Tidak semua orang menjadikan mood buruk sebagai alasan memperlakukan orang lain seenaknya.
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
sheepfilms
I'd rather be in outer space 🛸
Jules of Nature
h

No title available

★
No title available
Game of Thrones Daily
Sweet Seals For You, Always
NASA
No title available
RMH
hello vonnie
we're not kids anymore.
macklin celebrini has autism
Cosimo Galluzzi
Fai_Ryy

Origami Around

seen from Spain
seen from Mexico
seen from South Korea
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from France
seen from Spain

seen from Philippines
seen from Finland

seen from Türkiye
seen from United States

seen from India
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Australia
seen from Italy
seen from Bulgaria
@muarasamudraa
Tidak semua orang menjadikan mood buruk sebagai alasan memperlakukan orang lain seenaknya.
Bagaimana kamu bisa membahagiakan orang lain kalau kamu saja tidak bahagia?
Bisik pikiranku.
HAHAHAHAHHAHA
Saya punya pacar. Baru 3 bulan pacaran. Dia sering membantah saya. Sebetulnya boleh-boleh saja. Orang kalau punya prinsip tidak mungkin setuju-setuju saja. Toh saya juga masih pacar, belum suaminya.
Belakangan ini, setiap kali dia bantah untuk hal hal yang menurut saya tidak salah kalau tidak dibantah, saya nggak pakai cara pasif agresif lagi. Lembut-lembut saya bilangin ke dia, sayang, bolehkah kita tidak saling membantah dengan cara ketus seperti itu?
Semua itu karena belakangan saya memikirkan satu hal. “Saya mau jadi laki-laki seperti apa?” karena jujur, saya nggak berkeinginan menang argumen, terlihat dominan, atau dituruti terus dalam berpasangan. Saya cuma mau hubungan itu berjalan tenang dan aman. Selain itu, saya betul-betul mau jadi laki-laki yang bisa kasi contoh bagi pasangan saya dengan nunjukin standar lewat cara saya bicara dan bersikap.
Syukurlah pacar saya sekarang cukup pandai membaca saya. Saya rasa itu pertanda baik. Artinya pendekatan saya tidak mematikan atau mengerdilkan dia.
Sayang, I heart you. Haha
Berhenti memberi lebih pada sesuatu yang bahkan tidak tahu cara menghargai. Rupanya bukan aku yang kurang, hanya saja aku berada di tempat yang salah.
Aku berhenti menjelaskan diriku. Tidak semua yang rumit perlu diterjemahkan.Di balik wajah yang diam, aku menyusun ulang hidup satu pola, satu rasa, satu ingatan. Aku tidak menyingkirkan yang menyakitkan,aku memberinya tempat.Dan dari situlah ketenangan tumbuh: bukan karena semuanya selesai,tapi karena aku tidak lagi menolak apa pun.
Aku tidak sedang mencarinya. Aku hanya melewati jalan itu. Namun rupanya ingatan tidak butuh izin. Di tempat ia biasa berjualan, ruang itu terasa kosong dengan cara yang menyakitkan. Di sanalah aku teringat teman SMAku. Sudah hampir dua tahun ia berpulang.
Ia adalah seseorang yang hidupnya tidak pernah ringan. Seorang ibu tunggal yang setiap hari berdiri melawan keadaan, bukan dengan keluhan, melainkan dengan ketekunan. Aku sering mampir, membeli dagangannya, mengajaknya berbincang. Kami tertawa kecil, bercanda seolah hidup sedang baik-baik saja. Aku pikir aku mengenalnya. Ternyata tidak sepenuhnya.
Aku tahu ia sakit. Tetapi aku tidak tahu bahwa sakit itu menggerogoti tubuhnya sambil ia tetap memaksa dirinya kuat. Ia tetap bekerja, tetap tersenyum, tetap menjadi ibu bagi putri kecilnya. Ia menyimpan lelahnya rapat-rapat, seolah dunia tidak perlu tahu betapa berat langkahnya setiap hari. Baru setelah ia tiada, aku mengerti: ada perjuangan yang tidak pernah bersuara, dan justru karena itulah ia begitu dalam melukai hati yang ditinggalkan.
Saat kabar kepergiannya sampai kepadaku, tangisku jatuh tanpa bisa kutahan. Bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena penyesalan yang samar. Penyesalan karena tidak cukup bertanya, tidak cukup melihat, tidak cukup menyadari. Tiga hari kemudian aku datang ke rumahnya. Di hadapan ibunya, di hadapan adiknya, tangisku kembali pecah. Tidak ada kata yang bisa mewakili perasaan itu.
