#desaberdaya https://www.instagram.com/p/CDSekpZM_OC/?igshid=1wwue0s6puifu
wallacepolsom

blake kathryn
No title available

shark vs the universe
trying on a metaphor
No title available
𓃗
h

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Mike Driver
Cosmic Funnies
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
d e v o n

⁂
occasionally subtle

Kaledo Art
we're not kids anymore.

Andulka
Not today Justin
seen from Chile
seen from United Kingdom
seen from Jordan
seen from Algeria

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Palestinian Territories
seen from Spain
seen from Uruguay
seen from Brazil
seen from Brazil

seen from Chile

seen from Russia
seen from Malaysia
seen from Morocco

seen from Tunisia

seen from United Kingdom

seen from South Africa
seen from Brazil
seen from Malaysia
@mrpahlevi
#desaberdaya https://www.instagram.com/p/CDSekpZM_OC/?igshid=1wwue0s6puifu
Diary of Ramadhan #2
previous
Ada orang yang mengatakan “Uang bisa membeli kebahagiaan”, hal ini menurut sebagian orang mungkin benar, dengan uang kita bisa membeli segala hal yang kita inginkan yang tentunya akan membahagiakan kita, tetapi ternyata masih banyak orang kaya a.ka punya banyak uang masih saja stress, depresi bahkan ada yang sampai bunuh diri. Ini menandakan ternyata tidak semua orang bahagia bila memiliki uang berlebih.
begitu pun dengan ketenaran, saya rasa hanya sebagian saja yang merasa bahagia menjadi orang terkenal, sebagian lagi mungkin merasa depresi, stress karena dituntut untuk selalu tampil bahagia, padahal dirinya sedang menderita..
Saya secara pribadi mendefinikan kebahagiaan sebagai suatu perasaan senang yang terjadi setelah kita melakukan hal-hal yang kita inginkan/impikan dan menjadi tujuan hidup kita. sebagai contoh, bila memang tujuan hidup kita adalah memiliki banyak uang atau terkenal, kita pasti akan bahagia bila mendapatkannya, sebaliknya bila itu sejatinya bukan hal kita inginkan, kita akan terus hidup dalam kepura-pura-an.
Maka, untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu menentukan terlebih dahulu apa hal yang kita inginkan, hal yang kita impikan dan menjadi tujuan hidup kita. Hal ini akan menjadi “way of life” kita.
Langkah selanjutnya adalah mengaktifkan 2 Katalisator dalam kehidupan kita.
1. Rasa Syukur atau selalu merasa cukup. Aktfikan katalisator ini bila diri kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan/impikan. katalisator ini akan menjadi dinding pembatas dari sifat ambisius kita yang akan selalu merasa bahwa kurang yang akhirnya menimbulkan perasaan tidak bahagia pada diri kita.
2. Rasa Ikhlas atau menerima. Aktifkan katalisator ini bila diri kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan/impikan atau hal yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan/impian kita. Katalisator ini akan membuat diri kita Bahagia meski keinginan/impian kita belum tercapai.
The Last, ada satu hadist yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim “Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.”
Diary of Ramadhan #1
Alhamdulillah, kembali dipertemukan dengan bulan Mulia ini, meski kali ini suasananya akan sangat berbeda dengan Tahun-tahun sebelumnya, semoga kita dapat menjalani dengan sebaik yang kita bisa :)
Ada Seseorang yang sedang ditanya oleh temannya, kenapa orang yang pintar seperti dirinya, selalu juara umum disekolah, bahkan lulus dari kampus negeri ternama akhirnya terdampar di sebuah desa terpencil hanya untuk menjadi seorang PNS di desa itu, si Teman ini merasa heran dengan pilihan tersebut karena pilihan itu bukan pilihan yang umum atau tepatnya pilihan yang tidak akan diambil oleh orang-orang lulusan kampus negeri ternama.
Dia tersenyum mendengar pertanyaan temannya tersebut dan mengatakan “Desa ini adalah kampung halaman ku dan aku merasa senang tinggal disini, orang tua ku menyarankan diriku untuk menjadi PNS disini, lalu aku mengikuti saran tersebut dan akhirnya aku diterima bekerja disini sebagai PNS... “
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya temannya tiba-tiba berkata “ku kira kamu orangnya lebih ambisius, jadi kamu menyerah dengan keinginanmu, padahal kamu belajar dengan keras, selalu juara umum, kuliah di kampus ternama, tetapi alih-alih melanjutkan melihat dunia yang lebih besar diluar sana, kamu kembali ke kampung halaman, mengikuti ujian PNS dan lulus, dan sekarang kamu bekerja di tempat yang pengap dari jam 08.00 hingga 16.00 lalu pulang untuk tidur...”
