Berteman si tiang lampu, dan sepi. Dalam nyala yang harus, dan sendiri.
DoubleM
Misplaced Lens Cap
No title available
KIROKAZE
Jules of Nature
Cosmic Funnies

No title available

Discoholic 🪩
h

Origami Around

#extradirty
hello vonnie
trying on a metaphor
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
todays bird
No title available
Monterey Bay Aquarium
Not today Justin
Today's Document
🪼

seen from United States

seen from Germany

seen from Ireland

seen from United Kingdom
seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Colombia

seen from Canada

seen from United States
@mrikhar
Berteman si tiang lampu, dan sepi. Dalam nyala yang harus, dan sendiri.
DoubleM
Hai Negeri ku.. Ijabat pencipta menyertaimu Nyatakan padamu dirgahayu Dari bangsa hingga suku Olehku cinta tak jemu . Hai Tanah Air ku.. Nuansa indah di keragaman Enggan beranjak meninggalkan Selirat rindu kemakmuran Iradat Tuhan membenih harapan . Hai Rumah Asal ku.. Adakah cahaya teriring Menatap tidak menjeling Elokkan mu meski puing Raih kejayaan hingga gaing . Untukmu Bumi Kelahiranku.. Deru angin sejukkanmu Erangan rakyat menyakitimu Keagunganmu kebanggaanku Akan kujaga Kau Indonesiaku . . . . . . #indonesia #merdeka #170845 #170817 #tanahair #dirgahayu #dirgahayuNKRI #republikindonesia #harimerdeka #72tahun #17agustus #72 #merahputih
Untuk?
Untuk malam yang kesepian Mau kah tuk sekedar berteman Menanti indahnya rembulan Enggan nampak dibalik awan Untuk yang kesekian kalinya Rindu amat curang terasa Kian bertambah semaunya Tuk berkurang tak tahu cara Untuk angin yang berarah Bukankan berbisik itu mudah Ku yakin kau takkan salah Hiburlah ketika resah Untuk hari di tepi abad Nyatakan kata penuh tekad Nyatakan kalimat dalam akad Sebelum roh tinggalkan jasad Dan ku bersimpuh menengada Berucap amin di penghujung kata Perlukah hujan di pelupuk mata Hingga segalanya menapak nyata
Aku langit biru dan engkau cakrawala.. saat senja menjinggakan indahmu, aku menghilang Aku daun hijau dan engkau ulat rakus.. saat metamorfosis mengembangkan sayapmu, aku pamit pulang
"Wise men speak because they have something to say; fools speak because they have to say something." - Plato (di Batam, Riau, Indonesia)
The longing that was growing just evaporated became clouds and would dampen me when the sky couldn't hold and keep it anymore... the rains fall to make my way become harder than before... but i believe, most of them, fallen to the sea and i will take it as soon as possible, give you, and wish you can accept those..
.
Strange, right? I still dreaming about you.. even I was wake up. . . . . . .
Aku terbangun. Menghentikan mimpiku tentang kita. Bahagia. Sejenak kemudian mata ku terjaga. Lalu menyadari bahwasanya aku masih saja bermimpi. Menggapaimu. Bersamamu..
Malam Kita?
Hey bunga. Penikmat hujan menunggu senja. Lama sudah kita tak jumpa. Tepatnya tak bertatap muka. Dua bulan lalu kau bercerita. Tepat di tanggal yang sama. Bertanya kabar dan berita. Tapi untukmu apa yang ku punya? Hanya bisu tak tau bahasa. Diam bersimpuh menanggung lara. Tentangmu tergudangkan bertumpuk tanya. Tentang kabar dan perasaanmu misalnya? Namun yang terjadi malah sebaliknya. Mulutmu lah yang mengutarakan kisah. Hubunganmu saat ini dengan dia. Mendengar itu apalah daya. Menyesal yah mungkin saja. Menyimak sajalah yang ku bisa. Menanggung rindu mengubur rasa. Dalam hati rada kecewa. Takdir ditetapkan tak mengapa. Tapi berharap pun tak ada salah. Menyelipkanmu diantara doa. Tentunya setelah doaku ke orang tua. Agar sehat menemanimu disana. Tak lupa mengajak si bahagia. Hingga langit dihiasi jingga. Hingga sunyi menutup angkasa. Menyelimuti mu bermimpi indah. Di pekatnya malam kita.
Hanya impian mungkin
