itu apa, dia bilang: “I don’t know if that is a French thing, potato is not French.” And I was like, “Sir, seriously?”
Later that day, Arthur cerita kalo dia fans Paris Saint Germain (dan kemungkinan bahwa temennya adalah mantan hooligan PSG). Pas dia liat orang dengan potongan rambut rattail dan pake kaos PSG, dia diam-diam ngejar orang itu buat difoto, mungkin mau dia sebarin ke temen hooligan-nya. Oya, dia dulu gabung grup hip hop Perancis. You know, that hiphop that Kanye, Jay Z, Drake, and Minaj do. Meski sekarang dia lebih suka Jazz dan sempet mampir ke Jazz Mben Senin sebelum paginya balik ke Singapore.
Jumat ini Arthur kembali ke Paris dari Singapore. Pacarnya bisa marah kalau dia lebih lama lagi di Asia katanya. So, sampai ketemu kalo someday kita main ke Paris dan kalo someday kamu main ke Jogja lagi. Dan Bung, tolong sampaikan salam untuk Audrey. Dari Muti dan Tari di Jogja.
You do you, Arthur, you do you.