Dia menjawab dengan tenang dan tersenyum “bagiku, Itu menjamin kebahagiaan..” “Kamu mungkin berpikir aku berada di roda hamster yang membosankan, kamu mungkin juga berpikir bahwa pekerjaanku tidaklah istimewa. Tapi begini, aku menyebut kehidupan biasa seperti itu ‘kebahagiaan’...” “Mungkin beberapa teman seangkatanku bermimpi untuk menjelajahi alam semesta. Tapi ini pendapatku, meskipun aku lulusan kampus yang menurutmu ternama, tetapi aku ingin membangun dan menjalani hidupku, melakukan hal yang biasa setiap hari. Itu Impianku. Bekerja keras dan menjalani hidup ‘biasa’ membuatku Bahagia. Aku tahu itu cocok untukku..”
Temannya menangkap pesan yang disampaikan, ‘Aku Tahu Apa Yang Membuatku Bahagia’
To be Continued
RTM : Untuk Terus Mencintainya, Kamu Harus Berjuang.
Catatan ini mungkin lebih khusus ke laki-laki. Sebab nanti, selepas menikah. Mungkin dalam pandangan matamu, istrimu tidak akan secantik-semanis-sebaik-dan sesempurna sewaktu kamu dulu memperjuangkannya. Saat ini, bisa jadi kamu bisa menyangkal. Tapi, nanti selepas menikah dan menjalaninya, kamu mungkin baru akan memahami maksudku ini.
Kamu harus berupaya untuk bisa terus mencintai istrimu. Perasaan itu tidak tumbuh seperti rerumputan yang terkena hujan. Perasaan itu adalah pohon besar dan kamu menanamnya sejak bibit. Kamu harus merawatnya, menyiraminya, melindunginya dari hama, menyiangi rerumputan disekitarnya, dan juga kamu harus selalu waspada agar ketika nanti ia sudah cukup besar, tidak ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menebangnya.
Perempuan yang barangkali adalah temanmu, rekan kerjamu, atau orang yang tiba-tiba kamu temui di jalan. Mereka mungkin tidak melakukan apapun, tapi matamu tidak. Matamu bisa membuat apa yang terlihat menjadi beribu kalilipat lebih baik, lebih cantik, dan segala kelebihan lainnya yang mungkin akan menyulut perasaan lainnya. Tantangan. Seperti kala dulu kamu memperjuangkan perempuan yang menjadi istrimu saat ini.
Untuk itu, ingat-ingatlah selalu kebaikan perempuan yang sedang di rumah menunggumu pulang. Siapa orang yang paling khawatir kala kamu sakit. Siapa orang yang bisa menerimamu apa adanya saat kamu bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa selain kenekatanmu menikahinya dulu. Siapa orang yang rela bersusah payah mengurus segala keperluanmu, juga keperluan anak-anakmu nanti. Ia bersedia bersusah payah mengandung anakmu sembilan bulan dalam kepayahan yang kamu tidak bisa merasakannya. Anak yang mungkin lebih kamu cintai nantinya daripada istrimu.
Sungguh, untuk terus mencintainya, kamu harus berjuang. Bualanmu tentang cinta saat ini, juga bualanmu tentang segala janji itu bisa aku katakan adalah omong kosong. Sebab nanti, jalan yang amat panjang dan mungkin akan membosankanmu telah menanti. Biar tak bosan, kamu perlu menghidupkan setiap ingatanmu mengapa dulu kamu mau memperjuangkannya, setiap rasa syukurmu, dan iman.
Sebab menikah dengan seseorang yang kamu cintai saat ini bukanlah hadiah, melainkan sebagai ujian baru. Ujian yang hanya bisa kamu jawab ketika kamu menjalaninya, bukan dengan lisan, melainkan perbuatan.
©kurniawangunadi | 10 September 2017
Pada akhirnya, hanya mereka yang berjuang mati-matian lah yang akan mendapatkan apapun yang mereka usahakan. Meski terjatuh berkali-kali, dihujat dan dicibir sana-sini, peluh hingga airmata yang entah sudah berapa kali terjatuh. Hanya mereka yang tahan banting dengan seleksi alam lah yang akan merasakan manisnya kesabaran dan perjuangan.
Berjuang tak mesti berisik. Mengejar tak mesti berlari. Dan untuk didengar tak mesti berteriak.
Berjuanglah sekeras mungkin dengan elegan; dengan diam dan tenang setenang air di permukaan.
