Anak Kecil Berbaju Kuning
Sebagai seorang suami tentunya sudah menjadi tugasku untuk selalu siap mengantarkan istri kemanapun pergi. Seperti ketika ada salah satu teman istriku yang meminta tolong untuk menggantikannya praktek di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Purwakarta. Dia bertanya kepadaku, apakah pekerjaan tersebut diambil saja atau ditolak. Pada saat itu aku mengatakan kepada istriku, jika memang temannya itu berhalangan datang karena sesuatu yang tidak bisa dihindari, tidak ada salahnya membantu menggantikannya praktek, lagi pula hanya satu hari saja. Setelah kami mengobrol panjang lebar, akhirnya istriku memutuskan untuk berangkat menggantikan temannya tersebut.
Waktu itu hari sabtu, semenjak sholat subuh, kami berdua bersiap-siap untuk segera berangkat karena jadwal praktek di rumah sakit itu pukul 8 pagi. Tentu saja istriku harus sudah berada disana sebelum jam mulai tersebut. Tidak sempat membuat sarapan, akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa makanan di perjalanan menuju Purwakarta. Mampir sebentar di salah satu rest area yang kami lewati, istriku membeli roti, beberapa cemilan, dan minuman untukku nanti.
“Kamu mau mie instan?”, tanya istriku.
“Ngga usah, nanti bikinnya dimana? Susah”, jawabku.
Akhirnya istriku hanya mengambil beberapa jenis roti kesukaanku dan makanan ringan beserta macam-macam minuman ringan.
“Banyak amat?!”, tanyaku.
“Udah biarin aja, kalo ngga abis juga bisa dibawa pulang”, jawab istriku sambil membawa ranjang belanja ke kasir.
Setelah selesai membeli beberapa keperluan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalanan masih terbilang sepi, karena memang kendaraan yang keluar Bandung tidak sebanyak kendaraan yang masuk. Cuaca hari itu sangat cerah, karena walaupun masih pagi, langit sudah terlihat berwarna biru, dihiasi oleh beberapa awan putih yang juga sudah menampakkan dirinya.
“Kayanya kita kepagian deh, Yang”, kata istriku sambil melihat layar teleponnya.
“Ngga apa-apa, sih. Mendingan kepagian daripada telat”, jawabku singkat.
Memang ada yang berbeda dari kebiasaan kami berdua. Istriku lebih cenderung santai jika dibandingkan denganku yang tidak biasa terlambat untuk datang ke sebuah pertemuan atau perjanjian. Ketentuan berangkat setelah sholat subuh pun awalnya ditolak istriku, karena dia beranggapan jarak Bandung – Purwakarta tidak terlalu memakan waktu yang banyak. Sementara aku pikir ini adalah sebuah awal dari pertemuan istriku dengan pihak rumah sakit swasta tersebut, tentunya aku tidak ingin ada kesan yang kurang mengenakkan dari pihak mereka.
Benar saja, kami sampai di Purwakarta sekitar jam 7 pagi. Itupun setelah kita berhenti beberapa lama di rest area untuk membeli makanan.
“Kan. Aku bilang juga kepagian ini”, jawabku sambil cemberut.
“Hahahaha. Kita jalan-jalan saja dulu sebentar, sambil cari sarapan mungkin”, jawabku.
Ini kunjungan pertama kami di Purwakarta. Dan seperti biasa, jika kami pertama kalinya mengunjungi sebuah kota, kami selalu berkeliling untuk mencari tahu ada apa saja di kota tersebut. Kemudian aku meminta istriku mencari lokasi yang menjadi icon kota Purwakarta, sekalian mencari tahu apakah ada tempat sarapan yang tidak terlalu jauh dari tempat tersebut. Tidak lama kemudian, istri menyebutkan sebuah nama tempat yang menjadi tempat palin banyak dikunjungi oleh wisatawan yang mampir ke Purwakarta.
“Taman Air Mancur Sri Baduga!”, teriaknya.
“Kita kesana sekalian liat siapa tau ada yang jual sarapan”, kataku.
