Pendapat & Impian Tentang Pendidikan Indonesia
#Pendapat
Sumber Gambar : love.house.gov
Pendidikan, dalam Ensiklopedia Pendidikan Indonesia, merupakan suatu proses membimbing satu atau sekelompok manusia untuk keluar dari kegelapan, ketidaktahuan, dan kebodohan untuk menuju ke arah kecerdasan pengetahuan. Bahkan Nelson Mandela pun menyebutkan bahwa pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa digunakan untuk merubah dunia. Berkaca pada 2 pernyataan tersebut, tentu terbayang bagaimana pentingnya pendidikan. Sudah menjadi kodrat bagi manusia untuk menerima pendidkan, dari sejak lahir hingga saat ini, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Melihat potret pendidikan Indonesia saat ini tampaknya masih cukup jauh dari kata memuaskan. Masih cukup banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi dalam dunia pendidikan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa problematika dunia pendidikan Indonesia yang saya ketahui dari beberapa pemberitaan di media ataupun yang selama ini saya rasakan sendiri.
Kualitas pendidikan tidak merata
Tidak meratanya kualitas pendidikan yang saya maksud adalah pendidikan yang diterima masyarakat kota vs. desa, atau secara lebih luas, daerah pelosok/tertinggal dengan daerah maju. Daerah maju yang saya maksud disini adalah Pulau Jawa, sebuah pulau yang merupakan pusat pemerintahan, pusat ekonomi, pusat kepadatan penduduk, pusat pembangunan, dan pusat-pusat yang lain. Sementara daerah lain, mungkin hanya bisa iri jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan dan perkembangan di daerahnya. Perbedaan, atau mungkin bisa disebut sebagai kesenjangan, itulah yang menjadi salah satu penyebab tidak meratanya pendidikan di Indonesia. Bagaimana bisa? Tentu saja. Laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang lancar (atau mungkin diprioritaskan) menyebabkan terjadinya kesenjangan tersebut. Bila pertumbuhan ekonomi dan pembangunan suatu daerah lancar, maka fasilitas pendidikan di daerah tersebut secara otomatis akan ikut diperhatikan. Fasilitas pendidikan yang baik juga akan mendorong naiknya kualitas pendidikan. Sudah berapa kali kita lihat dan dengarkan di media kondisi bangunan sekolah yang tidak layak berujung roboh di beberapa daerah pelosok negeri?
Sistem pendidikan yang rumit, berat, kompleks, dan sering berganti
Betapa beratnya sekolah saat ini. Setidaknya, itulah yang pernah saya rasakan sebagaimana juga saya melihat pada generasi setelah saya. Bagaimana tidak? Ketika saya sekolah (SD – SMP – SMA) dulu, saya bersama teman seangkatan diperkenalkan oleh sebuah sistem pendidikan bernama kurikulum pada awal tahun ajaran baru. Baru setahun dua tahun berjalan, tampaknya pemerintah telah melakukan evaluasi sehingga kurikulum lama harus diganti dengan kurikulum yang baru. Tentu saja kami harus berusaha beradaptasi kembali jika ingin bertahan pada persaingan pendidikan. Hanya satu yang tidak berubah, bahwa kami harus masuk pagi hingga siang menjelang sore, ditambah dengan pekerjaan rumah yang tidak kalah menyita waktu. Bahkan tren saat ini seolah mewajibkan setiap pelajar untuk mengambil les tambahan di luar jam pelajaran yang diberikan oleh sekolah, biar tidak ketinggalan dengan yang lain, katanya. Begitu juga seterusnya saya melihat generasi setelah saya. Tampaknya, benar adanya bila generasi saat ini (termasuk generasi saya) dicap atau lebih tepat disebut sebagai generasi robot. Mengeluh? Rasanya tidak pantas. Jika saya bersama teman-teman lain yang mendapatkan pendidikan dengan fasilitas yang baik saja mengeluh, maka saya tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara seumuran kami di ujung sana yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan saya. Pendidikan yang boleh dikata berat apalagi sering berganti tentu saja akan sangat menyulitkan. Belum selesai beradaptasi dengan 1 sistem, ternyata sudah ada lagi sebuah sistem pengganti yang telah dipersiapkan pada tahun yang akan datang. Belum lagi model ujian nasional (UN) yang sempat menggunakan sistem online yang cukup menggemparkan tahun lalu. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba saja model UN tersebut dikenalkan. Model UN yang biasanya saja masih banyak permasalahan dan kecurangan, bagaimana bisa menanggulangi kecurangan dan permasalahan yang ada dengan merubah model UN dalam waktu relatif singkat begitu saja? Saya membayangkan, bagaimana nasib teman-teman saya nun jauh disana yang tidak mempunyai atau kesulitan dalam belajar komputer dan internet. Adilkah?