Aku menangis karena membayangkan putri kecilnya. Seorang anak yang kelak akan tumbuh dengan ingatan tentang ibu yang begitu kuat, tetapi mungkin terlalu cepat harus pergi. Aku menangis karena menyadari bahwa hidup bisa begitu kejam, mengambil seseorang yang masih berjuang, yang masih dibutuhkan, yang masih ingin bertahan. Ada kehilangan yang tidak bisa diringkas dengan kalimat “sudah takdir”, karena hati manusia tetap butuh waktu untuk menerima.
Di Balik Pesan-Pesan Pendek
Aku tumbuh di antara suara-suara yang sibuk, tetapi tidak benar-benar ditujukan padaku. Aku terbiasa berada di posisi tengah: tidak paling diperhatikan, tidak pula sepenuhnya diabaikan. Aku belajar mengamati lebih banyak daripada berbicara, menimbang perasaan orang lain sebelum mengakui perasaanku sendiri. Anehnya, ketika urusan angka dan kebutuhan muncul, aku tiba-tiba dianggap cukup dewasa untuk dimintai tanggung jawab.
Pesan-pesan setiap hari yang datang hampir tidak pernah tentang kabarku hari ini bukan tentang lelahku, apalagi tentang mimpiku. Yang hadir hanyalah kebutuhan, disampaikan singkat, berulang, dan tanpa ruang untuk bertanya bagaimana keadaanku sebenarnya.
Rumah yang menjadi asing
Dulu, bagiku kamu adalah satu-satunya arah yang kupahami secara utuh. Aku pernah berada di titik di mana seluruh peta hidupku hanya menuju satu titik: dirimu. Di bawah langit yang kau warnai, aku membangun seluruh harapanku dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun terlintas untuk menyiapkan payung bagi hujan yang mungkin kau bawa. Aku begitu percaya bahwa rumah yang kita bangun akan abadi, hingga aku lupa bahwa sebuah bangunan tetap butuh dua orang untuk menjaganya tetap hangat.
Saat kamu akhirnya memilih untuk melangkah pergi, duniaku ternyata tidak runtuh dengan suara gaduh yang dramatis. Ia justru mendadak sunyi—sebuah kesunyian yang mencekam, seperti sebuah rumah yang ditinggalkan penghuninya tepat saat malam paling dingin tiba. Aku berdiri di sana, di tengah ruang kosong yang dulu penuh dengan tawa dan rencana masa depan kita, mencoba mencari sisa-sisa diriku yang sudah terlanjur kuberikan padamu.
Baru kemudian aku menyadari, bahwa luka yang paling dalam bukan berasal dari kepergianmu, melainkan dari betapa asingnya aku terhadap diriku sendiri. Aku pernah menjadi sosok yang paling kehilangan di dunia ini, hanya karena aku terlalu sibuk mencintaimu sampai lupa bagaimana cara mencintai—atau bahkan sekadar mengenali—diriku sendiri tanpa ada kamu di sampingku. Kepergianmu adalah sebuah kejutan yang tak pernah ada dalam daftar rencanaku, sebuah bab yang dipaksa selesai sebelum titik terakhirnya sempat kutuliskan.
sangat menyukai kalimat ini
“Di bawah langit yang kau warnai, aku membangun seluruh harapanku dengan penuh keyakinan, tanpa sedikit pun terlintas untuk menyiapkan payung bagi hujan yang mungkin kau bawa.“
Jika kecewamu seluas lautan, biarkan ikhlasmu seluas langit
Perempuan dan Isi Pikirannya
Perempuan tidak terlalu banyak berpikir. Ia hanya terlalu sering dibiarkan menebak. Ketika komunikasi setengah, kehadiran setengah, dan kejujuran setengah, pikirannya dipaksa bekerja sendiri mencari makna. Diam yang kamu anggap tenang, baginya adalah ruang kosong yang dipenuhi asumsi. Sikap yang kamu sebut biasa, baginya adalah tanda-tanda yang harus ia cerna sendirian. Perempuan bisa menerima kekurangan, tetapi tidak bisa hidup dalam ketidakjelasan. Ia bisa bertahan dalam susah, tetapi tidak dalam ragu. Karena ragu menggerogoti rasa aman, dan tanpa rasa aman, cinta berubah menjadi beban. Perempuan tidak meminta lebih. Ia meminta utuh. Kehadiran yang jelas, sikap yang konsisten, dan kejujuran yang tidak ditawar. Karena kebohongan kecil dan sikap setengah-setengah akan terus menghantui pikirannya, jauh setelah kamu menganggapnya selesai.
Ruang Tumbuh
Hubungan yang sehat tidak dibangun dari tuntutan, melainkan dari penerimaan. Tidak saling menuntut berarti memberi ruang bagi pasangan untuk bertumbuh dengan caranya sendiri, tanpa tekanan untuk menjadi versi yang diinginkan orang lain.