Sesampainya ke tempat yang disebutkan oleh istriku, kami melihat sepertinya banyak orang yang sengaja datang ke tempat tersebut hanya untuk mencari sarapan, sama seperti kami. Di sekitaran tempat tersebut banyak penjual makanan, dari yang ringan seperti kue basah hingga makanan berat seperti nasi kuning ataupun bubur ayam.
Setelah sempat berkeliling melihat penjual apa saja yang ada disana, kami memutuskan untuk membeli bubur ayam. Karena sepertinya memang tidak ada sarapan yang menjadi ciri khas daerah ini. Hampir semua penjaja makanan yang kami temukan, menjual makanan yang dapat kami temukan juga di Bandung. Makanya pilihan sarapan pagi ini jatuh kepada bubur ayam karena menurut kami sudah dipastikan bahwa jika menu ini sudah tentu akan selalu enak, mau itu kelas kaki lima seperti sekarang ini ataupun kelas cafe.
Sambil menikmati sarapan, aku memperhatikan beberapa orang yang sepertinya memang sengaja untuk berolahraga di tempat ini, kemudian selepas olahraga mereka bisa langsung menikmati jajanan yang ada disini.
“Ini mah olahraganya sebentar, makannya yang lama”, kataku kepada istriku.
“Itu mah kamu!!”, jawab istriku cepat.
Bapak penjual bubur pun tertawa mendengar istriku berkata seperti itu, kemudian kami pun mengobrol sambil menanyakan beberapa tempat yang biasa dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Purwakarta. Beliau menyebutkan beberapa nama, diantaranya wisata kuliner khas Purwakarta, yaitu Sate Maranggi.
“Kita kesini mau kerja, bukan plesiran”, kata istriku lagi.
“Yang kerja kan kamu, aku mah sambil nungguin kamu mau jalan-jalan”, kataku sambil tertawa.
Setelah selesai menghabiskan sarapan yang kami pesan, aku melihat jam di layar teleponku sudah menunjukkan pukul 7.30, tandanya kami harus segera berangkat ke rumah sakit.
“Kata perawatnya, pasien hari ini banyak. Kamu ngga apa-apa nunggu lama?”, tanya istriku kemudian.
“Ngga lah. Tenang aja, lagian udah ada stok makanan banyak juga. Kalo abis tinggal cari aja, di deket rumah sakit mah banyak makanan, tenang”, jawabku sambil tertawa.
Begitu sampai di rumah sakit yang dituju, istriku langsung masuk untuk menemui perawat yang sudah ditunjuk oleh temannya sebagai penanggung jawab selama istriku praktek di tempat ini.
“Semangat ya, Yaang”, teriakku dari dalam mobil.
Istriku hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum dan berjalan menjauh menuju pintu masuk rumah sakit. Aku segera berkeliling mencari tempat parkir yang sekiranya akan menjadi tempat yang enak untuk berteduh. Petugas parkir datang menghampiriku dan menanyakan apakah aku sedang mencari tempat parkir.
“Parkir, Pak?”, tanyanya.
“Iya, Kang. Praktek, ganti dokter Andi”, jawabku.
Begitu tahu bahwa mobil itu milik seorang dokter, dia kemudian mengarahkan aku ke tempat parkir khusus dokter dan menunjuk ke sebuah tempat yang berada di pojokkan tepat dibawah pohon besar yang rindang.
“Disini ngga apa-apa, Pak?”, tanyanya lagi.
“Ngga apa-apa, Kang. Enak teduh”, jawabku sambil memberinya selembar uang 20 ribuan.
“Eh. Ngga usah, Pak”, katanya.
“Ngga apa-apa. Buat ngopi itu mah”, jawabku lagi.
Aku baru tahu bahwa cuaca di Purwakarta ini sangat berbeda dengan Bandung. Ini baru aku rasakan ketika tadi sedang sarapan bersama istriku. Sepagi itu saja aku sudah banyak berkeringat.
Tidak lama kemudian teleponku bergetar, tanda sebuah pesan kuterima. Aku membuka teleponku dan melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadaku, ternyata istriku.
Poli klinik ada 50 orang.
Pasien visite ada 50 orang juga.
Kayanya kita pulang malem.
