Akan ada beberapa hal tentang rasa sakit yang akan selalu sama, kurasa. Di antaranya adalah bahwa ia tak pernah segera terasa ketika kau jatuh. Ia akan menunggu beberapa hari, dan biasanya hadir dengan perlahan di suatu pagi setelah tidurmu yang lelap. Setelah itu barulah ia menyiksamu.
Will terlelap sepanjang malam di hari ia tiba. Aku akan selalu mengingat Boston Memorial sebagai lorong-lorong putih dalam kesunyiannya yang pekat dan khas. Langkah kaki para perawat seolah berada dalam gerak lamban. Ritme lelah usai menit-menit gawat darurat yang menegangkan, layaknya baris koda dari sebuah lagu. Bulan Februari di luar jendela masih berwarna putih. Lampu-lampu kota menyilangkan sinar-sinarnya menembus pepohonan gundul yang ikut tertidur, menunggu matahari bersinar kembali. Malam akan berjalan lebih cepat mulai sekarang, dan siang akan mulai merangkak lebih lamban.
Hanya bagiku tak ada bedanya.
Aku masih berdentam-dentam, mengikuti detak jarum jam di dinding serta irama tetesan infus yang jatuh ke dalam selang dan mengalir ke bawah kulitnya. Rambutnya mulai tumbuh panjang hari itu, ia hanya mengguntingnya satu kali sejak hari terakhir di SMA. Ikal-ikal meliuk kecil menutupi lubang telinga dan membelit selang ventilator yang bertengger di hidungnya. Dalam skrub hijau rumah sakit aku berharap ia tetap hangat. Adikku pasti akan sembuh, pasti, pasti, pasti—detak jarum jam dan cairan infus itu ikut merapalkannya—dan aku tak ingat kapan mantra ini menidurkanku.
Hingga pada suatu detik segalanya seolah berhenti.
Aku tak tahu aku atau dirinyakah yang lebih dulu terjaga. Dalam keremangan bangsal rawat matanya membuka dan bersinar terang, seperti setiap pagi buta di hari-hari sekolah di masa kecil kami. Aku mengerti diazepam hanya melumpuhkan reseptor periferal hingga beberapa jam, tapi ini belum saatnya ia terjaga. Ia tak seharusnya terjaga dengan cara seperti ini.
Sebelum aku sempat beranjak untuk memanggil perawat, kusadari ia hanya menatapku.
“Penghuni bangsal ini sebelumnya meninggal, Nicolas. Jatuh waktu berjalan keluar dari kamar mandi itu.”
Namun hanya itu yang ia ucapkan. Aku menunggu kelanjutan yang seperti sinyal lemah di ujung telepon, dan ia hanya diam. Kutinggalkan kursi dan beranjak mendekatinya, dan saat itu mulai tak kuyakini apa kedua matanya benar-benar menatapku. Ia masih menatap, tetapi dengan sorot yang seolah menembus ke belakang kepalaku. Aku ikut menoleh ke belakang dan hanya mendapati dinding putih yang mengarah ke kamar mandi yang ia maksud. Apa yang Will lihat?
Sinyal lemah itu masih berkedip pelan. Ia ingin mengucapkannya, dan aku mungkin tak akan mendapatkan saat ini lagi. Maka kukira aku hanya perlu mendengar, tak peduli itu hal paling absurd dari hal-hal absurd yang pernah ia lontarkan. Lengannya terangkat untuk menggapaiku; segera kuraih dan kuletakkan kembali. Nadinya harus tetap lebih rendah dari selang infus—aku bahkan tak ingat apa aku mengutarakan itu pada diriku sendiri atau hanya mengucapkan dalam hati dan ia ikut mendengar.
Di sisi ranjang rawatnya aku membungkuk. “Ada apa, Will?”