Namun, menerima bukan berarti memaklumi semua hal tanpa batas. Tidak saling memaklumi hal-hal yang kurang pas justru menjadi bentuk kepedulian. Ketika ada sikap atau kebiasaan yang melukai, pasangan perlu berani membicarakannya dengan cara yang baik. Kejujuran yang disampaikan dengan empati akan jauh lebih menyembuhkan daripada diam yang dipendam terlalu lama.
Rasa aman yang terus dijaga akan melahirkan rasa percaya. Kepercayaan membuat pasangan berani jujur, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Dari kejujuran itulah tumbuh kedekatan emosional dan ikatan yang kuat.
Pada akhirnya, sebuah hubungan bagiku adalah proses belajar tanpa henti. Belajar memahami, belajar berkomunikasi, belajar menerima kekurangan, dan belajar mencintai dengan lebih dewasa. Aku tidak berharap hubungan yang sempurna, aku hanya berharap hubungan yang mau saling belajar dan bertumbuh bersama.
Kerap kali kita lupa bahwa sekadar tulisan bisa tampak lebih tulus dari sebanyak ucapan yang bertebaran.
—@tuanpoetry
Bab Yang Tidak Selalu Mudah
Pada akhirnya, pernikahan adalah sebuah buku pelajaran dan perjalanan panjang yang berlangsung seumur hidup. Ia tidak selesai dibaca dalam satu waktu, tidak pula mudah dipahami sejak halaman pertama. Setiap bab menuntut kita untuk berhenti sejenak, merenung, lalu melanjutkan dengan pemahaman yang baru.
Pernikahan mempertemukan dua manusia dengan versi diri yang beragam. Ada versi yang penuh cinta dan kesabaran, ada pula versi yang lelah, terluka, dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Kita belajar bahwa pasangan kita tidak selalu hadir dalam versi terbaiknya, begitu pula diri kita.
Menikah bukan hanya tentang “aku dan kamu”. Ia juga tentang “kita” yang hidup berdampingan dengan dunia di luar diri sendiri, keluarga, tanggung jawab, nilai, luka masa lalu, dan harapan masa depan. Kadang kita harus mengalah, kadang belajar memahami tanpa sepenuhnya mengerti, dan kadang memilih untuk tetap tinggal meski keadaan tidak ideal.
Karena pernikahan bukan sekadar cerita cinta, melainkan perjalanan panjang tentang menjadi manusia yang lebih utuh bersama.
Thankyou 2025!
May 2026 give me space to breathe and grow.I want to be happy, to be loved, and to bring happiness to those I cherish without losing myself.
Tumpahkanlah Segala Emosimu
Perasaan tidak berharga yang kamu rasakan itu bukan hal biasa. Kamu merasakan betapa sakitnya momen-momen yang telah kamu lewati. Berbicara soal nyeri, ini akan mempengaruhi ke kehidupan selanjutnya. Berusaha untuk sembuh, namun membutuhkan proses.
Tumpahkan segala emosi dari rasa sakit itu. Tumpahkan pada tempat yang sehat. Allah selalu terbuka bagi hamba yang datang kepada-Nya. Tumpahkan dan bagikanlah semua rasa sakit itu. Selama ini, kamu hanya memendam sendiri tanpa menumpahkan segalanya.
Akuilah bahwa dirimu memang sedang tidak baik-baik saja. Akuilah bahwa dirimu memang merasa sakit dan butuh obat untuk sembuh. Allah sangat senang melihat hamba yang mengadu ketika hati sedang kacau. Bersuara dan bersandarlah. Di sana rasa aman itu memeluk dirimu begitu hangat.
Mari mengusahakan hidupmu sendiri yg tdk pernah diusahakan orang lain itu
Kemarin seorang teman bercerita tentang caranya diperlakukan oleh kekasihnya. Bukan tentang pertengkaran besar, melainkan tentang perasaan yang terus menerus tidak aman. Tentang kehadiran yang tidak utuh, kejelasan yang jarang, dan rasa lelah karena harus menenangkan diri sendiri.
Mendengarnya, aku menyadari satu hal, perasaan itu tidak asing. Ada kalanya aku pun merasakannya. Bukan karena kurangnya rasa, tetapi karena rasa aman tidak pernah benar-benar dijaga. Ketika sikap membuat kita bertanya-tanya, hati perlahan belajar waspada.
Dari situ aku belajar bahwa cinta seharusnya memberi ruang untuk tenang, bukan terus bertahan dalam keraguan. Rasa aman bukan tuntutan berlebihan, melainkan kebutuhan dasar. Dan ketika ia tidak ada, perasaan tidak perlu disangkal ia layak didengarkan.