Catatan Seorang Penulis Muda Berbakat
http://dlvr.it/Lsqks7
Fai_Ryy

Discoholic ๐ชฉ
DEAR READER
todays bird
Not today Justin
ojovivo

ellievsbear
Lint Roller? I Barely Know Her

โ
No title available
Xuebing Du

JVL
I'd rather be in outer space ๐ธ
No title available
YOU ARE THE REASON
One Nice Bug Per Day
art blog(derogatory)

Product Placement
we're not kids anymore.
Peter Solarz
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Belarus
seen from Uruguay
seen from Uruguay
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Germany
@mwiyono
Catatan Seorang Penulis Muda Berbakat
http://dlvr.it/Lsqks7
Pakem Penulisan Artikel Terbit di Surat Kabar
http://dlvr.it/LqSzP6
penulis lepas
berbagi informasi religi dan curahan hati
Berkarya Kemudian Menyejarah
Terkadang terlintas dalam pikiran yang bosan berputar dalam pusaran arus perjalanan hidup yang โbegini-begini sajaโ, tak ada nuansa hidup lain, selain rutinitas yang padat, bekerja, kuliah dan di akhir bulan menunggu gajian tiba. Ada hampa di dalamnya karena tak ada harapan yang lebih berarti untuk ditinggalkan dalam setiap jengkal liku kehidupan ini. Berawal dari sini, semoga ada secercah harapan baru yang layak dijadikan modal penting untuk merefleksikan kehidupan, karena hidup yang tidak direfleksikan maka tak layak untuk dihidupi.ย
Untuk menjadi hidup lebih bermakna, salah satunya adalah harus dilalui dengan melahirkan sebuah karya, dengannya alam sekitar bisa mengingat dan siap untuk diapresiasi oleh orang-orang setelah kita, karena tanpa karya apapun mustahil anak cucu mengingatnya apalagi membanggakannya. Setidaknya ada dua isi kehidupan ini, yakni membaca dan menulis, dengan membaca wawasan menjadi luas, pengetahuan makin mendalam dan sudut pandang keilmuan menjadi lebar. Karena pengetahuan pula salah satu cara untuk berekspresi dalam menjani langkah kehidupan yang kian hari kian sulit, rumit dan problema terus membumbung tinggi melangit.
Berupa karya tulis harus terus dibina dan diminati, untuk sukses dalam menelurkan karya harus mempunyai banyak data, karena menulis bukanlah semata mata menyusun kata bersayap atau merangkai kata bersajak, tapi sesungguhnya menulis adalah menyusun data yang dirajut dengan kata kata. Dengan tulisan kita akan menyejawah sepanjang aksara aksara huruf masih dipelajari penghuni jagad ini.ย
Bila harus menunggu bahwa tulisan harus paripurna tanpa cacat dan salah, maka dapat dipastikan nyaris tak ada karya yang terlahir di muka bumi ini, percaya diri dan tidak bersikap kebal kritik adalah modal utama menjadi penulis. Dengan tulisan kita dikenang, layaknya pribahasa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan jasa. Jasa pikiran yang ditorehkan melalui tinta lebih bisa dikenang, karena jelas jejak forensiknya.
Telaah Historis Terhadap โBibitโ Teroris
29/1/2016
Jelang makan siang tanggal, 14 Januari 2016 tercatatan sejarah kelam bagi Jl. MH. Thamrin, Jakarta pusat akibat ledakan bom dan baku tembak antara aparat polisi dengan kelompok tak dikenal, korbanpun tak terelakkan, suasana Ibu Kota mendadak menjadi tegang dan mencengangkan, hujatan dan tanggapan dari berbagai pihak pun muncul seiring dengan terusiknya kenyamanan ibu kota tersebut, sebagian tanggapan menduga dilakukan oleh gerakan radikalisme atas nama agama, bahkan ada yang berasumsi karena faktor politik dan ekonomi. Penulis fokus pada penelusuran asal usul dan gerakan radikalisme dan motif pendorong dibaliknya.
Asal muasal teroris berasal dari bahasa latin โterrereโ yang berarti menggetarkan atau membuat gemetar, teroris diartikan sebagai tindakan yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, untuk tujuan politik (KBBI:1995), namun rupanya tujuannya meluas ke arah agama, ekonomi dan lain sebagainya. Teror juga berarti gerakan yang menimbulkan kekacauan, ketakutan dan kematian secara acak tanpa diketahui motifnya secara jelas (Musthofa: 2002).
Perbincangan terosis pertama kali dibahas dalam sebuah konvensional European Convention on the Suppression of Terrorism (ECST) di Eropa tahun 1977, namun tindakan teror karena radikalisme atas nama ketuhanan atau agama sudah ada jauh sebelum Islam datang, seperti Raja Namrudz dan Firโun yang mengaku Tuhan kemudian menebar teror dengan membunuh semua bayi laki-laki karena takut kehilangan kekuasaan (sindrom of power), Raja Romawi menganggap pengikut Isa as sesat yang berujung pembantaian. Jadi, tidak salah bila salah satu akar historisi teror adalah tindakan radikalisme atas nama ketuhanan dan agama.
Radikalisme dari masa ke masa meluas ke seluruh penjurudunia, di masa-masa awal perkembangan Islam, sengekta politik antara Muawiyah bin Abu Sufyan dengan Ali bin Abi Thalib pada perang Siffin tahun 657 M melahirkan sekte baru dalam gerakan politik dan teologi bernama khawarij yang memaksakan faham keagamaanya secara berlebihan dan memerangi kelompok yang tidak mengikutinya, W. Montgomery Watt berpendapat, koneksi antara teologi dan filsafat memang cukup dekat, sehingga banyak aliran teologi dan filsafat dilatar belakangi pengaruh kondisi sosial-politik. (A. Choirul Rofiq: 2014).
Bahkan, kalau kita tilik lebih jauh, bibit radikalisme kita jumpai pada masa Nabi saw. Alkisah pada saat pembagian harta rampasan perang Hunain, Dzul Khuwaisyah dari suku Tamim melakukan protes dan menuduh pembagian harta rampasan tidak adil, kemudian ditanggapi oleh Nabi saw, โbila aku tidak adil, kepada siapa keadilan itu engkau perolehโ. Berlebihan dan memaksakan kehendak seperti ini merupakan salah satu ciri tinda radikal.
Di Indonesia sendiri berkali kali terjadi teror, perusakan dan peledakan bom, misalnya perusakan gereja di Temanggung, teror bom malam natal di tahun 2000, peledakan bom di Bali, Kedubes Australia, Kafe Jimbaran, JW Marriott dan Ritz Carlton, Mapolresta Cirebon dan baru baru ini di Jl. Thamrin Jakarta Pusat berupa baku tembak dengan aparat polisi. Kelompok radikalis masih eksis dan terus bergeliat melebarkan sayapnya melalui gerakan โbawah tanahโ, paling tidak ada tiga faktor utama gerakan radikalisme menjadi gerakan yang tetap โsuburโ saat ini yaitu, Sosio-Religius, sosial-politik dan psikologis.
Sosio-Religius
Penafsiran teks suci yang terlalu literalis cenderung menghasilkan tafsir yang serampangan, misalnya tafsir jihad diartikan sebagai perang suci secara fisik yang dikaitkan dengan jargon โhidup mulia atau mati dalam keadaan syahidโ. Kata jihad dengan segala bentuknya terulang di dalam Al Qur'an tak kurang dari 41 kali, hanya tiga kali yang disebutkan dengan โjihadโ, selebihnya mengandung makna kegigihan dalam pendidikan, penanaman aqidah dan lain-lain.
Arti jihad dalam idiom Bahasa Arab adalah bersungguh-sungguh, berusaha keras dan mencurahkannya untuk melakukan kebaikan. Bentangan maknanya berarti jihad tidak langsung bermakna baku hantam, bom bunuh diri atau baku tembak, tetapi menggoreskan tinta pemikiran memerangi kebodohan, bekeja keras memerangi kemiskinan juga bagian dari pengamalan ayat jihad
Al Mawdudi meluaskan arti jihad tidak saja memperluas wilayah, tetapi membangun pemerintahan yang berkeadaban adalah jihad. Bagi al-Hujwiri murid Abu Yazid al Busthomi seorang sufi terkemuka, jihad tidak selalu berperang secara fisik, tetapi juga memerangi hawa nafsu, berdasarkan hadits Nabi saw sekembali dari perabng badar, bahwa ada perang yang lebih besar lagi yakni jihad melawan hawa nafsu.
Upaya Imam Suyuthi untuk memagari lurusnya tafsir dengan mengemukakan penguasaan lima belas disiplin ilmu pengetahuan terkait dengan tafsir, seperti memahami bahasa secara mendalam seperi Nahwu, Sharaf, maโani, bayan, badiโ, sejarah turunnya ayat (asbab an-nuzul), fiqh, ushul fiqh, cara pengambilan dalil, mengetahui ayat-ayat yang ditetapkan dan dihapus (nasikh-mansukh), ditambah dengan ilmu hadits dengan segala perangkatnya dan lain-lain. Upaya ini dimaksudkan agar memperoleh pemahaman teks lebih proporsional.
Sosial - Politik
Interaksi sosial dan pergumulan pemikiran tokoh kharismatik radikalis mendorong seseorang untuk membuat komunitas baru dengan platform ide atau gagasan serta cita-cita yang baru pula, komunitas tersebut akan mengidentifikasi koloninya dan memisahkan antara โkitaโ dan โmerekaโsecara eklusif guna mengusung pemikiran tokohnya sebagai sebuah kebenaran tuggal, ada semacam anggapan โmerekaโ yang masih berada di luar dirinya adalah โmusuhโ ideologis yang harus ditaklukkan. Penafian kebenaran dari orang inilah, lambat laun melahirkan tindakan nekad dan berlebihan dalam bertindak. Apabila hal ini dikaitkan dengan agama, bukan tak mungkin menghilangkan keberagamaan yang secara subtansinya perdamaian mejadi kabur dan terkubur, Klimaksnya, pemaksaan kehendak dengan cara yang tidak agamis.
