Semoga tuhan tidak membalik keadaan dari yang sebelumnya berkecukupan menjadi sebaliknya. Aamiin
Not today Justin

roma★
No title available
i don't do bad sauce passes

titsay
taylor price

No title available
trying on a metaphor

No title available

祝日 / Permanent Vacation
Misplaced Lens Cap

blake kathryn
he wasn't even looking at me and he found me

⁂

#extradirty
wallacepolsom
Xuebing Du
I'd rather be in outer space 🛸

pixel skylines
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

seen from United States
seen from United States
seen from Mexico
seen from Chile
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Chile
seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Australia

seen from Germany
seen from Mexico

seen from Netherlands

seen from Jordan
seen from Chile

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
@suratsajak
Semoga tuhan tidak membalik keadaan dari yang sebelumnya berkecukupan menjadi sebaliknya. Aamiin
Interested in owning one of my original watercolor and gouache paintings? All of these pieces are still looking for homes at Nucleus Portland! 💛
weeks 11-20 on my weekly poster challenge this year, crazy I've actually managed almost half a year of getting these done. 1-10 here.
Satu mimpi yang ingin saya wujudkan, buat PT Qirim Creative dengan KOL istri dan anak sendiri. Tidak bergantung pada 1 pendapatan dan membangun kedekatan emosional melalui kegiatan keluarga.
Yswdh, nn nb ḫt r sḫm m ḳbb
“Kadang kita terlalu fokus pada satu pintu rezeki yang tertutup, sampai lupa bahwa hidup ini tidak hanya punya satu jalan. Kita merasa kehilangan, merasa gagal, bahkan mempertanyakan kenapa harus terjadi di saat kita sudah berusaha sekuat tenaga.
Padahal bisa jadi, itu bukan tentang kehilangan—tapi tentang diarahkan. Tuhan sedang memindahkan kita dari tempat yang sudah tidak lagi memberi pertumbuhan, menuju sesuatu yang mungkin belum kita pahami sekarang.
Memang tidak mudah. Rasanya berat, capek, dan sering kali membuat kita ragu apakah benar ada jalan lain yang menunggu. Tapi rezeki tidak selalu datang dalam bentuk yang sama, tidak selalu datang secepat yang kita mau. Kadang ia datang sebagai kesempatan baru, lingkungan baru, atau bahkan versi diri kita yang lebih kuat.
Jadi ketika satu pintu tertutup, jangan hanya diam di depannya. Berani untuk melangkah, mencari, dan membuka kemungkinan lain. Karena bisa jadi, pintu yang sedang menunggu itu bukan hanya memberi rezeki, tapi juga memberi arah hidup yang lebih baik.”
Gimana caranya supaya bisa menghasilkan 50 juta per bulan?
Jujur, saya sudah sampai di titik sangat lelah dengan kondisi seperti ini. Rasanya seperti terus berada dalam siklus yang sama—berusaha, berharap, tapi hasilnya belum juga sesuai dengan yang diinginkan.
Hal ini seperti menjadi dialog yang terus berulang di dalam pikiran, tanpa ada kejelasan kapan semua ini akan benar-benar berubah atau berakhir. Di satu sisi, saya masih punya keinginan untuk berkembang dan memperbaiki keadaan, tapi di sisi lain, rasa capek ini semakin terasa dan mulai menguras semangat.
Saya hanya ingin menemukan cara yang benar-benar bisa membawa perubahan nyata, bukan sekadar berjalan di tempat tanpa arah yang jelas.
Memendam perasaan itu melelahkan. Setiap hari berpura-pura biasa saja, padahal di dalam hati terus berdebat antara ingin jujur atau tetap diam. Kadang berharap orang lain bisa mengerti tanpa harus dijelaskan, tapi di sisi lain sadar bahwa tidak semua hal bisa dipahami tanpa diungkapkan. Dan di situlah ketakutan itu terus hidup… antara ingin didengar, tapi tidak siap dengan kemungkinan jawabannya.
Setiap hari terlihat baik-baik saja, tetap bekerja, tetap tersenyum, tapi di dalam hati selalu ada rasa cemas yang tidak pernah benar-benar hilang. Takut kalau suatu hari ada kebutuhan mendadak, tapi tabungan belum cukup. Takut kalau kehilangan pekerjaan, karena sadar belum punya pegangan yang kuat. Kadang bukan karena tidak punya penghasilan, tapi karena tidak pernah benar-benar merasa aman dengan kondisi keuangan sendiri. Dan yang paling menakutkan adalah… terus menjalani hidup seperti ini tanpa tahu kapan semuanya akan berubah.
Bagaimana mungkin akan muncul hal-hal baik dalam dirimu, sebelum melupakan kegagalan dan rasa sakit hati dalam pikiranmu.
Kadang aku bertanya…