Aku segera membalasnya dengan mengatakan bahwa aku tidak apa-apa harus menunggu lama. Maksudnya agar istriku bisa konsentrasi mengurus pasien, tidak memikirkan aku yang menunggunya di parkiran. Cuaca hari ini benar-benar membuatku banyak berkeringat, padahal jam baru menunjukkan pukul 10. Sebenarnya aku mengantuk, karena biasanya setelah sholat subuh, aku melanjutkan tidur sampai jam 8 atau 9 dan kemudian bersiap untuk mengantarkan istriku ke tempat prakteknya.
“Padahal udah dibawah pohon, masih aja gerah”, pikirku.
Jendela mobil aku turunkan semuanya, berharap ada banyak angin yang masuk, setidaknya akan udara lebih dingin di dalam mobil. Selang beberapa menit aku pun tertidur, mungkin karena memang sudah terlalu mengantuk sehingga membuatku tidak sanggup untuk menahan mata agar tidak tertutup.
Aku dikejutkan oleh suara sirine ambulance yang memasuki halaman rumah sakit, diikuti oleh teriakan dari beberapa orang yang sedang berkumpul di pintu masuk. Dari obrolan yang aku dengar, sepertinya ada kecelakaan yang melibatkan dua buah kendaraan bermotor. Baju yang aku kenakan mulai terasa basah ketika aku pegang.
“Makin sore malah makin kerasa panas”, pikirku lagi.
Jam menunjukkan pukul 14.30, dan aku belum sholat dzuhur. Akupun segera bergegas keluar mobil mencari mushola untuk sholat. Aku berkeliling menanyakan ke beberapa orang yang aku temui, tempat sholat terdekat di sebelah mana. Kemudian aku ditunjukkan sebuah mushola yang letaknya tidak jauh dari parkiran mobil.
Setelah selesai sholat, aku kembali ke mobil. Suasana di rumah sakit semakin ramai, banyak orang bercerita tentang kecelakaan yang baru saja terjadi. Dari yang aku dengar, sebuah bus menabrak sebuah motor yang mengakibatkan 2 orang penumpang motor meninggal dunia di lokasi kejadian. Ketika aku sedang berjalan menuju tempat mobilku parkir, aku melihat ada seorang anak kecil sedang duduk disamping pintu depan. Kepalanya tertunduk sambil menangis menanyakan ibunya. Aku segera menghampiri anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun tersebut dan menanyakan apa yang terjadi kepadanya.
Anak laki-laki itu malah semakin kencang menangis. Aku melihat ke sekelilingku dan tidak menemukan ada seorang pun disana. Mungkin semua sedang berusaha mencari tahu tentang tabrakan tadi. Aku membuka pintu mobil dan mencari minuman ringan yang aku pikir bisa aku berikan untuk anak yang sedang menangis dihadapanku ini.
“Kamu minum dulu”, kataku sambil menyodorkan 1 kotak susu.
Dia menengadahkan kepalanya dan matanya seperti tertarik kepada susu yang sedang aku pegang.
“Ayo ambil”, kataku lagi.
Kali ini anak itu mengambil susu yang aku pegang dan segera menusukkan sedotan untuk meminumnya. Setelah habis susu tersebut, anak laki-laki ini terlihat sedikit lebih tenang.
“Kamu kenapa? Kamu sendirian?”, aku mengulang pertanyaanku.
“Ibu mana? Aku mau ke ibu”, dia menjawab sambil melihat sekitar seperti sedang mencari seseorang.
“Memangnya ibu dimana?”, aku kembali bertanya kepadanya.
Tapi sepertinya anak itu tidak mengindahkan pertanyaanku, dia berdiri dan berjalan kesana kemari seperti kebingungan mencari ibunya. Tidak lama kemudian dia kembali duduk disebelahku dan menangis. Aku pun bingung entah harus kemana untuk menemukan seseorang yang dia panggil ibu.
“Kamu tunggu disini, ya?! Om kesana dulu cari ibu kamu”, aku segera berdiri dan berjalan menuju kerumunan orang yang ada di dekat ruang UGD.
Kerumunan di depan pintu UGD semakin banyak. Sepertinya beberapa keluarga dari korban kecelakaan tersebut sudah berdatangan untuk memastikan apakah benar bahwa korban tersebut adalah keluarga mereka. Informasi yang aku dapatkan, salah satu korban yang meninggal ditempat mengalami kesulitan untuk dievakuasi karena terlindas dan berada di kolong bus.