Selain faktor tokoh seperti yang telah disebutkan di atas, faktor penting lainnya adalah tersumbatnya โkranโ ekspresi diri dalam panggung politik yang mengakibatkan kekecewaan dengan dalih tidak mendapat ruang mempengaruhi kebijakan pemerintah atas gagasan yang mereka usung, diperparah dengan perasaan, bahwa agama telah diselewengkan dari kebenaran aslinya. Situasi โsakit hatiโ memunculkan primordialisme vulgar membentuk suatu identitas dan memberontak atas nama ketidak adilan (Endang Turmudi; 2005). Hal ini mengakibatkan seseorang mewujudkan gagasannya dengan paksa atas dalih dakwah dan penegakan syariah. Wal hasil dakwahnya diwarnai kesan memukul tidak merangkul, membuat orang lain antipati dan tidak simpati, tidak ramah malah bersifat marah, bukannya mengajak tetapi merusak.
Memonopoli kebenaran tunggal menjadi miliknya dan menganggap orang-orang selainya salah adalah klaim yang tidak imbang, karena tidak ada kebenaran mutlak kecuali kebenaran Tuhan itu sendiri, kebenaran yang kita yakini adalah kebenaran interpretatif, bukan kebenaran mutlak yang substantif
Faktor psikologis
Kematangan dalam berfikir seseorang menjadi tolak ukur bertindak, para pelaku teror atau bom bunuh diri melakukannya lebih bersifat motivasional ketimbang rasional, kepercayaan yang berlebih menyebabkan mereka memiliki percaya diri berlebih dalam mengambil keputusan (Dr. Indiwan Seto: 2015), keputusan melakukan teror atau bom bunuh diri sebagai aktualiasi atas kepercayaan yang diyakini sebagai perjuangan suci. Menurut pakar psikolog, bunuh diri semacam ini adalah bunuh diri tiruan atau disebut copycut suicide disebabkan depresi atau gangguan kejiwaan kronis.
Ketenaran, kejenuhan dan frustasi karena kegagalan dalam hidup juga menjadi salah satu motif tindakan nekad dengan masuk ke jajaran rekrutan pelaku bom bunuh diri, dengan harapan dikenang dan disejarahkan orang-orang setelahnya. Oleh karena itu, pendewasaan berpikir harus ditanamkan sejak kecil dibangku sekolah melalui kurikulum yang ramah dan toleran serta dijauhkan dari jangkauan faham radikalisme.
***
Bila perang fisik tidak mungkin bisa dihindari, misalanya dalam kondisi terancam atau diserang Islam membolehkan berperang (QS.2:190), perang juga harus diakhiri bila musuh sudah tidak berdaya (QS.2:193). Azyumardi menjelaskna bahwa Islam memang menganjurkan dan memberi justifikasi kepada muslim untuk berjuang, berperang (harb), menggunakan kekerasan (qital) terhadap penindas, musuh musuh Islam dan pihak luar yang menunjukkan sikap bermusuhan atau tidak mau hidup berdampingan tetapi Islam tidak membenarkan mengorbankan orang tak berdosa sebagai ongkos peperangan (Mimbar Hukum: 2011). Jadi sudah jelas, bahwa sampai saat ini rasanya susah sekali โbila keberatan dikatakan tidak mungkiโmencari dalil pembenarannya dari semua sudut pandang, dalam kasus bom dua minggu lalu diledakkan.
Menakar Kriteria Pemimpin Ideal
terbit, 19-12-2015
Pesta demokrasi pilkada yang menjadi hajatan besar bangsa ini sudah sepekan berlalu, kita patut bersyukur karena berjalan aman dan lancar, meski ada beberapa daerah yang masih berseteru, namun kiranya masih dalam batas yang wajar. Momentum ini sangat berarti sebagai langkah awal sebuah pemerintahan daerah dimulai, pilkada yang dilakukan serentak tersebut berdasarkan Undang undang No. 8 Tahun 2015 yang tentang perubahan undang undang sebelumnya, semua tentu berharap menghasilkan pemimpin yang sungguh-sungguh memperjuangkan rakyatnya, bukan kepentingan pribadi atau keluarganya.ย
Figur pemimpin menurut Plato adalah penggerak utama roda pemerintahan. Ia mengangkangi semua bentuk kebijakan dari hilir hingga hulu, dimana rmuara besarnya adalah negara. Pasca pemilukada sembari menunggu hasil rekap dan ketetapan, marilah kita pergunakan untuk mencari alat ukur kriteria pemimpin ideal di daerah masing-masing, tulisan pendek ini hendak memotret kriteria pemimpin ideal menurut pemikiran al Farabi, sang filosof paripatetik yang bertengger di papan atas dalam jajaran pemikir Islam.
Biografi al-Farabi
Al Farabi (w.950 M) yang punya nama asli Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad al-Farabi adalah filosof muslim yang namanya menggaung di seluruh dunia hingga ke daratan Eropa, ia terkenal sebagai the second master setelah Aristoteles, penguasaannya terhadap 70 bahasa mengantar dirinya sebagai pemikir yang tak lekang di makan zaman, bahkan hingga kini terus mengilhami pemikiran-pemikiran modern dalam bidang filsafat, pendidikan dan politik. Ia berhasil membuat rumusan negara ideal yang disebut sebagai Negara Utama (ahl Madinah al fadhilah) yang ia tuangkan dalam sebuah buku โara ahl madinah al fadhilah hingga saat ini masih menjadi rujukan pemikir modern.ย
Baginya negara yang baik adalah negara yang bisa berdikari mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya secara mapan di segala bidang, dari segi sandang, pangan, papan, pendidikan dan keamanan serta mampu menyelesaikan problem lainnya seperti seperti kemacetan, kebanjiran dan memajukan pendidikan yang notabene-nya menjadi basis kemajuan sebuah daerah. Mengingat tujuan bernegara tidak lain adalah untuk mencapai kebahagiaan secara bersama-sama. Untuk menciptakan kebahagiaan tersebut kehadiran pemimpin yang mumpuni sangat dibutuhkan, ia adalah penggerak utama, kurang lebih demikianlah yang digagas al Farabi dalam konsepnya yang dikenal dengan istilah Negara Utama (al-madinah al-fadhilah), dalam lingkup yang kecil adalah pemerintah daerah yang pemilihannya telah berlangsung sepekan yang lalu.ย
Pemilihan pemimpin yang dilakukan serentak seperti yang telah diundang-undangkan dan dipilih oleh semua warga yang telah memenuhi syarat atau lebih lazim disebut demokrasi, sejatinya merupakan sistem paling tepat, elegan, partisipatoris, demokratis dan akomodatif, namun bukan berarti sistem tersebut kebal kritik. Kita ambil contoh sederhana, semua warga baik kelas intelektual menengah maupun atas, baik yang paham peta politik maupun yang buta ranah politik, sama sama mempunyai hak satu suara rasanya kurang pas, dan tentu pilihan sangat dipengaruhi oleh bobot pemilihnya
Penulis lebih condong dengan prinsip al Farabi, yang merekomendasikan keputusan --termasuk memutuskan pilihan โ tidak kepada satu orang saja atau seluruh warga negara, tetapi dipilih sejumlah orang tertentu yang kapasitas pengetahuannya merepresentasika aspirasi semua rakyat. Sekali lagi, kita bisa bayangkan bagaimana seseorang yang buta peta politik dan tidak tahu menahu kecakapan kontestan, dibebani untuk menentukan seorang pemimpin yang mengurusi semua persoalan pemerintah daerah, sama halnya dengan menyerahkan urusan kepada orang yang tidak ahlinya..
Bila hal ini terus dipertahankan, maka tidak menutup kemungkinan melahirkan pemimpin yang track record buruknya jelas, minim kapasitas, jauh dari kapabilitas, hanya bermodal selebritas dan popularitas melenggang bebas ke kursi โpanasโ penguasa. Padahal, prasyarat menjadi pemimpin ideal amat berat.
Al Farabi membuat kriteria pemimpin sangat ketat dan perfeksionis, paling tidak ada dua belas kriteria pemimpin ideal yang harus dipenuhi, penulis merangkumnya menjadi toga bagian besar dari dua belas yang disyaratkan oleh Farabi dalam memahami kriteria pemimpin,
Pertama, sifat yang melekat dalam diri pemimpin antara lain, seorang pemimpin harus sehat fisik maupun mental dan sempurna, baik daya pemahamannya agar mampu berkomunikasi dengan baik terhadap semua elemen masyarakat, cerdas, dengan kecerdasan yang ia punya akan menjadikan dirinya โdeposit ideโ serta inovasi brilian, pandai berdiplomasi sehingga dalam duel syaraf tidak kalah dihadapan bangsa-bangsa lain, atau kabupaten dan wilayah penting lainnya, berpendirian kuat, berjiwa besar dan berbudi luhur, karena ia sebagai suri teladan bagi rakyatnya.