Kata orang.. saat kau membangun sebuah rumah dengan seseorang, lalu rumah itu kalian diruntuhkan bersama-sama. Semuanya takkan lagi sama saat kau membangun ulang rumah itu dengan orang yang sama. Tapi apakah rumah itu akan beda jika aku tak meruntuhkannya.. dia yang pergi, aku tak sekalipun meninggalkan rumah ini. Banyak orang lalu lalang berharap kupanggil tuk tinggal bersama, ada beberapa yang mampir tuk sekedar bertukar cerita dan pikiran., namun rumah ini kubangun bersama dengan dia yang pergi. Aku tak akan biarkan orang lain merasakan nyaman yg kurasa disini. Aku egois yah? Rasanya tidak juga, aku hanya takut jikalau dia datang berkunjung, dan telah ada orang lain bersamaku menempati rumah ini. Karena yang kuharap mengisi dan melengkapi kekosongan rumah ini hanyalah dia. Selama beberapa tahun ini, aku mulai mengumpulkan perabotan dan perlengkapan rumah yang telah ia bawa pergi. Agar saat ia kembali. Rumah ini sudah siap untuk ia menetap disini. Beberapa bagian ku renovasi, yang mungkin dulu membuatnya tak nyaman dan menjadi alasannya tuk pergi. Kadang sesekali ia menelfon, datang berkunjung, dan bercerita bahwasanya ia telah menemukan tempat bernaung yang baru, tempat yang mungkin, sepertinya lebih nyaman dari bilik bilik kecil ini. Katanya tempat itu milik seorang pria dengan tingkat lebih tinggi darinya semasa di sekolah menengah. Tapi tak apalah, namanya juga berjuang, aku tak mungkin merusak tempat tinggal pria itu agak dia kembali ke rumah ini. Toh aku tetap bisa berangan suatu saat nanti dia kembali mengisi warna di sepinya rumah ini, membangun kembali bagiannya yang tlah rusak, menyempurnakannya hingga pantas tuk disebut istana. Yah istana.. istana kami tentunya, karna tuk membangun semuanya sendiri, aku masih blum sanggup. Hanya tersisa setitik harapan dari sehamparan keputusasaan yang tersisa. Harapan dia menemukan jalan pulang, jalan tuk kembali, ditempatku terduduk termangu ini. Hanya menatap kosong ke seisi rumah ini. Bertanya, apakah aku sanggup melupakannya saat orang lain menawarkan diri tuk tinggal? Tapi nyatanya aku masih belum bisa. Jadi kuharap semoga ia berkenan tuk pulang.
Tak Ada Judul
Tepat 3 tahun ditambah 5 bulan yang lalu, kisahku terhenti, enggan tuk bercerita. Entah mengapa yang kulakukan hanyalah mengisi kesepian, bukan kesepianku, tapi kesepian orang lain agar mereka tak merasakan sepi yang kurasa. Kurayakan malam dengan terjaga mengingat, mengenangnya. Kan ku kenang sesuatu yang indah, karena itu pantas. Pantas untuk menjadi setahun tak tergantikan hingga pergeseran jarum kurus warna merah itu saat ini. Ku tak berharap kenangan kan terulang, seakan mencoba memutar waktu, namun menaruh harapan untuk melukis lagi kenangan indah lainnya rasanya tak ada salahnya. Sebab pandangan mata bisa memilih apa yang ia sukai dan mencurahkan ke otak apa yang dipandangi olehnya. Meskipun otak dengan segala pertimbangan matangnya menetapkan objek itu menarik, memikat hasrat tuk lebih dekat. Namun perasaan tetap berprasangka bisa saja jasad menghiasnya dengan sempurna, namun aura sikapnya belum tentu bisa menggantikan ketentraman yang kualami saat malam dan siang berkabar dengannya. Dia itu indah, andai ada kata yang lebih indah lagi dari kata indah, akan kugunakan untuk mengungkap, menggambarkan keindahannya. Karena saat heningnya malam berbulan bintang datang, takkan cukup, takkan lengkap tanpa kabar bahwa kebahagiaan dan kesehatan masih setia berteman dan berada disisi nya. Ku ingin mengungkapkannya, menyampaikan padanya, namun sebuah pengungkapan akan perasaan sangat sulit tuk terucap. Maka dengan bantuan huruf-huruf yang kususun cukup apik, kusampaikan dan kuungkapkan dengan penuh kejujuran pada secarik kertas. Nona, aku merindu, rindu yang teramat curang. Sebab kian hari ia terus bertambah tanpa memberitahu bagaimana tuk berkurang. Aku pengecut, tuk mengutarakan rindu pun aku tak mampu, hanya mampu bersembunyi diruang gelap, tersudut dan tak nampak olehmu. Hanya berbisik pada kebisuan angin untuk meminta menyampaikan salam hangatku teruntuk nona saat lelap menyelimuti tidurmu, saat keindahan mimpi menemani terpejamnya matamu. Semoga awan rela menggambarkan senyumku tuk menyambut pagimu dan meneteskan beberapa airnya untuk keceriaanmu, Ms. Rain.
Cause all the words become perfect when talk about you, ms. . . . . .
Denganmu,
Para seniman kata berkarya
Coretanmu,
Ciptaan tubuh-tubuh hampa
think, realize something...
Aku coba bertahan Ditengah ruang sempit yang kau berikan Diantara rasa yang singgah bertautan Entah mimpi atau aku buta kenyataan Aku akan bertahan Saat kalimat mu mulai mematikan langkah ku Saat hatimu mulai terbagi tak karuan Rapuh aku tak tahu yang kutuju Aku tetap bertahan Meski akhir itu tetap datang Meski daun tak lagi setia kepada dahan Karena hanya kepada ku kau pulang