“Ingat suatu kali Ayah cerita sepulang berlayar?” bisiknya. “Dia diikuti tiga lumba-lumba di Selat Melaka, sepanjang laut, sampai kapal tiba di pelabuhan berikutnya. Kita belum lama pindah. Kamu dua belas tahun, gue sembilan. Di seberang rumah kita ada pohon kelapa yang tiap pagi dan sore dihinggapi burung yang sayapnya putih. Kadang-kadang di sana sepanjang hari.“
Suaranya serak dan rendah, tetapi ia tenang dan yakin dengan urgensi seolah harus menyampaikan segalanya saat itu juga. Hanya pemakaian kata ganti yang tidak konsisten itu, dan jeda-jeda yang tidak seharusnya yang membuatku yakin ia masih berada di bawah pengaruh obat bius. Dan aku sama sekali tak mengerti yang ia maksud. Masa kecil kami, dalam kenanganku, adalah rumah-rumah yang kami tinggalkan sebelum terlalu lama kami tempati dan kenangan akan kepergian dan kedatangan itu berlapis-lapis banyaknya. Aku ingat pohon kelapa itu, tapi hanya itu. Aku membutuhkan lebih lama untuk menggali rincian sisanya.
Sebelum segalanya hadir, Will telah kembali padaku lebih cepat. Kedekatannya terasa nyata dengan sorot mata yang kini benar-benar jatuh padaku, tidak lagi kepada bayanganku atau bayangan apapun di belakang sana yang sempat menciutkanku beberapa saat tadi. Will kembali, kini dengan kesadaran sepenuhnya.
“Aku tau kenapa burung itu ada di sana, Nick,” ucapnya.
Kurasa aku melihat kenangan itu lewat penglihatannya; pohon kelapa yang tinggi menjulang, pelepah-pelepah daunnya yang mengering dan menjuntai—satu embusan angin saja pelepah-pelepah itu pasti jatuh—dan buah-buahnya yang bundar dan hijau. Lalu seekor burung putih berparuh panjang di pucuknya. Hari itu Rabu, Will kecil dalam seragam sekolah berhenti di seberang rumah kami. Burung itu dari kemarin di sana, ujarnya kepada ibu kami.
“Burung itu dari kemarin di sana,” ulang Will. “Dia menunggu kawanannya.”
Seakan sebuah kelanjutan dari kisah yang membutuhkan sebelas tahun untuk ia tuntaskan. Kelegaan usai kisah itu menenggelamkannya kembali ke dalam ranjang rawat, selang-selang infus dan ventilator serta detak jarum jam. Aku melihat dadanya kembali naik dan turun dalam irama yang sama dengan tetes infus dan ia pun tertidur.
Aku tertinggal di sisi ranjang rawatnya, sendiri dihantui kenangan masa kecil kami.
Ayah pertama kali melihat mereka di perairan Sumatera; melompat-lompat di antara buih ombak, melayang dan tenggelam dalam lingkaran-lingkaran di ujung teropong di buritan kapal. Laut tenang dan kapal melaju pelan dengan sinyal kapal lain yang akan melintas dari arah pelabuhan. Ia akan mencapai daratan segera. Ada selang beberapa menit ketika ketiga mamalia itu menghilang. Kapal mengurangi kecepatan, tetapi sebelum Ayah meninggalkan buritan, larik-larik buih putih muncul di atas permukaan air dan tiba-tiba ketiganya telah begitu dekat. Melompat dari dalam air, dan melengkung tajam di udara sebelum kembali tenggelam. Pagi baru menjelang. Bila matahari sedikit lebih tinggi saja, sekumpulan ikan kecil yang mengikuti mereka akan terlihat tak jauh dari permukaan air.
“Small fish swim in schools, large fish swim alone,” ujar Ayah kepada kami.
“Lalu kenapa lumba-lumba berenangnya bertiga?” tanya Will. “Mereka kan besar.”
“Lumba-lumba bukan ikan, mereka mamalia,” jawabku sok tahu.
William, sembilan tahun, ingin ikut ayah berlayar untuk bertemu lumba-lumba ini. “Nanti pas libur sekolah,” pintanya. Tentu saja itu tak mungkin, kalau pun terjadi mereka tak mungkin masih di sana. Aku sudah cukup besar untuk mengerti. Aku pun sudah menghabiskan cukup waktu dengan ayah sejak sebelum ia hadir—satu hal yang Will tak miliki. Will lahir setelah ayah menjadi kapten dan waktunya di laut lebih banyak daripada waktunya di darat. Tahun-tahun ketika hubungan Will dan ayah menjadi sulit kuingat dengan lebih jelas, sebab terasa lama. Sebagai gantinya, ia dan ibu kami memiliki kedekatan yang tak bisa kumiliki.
