17 Agustus(ku) di Masa Kecil
Ada waktu di mana merah putih tak hanya berkibar di langit, tapi juga di hati anak-anak yang riang menyambut kemerdekaan. Di setiap sorak lomba, di setiap langkah menuju lapangan upacara, tersimpan tawa dan cerita sederhana yang tak lekang oleh usia.
Setiap kali bulan Agustus datang, aku selalu teringat masa kecilku. Rasanya 17 Agustus itu bukan hanya hari besar nasional, tapi juga hari yang penuh kenangan.
Dulu, sejak SD sampai SMA, aku banyak menghabiskan waktu 17 Agustus di sekolah. Kadang jadi petugas upacara, kadang hanya peserta, atau bahkan ikut upacara di alun-alun kabupaten tepatnya kabupaten Deli Serdang. Maklum, sekolah SMP dan SMA-ku sangat dekat dengan alun-alun, jadi setiap ada peringatan besar, murid-murid pasti digiring ke sana. Panas-panasan berdiri lama, tapi entah kenapa tetap seru kalau diingat sekarang.
Kalau soal lomba, itu juga punya ceritanya sendiri. Pertama kali aku ikut lomba 17-an itu waktu kelas 1 SD, lomba pakai sepatu yang disuruh wali kelasku. Deg-degan rasanya, padahal cuma lomba sederhana. Dan, tentu saja saye nggak menang wkwk. Tapi itulah pengalaman pertama yang bikin seorang syifa semangat ikut lomba-lomba berikutnya.
Masuk SMP dan SMA, aku mulai pilih-pilih lomba yang memang aku kuasai terutama yang menggunakan fisik. Biasanya lari, sprint, estafet, kadang juga lomba-lomba kepemimpinan macam “masukkan botol” dan sejenisnya. Pokoknya kalau sudah berhubungan dengan kecepatan, aku paling semangat ikut.
Di sekitar rumah juga pernah dulu ikut lomba, waktu SD kelas 2 aku coba ikut lomba guli, yah jatuh jatuh aja dan kalah lah. Setelah itu hampir nggak pernah lagi. Aku lebih sering memilih jalan-jalan keliling kampung atau desa lain untuk lihat acara lomba di daerah lain bersama ayah dan adikku. Sambil ketawa-tawa lihat anak-anak kecil atau orang dewasa lomba makan kerupuk, balap karung, atau tarik tambang atau yang paling seru adalah panjat pinang. Rasanya sederhana, tapi suasana ramai dan hangat itu yang bikin kangen.
Sekarang kalau mengingat masa kecil tiap 17 Agustus, aku sadar bahwa merdeka itu bukan cuma soal upacara atau lomba, tapi juga soal kebersamaan. Momen berkeringat di lapangan, ketawa bareng teman, sampai pulang dengan badan capek tapi hati senang.
Dan pada akhirnya, kemerdekaan itu akan selalu hidup dalam kenangan bukan hanya lewat bendera yang berkibar, tapi juga lewat tawa masa kecil yang abadi di dalam jiwa.
~Faa















