Resensi: Gadis Penyihir dan Ruang Angkasa
Judul: The Orange Girl, Sebuah Dongeng Tentang Kehidupan
Cetakan: Edisi ke-3, Cetakan ke-1 Januari 2016
Seorang guru takjub dengan tugas spesial yang dibuat Georg Roed, seorang anak laki-laki berumur 15 tahun. Anak perempuan ber-make up dan lipstik itu menyebutnya astrounot amatir. Georg tak masalah dengan hal itu, dia pikir itu hanya sekedar perspektif. Dimana ia memiliki ruang pemikiran yang lebih besar tentang Ruang Angkasa dan Teleskop Ruang Angkasa Hubble, sementara teman-temannya terhenti pemikirannya dengan make up dan lisptik atau sepak bola. Georg pada akhirnya sadar, bahwa Ayahnyalah yang membuatnya mengenal Ruang Angkasa.
Ayah Georg, Jan Olav meninggal belasan tahun lalu, dan meninggalkan sebuah surat untuk dirinya dalam sebuah kereta dorong merah di belakang gudang. Sepanjang hari Georg membaca surat itu. Ayahnya bercerita tentang gadis jeruk yang ia temui di trem Frogner, selanjutnya di kafe Karl Johan dan seterusnya, banyak pertemuan yang kebetulan. Padahal sebenarnya bukan hanya Jan Olav saja yang mencari gadis jeruk, begitupun sebaliknya.
Jan Olav, bertemu dengan gadis jeruk di dalam trem yang penuh desak pertama kali, umurnya sembilan belas tahun. Ketika ia melihat gadis itu dan terpesona, gadis itu tersenyum genit seakan gadis itu telah mengenalnya lama. Jan Olav membuat banyak prasangka tentang siapa sebenarnya gadis jeruk itu.
Sampai suatu ketika gadis jeruk meminta Jan Olav menunggu selama 6 bulan untuk tidak bertemu, tapi ia tentu menentang hal itu, Jan Olav pergi ke Spanyol untuk mencari gadis itu. Di Sevilla mereka akhirnya bertemu tepatnya di Plaza de la Alianza, tampaknya Olav memiliki insting yang kuat. Mereka bertemu tanpa kesengajaan.
Jan Olav mempertanyakan dari mana gadis jeruk tahu namanya? Bahkan selama dirinya bertemu di Oslo tak pernah saling berkenalan bahkan saling mengucapkan nama. Siapakah sebenarnya gadis jeruk ini? Kenapa ia tampak mengenal Olav, seperti tatapannya di trem pada hari pertama Olav bertemu dengan gadis ini?
Saya tak melihat benang yang terikat antara cerita gadis jeruk dengan teleskop ruang angkasa hubble. Meskipun Georg mempertanyakannya dalam dirinya sendiri, tapi sampai akhir cerita jawaban analisis itu tak pernah ada.
Ketika sang Ayah merasa senang dengan cerita si gadis jeruk, Georg terkukung pada pertanyaan ayahnya yang mempertanyakan teleskop ruang angkasa hubble, realitasnya Georg menulis tentang itu di tugas spesialnya, tentu ia tahu banyak tentang teleskop itu, lalu kenapa Ayah bisa mempertanyakan hal itu. Kadang bulu kuduknya menjadi berdiri.
“Setelah berusia hampir lima belas miliar tahun, barulah alam semesta mendapat alat yang sebegitu fundamental seperti mata untuk melihat dirinya sendiri”. Tegasnya mewakili setiap presepsi tentang teleskop ruang angkasa hubble. Ayahnya berkata dalam surat bahwa teleskop itu adalah mata alam semesta karena ia bisa merekam alam semesta, melihat lebih menyeluruh, dan sebenarnya bahwa teleskop itu di buat oleh manusia, yang manusia itu merupakan alam semesta itu sendiri.
Dalam akhir cerita penulis memberi kejutan tentang hakikat ketiadaan. Ia mempertanyakan apakah ada kehidupan lain setelah ia meninggalkan bumi? Tambahnya lagi, “... Dunia ini ada, maka batas-batas kemungkinan telah terlampaui...”
Buku ini adalah dongeng terbaik untuk menemukan hakikat hidup sebenarnya, meski dijelaskan secara singkat, tapi cukup filosofis dan kritis ketika mempertanyakan antara “Waktu” dan “Ruang”. Pembaca mungkin akan menjadi sadar bahwa keberadaan kita berada di bumi ini hanya sekedar berkunjung dalam waktu kunjungan yang demikian singkat.
Tentu buku ini layak Anda baca sebagai bahan perenungan, mulai dari ilustrasi panjang tentang gadis jeruk, sebuah fakta mengenai ruang angkasa dan teka-teki tentang ruang dan waktu.