Kita akan kembali berbicara banyak tentang kopi, barangkali juga hati. Semoga sudi.

❣ Chile in a Photography ❣

blake kathryn
🪼

@theartofmadeline
No title available
trying on a metaphor
Sade Olutola
cherry valley forever
hello vonnie
No title available

JVL
he wasn't even looking at me and he found me

roma★

izzy's playlists!
sheepfilms
Monterey Bay Aquarium

Janaina Medeiros
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from Singapore
seen from United States

seen from United Arab Emirates
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Spain
seen from United States
@muhammadajid81
Kita akan kembali berbicara banyak tentang kopi, barangkali juga hati. Semoga sudi.
Aku membeku
Pada dingin kesekian
Darimu, dari setiap ruang di sini pun
Aku menggigil dalam sepi
Dalam hingar bingar omong kosong sekali lagi
Apa kabarmu?
Apakah kau juga terselimuti dingin?
Atau kau tidak, apakah kita tak lagi pada yang sama?
Aku menggigil
Ku selimuti ku dengan muka para koruptor, tebal sekali
Tapi aku masih menggigil
Kau, bagaimana denganmu?
Aku rindu
Tapi jangan pulang, tak perlu
Negara
Pelan-pelan
Dalam riuh rusuh mesin dan debu
Negara menanamkan benih-benih dendam
Pada anak-anak manusia
Pada anak-anak hewan
Pada anak-anak tumbuhan
Dendam
Siapa yang tidak?
Pendidikan dihabisi
Ruang-ruang dibuat mati
Dan harga diri diinjak berkali-kali
Aku kasian pada Negara
Bicara banyak tentang nasionalisme rakyatnya
Bicara tentang Pancasila
Bicara tentang Perekonomian
Bicara tentang Pembangunan
Tapi tak pernah benar-benar bicara
soal kemanusiaan
Aku juga kasian, kasian sekali
Pada alat-alat keamanan yang katanya mengayomi
Tapi justru seperti wayang mati
Tak punya hati
Menikam mereka yang melarat berkali-kali
Padahal harusnya mereka yang pertama kali melindungi
Hari ini, Yogyakarta sekali lagi
Jika setiapmu masih belum juga peduli
Esok bisa jadi giliran kita dihabisi
Ketika saya menulis tentang perlawanan, saya selalu berpikir tentang ancaman yang terus menghantui saya dan keluarga. Ibu dan Ayah selalu berpesan untuk bebas tapi tetap dalam batas. Tapi jika kebebasan terbatas, lalu apa bedanya dengan hidup dalam penjara?
Berusaha Menjadi Ayah yang Baik
Berusaha Menjadi Ayah yang Baik
Beberapa tahun mendatang, saat langkah kakinya mulai kuat untuk berjalan jauh. Akan ada masa-masa seperti ini, masa-masa saat bisa menemani dan memerhatikan tumbuh kembangnya. Sesuatu yang terjadi tiap detik dan hanya sekali seumur hidup. Saat pertama ia bisa tengkurap, kata pertama yang diucap, bisa merangkak, kemudian bisa berjalan, tahu-tahu besok ia akan berbicara tentang cita-cita dan…
View On WordPress
Aku dalam kesendirian tapi ditemani Penyeduh kopi yang detiknya selalu habis untuk mengingat ayahnya Ayahnya sudah pulang Jauh hari sebelum pukul 12 hari ini Setiap jalannya adalah bayangan bagi sebagiannya yang telah tiada: ayah Pandangannya kosong Ia hanya berkawan kopi karena dia temukan bagiannya dari tetes kopi; selain bagian lainnya yang hilang dengan ayahnya Ia tak bicara banyak Aku membaca buku Agus Noor Cinta tak pernah sia-sia; semoga cintanya dan ayahnya tak pernah sia-sia Ia sudah terlalu lama jatuh
Aku suka bercengkrama Tapi aku tak pernah benar-benar suka keramaian Keramaian hanyalah orang-orang yang menjauh dari diri sendiri Menjadi orang lain dan tertawa-tawa begitu saja Aku suka sepi Aku menjadi diri sendiri Dan hanya aku Aku tak pernah menjadi palsu Aku, pada sepi, aku diri sendiri
Kalau nanti aku lebih memprioritaskan Kopi juga Buku daripada kamu, jangan marah, sebab duniaku dimulai dari situ.
Apa yang dibutuhkan orang papua, pertama-tama, adalah pengakuan bahwa mereka adalah manusia
Roy Thaniago
Yang masi bisa buka tumblr, maukah kita sama sama membela halaman ini? Ahseg. Ramaikan yuk @gincumerah @jagungrebus @hujanmimpi @estehmanistanpagula @kunamaibintangitunamamu @melisalalalaa @a-hap @aksarannyta @kotak-nasi @lookitasari @sendingfailed @crescenthemums @rubahlicik @dwsrkhns tag yang lainnya juga ya, ehe ehe ’-’)/