Semangat untukku, untukmu, untuk kita semua yang sedang memperjuangkan apapun dalam hidup.
Semoga Allah selalu memudahkan dan senantiasa memberkahi langkah kita.
@winartydewi
“Sebab tidak ada gunanya memperjuangkan seseorang yang tidak mau diperjuangkan. Sebab cinta itu tidak hanya sehari-sebulan. Butuh dua pihak yang sama-sama yakin sejak awal.”
—
Dan bersedia memperjuangkan bersama-sama, tidak hanya salah satu.
Kurniawan Gunadi
#ntms
Memperjuangkan Orang Baik
Sampai hari ini saya yakin, bahwa ada banyak orang-orang baik yang berada di sekeliling kita. Namun di zaman yang serba abu-abu seperti saat ini, hanya beberapa atau mungkin sedikit saja yang benar-benar baik, sebut saja layak diperjuangkan.
Tentu saja tidak ada yang salah dalam memperjuangkan orang baik. Yang perlu direfleksikan pertama adalah apakah kita sudah cukup baik dan layak untuk memperjuangkan mereka? Apakah niat kita sudah benar-benar murni karenaNya ketika memperjuangkannya?
Memperjuangkan orang baik, berarti kamu harus siap menyusun kembali rencana kebaikan yang telah kau rencanakan. Sebab saat itu, kebaikan yang ingin kau lakukan bukan lagi soal diri sendiri, tapi bagaimana kelak kau dan dia akan mensinkronisasikan. Bahkan dalam prosesnya pun bisa jadi ada sedikit perselisihan, ego yang tertahan, dan juga kompromi-kompromi yang harus dilakukan, sekalipun itu untuk kebaikan.
Memperjuangkan orang baik, berarti kamu harus bersiap bersaing dengan mereka yang bahkan mungkin jauh lebih baik dari dirimu. Di sinilah nanti integritasmu diuji, sebab seringkali kebaikan-kebaikan yang kau tunjukkan hanyalah kesemuan. Bahwa niat akan menjadi landasan terkuat untuk benar-benar menyampaikan kebaikan apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan.
Dan yang terpenting bahwa memperjuangkan orang baik butuh keikhlasan. Bahwa tidak semata yang kau perjuangkan akan selalu berbuah keberhasilan. Maka bersyukurlah dalam setiap proses perjuangan, sebab akan selalu ada kebaikan yang dapat diambil dari proses perjuangan. Dan batasan kita sebagai manusia hanya mampu dalam titik perjuangan dan munajat, sementara kita harus yakin bahwa tetap saja ketetapan dariNya adalah yang terbaik.
Kesamaan Tujuan
Ada hal yang masih sangat membekas di benak saya biarpun sudah berlalu 2 tahun lebih, saat ikut program akselerasi bisnis di kantor Google Mountain View. Tentang bagaimana mereka mengelola timnya.
Salah satu yang menarik, biarpun ini bukanlah satu-satunya di dunia, adalah semua Googlers (sebutan untuk para karyawan Google), tahu purpose dan corporate culture dari Google.
Jika kita berjalan di kantor Google, lalu sembarang menanyakan misi Google kepada salah satu orang Googlers secara acak, “saya bisa menjamin semuanya tahu mission statement Google”, kata salah seorang manajer People Support nya Google.
Bukan hanya tahu, setiap leader di Google dituntut untuk memastikan pekerjaan yang timnya lakukan selalu align dengan misi Google. Dalam buku Work Rules, karya Lazlo Bock dicantumkan sebuah survey internal Google tentang relevansi pekerjaan sehari hari Googlers dengan misi perusahaan. Hasilnya hampir 90% Googlers menjawab pekerjaan harian mereka align dengan misi perusahaan.
Mengapa mengetahui kemana kita menuju dan mensinkronkan dengan aktivitas harian kita penting? Menurut saya karena hal itu bisa jadi gambaran seberapa kuat tim kita. Dan tim kuat adalah kunci kekuatan kemenangan.
Sejarah masa kejayaan Islam juga memberikan pelajaran soal hal ini. Salah satu yang terekam kisah masyurnya adalah saat umat Islam mampu menaklukkan bangsa Persia di Qadisiyyah. Persia adalah salah satu peradaban terbesar saat itu, selain Romawi.
Sebanyak 200 ribu lebih pasukan Persia bisa dikalahkan oleh hanya 30 ribu lebih pasukan Muslimin. Salah satu kuncinya adalah kekuatan kesatuan hati pasukan Muslimin.