Kenapa saat seseorang melakukan satu kesalahan, ia seperti harus dikuliti sampai kering?
Dibahas berulang-ulang, diungkit terus, seakan itu satu-satunya hal yang pernah ia lakukan.
Tapi ketika ia melakukan kebaikan, semuanya cepat sekali berlalu. Tak ramai diperbincangkan. Tak lama dikenang.
Seolah itu memang sudah kewajiban, bukan sesuatu yang pantas dihargai.
Kesalahan seperti punya cahaya sorot yang terang, sedangkan kebaikan hanya lewat tanpa tepuk tangan.
Padahal manusia bukan hanya tentang salahnya.
Ia juga tentang niat baiknya, tentang usahanya memperbaiki diri, tentang lelah yang tidak selalu terlihat. Mengoreksi itu perlu.
Tapi menguliti tanpa henti hanya melahirkan luka yang lebih dalam.
Jika kesalahan bisa diingat begitu lama, mengapa kebaikan begitu mudah dilupakan? Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang bertahan bukan terus disalahkan, melainkan dihargai saat ia berusaha menjadi lebih baik.
Kadang jadi laki-laki itu serba salah. Kerja dibilang kurang, diam dibilang tak peduli, bicara malah dianggap berlebihan.
Padahal dia sudah berusaha semampunya. Tidak semua effort terlihat, tidak semua lelah sempat dijelaskan.
Kalau pun masih dianggap kurang, mungkin bukan karena dia tak mencoba—
tapi karena usahanya tak pernah benar-benar dihargai.
Kita semua punya peran masing-masing.
Di setiap peran, ada hak yang layak diterima dan kewajiban yang harus ditunaikan.
Hak tidak akan bermakna tanpa tanggung jawab,
dan kewajiban akan terasa ringan jika dijalani dengan kesadaran.
Saat setiap orang menjalankan perannya dengan baik,
keseimbangan, keadilan, dan saling menghargai akan tumbuh dengan sendirinya.
Dalam 48 jam terakhir, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kehidupan dan kematian berjalan berdampingan, tanpa saling menunggu, tanpa saling mengalah. Di satu rumah, suasana dipenuhi isak tangis, doa-doa lirih, dan keheningan yang berat—kabar duka menyelimuti setiap sudutnya, meninggalkan luka yang tak terlihat namun terasa begitu dalam. Waktu seolah melambat, detik demi detik berjalan bersama rasa kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Namun tak jauh dari sana, di rumah yang lain, suasana justru dipenuhi senyum, tangis pertama seorang bayi, dan doa-doa penuh harap. Kebahagiaan menyebar bersama kabar kelahiran, membawa cahaya baru bagi sebuah keluarga. Tangisan yang terdengar bukan lagi karena perpisahan, melainkan tanda dimulainya sebuah perjalanan hidup yang panjang.
Dua peristiwa itu terjadi hampir bersamaan, seolah mengingatkan bahwa hidup selalu bergerak dalam keseimbangan yang sunyi. Saat satu jiwa berpulang, jiwa lain hadir ke dunia. Saat satu keluarga belajar merelakan, keluarga lain belajar menerima amanah baru. Dalam jarak waktu yang begitu singkat, aku belajar bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti—ia hanya berpindah bentuk, meninggalkan pelajaran tentang syukur, kehilangan, dan makna untuk terus melangkah.
Aku tahu hari ini tidak mudah, dan itu tidak apa-apa. Aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa dengan kondisi yang aku punya. Tidak semua hal harus aku pahami sekarang, tidak semua jawaban harus datang hari ini.
Aku boleh lelah, aku boleh ragu, tapi aku tidak sendirian menghadapi semuanya. Setiap langkah kecil yang aku ambil tetap berarti, meski belum terlihat hasilnya.
Aku tidak tertinggal, aku hanya sedang bertumbuh dengan caraku sendiri. Aku percaya, selama aku terus berjalan dan menjaga niat baik, aku akan sampai pada versi diriku yang lebih kuat dan tenang
Kadang laki-laki terlihat acuh, padahal ia hanya bingung bagaimana menyampaikan keinginannya tanpa menyakiti atau salah dimengerti.
Jantungku selalu berdebar lebih cepat setiap kali namamu muncul di notifikasi.
Sesekali kamu menyukai IG storyku, sesekali kamu membalas dengan singkat—cukup untuk membuatku bertanya-tanya.
Aku hampir mengetik pesan yang seharusnya tidak kukirim.
Aku hampir mengatakan bahwa aku masih merindukanmu.
Tapi kemudian aku sadar, kamu tak pernah mengirimiku pesan dari nomor pribadimu.
Kamu punya nomorku, masih sama seperti dulu, tapi entah mengapa, kamu memilih untuk tidak menggunakannya.
Mungkin aku hanya sekadar seseorang yang kamu ingat sesekali, bukan seseorang yang ingin kamu cari.
Dan di antara semua “hampir” yang pernah ada, aku sadar—aku hampir lupa bahwa kamu sudah lama berhenti memilihku.
Andira Wu