ayo, banjiri…
@kurniawangunadi @ajinurafifah @ourmetime @deamahfudz @mangatapurnama @mbeeer @taufikaulia @azharnurunala @kotak-nasi @hujanmimpi @rubahlicik @muhammadakhyar @academicus @ariqyraihan @afifahkhairunnisa @boycandra @berdaya @prawitamutia @bungaazzahra @choqi-isyraqi @creativemuslim @dianesstari @fahdpahdepie @felixsiauw @jagungrebus @langit-rinduku @novieocktavia @quraners @secangkirkopikita @satriamaulana @urfa-qurrota-ainy @wahurun-in @yasirmukhtar @zhriftikar
Saya ingin berhenti mengkritisi kebijakan soal pendidikan, tapi saya tidak bisa. Kesenjangan terjadi terlalu luas, sedang setiap menteri baru sibuk mengganti "nama" dari sistem. Enyahlah KTSP, K13, atau apalah lainnya itu. Pendidikan hanya butuh kepedulian, ketika memang benar-benar peduli mereka tak akan berfikir bagaimana "nama". Jangan membatasi pendidikan dengan format, fokus saja pada mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan cara apapun sesuai kemampuan masing-masing. Sementara tutup mata dengan pendidikan kota, pergi ke pelosok, disana mereka tak butuh sistem atau format atau apalah itu, mereka hanya butuh siapa saja lebih peduli, terhadap pengetahuan mereka saat ini hingga nanti.
Pemilik-pemilik travel/biro wisata akan terus menikmati hasil dari jasa yang mereka tawarkan, akan tetapi kondisi masyarakat tempat tujuan mereka berwisata akan selalu berada di kelas bawah. Harus ada solusi, eksplorasi tempat wisata harus sejalan dengan pertumbuhan perekonomian masyarakat di tempat tersebut. Foto ini di Sembalun, Kaki Rinjani. Yang kita lihat dengan kasat mata bahwa Rinjani merupakan salah satu destinasi favorit di indonesia baik untuk turis domestik atau mancanegara. Akan tetap kenyataan tentang kemegahan Rinjani berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat yang ada, terlepas bahwa memang benar masyarakat adat disana tidak suka bermewah-mewah, tetapi ketimpangan terlihat dari hal kecil misalnya sumber air dari masyarakat Rinjani yang ketika kami berada disana mereka masih bergantung pada pipa-pipa paralon dari sumber air gunung. Dan parahnya pipa-pipa tersebut mereka sebut merupakan bantuan dari luar negeri, bukan Indonesia. Bukankah miris? Ketika kita menikmati hasil tanpa pernah tahu bagaimana proses yang terjadi sebelumnya? Bangunlah, Indonesia!! Sembalun, Kaki Gunung Rinjani, 3 tahun silam bersama kawan gila, juga Kang Tawaf yang membantu kami hidup ketika disana juga Adiknya yang lulusan SMP tapi mahir 7 bahasa karena orang asing, bukan bangsanya sendiri.
Bagaimana jika sesuatu yang kau susun rapi, tak bisa kau capai karena digunakan oleh orang? Oke mari kita mulai dari nol.
aku akan sampai pada masa dimana aku memahami bahwa perjalanan hanya soal mengucap perpisahan pada satu per satu apapun, sampai nanti aku yang menjadi bagian perpisahan dari perjalanan orang lain
muhammad ajid
Seorang yang kau katakan tak punya pendirian dan berkepribadian buruk, hari ini ia berbicara banyak tentang kepribadian di depan orang-orang.
Aku bertemu pedagang sekali lagi
Tua sekali, membawa rokok duduk
istirahat seperti sangat lelah
Yaa. Lelah sekali, tentang perjalanan
juga kehidupan tentunya
Dia jual pisang juga pepaya
Malam terlalu larut untuk usianya
Aku tak tega tapi aku tak bisa apa
Bekalku tak lebih untuk sekedar
aku makan hingga minggu
Aku ingin lekas pergi dari dekatnya saja
Aku tak ingin larut dalam beban
Tapi temanku tak kunjung keluar
Tiba saja gerimis turun
Aku semakin berkecamuk antara
penjual pisang juga diriku sendiri kini
Tuhan... Aku hidup di Negara kaya
Tapi aku tak pernah tak melihat kesenjangan
Aku tiba saja takut mati
Ada anak kecil menangis
Aku takut saja
Seperti akan ada yang hilang sekali lagi
Bukan aku, tapi dares akhir-akhir dekat sekali disini setiap hari
Juga malaikat
Kehilangan adalah buruk
Perkutut bersiul tak henti pukul dini hari
Aku takut saja
Memang aku mampu, tapi aku bosan pura-pura baik-baik saja