Kedua, berupa larangan larangan yang dilakukan oleh seorang pemimpin, diantaranya; tidak rakus dan menjauhi perbuatan keji, tidak mabuk mabukan dan cinta wanita, tidak memandang kekayaan sebagai kesenangan duniawi. Dengan kriteria ini pemimpin akan selamat dari caci maki publik, karena tak sedikit pemimpin yang terperangkap harta dan cinta wanita hingga mengantarkannya ke jeruji besi. Ketiga, hal hal bersifat karater pendorong, yaitu cinta keadilan, cinta pendidikan dan ikut serta mendidik, cinta kejujuran diikuti membeci kebohongan.
Dua belas kriteria yang penulis rangkum menjadi tiga kelompok besar tersebut, menjadi kriteria ideal untuk menegakkan sebuah negara utama yang bahagia dan sejahtera. Mungkin dalam pengamatan kita, pemimpin seperti kriteria di atas masih jauh sesuai harapan, namun tidak lantas pesimis apalagi patah arang untuk membangun peradaban dan kemajuan bangsa sebagai cita-cita besarnya, paling tidak ada beberapa karakter yang bisa dimanfaatkan sebagai modal pembangunan sebuah pemerintah. Sifat itulah hendaknya kita tonjolkan dan kita pinta secara arif dan bijaksa terhadap pemimpin terpilih nantinya.
Konsep kepemimpinan al Farabi banyak diilhami pemikiran Yunani terutama konsep negara ideal Plato yang membangun pemikiran Negara dengan skema tubuh manusia besar (macro anthropos), manusia besar, suatu gambaran yang mendominasi filsafat politik sepanjang zaman. Pemerintah adalah kepalanya, militer sebagai dadanya dan anggota tubuh lain adalah elemen negara penting lainnya. (M. Hatta: 2011). Bebeda dengan al Farabi yang membuat analogi sebuah pemerintahan bagaikan tubuh, penggerak utamanya adalah hati (qalb), Hati yang dimaksudkan oleh al Farabi tidak lain adalah pemimpin, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah elemen masyarakat sebagai pembantu mewujudkan ide-ide nya.
Memang tak mudah untuk mencari pemimpin yang demikian ketak, tetapi bukan berarti tidak ada, bila kita tilik lebih dalam maka banyak masyarakat yang punya kapasitas namun tak mempunyai panggung yang memadai menjadikan sosok ideal menjadi tenggelam. Untuk memunculkannya kembali adalah tanggung jawab bersama bukan perseorangan atau sekedar lipservice iklan belaka. Sebagai penantian hasil resmi instantsi yang berewenanag, tentunya kita tidak berhenti berharap kepada pilkada yang sudah dilakukan itu mampu menelurkan pemimpin berkualitas yang jujur dan berkeadilan, pengetahuan luas, akal yang jernih dan mempunyai kemampuan daya pikir yang kuat. Sebagaimana kriteria pemimpin ideal menurut al Farabi yang telah dipaparkan di atas.*)
Selektif Memilah dan Memilih Guru
Penyematan klausul baik-buruk seseorang biasanya dikaitkan dengan lembaga pendidikan formal maupun tidak formal tidaklah terlalu salah, karena lembaga pendidikan di masjid, surau, mushollah, sekolah atau kampus difungsikan untuk perbaikan (lil ishlah). Di sana peserta didik diasah dan diasuh seorang guru yang didedikasikan untuk mengukir melakukan perbaikan karakter. Sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan untuk memilah dan memilih guru, baik untuk diri sendiri maupun orang terdekat kita. Kiranya sangat penting melakukan seleksi sebelum terlanjur memuji, karena guru amat penting eksistensinya dalam kehidupan ini, tidak sekedar mengajar tetapi juga mendidik. Perbedaan pengajaran dan pendidikan kiranya sudah tidak diperdebatkan lagi, bahwa keduanya sangat berbeda, mendidik lebih pada membentuk karakter, sedang mengajar titik tekannya pada transformasi pengetahuan.
Mula-mula seorang guru haruslah baik karakternya, Ibn Athoillah as-Sakandari membuat analogi guru bagaikan dokter (al mursyiid ka at-thabib) ia memahami tindakan yang harus dilakukan untuk mengobati โpenyakitโ muridnya, sedangkan murid bagaikan mayit (al muriid ka al-mayyit) yang taat bukan karena keterpaksaan tetapi sebuah kebutuhan. Boleh jadi salah diagnosa berimplikasi salah resep dan obatnya, seorang guru yang tak pandai memahami latar belakang kekurangan muridnya, boleh jadi nasehatnya tidak mengobati justru menyakiti.
Guru sejati adalah ia yang menjadi teladan bagi peserta didiknya, meminjam unen-unen jawa guru itu digugu yo ditiru (di dengar dan diteladani) ia menjadi penuntun sekaligus temannya laksana Rasul dan Sahabatnya, layaknya Plato mengidolakan Socrates, hingga karya-karyanya diwarnai karakter Socrates, karena itu guru tidak hanya sekedar menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melainkan juga punya visi dan misi memberi teladan dan membangun karakter peserta didiknya. Dalam hal ini, KH. Dewantoro mengatakan sebuah falsafah jawa โing ngarso sang tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayaniโ, pendek kata, ketiak di depan menjadi teladan ketika di belakang suply semangat, sejalan dengan al Qurโan: โLaqad kana fi rasulillahi uswatun hasanahโ, artinya: โsesungguhnya di dalam diri Rasul adalah teladan yang baikโ.
Titel uswah kenabian dalam al Quran hanya diberikan kepada dua nabi, yakni Ibrahim as (Qs. Al-Mumtahanah:4) dan kepada Rasul saw (Qs. Al-Ahzab:21), keduanya layak diteladani sejak kecil. keduanya juga terabadikan dalam bacaan shalawat dalam tasyahud akhir setiap sholat, atau lebih dikenal shalawat ibrahimiy. KH. Asrori al-Ishaqiy dalam sebuah majlisnya menjelaskan bahwa seseorang belajar kepada guru bukan semata-mata mencari kepintaran melainkan inign mengikuti tindak lampahnya. Karenanya tak banyak yang bisa diharapkan seorang guru yang memiliki karakter buruk.
Karakter buruk yang melekat terkadang tidak disadari, justru menjadikan personal guru sebagai sosok yangmemuakkan, ucapannya memerahkan telinga, ia berkata namun dalam hati peserta didiknya dari A-Z ditolak mentah mentah, tak pernah menilai dari sisi usaha yang ia dambakan hanya hasil semata, lebih parah lagi semua kata-katanya diilhami semata mata ingin menyindir sana sini tak jelas arah bicaranya, ngelantur bak kesurupan atau seperti orang mabuk makan kecubung. Ke-gemas-an melihat ulah yang demikian mugkin kadang membangkit diri untuk melayangkan PALU.
Tak jarang pula guru yang berkarater buruk, punya sifat pilih kasih, sering membanggakan diri dibumbui dengan sifat sombong dan meremehkan peserta didiknya. Memberi nasehat tak lain hanya sebatas melampiaskan dendam kesumat yang tak terbalaskan, menelanjangi kekurangan muridnya di hadapan publik pelajar lain supaya ditertawakan dan direndahkan, ia merasa bahwa kata-katanya menyentuh hati padahal hanya mengundang gelak tawa bagai komedian tak beriklan. Terlebih lagi yangmenggelikan hati adalah merasa dirinya dibutuhkan kehadirannya, padahal tanpa disadari ulahnya banyak menyisakan luka, nasehatnya memerahkan telinga, kelincahan olah katanya bak orator yang tak kebagian panggung. Guru yang demikian, jelas dia sedang kalap dan lupa bahwa antara yang diajari dan yang mengajari keduanya harus berttanggung jawab di hadapan Allah yang maha Adil.
Amat tersiksa menjadi guru yang tak diminati apalagi dibenci karena karakter buruk yang melekat dalam dirinya, karakter buruk yang menumpuk dan mengkristal ini akan mengantarkan dirinya menuju diskualifikasi sosial dari ranah pendidikan, ia tidak lulus menjadi penuntun apalagi teladan. Karakter bagi setiap orang bagaikan kompas, dengannya seseorang menjadi tahu peta yang harus diperbuat, termasuk guru harus punya kepekaan nurani, dalam agama yahudi merujuk pada Petrus: 3:16 yang menyatakan โpertahankanlah hati nurani yang baikโ. Hati nurani bagaikan kompas dalam hidup ini
Pelaut mampu mengarungi samudra luas, petualang mampu melintasi padang belantara tak berpenghuni, sang pilot menerbangkan pesawatnya di atas lapisan-lapisan awan di angkasa, mereka akan mengalami kesulitan yang sama seandainya tidak memiliki kompas. Demikianlah pentingnya hati nurani termasuk sebagai guru. Dalam agama Yahudi, nurani adalah sebuah pemberian berharga dari Yehuwa untuk kita (Yakobus 1:17). Tanpa hati nurani, kita akan benar-benar kehilangan arah.
Terlepas apapun agamanya yang pasti sifat โbijaksanaโ seorang pendidik sangat diperlukan, disitulah kita butuh selektif memilah dan memilih guru yang berkarakter, sebelum menyoal pendidikan berkarakter. Pendidikan karakter seperti yang digaungkan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh tentu bukan sebatas pengetahuan rasio saja, tetapi justru pendidikan yang berbasis pada hati nurani. Yang disentuh bukan hanya kepekaan rasionya melainkan kepekaan hatinya. Maka mendidiknya juga dengan hati dan bukan hanya dengan rasio semata. Makanya memilihkan guru memahami filosofi mendidik, yang berbasis pengasahan kepekaan hati nurani, menjadi sebuah kemestian yang tak terbantahkan. Guru dalam makna yang luas adalah termasuk dosen. Apapun gelarnya yang disandangnya.
