Tentang Cinta yang Diam-Diam Mengikis
Aku pernah mengira cinta adalah tentang bertahan.
Tentang menahan diri, meredam suara,
dan mengalah demi sesuatu yang katanya lebih besar dari ego.
Aku tidak sadar bahwa perlahan,
yang terkikis bukan pertengkaran,
melainkan diriku sendiri.
Aku belajar mencintai dalam sunyi.
Menjaga yang berharga agar tetap utuh,
bukan agar terlihat.
Namun sunyi sering disalahpahami,
seolah rasa yang tak dipamerkan adalah rasa yang kurang.
Aku diminta menghapus jejak-jejak lama,
seakan hidupku baru sah dimulai
saat namanya hadir.
Padahal masa lalu tidak selalu membawa luka,
sebagian hanya kenangan yang telah selesai tanpa dendam.
Ada hari-hari ketika aku berdiri sebagai penyangga,
menopang gelombang emosi yang bukan milikku,
hingga aku lupa bagaimana rasanya bersandar.
Aku membujuk dengan bahasa yang kupelajari pelan-pelan,
namun selalu saja ada nada yang belum tepat,
cara yang kurang pas,
cinta yang dianggap belum sepenuh yang diharapkan.
Yang melelahkan bukan tuntutan,
melainkan ketidakseimbangan.
Aturan yang berubah tergantung siapa yang memegangnya.
Kepercayaan yang diminta, tapi tak pernah benar-benar diberikan.
Aku mulai bertanya pada diri sendiri,
sejak kapan mencintai berarti kehilangan ruang bernapas?
Sejak kapan setia harus dibuktikan
dengan menyerahkan batas-batas diri?
Aku tidak mencari cinta yang gemuruh.
Aku hanya ingin cinta yang tenang.
Yang tidak menguji setiap langkah,
yang tidak menghukum diam,
yang tidak menyamarkan kontrol sebagai kepedulian.
Karena jika untuk dicintai
aku harus mengecil hingga nyaris lenyap,
maka yang kupeluk barangkali bukan cinta,
melainkan ketakutan akan kesepian.
Dan hari ini,
aku belajar memilih kejujuran
meski harus berhadapan dengan kehilangan.