Sebelum perang dimulai, ada diplomasi antara Saad bin Abi Waqqash, pimpinan pasukan Muslim di perang tersebut, dengan Rustum panglima tertinggi Persia yang terkenal sangat ahli strategi perang. Ditanya oleh Rustum, “Apa tujuan kalian datang ke sini?”
Dijawab oleh Saad bin Abi Waqqash: “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan manusia kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah SWT saja. Membebaskan manusia dari kedzaliman menuju keadilan Islam. Membebaskan manusia dari sempitnya dunia, menuju luasnya akhirat.”
Waktu berlanjut, Rustum sengaja mengulur waktu untuk mulai menyerang pasukan Muslimin karena ia ingin melihat seberapa serius dan semangat kaum Muslimin tuk menyerang Persia. Total hingga 4 bulan lamanya belum juga perang fisik dimulai. Pasukan Muslimin juga tidak menyerang lebih dulu karena telah diamanahkan Umar bin Khattab, khalifah saat itu, untuk tidak menyerang sebelum musuh mulai menyerang.
Selanjutnya diundanglah delegasi Kaum Muslimin berikutnya, level yang lebih bawah dibanding Saad, yaitu Mughirah bin Syu’bah. Ketika ditanya oleh Rustum, jawabannya masih sama.
Hingga pasukan yang paling kroco ketika dipanggil dan ditanya jawabannya masih saja sama. Saat diundang Rustum ke tendanya yang sangat mewah dan megah, Rib'i bin Amir, seorang prajurit level bawah, seorang dari suku Badui, pakaiannya compang camping hingga banyak dihina para prajurit Persia, menjadi perwakilan Muslim tuk berdialog lagi dengan Rustum. Hasilnya, Ia juga menjawab hal yang persis sama dengan perwakilan Muslim yang lainnya ketika ditanya Rustum.
Saat itulah Rustum tahu, tidak akan mudah mengalahkan pasukan seperti ini. Mereka yang tujuan dari level tertinggi hingga terendahnya semua sama, tak ada sama sekali beda niatan-niatan di hati mereka.
Pasukan Muslimin saat itu memang bukanlah pasukan terlatih dan profesional, mereka adalah kumpulan perwakilan kabilah-kabilah Arab yang ikut serta berperang dengan niat jihad. Tidak seperti pasukan Persia yang memang adalah tugas mereka sebagai prajurit terlatih dan profesional yang digaji untuk ikut berperang.
Singkat cerita pasukan Muslimin dengan ijin Allah menang dan menguasai wilayah kerajaan Persia. Mereka membuktikan kebenaran perkataan Rasulullah SAW saat memecahkan batu besar tuk menggali parit perang Khandaq. Bahwa umat Islam akan sampai dan menaklukkan Istana Kisra, pusat kekuasaan kekaisaran Persia suatu saat nanti.
Kesatuan tujuan, terlebih kesatuan hati, bukan hal remeh yang hanya berguna sebagai simbol saja. Ia bisa bekerja dengan sangat dasyat tuk menguatkan kita yang tadinya tercerai besar hingga punya semangat dan langkah yang terarah satu dan lebih kuat.
Ia memang harus diulang-ulang hingga semua anggota tim paham dan terinternalisasi. Namun saya sendiri kadang khawatir akan membosankan ketika membicarakan soal visi dan tujuan bersama. Hampir tiap pekan kami punya forum bersama tuk merefresh kembali mengapa perjuangan yang tidak sebentar ini ada.
Kadang memang benar terasa bosan dan hambar, tapi saya sadari kebosanan dan kehambaran hanya akan muncul ketika kita tidak benar-benar menjiwai tujuan kita. Kalau saat iman tinggi, semangat tinggi, dan tiap harinya secara utuh jujur kita menjiwai visi dan tujuan kita, maka akan tersampaikan semakin kuat, biarpun redaksinya sama. Tidak ada kebosanan dan kehambaran.
Ada PR di sisi saya, kita semua, bukan hanya soal kemampuan mengulang dan mengulang lagi kenapa kita berjuang, tapi soal kemampuan menghidupi dengan utuh dan jujur alasan ini di keseharian langkah kita. Apa yang jujur di hati dan terekspresikan dengan tindakan tulus, jauh lebih menguatkan kata dan interaksi dibanding retorika tanpa penjiwaan.
Untukmu yang Sedang Mempersiapkan Diri (bag. 1)
Kata Erich Fromm, kebutuhan manusia yang paling dalam adalah hasrat untuk mengatasi keterpisahannya. Atau, dengan kata lain, keluar dari penjara kesendirian.