Menghibahkan Serpihan Waktu
Semua makhluk mafhum bahwa hidup adalah sebuah perjuangan, karena manusia terlahir juga diperjuangkan oleh ibu kandungnya, bayi dan menginjak remaja pun diperjuangkan oleh orang tua yang kasihnya tak pakai perhitungan. Semenjak dewasa di saat usia keduanya kian renta, setiap insan diperintah untuk berjuang, detik demi detik langkahnya terilhami oleh perjuangan. Hingga akhirnya kondisi memaksa untuk membagai waktu untuk diri, keluarga dan buku.
Keluarga adalah segalanya, terlebih lagi keluarga sakinah. Bukan saja dambaan manusia hatta hewan sekalipun memimpikannya. Memantaskan diri menjadi status anggota dan pimpinan dalam keluarga menjadi sebuah keniscayaan, tak boleh dibelah sekulit aripun oleh kesibukan. Pengertian ditunjang kepedualian anak dan isteri serta teman-teman kuliahku bak bahan bakar yang sengaja dituang untuk membakar dan menyalakan semangatku yang sudah nyaris padam ditelan usia.
Perjuangan hidup tak cukup hanya berkeluarga, tetapi keilmuan dan amal harus juga menjadi prioritas, denganya menjadi mulya walau hidup sebatangkara, dengannya menjadi berharga walau hidup tak mewah. Dari situlah kebangkitan mengokohkan keilmuan dan beramal ikut serta dipertaruhkan dalam setiap inchi kehidupan.
Namun kadang terfikir, seandainya sehari semalam tidak 24 jam mungkin masih mudah membagi waktu bersama keluarga, tetapi apa daya manusia lemah, ia takluk terhadap perputaran masa yang terus memaksa, dalam keterpaksaan waktu ku harus menghibahkan serpihan waktu untuk mereka โterutama anak dan isteri tercintaโyang telah mengukir banyak jasa dan mewarnai langkah kaki ini.
Akhirnya, hanya doโa kupanjatkan semoga siap, kuat dan tetap semangat menghadapi semua kesibukan yang sudah kadung digariskan. Kepada kata โpantang menyerahโ semua landscape tekad dalam hati ini kuserahkan.
Puasa dan Terapi Korupsi
terbit, 1 Juli 2015
Siapa yang tidak kenal korupsi?, namanya terdengar sangar, menakutkan bak hantu di siang bolong, terkadang โkorupsiโ seperti sosok siluman, ada tindakannya namun tidak tertangkap pelakunya. Problem penanganan korupsi tidak hanya menjadi agenda utama bangsa Indonesia, tetapi menjadi agenda prioritas juga bagi negara-negara maju di dunia seperi Singapura, Jepang, China dan lain sebagainya.
Terhadap korupsi, dilakukan penangkapan koruptor sebagai wujud penegakan hukum rupanya tidak cukup, harus dilakukan pula tindakan pencegahan. Model pencegahannyapun beragam. Namun belum menuai hasil yang signifikan dalam menekan angka korupsi, terbukti Indonesia pada tahun 2014 masih bertengger di peringkat 114 dari 175 negara terperiksa berdasarkan Transparency International yang merilis Corruption Perseptions Index (CPI) Desember lalu di Berlin, Jerman.
Entah sudah berapa milyar modal yang dikeluarkan untuk menekan angka kebocoran uang negara, dari sosialisasi, seminar, penyebaran meme anti korupsi, buku dan segala upaya yang serupa. Meski demikian faktanya, upaya pemerintah dalam tindak pencegahan korupsi dan penegakan hukum harus diapresiasi secara obyektif.
Mungkin Puasa adalah salah satu terapi jitu mengikis oknum yang bermental korup, karena dalam jiwa orang orang yang berpuasa (shaim), merasakan adanya kemaha-hadiran tuhan dalam setiap langkah dan kerja seseorang. Dengan merasakan kehadiran tuhan secara terus menerus di dalam hati sepanjang hari diharapkan menjadi obat penawar dari mental koruptor menjadi mental bertaqwa yang salah satu cirinya adalah bersifat jujur, jujur dalam segala pekerjaan dan kebijakannya.
Menurut penulis, terjadinya tindak korupsi tidak semata mata karena faktor mental, tetapi bisa jadi karena lemahnya pengawasan, di sini puasa โberbicaraโ bahwa puasa adalah pengawasan. Pengawasan yang tak bersekat oleh ruang, karena kehadiran tuhan selalu dirasakan di dalam hatinya. Bila sepakat dengan prinsip itu, maka bukan tidak mungkin, puasa menjadi formula baru mencegah tindak korupsi yang โkelihatannyaโ terus menggurita ke semua lini dan profesi.
Pribadi shaim sejati tidak akan fasiq, karena berpuasa di atas perbuatan fasiq tidak berpahala. Banyak orang berpuasa tetapi puasanya tidak bernilai pahala hanya mendapat lapar dan dahaga saja, kira kira seperti itulah bunyi ringkasnya salah satu hadits Nabi Muhammad saw tentang puasa. Puasa yang tidak merasakan kehadiran Tuhan sepanjang harinya, patut dipertanyakan kekhusyuโannya..
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi ummat Islam....
Mubadzir Dibalik Bukber
Terbit, 3 Juli 2015
Bagi orang berpuasa, melaksanakan berbuka puasa hukumnya wajib dan sangat dianjurkan segera berbuka saat bedug maghrib tiba. Kebersamaan waktu berbuka dimanfaatkan oleh berbagai instansi, organisasi atau kelompok masyarakat melakukan buka puasa bersama (bukber).
Rasa bahagia, suka cita dan berseri-seri nampak di wajah-wajah mereka, seolah membawa pesan bahwa bukber bagaikan lebaran kecil yang demokratis tak membedakan apapun profesi dan jabatan mereka, sebuah kebersamaan yang sangat indah, biasanya rangkaian acaranya diawali dengan ceramah agama, doa, shilaturrahiim dan acara religi lainnya. Diantara mereka berbagi menu buka puasa yang merupakan anjuran agama juga, sebagaimana sabda Nabi saw. โBarangsiapa memberikan hidangan berbuka puasa bagi yang berpuasa, maka baginya seperti pahala yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang berpuasaโ (HR. Tirmidzi)ย
Dengan acara buka puasa bersama ada banyak kebaikan melimpah disana, tetapi bukan berarti terlepas dari kebiasaan buruk, yang melekat keburukan yang melekat dalam acara buaka puasa bersama adalah, menu makanan yang berlebihan (israf) dan tak jarang kita temui ada menu makanan terbuang begitu saja (mubadzir). Padahal sebuah larangan dalam agama buka puasa dengan makan berlebihan, makan berlebihan berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh dan melumpuhkan spirit puasa, yang salah satu tujuannya adalah melemahkan hawa nafsu, termasuk nafsu rakus terhadap makanan.
Dalam teks keagamaan (nushus syarโiyyah) ajaran berbuka tidak berlebihan kehilangan gaungnya, terlebih lagi bila instansi profit yang bonafit sebagai founding father penyelenggara, aneka ragam menu spesial dipersiapkan untuk memuaskan tamu undangan, rasa empati terhadap penderitaan saudara kita yang lemah saat berpuasa di siang harinya pudar seiring dengan ragam santapan yang berlebihan. Tuntunan agama melarang makan berlebihan (QS al-Aโraf : 31).
ย Imam Ghazali dalam Minhajul Abidin memberikan perhatian besar terhadap persoalan makan, menurutnya ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam makan, pertama, menjauhi makanan subhat dan haram, baik secara eksistensi makanan itu sendiri maupun dari cara meraihnya. kedua, menjauhi makan berlebihan, lebih jauh Imam Ghazali mengingatkan dampak makan berlebihan akan menimbulkan penyakit yang merugikan badan, sedangkan secara spiritual akan mengurangi manisnya beribadah.ย
Berlebihan dalam berbuka puasa indikator kegagalan memaknai hakikat puasa yang sebenarnya, tak heran bila berkali kali melewati ritual puasa tapi tak kunjung memetik hasil gemilang sesuai yang diharapkan. Dalm hal ini, wawasan puasa harus terus didengungkan demi tercapainya perubahan dalam jiwa secara total, perubahan perkatan, sensitifitas sosialnya dan perubahan mental lainnya.
Puasa bukanlah tujuan akhir, tapi sarana melatih diri dengan cara melakukan lompatan dari kelas hewani menuju alam kelas malaikat yang tidak butuh makan dan minum, diharapkan dari puasa menghasilkan perubahan jiwa yang menakjubkan, pengendalian diri yang kokoh dan orientatif, kesederhanaan yang maksimal, sebagai bekal mengarungi hidup sebelas bulan yang akan datang. Namun bila fenomena buka puasa yang dilakukan selepas puasa seharaian saja tidak mampu berlaku sederhana, rasanya mustahil bisa hidup sederhana sebelas bulan yang akan datang?.ย
Sekali lagi, perlu digaris bawahi dengan tebal, bahwa berpuasa adalah sarana (washilah) melatih diri bukan sebuah puncak tujuan (ghoyah). Tujaun utama berpuasa adalah menciptakan insan bertaqwa sebagaimana yang termaktub dalam QS. al-Baqarah:183, yang salah satu cirinya adalah tidak berlebihan dan tidak tabdzir
Puasa adalah imsak, menahan makan dan minum sudah dikenal dalam dunia medis sebagai obat jitu istirahat pencernaan dan memberikan jedah waktu leluasa untuk membakar kotoran sisa makanan akibat ragam makanan yang disantapnya, karena itu puasa sudah menjadi salah satu obat jitu menyembuhkan segala penyakit.ย
Alex Sufrin, seorang ilmuwan Rusia, dalam bukunya menuliskan, โPenyembuhan dengan cara berpuasa mempunyai manfaat yang khas untuk penyakit amnesia, diabetes, mata, lemah pernafasan, penyakit jamur yang kronis, luka dalam dan luar, TBC, hydropsy, rematik, kulit yang terkelupas, penyakit kulit, ginjal, liver, dan penyakit-penyakit lainnya. Tetapi, penyembuhan dengan cara berpuasa ini tidak hanya bermanfaat untuk penyakit-penyakit yang tertera di atas, bahkan penyakit-penyakit yang berhubungan langsung dengan jasmani manusia yang bercampur dengan sel-sel badan, seperti kanker, shiphlish, TBC, serta tipes pun bisa disembuhkan dengan melakukan puasaโ (lih, Nashir M Syirazi, 2013)
Dengan puasa pula ada banyak pembaruan sistem syaraf dalam tubuh bila puasa dilakukan itu sesuai petunjuk agama, sebaliknya keluar dari koridor petunjuk agama, bukan tidak mungkin hasilnya justru malah sebaliknya, puasa sebagai beban extra berlebih kepada pencernaan di malam hari, setelah diistirahatkan di siang hari.