Aku mengetahui cerita tentang burung putih itu dari Bunda.
“Kamu dengar itu, Nick?” ujar Bunda. Aku baru saja membuka buku PR dan ia berdiri di tengah jendela dapur, dengan leher terjulur ke luar. Sosoknya menghalangi cahaya. “Benar kata Will, burung itu di sana seharian, sepertinya di pohon kelapa yang itu. Lihat? Dengar suaranya? Uwu, uwu, uwu.”
Suaranya benar-benar seperti itu dan Bunda benar-benar menirukannya. Aku menatapnya dengan kening berkerut tak percaya. Aku tak mendengar apa-apa dan aku hanya ingin mengerjakan PR. Aku selalu mengira Will dan Bunda memiliki teritori sendiri, di mana mereka berdua dapat saling mengerti. Teritori itu tak bisa kumasuki sebagaimana yang menurut Will kumiliki dengan ayah. Maka, kubiarkan segalanya berlalu. Namun, beberapa malam setelah hari itu Will merayap naik ke tempat tidurku sesaat sebelum aku terlelap. “Dengar ‘kan, Nick? Burung itu lagi.”
Aku tahu kita membutuhkan kesunyian untuk benar-benar mendengar. Namun di tengah malam itu, saat polusi suara lesap dan frekuensi terkecil pun terasa dekat, kau mungkin tak yakin apakah suara itu benar-benar ada atau hanya gaung dari dalam kepalamu sendiri. Aku melawan kantuk selama Will menatapku lekat-lekat dalam penantiannya akan sebuah pengiyaan, sambil berupaya merasakan irama yang ia dengar. Mungkin benar-benar ada. Mungkin yang kurasakan hanyalah irama Will menirukan suara itu dalam hati, seperti ketika Bunda melakukannya. Maka aku pun mengangguk. “Uwu, uwu, uwu,” kataku. Ia tersenyum dengan kepuasan di matanya, senang sebab ia terbukti dan tak sendiri dengan pikirannya.
Tatapannya yang lekat itu—yang masih terasa seperti saat ia sembilan tahun—adalah yang terakhir kulihat ketika mereka menutup pintu bangsal rawatnya dan mendorongku keluar. Subuh bahkan belum menjelang, dan aku sudah membangunkan seisi rumah sakit. “Another relapse,” ia mengerang saat terbangun. Yang kutahu adalah Will ingin aku ada di sana. Namun, dalam kegesitan yang tak mampu kulawan, paramedis dan dokter dalam skrub hijau melesak masuk dengan arus yang menyeretku ke arah sebaliknya.
Ia membisikkannya lagi sambil menatapku pergi. Wajahnya terangkat kepadaku di antara bahu sepasang perawat, “Did you hear the bird, Nick?” lalu mereka merebahkan tubuhnya.
Di depan wajahku, pintu bangsal rawat berayun dan menutup rapat.
Rasanya seperti pengkhianatan. Rasanya seolah semua yang pernah kau cintai di dunia ini tiba-tiba berbalik membencimu.
William tak pernah sembuh, tapi tentu saja itu baru kuketahui lama kemudian.
Sweeney, perawat yang menutup pintu Will di depan wajahku itu kini hadir di lorong. Ia menarik pintu itu lagi hingga menangkup di belakangnya, kemudian duduk di bangku di sisiku dan berkata, “Istirahatlah, Mr. Hakim. Anda butuh itu dan nanti William juga. Biar para dokter dan perawat menangani adik anda untuk sekarang.”
Aku sudah mendengar itu berkali-kali meski tanggalan baru saja berganti.
Kuangkat wajahku, menatapnya. “Apa benar penghuni bangsal Will yang sebelumnya meninggal? Jatuh waktu keluar dari kamar mandi?”
Seketika kedua mata perawat itu menyala seperti jendela-jendela rumah di tengah malam yang mengerjap karena alarm berbunyi. Segera kusadari Will lagi-lagi benar, seperti tentang burung putihnya. Never mind, tukasku padanya segera.
