BIROKRASI. BIROKRASI DAN BIROKRASI
bu¡reau¡crat¡ic  \ ËbyuĚr-É-Ëkra-tik , ËbyÉr- \
Apa yang kamu pikirkan jika mendengar istilah birokrasi?
It is about procedures? Yes. Adalah tentang rutinitas? Ya. Adalah tentang kekakuan? Bisa jadi. Adalah tentang pengabdian? Depends on you.
Dunia pemerintahan memang bukan menjadi dunia yang asing bagi saya. Menempuh pendidikan di jurusan yang erat kaitannya dengan urusan publik adalah awal saya mengenal birokrasi. Belum lagi kerja dua tahun di tiga kantor pemerintahan yang berbeda tentu menjadikan saya lebih paham tentang dunia yang kata sebagian orang âgelapâ ini. Dan apalagi separuh hidup saya sudah diserahkan sepenuhnya ke dunia pemerintahan ini, for the unlimited times.
Memang menjadi abdi negara /read : PNS/ adalah harapan atau bahkan impian banyak orang. Yang katanya it is about steady job, aman, karir bagus hingga jaminan hari tua yang cerah. Memang ada benernya juga, tapi di dalam dunia per PNSan tentu banyak hal yang dirasa aneh terutama untuk orang yang baru keluar dari dunia akademik /dengan integritas dan semangat mengabdi dalam kondisi on fire.
Tetapi, demotivasilah yang akan diterima. Dengan ajaran kampus yang mengedepankan idealisme, namun nyatanya idealisme itu lama kelamaan akan luntur dengan sendirinya.
Banyak cerita dari kolega-kolega kantor hingga rekan-rekan kuliah yang tersebar di berbagai institusi pemerintah, yang semuanya menyimpulkan dunia birokrasi adalah tentang âkefanaanâ, ya ada pengabdian, tapi sedikit. Entah sistem yang membuat birokrasi menjadi kaku dan terkotak-kotak atau entah alasan lain.
Business as usual adalah sebuah istilah yang cocok untuk menggambarkan dunia birokrasi kita/Indonesia/. Program dan kegiatan relative sama walaupun anggaran ditambah. Money follow program seperti yang diamanatkan presiden nyatanya di level teknis sangat sulit diimplementasikan. Kembali lagi semua program akan mengikuti function sesuai tusinya. Pemilihan daerah ketika survey, semua serba dadakan dan adalah sepenuhnya hak prerogatif pimpinan. âKita mau kemana tahun depan? Bali? NTB? NTT? Papua Barat? Semua adalah tempat wisata walaupun data tidak mengindikasikan daerah tersebut cocok sebagai daerah sampel.
Budaya diskusi sangat jarang terjadi di sebagian besar pemerintahan/walaupun sayapun pernah merasakan berada di kondisi ideal lingkungan pemerintahan. Lah buat apa diskusi toh masukan keroco-keroco macam kita juga ga guna. Kembali lagi semua tergantung keputusan pimpinan. Proses politik pun amat sangat berperan disini. Kaya misal ketika saya di Bappenas, tim sudah memetakan alokasi DAK untuk masing-masing kabupaten/kota. Nyatanya karena bisikan DPR semua berubah. Mereka yang banyak wakil di Senayan tentu yang akan menang.
Inovatif di pemerintahan memang terkubur mati. Ide-ide dari mereka yang pulang kuliahpun kadang tak digubris pimpinan /walau tak semua pimpinan demikian/. Era orde baru di pemerintahan adalah sangat nampak. Staf adalah keroco yang tak dianggap batang hidungnya. Maka tak heran publik sering menilai pemerintah selalu ketinggalan zaman, website jadul, kegiatan monoton. Ya semua tak lain adalah karena ide-ide brilian pemuda disini begitu di kekang. Istilahnya mah, âanak bawang, tahu apa lu?â
Cari aman adalah hal yang paling tepat kenapa pejabat-pejabat mengambil keputusan gitu-gitu aja. Mau inovatif dikit, nanti sebulan kemudian KPK masuk. Who knows? Ya karena kalau mau bener dan ada di minoritas pasti banyak yang tidak suka dan mencoba melengserkan. Ah memang susah, ribet dan ga masuk akal.
Sudahlah. Pada akhirnya selama saya mengikuti arus disini insya Allah aman-aman saja. Tapi kadang, saya sangat merindukan dunia perkuliahan yang penuh dengan integritas dan idealisme.
Disini kami tempa diri, pribadi tangguh nan berbudi, Kami ingin dapat berbuat, untuk jaya tanah airku, Kami siap abdikan diri, dengan jiwa dan raga ini, Berbuat demi negeri ini, agar jaya bangsaku, ... Sumbangsihku mungkin tak berarti Tapi ikhlas kubaktikan semua
-Hymne KM-ITB-
Dari seorang calon birokrat sejati,
Jakarta, 23 Februari 2018