Kendati puasa sudah berlangsung separuh lebih, namun tidak ada kata terlambat untuk merubah peta tujuan berpuasa di hari hari yang masih sisa, bila tidak ingin puasa kita kehilangan sisi vitalitasnya.
Kurban Berwujud Manusia Gaya Baru
Terbit, 17 September 2015
Idul Adha menjadi momentum religius bagi umat muslim setiap tahunnya, mereka yang secara finansial, sehat dan aman dalam perjalanan, diwajibkan menunaikan ibadah haji ke tanah suci sekali seumur hidupnya. Proses keberangkatan saudara-saudara kita sudah berlangsung sebulan yang lalu, menurut situs terpercaya, tahun ini lebih dari 155 ribu jamaah haji Indonesia diberangkatkan ke tanah suci Mekah untuk memenuhi panggilan suci sebagai tamu Allah (dhuyufur-rahman). Kita semua tentu berharap sekembalinya mereka ke tanah air membawa dampak perubahan sosial yang positif, budaya dan etika keberagamaan yang luhur. Momentum puncak yang ditunggu ialah hari dimana semua jamaah haji di dunia berkumpul di padang Arafah tanggal 9 Dzulhijjah menurut perhitungan bulan Qamariyah.
Bagi ummat muslim yang berdomisili di negerinya masing masing, sangat dianjurkan merayakan momentum Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban berupa binatang ternak, domba, sapi atau sejenisnya, yang dilaksanakan selepas sholat Idul Adha sampai tiga hari setelahnya (ayyamut-tasyriq), sebagai simbol rasa syukur atas karunia kenikmatan yang telah diterima dari rabb-nya. Sungguh menjadi hari yang sakral bagi orang orang yang mampu menemukan hikmah ajaran kurban.ย
Ibadah Qurban laksana napaktilas laku lampah Nabi Ibrahim as yang ketika itu diperintah menyembelih putera kesayangan yaitu Nabi Ismail as, kala itu Ismail maih bocah sedang lucu-lucunya. Demi kepatuhannya kepada Allah apapun harus rela dipertaruhkan meskipun seorang putra dari darah dagingnya sendiri. Sebuah totalias kepatuhan yang harus diteladani, anak yang dicintai setelah sekian lama dinanti harus diikhlaskan atas permintaan Sang Penciptaย
Singkat cerita, tugas mulia itu dilakukan dengan patuh, sabar dan ikhlas. Sepontan ketika pisau diiriskan ke urat nadi Ismail, Allah telah mengantinya dengan domba dari surga. Kisah ini direkam apik dalam QS. 37: 100-105. Rupanya, Perintah kurban sudah ada jauh sebelum Nabi Ibrahim ada, yakni ketika Habil dan Qabil putera Nabi Adam as diperintah melaksanakan kurban. Lalu pelajaran apa yang dapat dipetik dari kisah monumental dan fenomenal tersebut?.
Pertama, dari sudut akar historisnya, merujuk pada pelaksanaan kurban sejak Nabi Adam, kurban adalah bentuk ibadah yang sama tuanya sejak manusia ini ada, ibadah kurban sama sekali bukan hal baru, ountentisitas historinya jelas dan terdokumentasikan dalam refrensi primer yang tak pantas untuk diragukan, karenanya tak butuh perdebatan epistemologis berkepanjangan. Yang harus tetap digali dan disesuaikan dengan kondisi kekinian.
Kedua, dengan digantikannya Ismail dengan domba surga, seolah memberi jawaban tuntas sekaligs meluruskan kekeliruan pemikiran kurban berupa manusia yang kerap terjadi pada masa itu. Sebut saja di Mesir dikenal tradisi mengurbankan gadis tercantik untuk dewi sungai Nil, di Kanaan Iraq bayi-bayi dipersembahkan untuk dewa Baโal. Di Meksiko suku Aztec mengorbankan jantung manusia untuk dewa Matahari. Di Eropa utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami skandinavia mengorbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada dewa perang โOdinโ. (Tafsir al-Misbah: Vol.12 ) Kehadiran Nabi Ibrahim yang diperkirakan hidup pada ke-18 sebelum masehi menjadi jawaban atas penolakan kurban berwujud manusia.
Ketiga, Tuhan sedemikian kasihnya terhadap manusia, sehingga kurban dalam bentuk mansuia tidaklah diperkenankan, manusia hidup tidak untuk dikurbankan tetapi untuk dimuliakan, karena manusia diciptakan untuk mengabdi dan melestarikan isi bumi.
Darah dan daging yang teralir pada saat penyembelihan kurban bukan untuk Allah Yang Maha Suci (QS. 22:37), karena Dia tidak butuh darah segar, wanita cantik, bayi mungil atau jantung manusia. Justru Dia-lah sang pemberi nikmat, melalui media kurban hendak mengingatkan kepada hambanya yang bertaqwa akan pentingnya hidup berbagi kepada sesama dan menebar kasih sayang dengan pembuktian bukan sekedar manisnya slogan.
Dalam kehidupan sehari-hari yang katanya modern ini, pelajaran hakikat kurban sering terlupakan, faktanya praktek dan penjelmaan wujud korban berupa manusia kerap kali masih berjatuhan, tentu dengan praktek yang berbeda dan lebih sistematis, tidak langsung mengiriskan pisau di urat leher atau mencekiknya, tetapi melalui mekanisme tertentu yang dapat menindas orang lain. Toh, seandainya ada tindakan pembunuhan sadisme secara fisik tentu terbilang sangat langka.
Bentuk kurban berwujud manusia saat ini, berubah wujud menjelma menjadi kekerasan non-fisik dengan kemasan yang lebih elegan, sebut saja salah satunya adalah tindakan korupsi, sepak terjang koruptor menelan uang negara jutaan bahkan milyaran rupiah adalah bentuk kurban berwujud manusia, bagaimana tidak, uang negara yang seharusnya terdistribusikan untuk kepentingan kesejahteraan umum raib dikantong koruptor, dalam kasus ini sudah berapa jumlah anggota keluarga yang โdibunuhโ kesejahteraan. Contoh lain yang setara dengan kurban berwujud manusia adalah pertentangan dua kubu politisi yang saling berseberangan, biasanya saling piting, saling banting dengan berbagai cara hingga tak segan-segan menghancurkan reputasi rival politiknya.
Pendek kata, pola seperti apapun yang korbannya dalam wujud manusia baik secara langsung maupun tidak langsung harus lenyap dari bumi persada ini, seiring dengan penghayatan yang mendalam terhadap momentum hari raya kurban karena manusia terlalu mahal untuk dikorbankan untuk tujuan apapu, terlebih lagi untuk tujuan duniawi yang tidak luhur misalnya jabatan, bisnis, atau sekedar pencitraan belaka.
Selain itu, peristiwa kurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim mengajak kepada kita untuk patuh kepada Allah secara totalitas, secara all out mengorbankan semua yang kita punya bila tuhan sang pemberi telah memintanya, apalagi hanya sekedar hewan sesembelihan. Bila dibandingkan dengan dengan pengorbanan Nabi Ibrahim atas putera belahan jiwanya, hal itu tak seberapa.
Melalui kurban yang pro-sosial itu, rasa kasih sayang kita kepada sesama sedang ditagih secara konkret, dimana keuntungannya tidak hanya kepada penerima tetapi berpengaruh positif terhadap kejiwaan si pemberi (Mark Devis: 2004). Karenanya harus dikembangkan disuarakan dengan lantang dimanapun kita berada.
Teologi Kekeringan
terbit, Kamis. 8 Oktober 2015ย
Kemarau tahun ini terbilang cukup panjang, beberapa isyaratnya sudah terbaca sejak Bulan Mei ditandai dengan surutnya curah hujan, hawa sejuk mulai menghilang, perlahan-lahan curah hujan melamban dan terhenti total sejak empat bulan belakangan ini, tak pelak lagi, dampaknya terlihat nyata seperti rerumputan menguning, tanah merekah, pohon tak lagi rindang dan sumur-sumur warga secara massal mengering. Fakta ini seolah-olah membenarkan celoteh orang-orang yang berseloroh โdi musim hujan kebanjiran, di musim kemarau kekeringanโ
Sudah menjadi maklum, salah satu penyebabnya adalah letak geografis Indonesia berada di perlintasan garis katulistiwa yang dilalui iklim tropis dan membuka peluang anomali El-Nino Southern Oscillation (ENSO). Terlepas dari setting geografis yang memang sudah terberikan dari Sang Maha Pencipta, manusia sebagai mandataris tuhan di bumi (khalifatullah fil-ardh) dituntut kreatif dan inovatif menjaga kelestarian bumi dengan melakukan langkah antisipatif menghadapi pergantian musim kemarau diikuti cuaca ekstrim berdampak kekeringan.