Namun ia enggan melepaskannya. “Anda kenal Mrs. Montgomery?”
Don’t think about it, ma’am, ulangku. “Will pasti dengar itu dari perawat lain, dia memperhatikan dan mengingat semua hal. Saya terkejut tadi dia tiba-tiba menyinggung itu, itu saja. Saya kira dia melihat hantu di belakang saya atau apa.”
“Mr. Hakim, kami tidak membicarakan riwayat pasien di depan pasien lain,” ucapnya. “Dan William kehilangan penglihatannya beberapa saat sebelum serangan ini.”
Harusnya aku menyadarinya saat itu.
Harusnya segera kuterima kenyataannya; segalanya tak akan sama lagi. Will tak akan sembuh dan waktu yang disisakan bagiku untuk bersamanya mulai sekarang akan berjalan mundur, kembali lagi kepada saat kami belum sedekat ini, lalu kepada saat ia tak ada di dunia. Harusnya kusadari agar dapat kuhabiskan setiap detik sebesar-besarnya, merentangkan relativitas waktu sejauh-jauhnya. Kami bisa melintasi malam kota Brussel di dalam trem hingga pukul tiga pagi, seperti yang kulakukan untuknya setelah serangan pertamanya di SMA. Kami bisa pergi menonton Red Sox lagi, dengan tiket di baris depan seperti musim lalu. Ia selalu ingin menempuh perjalanan Road 66—harusnya kuluangkan waktuku di musim panas itu. Akan kuterangi setiap malamnya bila aku bisa, dan aku seharusnya memberi lebih banyak lagi. Namun, setelah malam itu, tahun-tahun yang terasa semakin pendek tetap tak membuatku sadar. Kukira ia akan terus ada.
Itulah hari-hari ketika doa-doaku tak terkirim.
William dilepaskan oleh Memorial setelah delapan hari perawatan, dengan jadwal terapi yang membuatnya tetap harus kembali secara berkala. Bulan Maret tiba, tetap putih, tapi matahari bertahan lebih lama. Kami mengemasi barang-barangnya dalam dua tas duffel yang akan kami bawa masing-masing. Ia kehilangan empat pon berat badan, berjanji untuk segera makan banyak, dan berupaya menutupinya dengan berlapis-lapis kaus dan jaket.
Di sisi jendela bangsal rawat itu ia mendorong binder birunya kepadaku.
Ini kali pertama ia mengizinkanku membacanya. Isinya Kalkulus; phi, alpha, beta, sigma yang penuh angka serta simbol-simbol algoritma. Apa-apa yang ia tulis di tempat tidur itu di malam dan siang ketika ia seharusnya tidur.
“Setiap simbol ini mewakili gerak semesta, iya kan, Nick?” ujarnya. “Massa, volume, kecepatan, luas. Phi bagi apapun yang melingkar, square bagi yang melipatgandakan diri. Kita percaya semesta luasnya tak terbatas, terus bergerak dan melebar sejak ledakan bintang tapi bila dikombinasikan dengan persisi tertentu, simbol-simbol ini membantu kita membaca arah dan pola pergerakannya. These are law.”
“That’s some finding,” kataku segera membaca apa yang ingin ia sampaikan. “Jadi apa hubungannya ini dengan burung putih di pohon kelapa di seberang rumah?”
“Lumba-lumba yang ikut ayah pulang waktu itu, Nicolas.”
Kedua matanya bersinar-sinar cerah, dan itu membuatku percaya ia telah sembuh. Binder biru tebal itu tergeletak di atas kasur di antara kami, dan aku akhirnya ikut duduk. Aku masih punya empat puluh menit sebelum kuliah berikutnya, maka kutunggu ia menyelesaikan teori ini.
