Never been easy. Life.
To be loved. Is it a difficult thing? Yes.
Wind. Water. Just let it flow.
Just let Allah guide. I am in the middle of forest. Out of nowhere. Searching for.....love.

★

Kiana Khansmith
Three Goblin Art
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

ellievsbear
🪼
Sweet Seals For You, Always
Claire Keane
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
I'd rather be in outer space 🛸
dirt enthusiast
we're not kids anymore.

pixel skylines
almost home
No title available

shark vs the universe

No title available
seen from United States
seen from Pakistan

seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Spain
seen from Spain
seen from Romania

seen from United States

seen from United States
seen from Pakistan

seen from Saudi Arabia
seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
@mutiksa
Never been easy. Life.
To be loved. Is it a difficult thing? Yes.
Wind. Water. Just let it flow.
Just let Allah guide. I am in the middle of forest. Out of nowhere. Searching for.....love.
Pengen naro cita-cita di sini. Mudah-mudahan Allah berkenan mengabulkan satu atau dua, atau bahkan semuanya.
___
Pada usia ke-45, saya dan suami, sudah punya 4 bangunan mimpi kami.
1. Rumah singgah, untuk menampung orang-orang yang membutuhkan, anak yatim piatu misalnya.
2. Madrasah dinniyah, semacam sekolah sore yg isinya mengajarkan semua tentang agama Islam.
3. Klinik.
4. Toko kopi/resto kecil, yang bisa jadi tempat nongkrong yang asik buat ngobrol bersama keluarga.
Pada usia tersebut juga, Arkana akan masuk kuliah. Sekolahnya lancar dan juga membanggakan. Arkana sudah punya 3 adik.
Kelak, saat memasuki usia di atas 60 tahun, saya dan suami, ingin berhenti bekerja, dengan passive income, bisa menyekolahkan semua anak sampai sukses. Kami ingin menikmati kehidupan berdua. Tinggal di rumah yang kami rancang sendiri, bisa berolahraga berdua, bercocok tanam, dan bisa jalan-jalan ke mana pun yang kami mau berdua. Sambil menjadwalkan ibadah dengan lebih dan lebih baik lagi, berdua.
___
Semoga Allah berkenan untuk mengabulkan, memberikan usia yang berkah, ilmu yang bermanfaat, kelapangan rizki, kesempatan untuk bahagia selalu, bersama keluarga yang Allah kumpulkan bersama di dunia dan di surga-Nya kelak. Aamiin ya Allah ya Rabbal 'alamiin.
Arkana.
Postingan selanjutnya adalah tentang Arkana.
Anggaplah ini adalah sebuah dokumentasi. Agar bisa ku simpan dan ku baca di kemudian hari. Atau jika Arkana sudah besar dan ingin membaca tentang kisahnya.
Pilihan.
Hidup itu adalah pilihan. Kamu mungkin sudah sering mendengar kalimat ini. Entah itu pilihan berat yang menentukan kelanjutan hidup kamu. Atau pilihan sehari-hari, seperti memilih apa yang mau dimakan lebih dahulu.
Hidup itu pilihan.
Kembali pada Februari 2018, ketika saya mendapat sebuah proposal. Menikah atau tidak.
Saya kala itu hanya memikirkan satu hal. Jika saya menikah maka saya harus menunda cita-cita besar saya untuk sekolah PPDS. Hmm.
Bergelut dengan ego. Apakah harus menunda ibadah demi ego? Itu yang saya pikirkan saat itu. Jika saya PPDS dulu, apakah yakin saya akan memikirkan tentang menikah? Allahu. Segalau itu.
Dan akhirnya saya putuskan untuk menerima proposal.
---
Saat ini. Desember 2019.
Saat angkatan saya sudah bisa daftar PPDS impian saya. Teman-teman dekat saya sudah diterima di sana. Sedih? IYA.
Saya menangis semalaman, karena seharusnya saya ikut di sana bersama mereka. Mendapat pengumuman “selamat anda menjadi mahasiswa baru UI, program pendidikan spesialis”.
Saya menangis.
Di depan saya saat ini ada seorang insan yang akan berusia 3 bulan, mengoceh, bernada sedih, sedang tangannya sibuk menepuk tangan saya, seolah berkata:
Abu jangan nangis...
Abu jangan nangis...
Seolah dia merasakan jika ibunya sedang sedih. Manis sekali kamu, Nak.
Lalu datang dia yang ku pilih. He hugged me then he said, “Sabar ya”.
---
Ingat kata seorang teman bahwa kedua hal yang menjadi pilihan itu akan sama-sama didapatkan, tetapi bagaimana Allah menentukan mana yang akan duluan kamu dapatkan.
Bisa jadi sekarang diri ini memilih menikah, 2 tahun lagi PPDS. Keduanya sama didapat, tetapi saya berkesempatan untuk melihat tumbuh kembang anak saya sampai usia emasnya terlewati.
Bisa saja yang lain memilih PPDS dahulu, menikah saat PPDS, cuti di tengahnya untuk mempunyai anak. Lulusnya bisa jadi akan bareng. Namun, bisa jadi dia lebih sibuk, dan tidak dapat sepenuhnya menemani tumbuh kembang anaknya.
Yang lain lagi mungkin memilih mempunyai anak saat lulus PPDS.
Semuanya adalah tentang memilih mana yang lebih dahulu.
Bukan melepaskan satu untuk satu yang lain.
---
Menikah bukan kompetisi.
Waktu masuk PPDS bukan kompetisi.
Jadi, tergantung mana yang datang duluan padamu.
---
Dan ingat kata seorang teman kemarin, “mereka yang PPDS duluan dan belum menikah, mungkin tidak akan merasakan nyamannya disayangi oleh suami dan dibutuhkan seorang anak”.
Allah pasti memberikan yang terbaik. PASTI. Pada waktunya.
Maka tolong ya Allah, izinkan hamba juga untuk dapat sekolah PPDS, pada waktu yang Kau tentukan.
Aamiin.
Halo, again!
Memutuskan untuk kembali. Bukan untuk pamer, tetapi untuk pemulihan diri. Writing makes me sane.
---
Kali ini akan lebih banyak tulisan. Anggaplah sebagai tempat untuk bercerita, melepas penat. Beruntung ku tak punya followers. Jadi ini seperti jurnal pribadi.
Tapi, jika kau membaca ini, just enjoy it :)
Syukur.
Jadi, haruskah aku bersyukur?
Maka, haruskah ku jawab pertanyaanku di atas?
Bangun.
Sekali dua kali itu bukan hal besar. Masih banyak orang yang mungkin mengalami hal serupa. Bahkan jauh lebih sulit.
Satu dua bulan, anggaplah waktumu beristirahat.
Ikhlas.
Mungkin Dia sangat rindu akan tangismu. Keluhmu. Harapmu. Do’amu.
Bangun.
Berhenti menyalahkan.
Berhenti mencari kambing hitam.
Ikhlas.
Ikhlas.
Ikhlas.
Mas Her.
Sebelumnya aku mudah ‘jatuh cinta’ oleh hal-hal yang kecil saja. Mungkin karena itu Mas Her 'tidak terlihat’ karena datang membawa hal yang besar. Pernikahan.
Jawaban karena beliau orang yang sangat kaku, bukan tipeku, atau karena gaya rambutnya adalah jawaban cepat untuk pertanyaan 'kenapa’ saat itu. Menutupi satu jawaban yang mendasar. Ketakutan.
Beliau datang dengan satu rentetan pandangan akan keluarganya di masa depan. Istri yang bagaimana, keluarga yang seperti apa, dan sebagainya. Sebagai gadis yang lebih sering dibuai oleh angan-angan yang diumbar tanpa pertanggung jawaban jadi kaget. Karena Mas Her datang bawa kenyataan.
Beliau jabarkan pekerjaannya yang akan pindah-pindah entah kemana. Buruk-buruknya. Pahit-pahitnya.
Semua beliau ceritakan dalam satu waktu sambil menghabiskan satu piring nasi goreng. Tanpa senyum. Tanpa ekspresi. Di pertemuan pertama kami.
Aku paham beliau terburu-buru karena itu adalah kesempatan kami bertemu, sementara jam 5 sorenya beliau harus terbang ke Surabaya. Tapi, masa beliau tidak mencoba memahami bahwa perempuan itu baiknya diberi tahu pelan-pelan. HUFT.
Baiklah. Kita semua punya ketakutan.
Lalu, ketakutan apa yang aku rasakan?
Takut kehilangan kenyamanan. Selain itu, aku takut tidak bisa mengimbangi Mas Her, menjadi istri yang ia harapkan.
Beh, siapalah aq sehingga aq pantaz mendampingi maz her…hft.
Ok. Itu sudah masa lalu. Sekarang aku sudah di samping Mas Her. WKWK.