Kecenderungan laki-laki terhadap perempuan, kecenderungan perempuan terhadap laki-laki—sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Ruum ayat 21—adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Keinginan untuk berpasang-pasangan dan membina rumah tangga adalah fitrah. Sebab itu, merasakan jatuh cinta adalah hal yang patut disyukuri.
Tetapi, hal ini memang tak sesederhana kedengarannya. Perasaan jatuh cinta menuntut terlalu besar. Jika kita mengikuti maunya begitu saja, sama artinya menyerahkan diri kita kepada hawa nafsu.
Itu sebabnya, mereka yang telah saling jatuh cinta dianjurkan untuk segera menikah. Bagi yang belum memungkinkan menikah, menahan diri dengan mengalihkan tenaga dan pikiran untuk berbagai aktivitas produktif adalah salah satu penolong. Masa-masa itu bisa digunakan untuk mempersiapkan diri, sebab ketika menikah, kita bertransformasi dari ‘orang yang jatuh cinta’ menjadi ‘orang yang mencintai’.
Dalam menghadapi transformasi ini pun kita perlu berhati-hati, sebab ada jebakan berbahaya di sana: orang yang membuatmu jatuh cinta belum tentu orang yang layak kamu cintai dengan seluruh jiwa dan ragamu. Bisa jadi, perasaan cinta itu hanya sebatas—apa yang disebut Erich Fromm sebagai—cinta idola (idolatrous love). Gejalanya adalah perasaan berdebar-debar saat melihat seseorang, selalu ingin berada di dekat orang yang dikagumi. Yang seperti ini, menurut Fromm, adalah cinta semu dan karenanya akan pudar seiring waktu. Terutama, ketika kita sadar bahwa untuk membangun hubungan jangka panjang, yang dibutuhkan adalah sepasang kekasih yang siap melakukan pekerjaan-pekerjaan mencintai, bukan sekadar saling mengagumi.
Sebab itu, proses memilih pasangan menjadi begitu krusial. Ia tak boleh sekadar mengandalkan rasa, sebab boleh jadi itu hanya tipu daya hormon yang efeknya hanya sementara. Sementara pernikahan adalah keputusan yang dampaknya jangka panjang. Sangat panjang bahkan hingga ke akhirat kelak.
***
Buku Belajar Mencintai (2019)
Bukankah, Bersama Lebih Baik?
“Tapi jika dilakukan bersama akan terasa lebih lambat dan waktu yang dibutuhkan cukup lama” tentu kita semua pasti pernah mengalami hal seperti. Entah dalam kondisi apapun, bersama-sama terkadang menjengkelkan.
Mengerjakan tugas bersama, harus banyak kordinasi. Aih, butuh waktu lama. Melakukan perjalanan bersama-sama, harus menyamakan tujuan dan persepsi. Aih, repotnya bukan main. Bahkan sekadar foto bersama saja, harus membuat janji tentang warna baju, celana, hingga tempat pengambilan gambar. Aduh, rasa-rasanya sangat susah.
Ya, memang begitulah kebersamaan. Ada keragaman perbedaan yang harus dikelola. Ada tujuan yang harus dijelaskan dan disamakan. Ada kesepakatan yang harus diseragamkan. Susah, rumit, ribet, lambat nan lama tapi asik, penuh kenangan, dan sulit dilupakan.
Jujur saja, dibalik kesusahan dalam kebersamaan ada keasikan tersendiri yang kita rasakan. Ditengah kerumitan yang ada dalam kebersamaan ada momen-momen yang penuh kenangan. Disaat keribetan melanda, keterlambatan menghampiri, bahkan membutuhkan waktu yang lama, ada saat-saat seperti itu yang sulit dilupakan.
Ah, sendiri memang mudah dan nyaman tapi tidak begitu mengasikan. Memang terkadang kesendirian dibutuhkan, namun jika terlalu lama, bukankah terasa hampa.
Maka, beginilah kesimpulannya. Bersama kawan dalam perjalanan, memang lambat dan lama, tapi bukankah lebih mengasikan? Bersama kawan dalam perjalanan memang rumit dan ribet, tapi bukankah lebih susah untuk dilupakan?
Oh ya, seseorang guru pernah menasihati perihal kebersamaan ini, “Lebih baik bersama kawan tapi penuh kesabaran di dalamnya, daripada bersama lawan tapi penuh tipu daya yang menyesatkan”
Jadi, bukankah bersama lebih baik? Tapi tentunya bersama kawan yang dipenuhi kesabaran ya heheh, walau ya sekali lagi, lawan juga tidak terlalu buruk dibersamai, Cuma perlu hati-hati.