Biaya pendidikan semakin tidak terjangkau
Meningkatkan fasilitas pendidikan guna menunjang kualitas pendidikan ternyata tidak selamanya menjadi sebuah solusi tanpa masalah. Fasilitas pendidikan yang semakin baik nyatanya harus dibayar mahal oleh peserta didik. Bagi mereka yang orang tuanya berkecukupan, tentu tidak akan terlalu menjadi masalah. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang orang tuanya tidak mampu? Bahkan tidak sedikit beberapa pemuda yang sebenarnya berpotensi, tetapi terpaksa tidak dapat mengenyam pendidikan akibat biaya yang semakin mencekik. Sungguh sebuah ironi dalam dunia pendidikan.
Penurunan kualitas budi pekerti pelajar/peserta didik
Pendidikan yang semakin baik ternyata bukanlah jaminan untuk menghasilkan individu yang berkualitas secara utuh. Maksud saya adalah, tidak hanya pintar secara otak, namun juga baik budi pekertinya. Faktanya, sangat banyak sekali kasus-kasus saat ini yang justru menunjukkan moral pelajar yang semakin menurun. Mulai dari tawuran antar pelajar karena sekedar gengsi ataupun hal kecil lain, hingga tindakan berat mengarah asusila. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka, oknum pelajar, seolah tidak pernah mendapatkan pendidikan sama sekali. Tetapi, mengapa berita-berita miring tentang pelajar terus saja ada dan berdatangan, bahkan semakin banyak? Apakah proses belajar mengajar selama ini bisa dianggap gagal dalam menghasilkan generasi yang benar-benar ‘berkualitas’? Meskipun tidak semua pelajar demikian, namun tampaknya penerapan pelajaran moral dan budi pekerti adalah hal yang mutlak diperlukan sebagai dasar dalam pendidikan. Karena, untuk apa individu yang pintar namun amoral? Bukannya memajukan, namun justru dapat menjadi titik balik kemunduran negeri.
Betul kata Bp. Anies Baswedan (Menteri Pendidikan saat ini), bahwa pendidikan nasional berada pada kondisi stagnan. Bahkan, saya berani bilang bahwa pendidikan Indonesia telah mengalami kemunduran pada beberapa aspek. Meskipun hal tersebut sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor dari luar, tetapi seharusnya pendidikan sejatinya merupakan sebuah alat pertahanan diri dalam menghadapi era globalisasi yang semakin lama semakin memakan identitas diri, bukan sebaliknya. Yang menjadi perhatian utama saya adalah mengenai kebijakan dan sistem pendidikan yang berlaku saat ini, yaitu sistem pendidikan yang terlalu kaku, sulit, dan semakin berat justru akan menghasilkan siswa-siswa cerdas nang apatis, layaknya sebuah robot. Memang benar sistem tersebut telah menghasilkan puluhan medali dalam kejuaran internasional. Tetapi, sistem tersebut belum pernah menghasilkan sebuah karya/ penemuan yang benar-benar hebat. Padahal, dengan kemampuan peserta didik yang sudah tidak perlu diragukan, karya-karya hebat sudah seharusnya mengalir deras dari setiap muda-mudi bangsa ini.