Ketakutan yang pertama sangat tidak dewasa. Kata Bapak, perluas zona nyaman. Orang cerdas adalah orang yang selalu tau bagaimana menempatkan diri, bereaksi positif terhadap lingkungan sekitarnya, dan kreatif. Tapi, the beginning is always hard, kan? Sekarang aku sedang mencoba memaksakan diri untuk menjadi orang cerdas. wkwk.
Ketakutan yang kedua adalah masalah yang selalu ada dari dulu dan enggan minggat dari kepala. Minder. Merasa tidak mampu. Merada tidak pantas. Merasa ada orang yang lebih bisa melakukan itu. Membuatku tidak kemana-mana. Jalan di tempat saja. Kebodohan berulang. Sialnya, luluh saja dengan kata-kata “Ayo kita sama-sama” yang dulu sering kali Mas Her katakan.
Eh, udah malam. Besok lagi. Sekarang mau bobok dulu wkwkw
S a m a :")
Am I Left Behind?
Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.
Indikasinya begini:
• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.
• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.
• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.
• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.
• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.
Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?
Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.
Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”
Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.
Oke, sementara segitu dulu.
Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.
It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.
Confucius
Bismillah.
Everyone has their own timelines. Bismillah!
CEPAT LELAH
Sekiranya kita dapati diri kita cepat sekali lelah ketika membaca Al-Qur'an. Barangkali hati kita sudah terlalu pekat untuk menerima cahaya dari Al-Qur'an. Sehingga ia mudah sekali merasakan lelah dalam bertilawah.
Sekiranya kita dapati diri kita cepat sekali lelah ketika membaca Al-Qur'an. Ketahuilah yang terjadi sesungguhnya Al-Qur'an sedang mengoperasi penyakit jiwa kita yang sudah mulai bebal menebal, sebab dia adalah syifaa (penyembuh)
Dan sangat wajar dalam proses oprasi tersebut jika ada rasa pedih, perih, sakit bahkan berdarah-darah ketika memperjuangkannya..
Maka jika kita dapati diri kita yang demikian. Tetap lanjutkan dan tekadkan diri untuk tidak lelah membersamai. Jangan lelah apapun yg terjadi.
Teruskan tilawah Qur'an kita, sampai kita merasakan ketenangan.
Sampai jiwa-jiwa kita menjadi benar-benar bersih dan melembut.
Dan benar saja apa yang di sampaikan Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu
*“Sekiranya hatimu bersih, kau tidak akan merasa puas dari firman Tuhanmu”*
Maka apa kabar hati kita saat ini? Tidak merindukah ia dengan cinta yang tertuang dalam surah cinta-Nya. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.
Semoga Allah melembutkan hati-hati yang ingin membersamai Al-Qur'an, memberikan ketenangan bagi mereka yang membacanya, melembutkan hati yang keras dan mengistiqomahkan untuk selalu membaca dan bersama Al-Qur'an..
Sebab, tidak ada cinta yang lebih manis dari seorang muslim yang berazzam untuk membersamai Al-Qur'an..
Sudah tilawah hari ini wahai hati yang baik?
((Self Reminder)) || ©Ibn Syams
:")
Sesuatu yang berharga, belum tentu berani kita perjuangkan. Padahal kita tahu, padahal kita paham, padahal kita menyadarinya. Tapi, belum tentu kita berani. Dan keberanian itu memang perlu dilatih, sebagaimana melatih kesabaran. Sampai suatu saat kita tidak lagi perlu berpikir berulang kali u/ memperjuangan yang berharga, yang ada di depan mata kita. Bukankah sudah terlalu sering kita melewatkannya? Melewatkan yang baik-baik, hanya karena kita terlalu takut untuk mengambil konsekuensinya. Hanya karena kita terlalu banyak berhitung, lupa jika ada hal-hal yang lebih memerlukan iman dibanding yang lain.