“Waktu itu musim migrasi dan hewan berpindah ke tempat yang lebih menjamin kelangsungan mereka. Survival instinct—small fish swim in schools, large fish swim alone, remember? Pasti ada lebih banyak lumba-lumba, mamalia atau ikan besar lain yang tiba di pelabuhan di musim itu. Bukan hanya tiga yang mengikuti kapal ayah. Ikan-ikan besar ini membaca arus musim dan memilih perairan yang cerah dan tenang. Ikan-ikan kecil mengikuti mereka. Burung laut, yang ada di rantai makanan berikutnya, bermigrasi mengikuti perubahan suhu dan pergerakan ikan-ikan ini. Tapi di satu atau saat lain dalam migrasi itu, akan ada satu-dua yang tercecer dari kawanan. Glitch—malfungsi kecil sekalipun alam sudah berpola dengan sendirinya. Harusnya sudah ada algoritma yang mengukur pola malfungsi ini.”
Burung itu menanti teman-temannya, rombongan migrasi berikutnya. Siang dan malam bertengger di atas pohon kelapa itu karena itu puncak tertinggi di mana ia dapat didengar. Will mendengarnya. Bunda ikut mendengar. Aku tidak. Selamanya tak pernah tahu bagaimana ia menemukan jalan pulang atau pernahkah ia benar-benar pulang. Tidak ambil pusing. Bahkan ketika jawaban itu tiba di hadapanku di hari itu, yang kupikirkan adalah bagaimana Will sampai memikirkannya. Di sini, sekarang, dan di malam-malam ketika ia setengah tidur dan berada di bawah pengaruh obat bius.
“Dia menunggu kawanannya,” ia menegaskannya lagi, mengulang yang ia ucapkan di malam ia tiba seolah memastikan pintu belakang kisah itu telah benar-benar tertutup. Setelah belasan tahun, sebuah closure.
“Tapi selama hari-hari itu, tidak ada yang datang.”
Aku melihatnya sejelas-jelasnya; sakit yang mendera Will dalam terpejam, denyut di belakang kepala, kegelapan di segala arah, dengan kebingungan haruskah ia menegar rasa nyeri itu dan bertahan. Atau inikah akhir? Hampir bisa kurasakan kalkulasinya akan peluang hidup yang sedang ia perjuangkan, melawan malfungsi yang harus ia jalani. These are law—akan tetapi malfungsi tertentu kadang tetap terjadi. Ia benar-benar berjuang. Will menghitung peluangnya sendiri hingga ia merasa tersesat seperti burung yang ia temukan waktu kecil. Terpisah dari kawanan migrasi, tak tahu haruskah ia melanjutkan perjalanan atau sudahkah saatnya pulang atau ke mana ia harus pulang. Dan kisah Ayah, beserta tiga lumba-lumba yang membuntutinya pulang hadir di waktu yang setepatnya; seperti setiap kenangan yang tak pernah keluar dari istana memori Will.
Tanyaku kemudian, “Terus lo dapat cerita soal Mrs. Montgomery dari siapa?”
Ia langsung menatapku dengan kening berkerut tajam. “Siapa itu Montgomery?” tukasnya, sepenuhnya bingung.
Jawaban itu tak pernah kutemukan.
Aku pun melepaskannya. Pasti perawat selain Sweeney, pikirku, atau pasien lain yang ia temui selagi aku tak ada. Sebab tak mungkin membuktikan kebenarannya juga. Seperti kisah tentang burung putih itu, aku tak menganggapnya penting. Dan seperti kisah tentang burung putih itu juga kurasa jawabnya baru akan kutemukan belasan tahun lagi.
Namun, aku benar akan satu hal. Rasa sakit akan selalu sama; ia tak segera datang ketika kau jatuh dan baru akan menyiksamu beberapa lama setelahnya. Hanya saja, bila kau beruntung dan benar-benar berjuang—seperti William ketika sosoknya melintasi lorong menuju elevator rumah sakit—lama-kelamaan kau akan ikut mencintai rasa sakit juga. Sebagaimana ia mencintaimu.
Kini aku yakin burung putih itu benar-benar ada. Aku tahu ia tak pernah menemukan kawanannya kembali. Tak pernah pulang. Pada akhirnya, dengan sekuat tenaga menciptakan habitat baru dalam keterasingan, berkawan dengan segala yang memungkinkan kelangsungan hidupnya.
Sebab keteguhan itulah yang membuat Will bertahan hingga begitu lama.