Setelah menanyakan ke beberapa orang, bahkan kepada petugas keamanan, tidak ada seorang pun yang merasa kehilangan seorang anak kecil laki-laki berusia 7 tahunan, aku segera kembali ke tempat dimana anak tersebut aku tinggalkan. Ketika sudah sampai di tempat anak itu berada, ternyata anak tersebut sudah tidak ada ditempat, mungkin dia sudah bertemu dengan keluarganya.
Menjelang maghrib, perutku mulai terasa kosong. Sepertinya ingin segera dimasukan sesuatu kedalam sana. Aku pun segera berjalan menuju pintu masuk rumah sakit, disana banyak terdapat para pedagang yang menjual berbagai macam makanan. Tapi sebelumnya aku mampir sebentar ke mushola untuk melaksanakan sholat ashar. Sambil berjalan menuju mushola, mataku tertuju kepada salah satu tenda pedagang pecel lele.
“Pecel lele ditambah soto kayanya kenyang ini”, aku bergumam dalam hati.
Tidak lama setelah aku melaksanakan sholat ashar, adzan maghrib pun berkumandang, jadi sepertinya aku menunggu sebentar untuk melanjutkan sholat maghrib.
Setelah selesai sholat, aku segera bergegas keluar untuk memesan nasi pecel besera soto yang sudah aku bayangkan tadi. Tapi ketika aku berjalan melewati depan pintu masuk UGD, tampak beberapa perawat sedang bersiap membawa ranjang untuk pasien. Suara sirine ambulance samar-samar mulai terdengar. Dari luar halaman rumah sakit terdengar seseorang berteriak memberitahukan bahwa korban kecelakaan sudah datang dan orang-orang yang tidak berkepentingan dilarang bergerombol di depan pintu masuk. Beberapa orang petugas keamanan dengan sigap membubarkan kerumunan orang yang mungkin hanya sekedar ingin tahu kondisi para korban.
Ada 2 ambulance yang masuk ke area UGD, beberapa perawat dengan sigap membukakan kedua ambulance tersebut. Dengan sedikit penasaran, aku merapat kedepan untuk sedikit mengintip seperti apa kondisi korban saat itu. Pemandangan tidak menyenangkan yang aku lihat ketika pintu ambulance pertama terbuka dan mulai menurunkan korban. Tubuh korban ditutupi oleh tikar dan daun pisang, mungkin ini yang tadi disebut bahwa salah satu korban terlindas dan sulit dievakuasi. Yang terlihat hanya gelang emas yang melingkar di salah satu pergelangan tangannya yang menjulur keluar, dan sandal yang hanya satu terpasang di kakinya yang tidak tertutupi oleh tikar.
Ranjang pertama sudah berhasil dimasukan kedalam ruangan UGD, tinggal korban dari mobil ambulance kedua yang belum dikeluarkan. Dengan perasaan ingin tahu yang semakin bertambah, aku semakin merapatkan badanku kedepan. Tidak lama kemudian pintu ambulance kedua pun terbuka, dan seorang perawat mengambil jasad korban yang berada di ranjang. Aku dibuat kaget ketika melihat baju yang dikenakan oleh korban kedua ini. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya. Kemudian aku teringat kepada anak kecil yang tadi menangis di dekat mobilku. Bajunya sama persis seperti baju yang dikenakan oleh korban yang ada didepan mataku ini.
“Korban anak laki-laki berusia 5 tahun”, teriak salah satu perawat yang ada didalam ruangan UGD.
Badanku terasa sangat lemas mendengar teriakan perawat tersebut. Belum selesai rasa kagetku ini, ada seseorang yang menggenggam tanganku. Genggaman dari seorang anak kecil yang sedang berdiri disampingku, sambil menarik-narik untuk mengalihkan perhatianku padanya. Aku melihat anak yang tadi siang aku temui itu kini ada disebelahku, memegang tangaku, dari kepalanya keluar darah yang deras mengucur membasahi sebagian wajahnya.
Anak itu berseru, “Om......”