Aku terlalu bodoh untuk mencoba jadi jahat.
Ingat kala kau banting gusar hatiku hingga luluh lantak menyayat kasat? Kau masih dapat temukan aku sigap sediakan peluk ini untuk tempat terakhir air matamu, aku masih sediakan telinga ini untuk kau tuangkan cerita rupa beban di gelasku yang sengaja ku kosongkan.
Meski kini aku terukir benci padamu sebab apa yang telah kau lakukan padaku, namun aku masih mencintaimu untuk apa-apa yang sudah kau lewatkan dalam hidupmu.
Kagumku tak habis oleh amarah, hangatku tak padam oleh kecewa.
Aku mencintaimu karena kau selalu layak akan hal baik.
Arief Aumar Purwanto