Tulisan ini hendak menyoroti kekeringan dari aspek teologis, penulis menyadari sepenuhnya bahwa istilah โteologi kekeringanโ terdengar asing di ruang dengar kita. Perlu diketahui bahwa teologi yang dimaksud di situ adalah, sebuah pendekatan epistemologis untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar, apakah kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia setiap musim kemarau datang itu, takdir atau sunnatullah?
Makna takdir itu sendiri adalah ketetapan Tuhan untuk ciptaannya sejak zaman azali, semuanya tertulis rapi dan tersimpan aman dalam genggamannya. Yang pasti, harus kita yakini bahwa alam semseta ini didesain bergerak dan teratur melayani manusia. Masing-masing ciptaannya berjalan harmonis, tidak tumpang tindih, antara matahari dan rembulan, bumi dan planet lainnya, termasuk desain kemampun daya serap bumi terhadap air hujan dari langit, keseluruhannya terukur dan berkesusuaian. Pergeseran dari hujan kebanjiran dan kemarau kekeringan tentu bukan kesalahan alam, karena alam sebelumnya berjalan sesuai dengan rule yang harmonis.
Dengan demikian kekeringan yang melanda penduduk bumi, bukanlah sebuah takdir yang hana bisa ditangisi atau disesali, melainkan sunnatullah yang tak mungkin berubah bila prilaku sosial yang menjadi penyebab utamanya tidak diubah. Karena sunnatullah berjalan secara pasti dan konsisten (baca, QS. 35:43). Penyebab kemarau dan kekeringan selain faktor geografis, di dalamnya ada andil prilaku sosial masyarakat yang masih saja tidak sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Paling tidak, ada tiga prilaku yang mendorong terjadinya kekeringan; pertama, penggundulan hutan yang membabi buta kemudian tidak diikuti gerakan reboisasi yang menyeluruh, sehingga hutan menjadi gundul, menyebabkan banjir dan kekeringan, penyebab banjirnya karena air tidak terikat oleh akar dan daun daunan, juga menyebabkan kekeringan, karena air cepat meresap dan menguap
Kedua tata kota yang buruk, tata kota yang buruk ikut andil dalam mencipta kekeringan, tata kota tidak semata mata memperhatikan estetika tata letak dan bentuk bangunan, tetapi juga harus memperhatikan etika dalam memperlakukan alam, seperti taman-taman kota, saluran air, resapan dan perbaikan sanitasi. Bila hal ini tidak diperhatikan, maka air di musim penghujan terbuang sia-sia. Dengan menciptakan resapan yang baik, maka debit air hujan akan menjadi tabungan tersendiri di dalam alam untuk diunduh melalui sumber air sumur pada saat langit sundah tidak mengirimkan air hujannya.
Pemangku kebijakan dalam hal ini berperan penting dalam memberikan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB), karena merekalah yang menggawangi kebijakan desainnya, diharapkan memperhatikan dan memperhitungkan secara matang serta persyaratan yang ketat terhadap pentingnya resapan air bagikelangsungan hidup dimuka bumi ini, mengingat air merupakan kebutuhan hidup yang paling vital.
Ketiga, penggunaan air yang berlebihan tanpa memperhitungkan daya tampung sumber air secara makro, menurut sumber terpercaya, persediaan air di Pulau Jawa pada tahun 2007 hanya 30 miliar kubik. Sementara kebutuhan air di Pulau Jawa mencapai 62 miliar kubik, statistik angka menunjukkan defisit 32 milyar kubik, sejak puluhan tahun lalu.
Ketiga hal tersebut, bukanlah faktor given yang tidak bisa diubah, melainkan sangat memungkinkan untuk membuat formula mengatasi kekeringan yang ada, bila hal ini diakitkan secara teologis maka pisau analisa yang dipakai adalah sunnatullah atau bisa orang menyebutnya dengan hukum alam (natural law) walaupan bila didaki penjelasannya akan berbeda sari segi epitemologisnya. Meskipun tidak signifikan dalam konteks membincang kekeringan.
Menurut beberapa pakar, sebut saja misalnya Baqir Shadr, mendefinisikan sunnatullah sebagai hukum-hukum Allah yang berlaku untuk seluruh jagad raya, bersifat pasti dan tidak berubah. Definisi ini mempunyai makna bahwa alam yang harmonis ini akan terus langgeng bila penghuninya mampu melestarikan dan menjaga keseimbangannya, sebaliknya bila penghuninya abai maka akan terjadi ketimpananga dan kekacauan, seperti banjir, kebakaran dan termasuk kekeringan.
Secara teologis kekeringan yang terjadi saat ini disebabkan daya tampung serapan air hujan yang kurang maksimal sehingga debit air dalam perut bumi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makhluk tuhan di atasnya. Sehingga kondisi alam berubah, seharusnya alam sebagai โpelayanโ manusia, justru berbalik menjadi โlawanโ bagi manusia itu sendiri. Bila hal ini dibiarkan bukan tidak mungkin akan terus terjadi kekeringan setiap musim kemarau.
Serapan air buatan harus dilakukan sebagai upaya utnuk melestarikan alam yang sudah by design mampu menampung air dan memberikannya kepada manusia melalui sumber air sumur yang dibuat oleh manusia pada saat air tersebut dibutuhkan.
Dampak kekeringan tidak berpengaruh pada kebutuhan keseharian seperti mandi, cuci dan kakus semata, tetapi dampak lainnya sangat besar pula pada produktivitas buah-buahan, sayur mayur, kesehatan lingkungan yang cenderung panas dan membawa banyak penyakit, apalagi bila kaitannya dengan pertanian dan perkebunan. Keseimbangan hidrologis dan agronomis adalah dua hal penting yang harus dijaga keseimbangannya secara berkesinambungan hingga penghuni terakhir alam ini.
Membuat waduk dan mengamankan aliran sungai dari hulu hingga hilir
Bila demikian adanya, maka kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan ini bukanlah bagian dari takdir melainkan semata mata manusia sebagai khalifah yang semesetinya memakmurkan bumi abai dengan keadaannya sendiri
Paradigma kekeringan diyakini sebagai sebuah takdir harus diubah menjadi paradigma sunnatullah, dalam arti bisa diatasi dengan cara merubah pola pikir seseorang berprilaku yang pro alam, agar terjadi hubungana antara manusia dengan alam secara harmonis
Muhasabah
Hari menjelang malam saatnya ber-muhasabah, mengintrospeksi diri atas segala sesuatu yang telah dikerjakan selama sehari penuh, lebih banyak mana antara kebaikan dan keburukannya, bila banyak kebaikannya maka ucapkan hamdalah tetapi bila aktifitas hari ini banyak didominasi keburukan, maka berlindunglah dan mohon ampunlah kepada-Nya. Itulah prilaku orang orang yang pandai dalam beramal, sebagaimana HR. Imam Turmudzi
"Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Turmudzi)
Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung secara detail walaupun tidak harus ditulis satu persatu, menit per-menit atau jam per-jam tetapi dapat dilakukan dengan cara merenung sesaat, untuk mengetahui betapa banyak ibadah sunnat yang terlewatkan. Ibadah yang seharusnya dilakukan tetapi ditinggalkan, misalnya setiap denyut nadi seharusnya untuk dzikir tetapi terlewatkan begitu saja, setiap tarikan dan hembusan nafas seharusnya disertai dengan ibadah tetapi banyak pula hembusan yang terbuang dengan sia-sia belaka. Dengan perenungan mendalam disertai dengan kesadaran penghambaan kepada Allah maka kita akan disadarkan bahwa kehidupan ini yang dijalani detik per detik ini sangat berati untuk masa depan yang lebih kekal yakni mempersiapkan diri untuk kematian.
Kematian akan meutuskan segalanya, meutuskan amal perbuatan, kasih sayang serta kenikmatan dunia. Setelah kematian semua menjadi nyata, yang baik akan berbalas baik dan yang buruk berbalas keburukan in ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asaโtum falaha. Kematian adalah pintu gerbang menuju kehidupan yang benar benar hakiki, ia abadi dan semua menjadi transparan tidak ada yang bisa ditutup tutupi. Nah, Muhasabah menjadi media mengumpulkan modal dan persiapan sebelum manusia diadili sejak di pintu kematian.
Muhasabah membuka ruang mata bathin selebar lebarnya untuk mengetahui aib diri dan pengakuan sesadar-sadarnya akan kondisi diri secara personal, setelah mengetahuinya kemudian termotivasi memperbaikinya hingga menjadi sebuah gerakan spiritual menuju titik kesempurnaan tertinggi dengan berbagai upaya maksimal sesuai dengan kemampuannya bukan semaunya.
Muhasabah juga dapat dijadikan sebagai pengendalian diri dan mewaspadai keinginan nafsu yang cenderung menjerumuskan, banyaknya keinginan yang tumbuh dalam diri harus selalu dipilah-pilah untuk dibedakan antara keinginan baik dan keinginan buruk, kemudian di pilih yang terbaik oleh akal sehat untuk dikerjakan. Dalam muahasabah akal mempunyai peran penting, karena akal diharapkan menjadi penerang hati, akal menjadi imamnya sedang hati sebagai makmumnya. Memang sulit terbantahkan bahwa secara ilmiah penelitian menyebutkan 70 persen tindakan manusia dipengaruhi oleh hatinya, 30 persen dipengaruhi oleh akal sehatnya. Banyak orang orang yang cerdas akalnya, mampu membedakan kebaikan dan keburukan tetapi yang dilakukan justru mengikuti keinginannya. Kondisi seperti ini mengindikasikan bahwa manusia cenderung bertindak dengan hati bukan dengan akalnya.