Memperjuangkan, butuh keikhlasan. Dari dua pihak yang sama-sama berikhtiar. Sebab tanpa keikhlasan, jikalaupun nanti bersama dalam sebuah titik pertemuan, dikhawatirkan ada keberkahan yang hilang
Maka niat yang ikhlas, harus selalu menjadi landasan saat memulai, dari semua keluarga yang berjuang.
© Mushonnifun Faiz Sugihartanto | 2019
Serial Pernikahan #1: Belajar Seni Komunikasi Suami-Istri (Muqaddimah)
Dalam merawat cinta, sepasang suami istri terkadang perlu belajar kembali memahami satu sama lain. Memiliki rasa sayang memang menjadi faktor awetnya sebuah hubungan, namun kita mengingat, pasangan relationship goals tentu punya beragam rintangan, bedanya mereka mampu melewati itu dengan ilmu dan hati yang baik.
Pria dan wanita adalah makhluk berbeda yang Allah fitrahkan bersatu. Kalau kata penulis John Gray, pria berasal dari Mars, sedangkan wanita datang dari Venus. Artinya pria dan wanita dibesarkan di lingkungan dan pola asuh yang berbeda. Masing-masing tumbuh dengan kebutuhan, kecenderungan, dan sikap naluriah yang berbeda pula.
Jadi teringat, di awal pernikahan suami pernah menyampaikan, keterbukaan adalah kunci komunikasi. Salah satu misi kita yaitu menghidupkan budaya musyawarah antara anggota keluarga. Mudah sekali tercantum di atas kertas, tapi kita merasa terus butuh mengembangkan bagaimana memahami komunikasi yang baik.
Selain itu, fenomena perceraian yang semakin menaik juga memicu kita belajar mempertahankan hubungan. Misalnya saja di tahun 2015, jumlah pengajuan cerai talak (dari suami) ataupun cerai gugat (dari istri) di Indonesia mencapai 394.246 pengajuan. Di tahun 2016, menaik hingga 403.070. Dan di tahun 2017, pengajuan cerai terjadi sebanyak 415.848 kali. Di antara sebab utama perceraian ini yaitu perselisihan yang tak berkesudahan.
Seringkali apa yang dilakukan suami untuk istrinya ternyata tidak cukup membahagiakan sang istri. Pun apa yang dikorbankan istri untuk suami ternyata tidak berbalas karena suami yang merasa biasa-biasa saja. Yang demikian sebab tidak adanya saling memahami kebutuhan masing-masing.
Karenanya, selain kembali kepada tujuan mulia pernikahan dan mengarahkan niat untuk Allah semata, kita perlu mengolah komunikasi kita dengan pasangan. Memahami kebutuhan cintanya, bagaimana mendukungnya, menghargainya, dan menjadi tempatnya berpulang.
Satu pinta kita yang tak lepas dari doa, Allah jadikan pasangan serta keturunan kita penyejuk mata. Pun kita berharap mampu meneladani Rasulullah, sosok yang paling baik terhadap keluarganya. Semoga mempelajari hal ini sembari menuliskannya menjadi satu ikhtiar dan Allah berkahi.
Semoga bermanfaat. :)
Laki - Laki yang Memiliki Sifat Qowwam dan Perempuan yang Memelihara Dirinya.
Tentang Keresahan (2)
Ada beberapa pertanyaan teman dekat maupun yang masuk ke DM instagram, kurang lebih menanyakan bagaimana kita yakin terhadap seseorang bahwa dia adalah pilihan terbaik untuk kita? Bagaimana kita yakin bahwa kita sudah siap? Perkara jodoh dan pertanyaan - pertanyaan yang meliputinya jujur saja tidak akan pernah habis terjawab kecuali kita telah menemukannya :). Namun, dari pertanyaan itu saya kemudian mengambil satu topik menarik untuk dibahas, terkait sifat qowwam (kepemimpinan) laki - laki dan perempuan yang senantiasa memelihara dirinya.
Saat saya dan abang pertama bertemu, ada beberapa pertanyaan yang jawabannya menjadi parameter untuk saya menerima abang dengan yakin (tapi tentu saya tidak berani melangkah ke tahap selanjutnya tanpa mengistikharahkan segalanya lebih dulu). Pertanyaan - pertanyaan yang ia jawab dengan baik, yang menunjukkan bahwa sebagai seorang laki - laki ia memiliki sifat qowwam yang baik. Mengerti tanggung jawabnya, memiliki visi yang kuat untuk keluarganya. Saat itu, saya harap ke qowwam an nya kelak dapat melindungi keluarganya dan menjaga keluarganya.
