Terapi Dialog, "Antara Aku dan Saya"
AKU : Aku merasa enggak berharga! Untuk apa aku hidup?
SAYA : Yang bilang siapa?
SAYA : Oke.. oke.. aku cuma ingin tahu apa yang kamu rasakan sekarang, boleh?
AKU : Sediiiiihh dan maraaaaahhh
SAYA : Oke.. oke.. sekarang kamu mau nya bagaimana?
SAYA : Hmm, lakukanlah, itu ide menarik
AKU : MENGAPA SEMUA INI HARUS TERJADI??? MENGAPA???
(saya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya)
AKU : Kenapa kamu diam saja?
SAYA : Menghormatimu. Tadi kamu minta aku diam, ya aku diam.
AKU : Memang gak ada yang bisa ngerti aku!! Kesel!!!
AKU : HIDUP INI TIDAK ADIL!!! AKU BENCI!!
SAYA : Apa yang benar-benar kamu inginkan?
AKU : ENGGAK INGIN APA-APA!!!
SAYA : : Oke, itu pun suatu keinginan. AKu menghormati hal itu. Kamu hanya butuh teriak. Keluarkan saja semua emosi negatif itu, terkadang kita memang benar-benar bingung apa yang sedang terjadi.
AKU : Jangan sok bijak deh, kamu.. jangan sok pintar!!
AKU : Pergi sana! Aku tak butuh siapapun didekatku saat ini. PERGI!!!
SAYA : Kamu boleh suruh aku diam, tapi jangan suruh aku pergi, sebab aku ingin bisa mendampingimu, sebab diriku adalah dirimu juga, didalam hatimu, suatu diri yang sangat merindukan kelegaan dan kebahagiaan. Izinkan aku tetap disini.
AKU : Aku ingin lari dari semua ini, ingin hidup tanpa masalah.
AKU : Enggak ada yang mencintai aku!
SAYA : Yang bilang siapa?
Akhirnya diri AKU yang paling kuat dan menang. Sebenarnya diri AKU bisa sangat kuat bukan karena memang lebih kuat dari diri SAYA, melainkan Anda yang mengizinkan diri AKU menjadi lebih kuat.
DIri AKU adalah diri ego manusia yang sangat beremosi negatif. Namun diri SAYA sangat mengerti keberadaanyasehingga berusaha menerima diri ke-AKU-an dengan baik, tidak menolaknya. Ini hal luar biasa yang perlu kita mengerti sehingga dalam diri ada . penerimaan, bukan penolakan. Menerima emosi negatif bukan berarti mengizinkan dia sebebas-bebasnya mengeluarkan semua ekspresi tanpa terkendali, melainkan lebih pada membujuknya. Ketika dibujuk rasa penerimaan tetap ada.
(DIkutip dari buku PEMULIHAN JIWA 3, karya DEDY SUSANTO)
Berusahalah untuk menerima keadaan, memaafkan diri sendiri dan berdamai dengannya. Penerimaan terhadap sebuah konflik yang menyerang dapat menyubur rasa syukur, dan mendewasakan hati. Namun bukan berarti setiap konflik harus dibiarkan begitu saja, ia perlu penanganan yang tepat yaitu dengan menerima bahwa saat ini kita dilanda ujian, dan bersikaplah tenang. Memang bersikap tenang disaat ujian datang adalah hal yang sulit, tapi inilah tantangan hidup!!! Seseorang yang memiliki jiwa besar dimulai dengan ia menghadapi setiap tantangan hidup, jangan takut untuk bahagia disaat sedih!
"Katakan, "Demi ketenangan batinku, pikiran-pikiran yang nggak penting, ke laut aja..."
Palembang, 14 Agustus 2013