Pilihannya dua: berani atau melewatkan.
Usia.
Sungguh, tidak ada yang pernah tahu sampai kapan dapat terbuka mata ini. Berkedip, tanpa beban. Bekal ini, masih jauh dari cukup. Sangat jauh. Dan... Aku sangat sadar, diri ini jauh dari baik. Sangat jauh. Tapi tolong izinkan ya Rabb, agar di akhir perjalanan nanti, diri ini dapat tersenyum, seraya bahagia, menyambut pertemuan terindah. Dengan-Mu dan kekasih-Mu. Khusnul khatimah. Aamiin. ------ Hari ini, kembali diingatkan, oleh seorang teman, yang menjemput pertemuan denganmu lebih awal. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun. Allahummagfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha.
Lingkaran.
Bedanya sekarang, tak ada batas usia. Ada yang bahkan sudah menimang yang keempat.
Saya, jadi yang paling banyak disoroti.
Untung ada teman, katanya tiga serangkai eh tiga termuda.
Tak apa. Walaupun demikian, saya bersyukur, masih diberikan-Nya kesempatan untuk melingkar.
Walaupun kehangatan Salemba, masih belum tergantikan.
To teach? Actually, I learn.
Dokter berasal dari kata docere yang artinya to teach. Dengan kata dasar itu, kami diharapkan dapat menjadi pengajar dalam kehidupan keseharian kami. Melakukan edukasi, menyampaikan amanah dari hal yang kami pelajari.
Namun, nyatanya, saya belajar setiap harinya. My patients are my real teachers.
Saya belajar bagaimana cara mendengarkan.
Saya belajar untuk memahami.
Saya belajar untuk menyadari bahwa sekuat apapun kita, tetap Allah-lah yang Maha Berkehendak.
“Dok, saya ingin nyerinya hilang”
Pernah suatu hari kemarin, saya bertemu dengan seorang Bapak. Sakit jantung, dengan tanda kekurangan oksigen di seluruh tubuhnya. Sesaat ketika saya menemuinya, Beliau berkata, “Dok, saya ingin nyerinya hilang”.
Saya sedang meresepkan obat saat itu, hanya selang beberapa menit dari percakapan tersebut. Sambil berpikir keras, untuk menerapkan algoritma terapi yang telah saya pelajari sebelumnya.
Tetiba, satu perawat berteriak, bahwa pasien tersebut kehilangan nafasnya. Satu napas. Hilang. Satu napas. Hilang.
Saya mencoba memompa jantungnya. Ingat kalimat pertama yang Beliau ucapkan.
Tapi, sekeras apapun saya berusaha, saya tidak dapat memenuhi keinginannya.
Beliau mengajarkan saya, untuk ikhlas.
Allah Maha Berkehendak.
A Kiss.
Seorang ibu, 70 tahun, post stroke beberapa bulan lalu. Sekarang sudah dapat berjalan. Walaupun masih tercekat, sedikit.
Beliau kontrol untuk darah tinggi dan kolesterolnya.
Beliau bercerita mengenai bagaimana semangatnya dalam berobat, hingga kondisinya bisa jauh lebih baik.
Beliau mengajari saya, bagaimana menjadi pendengar yang baik.
Hingga sebelum Beliau pergi, beliau mencium saya sambil berucap terima kasih.
Antara terharu dan bahagia, padahal Beliaulah yang mengajari saya, untuk mendengarkan.
Dan ada banyak cerita lainnya, setiap harinya.
——
Mungkin betul, kami mengajar, tetapi kami-lah yang lebih banyak belajar dari Anda. Kami, pembelajar dari setiap kejadian. Kami, yang berusaha kuat walaupun kadang lelah. Kami, yang terjaga saat Anda terlelap. Kami, yang mendoakan Anda dalam diam. Kami, yang menyayangi Anda walaupun tidak pernah bersilangan nasib sebelumnya. Dari yang akan terus belajar,Dokter Anda
Tentang kamu.
“beneran ga ada?” (apa yang harus koe lakukan untuk meyakinkanmu bahwa koe betulan jombs #miris)
“kamunya aja kali” (apa salahkuuu?)
“nyari yang kayak gimana emangnya?” (hemm...perlu koe sebutin?)