Keadaan keliru semacam ini harus โdilawanโ dengan genap kemampuan dan memutarbalikkan menjadi tambatan akal sebagai filter atas kinerja hati. Muhasabah menjadi elemen penting dalam kehidupan karena muhasabah menggunakan akal untuk โmengadiliโ diri secara pribadi. Muhasabah harus dilakukan setiap saat atau paling tidak yaah setiap malam agar prilaku ini tidak melenceng jauh dari rel agama yang telah ditentukan oleh Allah swt
Bahaya Makan Berlebihan
Berlebihan dalam hal makan sangat tidak dianjurkan dalam ajaran agama Islam, terlebih lagi makanan yang diharamkan, makanan yang halal akan dihisab sedangkan makanan yang haram akan mendatangkan adzab. Bahaya berlebihan makanan membahayakan kesehatan terlebih sangat membahayakan kondisi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dalam ceramah singkat ini akan diperdalam pembicaraannya dalam kasus bahaya makan berlebihan terhadap kinerja spirtualitas dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Ditemukan di dalam kitab minhajul abidin karya Imam Ghazali, paling tidak ada 10 bahaya berlebihan makan
Pertama,
ุฅู ูู ูุซุฑุฉ ุงูุฃูู ูุณูุฉ ุงูููุจ
Sesungguhnya dalam berlebihan makan ada hati yang keras, Bahaya makan berlebihan menyebabkan hati menjadi keras dan hilangnya sinar hati dari petunjuk Allah. Kehilangan sinar hati dari petunjuk Allah adalah kerugian besar bagi seorang mukmin, karena dengan hilangnya petunjuk yang menciptakan hidup โnyasarโ dari rel agama yang benar.
Perut yang diisi makanan berlebihan bagaikan memanaskan bejana di atas tungku, sedang di atas bejana yang dipanaskan tadi ada sebuah benda, bila tungku dinyalakan terus menerus maka benda yang berada di atas bejana akan gelap karena asapnya dan bahkan bisa menggosongkan benda tersebut. Kayu sebagai bahan bakar tungku itu adalah makanan sedangkan bejana diserupakan perut dan hati berada di atas perut tersebut. Pada akhirnya hati menjadi gelap dan keruh begitula itulah analogi filosofis hati yang keras karena makan berlebihan
Kedua,
ุฅู ูู ูุซุฑุฉ ูุชูุฉ ุงูุฃุนุถุงุก ูููุฌูุง ูุฃูุจุนุงุซูุง ูููุถูู ูุงููุณุงุฏ
sesungguhnya banyak makan menyebabkan penyakit bagi anggota tubuh, gerak yang dihasilkannya dan berlebihan serta kerusakan yang ditimbulkannya. Abu Jaโfar berpendapat, bila perut dalam keadaan kenyang maka anggota tubuh menjadi lapar, sebaliknya perut lapar (puasa). Maksud dari ungkapan tersebut, bila perut lapar maka anggota tubuh lainnya mudah terjaga dari aktifitas yang tidak perlu atau dengan kata lain sudah kenyang, sebaliknya perut yang berlebihan makan akan menjadikan anggota tubuh lain lapar dan mencari aktifitas yang tidak berkualitas
Terlebih lagi bila sumber makanan itu diperoleh dari usaha yang haram. Makanan dan perut laksana benih dan media tanam, makanan yang haram akan menumbuhkan perbuatan yang haram, begitu pula sebaliknya.
Ketiga
ุฅู ูู ูุซุฑุฉ ุงูุฃูู ููุฉ ุงูููู ูุงูุนูู
Banyak makan menyebabkan sedikit pemahaman dan pengetahuan, ada unkapan innal bathnah yudzhibna fathonah (perut menghilangkan kecerdasan). Yang dimaksud di sini adalah perut yang berlebihan makanan. Imam Ad Darani ra, seringkali mencegah makan bila ia punya tujuan ukhrawiy hingga tercapai tujuannya. Keempat, Sesungguhnya banyak makan mengurangi ibadah, makan berlebihan membuat badan menjadi bera diajak beribadah, mengantuk dan lain sebagainya. Hal ini tentu sangat logis
Kelima
ุฅู ูู ูุซุฑุฉ ุงูุฃูู ููุฏ ุญูุงูุฉ ุงูุนุจุงุฏุฉ
Berlebihan makan menghilangkan rasa manisnya beribadah, Dalam hal ini Abu Bakar as-Shiddiq mengaku tidak pernah makan sampai kenyang selma beliau masuk Islam karena khawatir rasa manisnya dalam beribadah berkurang. Oleh karena itu Rasulullah memuji Abu Bakar ra bukan dari segi banyaknya sholat dan puasa, tetapi ia mempunyai sesuatu yang sedikit saja untuk dirinya. Senada dengan pengakuan Ad-Darani ra, bahwa ia lebih manis dalam beribadah bila dalam keadaan perut dan punggungnya menempel (bc. lapar)
Keenam, Banyak makan dikhawatirkan akan terjatuh dalam perkara makan yang syubhat, karena kebiasan makan yang banyak menjadi terbiasa untuk rakus, dalam kondisi demikian sistem filterisasi menjadi berkurang.
Ketujuh
ุฅู ููู ุดุบู ุงูููุจ ูุงูุจุฏู ุจุชุฎุตููู
Banyak makan membuat sibuknya hati dan badan dalam menghasilkannya. Bila kita merenung maka akan kita dapati orang yang butuh makan banyak akan menjadikan dirinya sengsara, sengsara memikirkan banyaknya kebutuhan untuk makan tentu berpengaruh juga dalam usaha memperolehnya, bila sudah memperoleh makan, maka selanjutnya adalah sibuk, memasak kemudian membersihkan wadahnya, tidak sebanding dengan waktu yang dipakai untuk memakan makanan yang telah diusahakan tersebut.
Malik bin Dinar, seorang tokoh sufi terkenal merasa malu bila bolak-balik ke kamar kecil karena buang kotoran atau buang air kecil akibat makanan yang dimakan, hingga beliau berandai-andai, seandainya Allah menciptakan makanannya dari kerikil dimana sekali hisab nutrisinya bisa cukup hingga akhir ajal tiba tentu waktu yang dipakai ibadah bisa lebih lama.
Kedelapan
ู ุง ููุงูู ู ู ุฃู ูุฑ ุงูุฃุฎุฑุฉ ูุดุฏุฉ ุณูุฑุงุช ุงูู ูุช
Tidak memperoleh kebaikan dalam urusan akhirat dan memperberat sakaratul maut. Diriwayatkan bahwa beratnya sakaratul maut berbanding terbalik dengan banyaknya mengenyam kenikmatan duniawi, semakin banyak merasakan kenikmatan duniawi, maka semakin berat sakaratyul mautnya.
Kesembilan
ููุตุงู ุงูุซูุงุจ ูู ุงูุนูุจู
Berkurangnya pahala di akhirat, karena telah mendapatkan kenikmatan duniawi sedemikian sehingga berkuranglah kenikmatan di akhirat. Kesepuluh orang yang banyak makan kelak diakhirat dihisabnya lebih lama, karena lebih banyak yang ia pertanggung jawabkan di hadapan Allah swt, makan yang halal ada hisabnya sedangkan makanan yang haram ada adzabnya.
Demikian besar madharat yang didapat bagi orang makan berlebihan, padahal kesepuluh bahaya diatas tersebut adalah prihal makanan yang halal, tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana dengan orang yang banyak makan harta yang haram. Makan dalam konteks ini tidak bisa hanya dinilai dari segi sesuatu yang masuk perut,tetapi semua kebutuhan, seperti pakaian, kendaraan, tempat tinggal dan lain lain.
Gerhana Bulan Merah Darah dan Mitosnya
Kabar tersiar bahwa pada hari Sabtu, 4 April 2015 akan terjadi gerhana bulan merah darah (blood moon), ini termasuk salah satu fenomena unik yang jarang kita temui, mungkin karena keunikan tersebut sehingga membangkitkan adanya fenomena gerhana bulan merah darah dan mitosnya berkembang se antero dunia, sejatinya gerhana itu terjadi karena posisi bulan berada pada garis lurus dengan matahari sehingga sinar matahari yang mengenai bulan tertutup oleh bayangan bumi, fenomena ini bisa diamati dengan mata telanjang dan sama sekali tidak berbahaya, tentu langit harus dalam keadaan cerah, karena hal itu menjadi syarat mutlak untuk melihat rembulan.
Macam macam gerhana bulan diantaranya adalah gerhana bulan total dimana semua sisi rembulan dibayangi oleh bayangan inti bumi, fenomena ini bisa mencapai 1 jam 47 menit. Gerhana sebagian jika hanya sebagian bulan saja yang masuk ke daerah umbra Bumi, Gerhana bulan penumbral total Pada gerhana bulan jenis ini, bulan masuk ke dalam penumbra. Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke umbra atau tidak tertutupi oleh penumbra. Pada kasus seperti ini, gerhana bulannya kita namakan gerhana bulan penumbral total. Gerhana Bulan Penumbral Sebagian Dan gerhana bulan jenis terakhir ini, jika hanya sebagian saja dari Bulan yang memasuki penumbra, maka gerhana bulan tersebut dinamakan gerhana bulan penumbral sebagian.