#Impian
Sumber Gambar : benningtonrescue.org
Berdasarkan pada apa yang saya kemukakan di atas, saya pun masih menaruh harapan dan impian besar mengenai pendidikan Indonesia untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Karena, bagi saya tidak ada suatu permasalahan tanpa adanya solusi penyelesaian.
Fasilitas dan investasi pendidikan
Untuk mencapai pendidikan yang lebih baik, fasilitas penunjang merupakan salah satu hal yang utama. Fasilitas yang telah tersedia tentu saja akan sangat memudahkan dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini, penyediaan dan perbaikan fasilitas pendidikan di daerah pelosok dan tertinggal merupakan sebuah prioritas dalam rangka mencapai kesetaraan pendidikan. Fasilitas yang baik akan mendorong pelajar/ peserta didik mengoptimalkan kemampuan dasar berpikir yang telah mereka punya. Selain itu, jangan sampai ada lagi yang berkata, “Saya lebih suka melakukan penelitian di Negeri X karena di sana fasilitasnya sangat lengkap sehingga penelitian saya lebih mudah dan cepat terselesaikan dengan hasil memuaskan.” Bila demikian, maka investasi dalam bidang pendidikan sangatlah penting. Tidak hanya untuk menarik minat belajar para pelajar dalam negeri, tetapi menarik minat belajar pelajar luar negeri untuk mengenyam pendidikan di Indonesia tentu saja akan meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan dan juga sangat menguntungkan dalam beberapa aspek tidak hanya bidang pendidikan semata.
Biaya terjangkau dan beasiswa semakin banyak
Biaya pendidikan yang terjangkau tentu merupakan harapan bagi setiap peserta didik, dan tentu saja, para orang tua. Pendidikan murah nan terjangkau akan sangat dinantikan oleh mereka yang sangat ingin mengenyam pendidikan, namun kurang mampu secara materi. Meskipun alokasi APBN untuk bidang pendidikan telah mencapai 20%, tampaknya tidak seluruhnya tepat sasaran sehingga penggunaan dana tersebut perlu dikaji dan dievaluasi kembali. Karena pada kenyataanya, masih banyak anak-anak yang belum dapat merasakan nikmatnya pendidikan, dan pada beberapa kondisi, ada yang tidak mampu meneruskan hingga tuntas. Porsi APBN untuk pendidikan pun diharapkan naik untuk mendukung biaya pendidikan terjangkau. Meskipun tentu saja diperlukan evaluasi mendalam supaya tidak mengganggu aspek-aspek lain yang tidak kalah pentingnya. Dalam hal ini, program pemberian beasiswa, baik oleh instansi negeri ataupun swasta, sangatlah dinanti.
Sistem pendidikan yang konsisten dan terpadu
Tampaknya, siswa-siswi saat ini lebih merasa lelah untuk beradaptasi dengan sebuah sistem pendidikan yang sering berganti dibandingkan dengan rasa lelah untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Saya sangat berharap, dalam hal ini kepada pemerintah dan instansi terkait, untuk dapat merumuskan sebuah sistem pendidikan yang benar-benar baku dan terpadu, serta digunakan secara konsisten dari tahun ke tahun. Tentu saja dalam perumusannya diperlukan waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan hasil yang benar-benar sesuai harapan semua orang. Oleh karenanya, daripada sibuk mempersiapkan sebuah sistem baru dan cara menghadapinya, alangkah lebih baik waktu dan pikiran tersebut dialokasikan untuk mencipatakan sebuah sistem pendidikan nan baku dan terpadu. Dengan begitu, peserta didikpun dapat lebih dalam optimal dan maksimal dalam mencapai target pendidikannya daripada sibuk beradaptasi.