“mana, kok ga dibawa” (bawa apa? Nih koe bawa tas kok, lengkap sama dompet, hape, laptop...)
------
Quarter life crisis syndrome, boleh lah ya saya menyebutnya seperti itu. Di mana kamu banyak menerima pertanyaan seputar si dia, yang entah, hilalnya juga belum terlihat.
Sedih? Miris?
Mungkin menurut sebagian iya. Tapi, seharusnya kamu bisa berbangga diri. Karena sampai saat ini, kamu masih mempertahankan prinsip kamu untuk mengisi hatimu hanya untuk-Nya (ceilah).
Kadang terbesit, enak kali ya punya pacar, ada yang merhatiin, dsb. But hey, apa kurangnya Dia sebagai Dzat yang Maha Perhatian. Dia bahkan lebih dekat dari Vena jugularis kamu (yang sering diperiksa sebagai penanda gagal jantung kanan #lupakan), Dia bahkan selalu ada di saat apapun kamu butuhkan, tanpa diminta.
Namun, namanya manusia. Pasti ada saat galaunya. Tak apa, yang penting kamu tahu bagaimana cara memenejnya. Yang penting kamu tahu bahwa kamu tak pernah sendiri. Karena Dia sangat dekat.
------
“Orang yang tepat, datang dengan cara yang tepat”.
Saya berpegang pada hal itu. Bukan mencari yang sempurna, hanya menunggu dia yang datang dengan cara yang diizinkan-Nya. Yang sama-sama terus belajar, mengejar cita tertinggi, jannah-Nya.
Kulit kering vs berminyak (all in one)
Hal yang unik dari kulit kita adalah kamu bisa aja punya wajah yang super oily, tetapi kulit di badanmu sangat kering. Sehingga, kamu punya dua masalah kulit sekaligus. Wajah yang jerawatan banget, tapi di badan ada bruntusan dan gatel (which is keratosis pilaris, cmiiw) yang terjadi akibat kulit yang kering.
Jadi jangan heran kalau nanti kamu butuh krim untuk mengurangi minyak berlebih di wajah, dan extra moisturizer untuk kulit badan kamu (sayangnya minyak di wajah ga bisa ditransfer ke badan ya 😂).
Tips untuk Wajah Kamu
Cuci muka minimal banget 3 kali sehari. Buat yang muslim, alhamdulillah kita bisa cuci muka sambil wudhu. Usahain bawa sabun muka kamu, jadi sebelum wudhu, bisa dipake dulu sabunnya. Tapi cukup tiga kali aja pake sabunnya. Kalau keseringan juga ga baik, nanti malah jadi terlalu kering.
Kalau ada jerawat yang muncul dan meradang, coba tambahin krim antibiotik. Itu bisa membantu.
Akan lebih baik lagi, kalau kamu coba konsul ke dokter (baiknya sih dokter kulit). Soalnya, perawatan jerawat ini harus disesuaikan dengan kondisi masing2 (misalnya stadium keparahan jerawatnya, dsb), yang mana harus dilihat dulu sama dokternya.
Dan…..saya juga termasuk pejuang acne. Yang kalau lupa cuci muka sekali aja, besoknya udah ada satu dua merah2 muncul di muka -,-
Tips untuk Kulit Badan Kamu
Gatal-gatal pada tubuh, tidak semuanya sama. Tidak semua gatal pada tubuh membutuhkan antiseptik (akan saya buat postingan khusus tentang gatal dan pelembab).
Untuk gatal karena kulit kering, kamu butuh sabun dengan pelembab ekstra. Ditambah dengan krim pelembab yang dioleskan setelah mandi.
Gatal pada kondisi ini disebabkan karena kulit yang terlalu kering. Jadi, harusnya bukan pakai sabun antiseptik, ya!
————-
“Maha suci Allah, yang menciptakan setiap hal dengan detail. Bahkan satu organ pun, pengaturannya berbeda2. Kita diajarkan untuk lebih peka, tidak mengeneralisir setiap keadaan, termasuk dalam memperlakukan tubuh kita”.
Cheers,
Dari saya yang masih belajar.
I'm back!
Word is lyfe. Sepertinya, saya akan mulai menulis lagi.
Lingkungan baru.
Salah seorang teman berkata bahwa hidup ini adalah sebuah siklus. Dari mengenal-dekat-berpisah. Temporer. Berulang. Dan sebanyak apapun kamu melalui siklus itu, selalu sulit untuk memulai. Selalu berat untuk masuk kembali ke dalam siklus yang baru. "Because this life is not perfect, so nothing is eternal".