Ketika zaman berubah, ketika perempuan diperbolehkan tampil sebagai dirinya sendiri. Berdiri di kaki sendiri tanpa perlu bergantung pada laki laki. Zaman dimana pula banyak laki - laki yang kehilangan atau bahkan tak terbentuk -membentuk diri sebagai seorang pemimpin. Zaman ketika banyak perempuan yang berkata siap untuk hal hal besar, namun meragu di sisi laki - laki. Zaman ketika sinetron Dunia Terbalik di RCTI hadir sebagai bagian dari penggambaran fenomena yang ada di masyarakat. Istri sebagai kepala keluarga, dan laki - laki sebagai bapak rumah tangga.
Maka di zaman ini, menemukan atau ditemukan oleh laki - laki yang memiliki sifat qowwam yang baik, atau perempuan yang mampu memelihara dirinya seperti menemukan barang berharga.
Perempuan yang mampu memelihara dirinya akan mampu memelihara keluarganya dengan kasih sayang dan tetap berada pada koridor - koridor yang telah Allah SWT tetapkan.
Laki - laki baik secara fisik maupun sifat alamiah adalah pelindung, ia memiliki ketegasan untuk bersikap tak larut dalam ragu dan bimbang, mampu membesarkan kapasitasnya untuk menerima tanggung jawab. Sebab kelak banyak kebaikan keluarganya yang bergantung pada sikap dan keputusannya.
Sementara perempuan, kemampuan memelihara dirinya ketika sendiri kelak akan membantunya memelihara amanah suaminya. Baik ketika suaminya ada maupun sedang ditinggal. Tak peduli apapun karakternya, penurut, pendiam, dominan, koleris, plegmatis, melankolis. Ia adalah tiang kehormatan keluarganya. Maka perempuan, kita punya amanah untuk pandai memelihara diri. Melakukan hal hal yang hanya diridhoi oleh sang suami.
Dulu pernah dengar sebuah kisah, ada dua orang (laki laki dan perempuan) sedang menempuh proses menuju pernikahan. Pada kali pertama laki lakinya main ke rumah perempuan, ia disambut sebagai tamu dengan sangat baik. Kunjungan pun berbalas, si perempuan bersama dengan adiknya datang ke rumah keluarga laki - laki. Jaraknya cukup jauh sekitar 1 - 2 jam perjalanan antar kampung mereka. Setibanya di rumah laki - laki saat terik siang, tak disuguhinya makanan. Dibiarkannya pulang berdua sendiri naik angkot yang di daerah tersebut cukup rawan. Mendengar itu keluarga perempuan memutuskan untuk berhenti dari proses tersebut. Alasannya sederhana, tak nampak pada diri sang laki laki sifat qowwam bahkan untuk sekedar mengkondisikan keluarganya menyambut tamu yang hadir. Hal sederhana, tapi cukup untuk melihat bagaimana sisi kepemimpinan seorang laki - laki.
Jika kamu laki laki, sudahkan ke qowwam an kamu miliki? :) sebab surga nerakanya keluargamu terletak pada bagaimana kepemimpinanmu membawa mereka kemana. Dan kita perempuan sudahkah pandai memelihara diri kita? Sebab kita tentu ingin menjadikan pertemuan keluarga kita, sebagai pertemuan yang kekal dunia akhirat. Bagaimana bisa kita bayangkan sebuah reuni keluarga di surga tanpa kehadiran ratu bidadarinya :’).
Jadi mari belajar..
Semoga kita masih terus bersemangat untuk menjadi baik :)
Cheers,
Alizeti
Tanggung Jawab Utama Sang Kepala Keluarga
Persis pekan lalu, saya masih ingat posisi saya masing keliyengan di kasur. Hari itu sudah hari ketiga terhitung sejak hari pertama lebaran saya terbaring karena demam tinggi+pusing+lemas. Di saat yang lain liburan, bercengkrama dengan keluarga, atau silaturahim, Allah berikan ujian sakit.
Meringkuk di kasur seharian, sesekali Azima ke kamar, nanya gmana panas ayahnya, ikut gegoleran di kasur, dan elus-elus ayahnya. Biasanya momen ini jadi momen main bersama, tapi sebegitu lemasnya saya, cuma bisa meringkuk aja ga ngerespon Azima.
Selama 3 hari sakit pekan lalu akhirnya harus di rumah seharian. Dan Azima serta bundanya akhirnya ikut juga nemani. Agenda yang disusun untuk berkunjung ke banyak rumah kerabat plus bertoples-toples kue lebarang yang sengaja kita siapkan jauh-jauh hari akhirnya hanya mematung di sudut ruang keluarga.
