Malam itu gerimis kecil membasahi jalanan kota surabaya. Seperti biasa, aku masih terlarut dalam tumpukan tugas tugas kuliah. Jam sudah menunjukkan hampir dini hari, demi menyambung nyawa, ku putuskan membeli kopi dulu di mini market.
Gerimis masih awet, seperti tugas tugasku. Aku hanya membeli sekaleng kopi instant dingin lalu berjalan ke kasir. Ada 2 tempat kasir, kebetulan salah satunya tinggal 1 antrian, satunya masih sekitar 4 orang. Secara alamiah naluri seorang manusia, aku memilih menuju antrian yang sepi.
Baru saja aku meletakkan belanjaku, seorang bapak paruh baya bersama istrinya berkata dengan nada membentak
'loh kenapa mbaknya dulu yang di layani?!'
Pertanyaannya ditujukan pada kasir dihadapanku
'Saya sudah antri dari tadi!' Lanjutnya
Ah bau bau ribut, batinku.
Aku mundur saja selangkah. Kasir di depanku mempersilahkan bapak tadi untuk 'mendahului' antrianku, demi menjaga ketenangan suasana gerimis malam yang syahdu.
Ah tapi ternyata drama masih berlajut,
'Kamu berani ya sama saya! Saya nunggu dari tadi tidak dilayani!'
Si bapak masih berapi, sang istri pun hanya bisa bergelayut manja tanpa usaha menenangkan suami. Sesekali tatapan tidak suka nya dilemparkan pada barisan orang di belakangnya.
'Mohon maaf pak kami lupa meletakkan signage close di kasir sebelah, sudah tutup'
'Gimana sih, yang bener kalian kalo kerja! Dijaga attitude kalian!'
Kasir tadi hanya diam saja sambil terus memasukkan belanjaan kedalam kantong plastik.
'Heh jangan kurang ajar kamu!' Hardik si bapak
'Saya ini bos di Surabaya! Jangan kurang ajar kamu! Jadi kasir saja gak becus!'
Aku dan beberapa penonton drama ini hanya terdiam sambil geleng geleng kepala. Sebuah cuplikan scene tokih antagonis drama di play pada dunia nyata.
Aku tidak habis pikir, apa motivasi beliau berkata kasar dengan kalimat merendahkan hanya karena sedikit terlambat dilayani. Yang lebih tidak habis pikir adalah, masih ada saja rasa tinggi diri atas strata sosial. Lalu kenapa jika anda bos dan dia kasir? Bangga sekali akan suatu hal yang fana dan sementara.
Belum lagi gertakan dengan embel embel attitude, oh god tolong limpahkan rejeki yang lebih agar bapak tadi bisa membeli kaca. Disini siapa yang attitude dan moral nya patut dipertanyakan?
Yasudahlah, biar penonton saja yang menilai. Aku harus kembali menyelesaikan tugas.