Pelajar/peserta didik yang berbudi pekerti luhur
Pelajar yang cerdas nan pintar dengan nilai yang bagus adalah kebanggaan dan impian setiap orang. Tetapi, pelajar tanpa moral dan budi pekerti luhur adalah omong kosong. Sering beredarnya berita miring tentang pelajar, seperti tawuran dan tindak asusila, betapa menunjukkan pentingnya nilai moral yang musti dimiliki oleh setiap pelajar. Ya, tentu kita akan lebih suka melihat bahwa setiap pelajar hidup dalam keharmonisan di tengah hiruk pikuk kegiatan belajar, bukan? Daripada tawuran antar sekolah misalnya, saya lebih suka jika pelajar tersebut bekerja sama belajar ataupun bekerja sama untuk melakukan sebuah penelitian yang hebat. Mengapa tidak? Bukankah belajar, diskusi, dan meneliti tidak hanya terbatas pada instansi tertentu? Saya membayangkan, jika setiap pelajar membentuk kelompok untuk melakukan sebuah penelitian dan inovasi yang anggotanya tidak hanya terdiri dari satu instansi pasti akan menghasilkan sebuah karya yang hebat. Suasana kompetitif namun produktif pun dapat secara harmonis tercipta. Tentu saja hal tersebut dapat terwujud jika setiap pelajar mempunyai budi pekerti dan rasa tenggang rasa yang tinggi antar sesama.
Munculnya komunitas mengajar
Munculnya komunitas mengajar. Ya. Selagi menunggu pemerintah otoritas tertinggi untuk melakukan perubahan di bidang pendidikan ke arah yang lebih baik. Kita sebagai pemuda, pelajar, orang yang terdidik, sudah seharusnya mendukung kebijakan pemerintah dengan melakukan aksi nyata. Disini, munculnya organisasi atau komunitas mengajar sangatlah berperan besar dalam percepatan perubahan tersebut. Komunitas seperti demikian telah banyak muncul, sehingga dengan munculnya komunitas-komunitas serupa akan menjadi lebih baik lagi. Selain membantu program pemerintah, juga menumbuhkan sikap empati dan rasa saling berbagi antar sesama. Sehingga mereka yang selama ini merasa tercukupkan kebutuhannya, bisa merasakan mereka-mereka yang untuk mendapatkan pendidikan dasar saja butuh perjuangan ekstra luar biasa sehingga bisa lebih bersifat menghargai dan menghormati. Program seperti #MenyapaNegeriku yang diadakan oleh DIKTI pun juga diharapkan bisa ditiru oleh perguruan tinggi atau instansi pendidikan lain. Seperti halnya pada tempat saya kuliah saat ini, UGM, yang mewajibkan mahasiswanya untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam rangka membantu pemerintah mengembangkan potensi daerah, baik dari segi SDA dan SDM-nya. Selain itu, program-program tersebut yang dilakukan di daerah perbatasan juga diharapkan akan menumbuhkan kembali rasa nasionalisme yang mungkin telah sedikit luntur akibat merasa kurang diperhatikan oleh pemerintah.
Saya berharap pada pemangku kepentingan di dunia pendidikan bisa meniru negara-negara maju dalam mengembangkan dan memajukan pendidikan negerinya. Kita bisa meniru Jepang mengenai pembelajaran dan pendidikan yang berbasis budi pekerti luhur, ataupun Finlandia, Korea Selatan, dan Singapura yang sistem pendidikannya relatif konsisten sehingga banyak menghasilkan kemajuan dalam berbagai bidang bagi negaranya. Selain itu, kita juga bisa belajar dari China dengan usaha ‘meniru’-nya. Bukankah pertama kali manusia lahir belajar dengan cara meniru? Meskipun hal-hal diatas sulit, tetapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Sebuah harapan dan impian yang patut untuk ditunggu dan diperjuangkan bersama-sama. Demi Indonesia. Mari bersama-sama melakukan aksi nyata dalam rangka memajukan mutu pendidikan Indonesia!
Note :
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti seleksi program #MenyapaNegeriku yang diadakan oleh Kemenristek DIKTI. Tulisan merupakan murni hasil dari pemikiran sendiri yang disusun berdasarkan pengalaman pribadi penulis ataupun beberapa informasi berasal dari media. Silahkan jika ada kritik, saran, dan komentar mengenai tulisan ini.