Tapi di tengah sakit itu ada sebuah hal yang saya syukuri: tentang keluarga. Mereka bukan hanya yang bersedia menemani kita bagaimanapun kondisi kita tanpa komplain.
Mereka salah satu anugrah terindah di dunia dari Allah. Bahkan merkalah, yang mungkin nanti bisa jadi penyelamat kita di akhirat.
Doa dari mulut kecil sang anak, Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran, mungkin doa itu yang nanti akan jadi penyelamat kita ketika ada sangkutan masalah di akhirat.
Dalam muamalah kita, interaksi kita, hingga amal shalih kita, pasti ada saja perkara yang dipertuntutkan ke kita di akhirat. Doa dari anak shalih kita mungkin saja jadi penyelamat atas perkara-perkara yang menyesakkan dada di akhirat nanti.
Keluarga kita, bukan hanya jadi sebab syukur di dunia, tapi juga karunia di akhirat saat keberadaan mereka bisa jadi sebab syafaat Allah atas kita.
Momen sakit pekan lalu juga jadi cermin buat saya melihat lagi lebih dalam, kehadiran saya di keluarga kecil ini, bukan hanya sekedar untuk memberikan nafkah lewat penghasilan bulanan.
Tapi lebih jauh dari itu, amanah yang sesungguhnya adalah membawa keluarga ini ke surga. Bersama di dunia yang berujung pada kebersamaan di surga, kekal abadi.
Jangan harap dengan hanya bekerja banting tulang tiap hari, menyediakan uang belanja tuk kebutuhan sehari-hari lalu ngasih uang jajan untuk anak, sudah bisa jadi check list bahwa semua tanggung jawab kita selesai.
Padahal di balik itu ada tanggung jawab yang jauh lebih utama dan esensial. Kita, kepala keluarga, bertanggung jawab menghindarkan keluarga kita dari siksa api neraka.
Bekerja pulang malam adalah sebuah ibadah bagi seorang ayah, tapi jangan lupa, lebih utama Ia memastikan anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih/shalihah, memberikan bekal ilmu agama dan akhlaknya agar baik.
Seorang ustadz pernah berkata Ibu memang madrasah pertama anak kita, tapi kitalah kepala sekolah bagi sang anak. Dimana mana kalau ada evaluasi sebuah sekolah, yang dipanggil itu kepala sekolahnya, bukan gedung sekolahnya.
Ga cukup hanya menyerahkan pendidikan anak, terutama dalam hal agama hanya kepada ibunya tanpa campur tangan sang ayah. Karena belum tentu itu bisa menuntaskan tanggung jawab kita membawa keluarga kita terhindar dari api neraka.
Semoga minimal dengan mensyukuri saat Allah karuniakan keluarga tuk kita di dunia, sekecil apapun, selama selalu diinsyafi Allah akan tambah tambah nikmat dan kebahagiaan di dalamnya.
Semoga kita juga semakin bisa menempatkan mana yang prioritas dengan menyadari bahwa tanggung jawab utama kita sebagai kepala keluarga, bukan hanya suapan nasi tiap hari tuk istri dan anak kita, tapi memastikan api neraka tidak menyentuh mereka kelak.
Going Back to Bandung... 😁 https://www.instagram.com/p/Byj-1lVH8Gw/?igshid=1vyqh0svrv71t
Ajarkan tilawah Al-Qur'an kepada anak-anak sedari kecil, berikan lingkungan terbaik bagi mereka, karena lingkungan akan menjadi salah satu sarana utama membentuk kepribadian mereka.. Suatu siang di salah satu masjid besar di kota Rangkasbitung.. #28ramadhan #cintamasjid #cintaquran (di Masjid agung AL-A'ARAF rangkas bitung) https://www.instagram.com/p/ByMklBsnmCi/?igshid=13fh39dtd843l
“Terima Kasih telah DiIngatkan”
—
terima kasih telah diingatkan, untuk tidak menyerah pada keadaan
terima kasih telah diingatkan, untuk tidak berlama-lama jatuh dalam lubang kegelapan
terima kasih telah diingatkan, untuk selalu bersemangat menghadapi masa depan
terima kasih telah diingatkan, untuk tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban
terima kasih telah diingatkan, untuk menghindari hal-hal yang sejatinya dilarang
terima kasih telah diingatkan, untuk selalu bersyukur atas segala kejadian
terima kasih telah diingatkan, untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian
terima kasih, semoga Kau tak bosan untuk selalu mengingatkan…