ย Gerhana sebagian
ย Gerhana Total
ย Gerhana bulan penumbral total
Karena gerhana ini terjadi sebagai fenomena alam, maka sudah barang tentu sejak dahulu kala juga pernah terjadi, artinya bukan disebabkan ada fenomena sosial menyimpang atau angkara murka yang menyebabkan rembulan tertutup oleh penumbral bumi. Tidak seperti pada saat saya kecil yang โdipaksaโ meyakini bahwa gerhana adalah peristiwa rembulan dimakan oleh buto kala dan untuk mengembalikan rembulan yang dimakan tersebut rame rame diperintah memukul lumpang agar buto kala mengeluarkannya kembali hohohoho...,ย
Ada juga yang mempercayai bahwa saat itu Yesus turun ke Bumi, berbeda pula dengan kepercayaan suku India yang mempercayainya gerhana disebabkan oleh adanya naga, dibelahan Amerika ada kepercayaan bahwa gerhana adalah tanda dari Tuhan dan mitos mitos lain yang berkembang diseluruh jagad raya ini. Entahlah apakah sampai saat ini masih ada kepercayaan yang demikian.
Sebagai hamba Allah yang mengimani bahwa seluruh kejadian Alam adalah atas kuasa-Nya termasuk dijadikannya matahari dan rembulan bahwa semua itu adalah bukti (ayat) kekuasan dan kemaha perkasaan Allah.
ููู ููู ุขูููุงุชููู ุงูููููููู ููุงููููููุงุฑู ููุงูุดููู ูุณู ููุงููููู ูุฑู ููุง ุชูุณูุฌูุฏููุง ูููุดููู ูุณู ููููุง ููููููู ูุฑู ููุงุณูุฌูุฏููุง ููููููู ุงูููุฐูู ุฎูููููููููู ุฅููู ููููุชูู ู ุฅููููุงูู ุชูุนูุจูุฏูููู
โDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.โ (QS. Fushilat: 41)
Kepercayaan jahiliyah pada saat wafatnya Putra Rasulullah saw yang bernama Ibrahim bertepatan dengan terjadinya gerhana, mereka orang orang jahiliyyah mempercayai bahwa gerhana terjadi karena mengiring kematian putra Rasul saw, kepercayaan tersebut adalah tidak benar sebagaimana sabda Rasul saw;
ย ุฅูููู ุงูุดููู ูุณู ููุงููููู ูุฑู ุขููุชูุงูู ู ููู ุขููุงุชู ุงูููููู ุ ูุงู ููููููุณูููุงูู ููู ูููุชู ุฃูุญูุฏู ูููุงู ููุญูููุงุชููู โMatahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang.โ (HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904). Dari sini dapat kita pahami secara jelas bahwa, gerhana rembulan merah darah dan mitosnya adalah tidak benar, sama halnya dengan membandingkan, setiap pagi ayam berkokok, tetapi kita tentu meyakini bahwa pagi bukanlah disebabkan ayam berkokok..
Terminologi Poligami dalam berbagai agama
CERAMAH SINGKAT, Terminologi poligami selalu menjadi perbincangan yang tak kunjung habis, semakin terminologi poligami dalam berbagai agama agama di dunia, dalam hal ini kami memasukkan agama ardhi sebagai sebuah kredo agama seperti hindu, budha, kristen dan terutama islam, karena penulis masih punya banyak tulisan yang berkaitan dengan poligami dan akan kami posting di beberapa hari ke depan, ikuti kelanjutannya.
Poligami semakin digali semakin bermunculan efek sosial dan problematika keluarga yang muncul, terlebih lagi bila kedua belah pihak sudah mempunyai tanggung jawab keluarga, dapat dipastikan efek dominonya akan bermunculan untuk menyandinginya, tulisan ini bukan bermaksud menjadi tulisan yang berbau sarkasme tetapi melihatfakta yang terjadi di beberapa kasus poligami, karena semua lintasan hidup manusia tentu berbeda antara individu satu dengan individu lainnya. mungkin atas dasar pertimbangan efek sosial dan keluarga inilah sehingga di beberapa negara poligami dipuskan seperti Tunisia dan Turki
Diakui atau tidak diakui โpoligamiโ seolah-olah menjadi sebuah nama monster menakutkan bagi sebagian besar kaum hawa, karena itu poligami harus mendapat ruang tersendiri untuk membicarakannya lebih detail namun dalam tulisan ini hanya sebatas memberikan muqaddimah pandangan agama agama di dunia tentang prinsip dasar yang dipakai sebagai batu pijakan kasus poligami. Kami tidak tahu persis apa landasan poligami agama-agama lain selain Islam, tetapi yang kami tahu dari beberapa sumber antara lain akan dikemukakan di bawah ini.
Dalam soal keluarga hampir tidak ada yang bertentangan kecuali soal poligami dan nikah beda agama, nikah beda agamapun mempunyai aturan tersendiri di dalam Islam, dan pada dasarnya pernikahan beda agama juga tidak di anjurkan. Hal itu dilakukan hanya semata mata sebagai alasan terakhir jika menemui jalan buntu. Pada mulanya arti Poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan, bila istri memiliki beberapa pasangan biasanya lebih dikenal dengan nama poliandri, definisi ini sama halnya menurut antropologi sosial.
Menurut pagangan hukum Hindu, poligami adalah hal dilarang, biasanya hanya dilakukan oleh sebagian kecil penganutnya dari kasta tertentu saja denga alasan unsur politis dan strategis. Misalnya Manawa Dharmasastra Buku ke-3 (Tritiyo โdhayayah) ada pasal yang berbunyi "Asapinda ca ya matura, sagotra ca ya pituh, sa prasasta dwijatinam, dara karmani maithune." Artinya, Seorang gadis yang bukan sapinda dari garis-garis ibu, juga tidak dari keluarga yang sama dari garis bapak dianjurkan untuk dapat dikawini oleh seorang lelaki dwijati." Pengertiannya adalah perkawinan itu dianjurkan satu orang gadis mempunyai satu orang laki-laki (monogami) itupun dipilihkan suami iyang sudah dwijati (mapan dan mandiri).ย
Kita tahu bahwa cerita maha bharata yang banyak diilhami agama Hindu memang banyak mengisahkan praktek poligami, sebut saja Prabu Pandhu Dewanata yang mempunyai isteri Dewi Madrim dan dewi Kunthi, atau Werkudara yang mempunyai isteri Dewi Nagagini, Dewi Arimbi dan Dewi Urang Ayu, tentu kisah ini kurang tepat jika dijadikan sebagai landasan poligami secara umum. Mereka memiliki kasta tersendiri. Begitupula dalam agama Yahudi, meskipun tidak melarang namun sebagian penganutnya, kini berbagai kalangan dalam agama Yahudi melarangnya
Lain lagi dengan Budha, yang tidak menegaskan relegiusitas boleh dan tidaknya berpoligami, Budha Gautama hanya memberikan nasehat tentang cara berumah tangga, tidak menyebutkan secara detail hukum berpoligami.
Dalam Agama Islam yang paling sering dipakai landasan untuk berpoligami adalah QS. An Nisaโ: 2
ููุฅููู ุฎูููุชูู ู ุฃููููุง ุชูููุณูุทููุง ููู ุงููููุชูุงู ูู ููุงููููุญููุง ู ูุง ุทูุงุจู ููููู ู ู ููู ุงููููุณูุงุกู ู ูุซูููู ููุซูููุงุซู ููุฑูุจูุงุนู ููุฅููู ุฎูููุชูู ู ุฃููููุง ุชูุนูุฏููููุง ููููุงุญูุฏูุฉู ุฃููู ู ูุง ู ูููููุชู ุฃูููู ูุงููููู ู ุฐููููู ุฃูุฏูููู ุฃููููุง ุชูุนูููููุง.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Dalam ayat tersebut di atas adalah ayat yang berkaitan dengan anak yatim yang kemudian berlanjut dengan menikah lebih dari satu, tentu ada makna implisit dari penyebutan anam yatim di sana, dan perlu dikaji ulang bahwa dalam surat an-Nisa ini beberapa ayat setelahnya masih berkaitan dengan pemeliharaan anak yatim sebelum membahas soal pembagian warisan. Poligami yang dilakukan oleh Rasul pada 8 Tahun usianya sebelum meninggal berpulang keharibaan-Nya adalah sebuah pernikahan yang berdimensi ibadah sosial untuk menaikkan derajat perempuan dikalangan Arab yang feodal pada masa itu, yang dinikahipun mayoritas adalah janda yang ditinggal suaminya meninggal dunia kecuali Aisyah ra.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Nabi Muhammad saw marah besar ketika mendengar putrinya, Fatimah akan dimadu oleh Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar kabar itu, nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: โBeberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku jugaโ. (Jamiโ al-Ushul, juz XII, 162)
Dasar inilah yang dipakai oleh kalangan agamawan untuk menentang praktik poligami, Mahkamah Konstitusi sendiri menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menyatakan bahwa asas perkawinan adalah monogami, dan poligami diperbolehkan dengan alasan, syarat, dan prosedur tertentu tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan hak untuk membentuk keluarga. Yang harus diingat adalah, suami tidak boleh bersifat egoistik mementingkan mawadah untuk dirinya sendiri tanpa memperhatikan mawaddah orang lain (isteri), karena prinsip dasar keluarga bahagia adalah saling memiliki tanpa pamrih (mawaddah). Sampai di sini tulisan terminologi poligami ditinjau dari berbagai agama, kami akan mempertajam pada postingan berikutnya tentang poligami menurut agama Islam, karena selalu memberikan peringatan kepada hati agar tetap istiqomah dan berjalan di rel agama yang sesungguhnya.. amiiiin.