Rangkuman singkat dari ceramah Nouman Ali Khan tentang QS: Al-Kautsar. (https://bayyinahtv.com/topics/1/categories/9/series/164/videos/1687)
Dari surat Al-Kautsar, kita dapat mempelajari tiga hal:
1. Gratitude (rasa syukur)
Struktur rumah di Mekkah pada jaman Nabi berbeda dari masa sekarang. Rumah-rumahnya saling berdempetan satu sama lain (hanya dibatasi tembok) dan memiliki dua bagian: ruangan besar untuk hampir semua kegiatan seperti kumpul keluarga, memasak, dsb., serta kamar untuk tidur. Ruangan besar di luarnya tidak tertutupi atap, sehingga apa-apa yang dibicarakan akan terdengar ke rumah sebelah.
Suatu ketika, Rasulullah saw. baru saja kehilangan bayi laki-lakinya, yaitu Ibrahim r.a. Kita amat mengerti bahwa karena saking menyakitkannya, musuh bebuyutan pun tidak mungkin merayakan wafatnya seorang anak. Intinya, manusia yang masih punya hati nurani tidak mungkin melakukan hal sebejat itu. Namun keadaan ini berbeda bagi Rasulullah saw. Abu Lahab, tetangga sekaligus pamannya sendiri, tak sengaja mendengar kesedihan yang dialami keluarga Rasul. Anda tahu apa yang dilakukan orang gila itu? Abu Laknat--sori, maksudnya Lahab melompat-lompat kegirangan sambil berteriak sekencang mungkin, “Horeee! Muhammad tidak punya keturunan!!”
Sinting. Saya sempat ngumpat-ngumpat dalam hati pas dengar bagian sini.
Pada masa itu, garis keturunan merupakan sesuatu yang sangat didamba-dambakan oleh setiap orang besar. Orang ingin cucu-cicitnya memamerkan marga mereka, semisal saya keturunan Fulan bin Fulan, dan sebagainya. Dan yang dapat menurunkan marga hanyalah anak laki-laki. Pantas saja Abu Lahab begitu lega ketika mendengar isak tangis Rasulullah saw. tanda kehilangan seorang anak. Musuh-musuh Rasul tentu tidak ingin ada yang mewariskan kemuliaan dari orang yang paling mereka benci, apalagi turut menyebarkan pesan Islam.
Coba bayangkan oleh Anda kesedihan sekaligus kemarahan bertumpuk-tumpuk yang dialami Rasulullah saw. saat itu. Bayinya baru saja meninggal, namun tetangganya malah selebrasi. Saya ketika sedang asyik-asyiknya nonton lalu laptopnya tiba-tiba habis baterai saja bisa marah-marah sendiri. Huft. Kita sebagai umat beliau kadang bisa sangat tidak bersyukur, ya. Shalat malas, baca Quran enggan, sedekah apalagi. Padahal tantangan demi tantangan yang dilewati Rasulullah saw. dalam menyebarkan pesan ilahi amat tidak terbayangkan.
Setelah kejadian yang traumatis tersebut, Allah Swt. menurunkan ayat Al-Quran demi menenangkan hati Rasulullah saw. Al-Kautsar, ayat pertama (saya tidak tahu ayat apa saja yang diturunkan saat itu), yang berbunyi: “Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.”
Ketika ditimpa musibah, biasanya orang-orang di sekitar kita menyarankan untuk bersabar. Namun banyak orang sekarang yang bilang nasihat itu tidak membantu, menyebalkan, dan minim empati. Lalu bagaimana dengan “bersyukur”?
“Bro, anak gue baru aja meninggal.”
“Bersyukur!”
(DISCLAIMER: Saya tidak menyarankan Anda benar-benar mengatakan hal semacam ini pada orang yang anaknya baru saja meninggal--atau musibah apapun itu.)
Dari sini kita dapat belajar bahwa obat yang “sebenarnya” dari kesulitan adalah besyukur, bukan bersabar. Mungkin pesan semacam itu terdengar keras dan kasar bagi manusia yang baru saja tertimpa musibah, namun Allah Swt. kan selalu lebih tahu. NAK menjelaskan bahwa akan selalu ada lebih banyak alasan untuk bersyukur daripada mengeluh. Semisal, Anda tidak keterima di PTN, mungkin memang menyakitkan pada awalnya. Namun Allah lebih tahu. Ternyata Anda mempelajari banyak keahlian yang akan sangat berguna di dunia perkulihahan dalam satu tahun ketinggalan dari teman-teman Anda. Bisa saja jika Anda keterima di PTN, karena ketidaksiapan yang hanya Allah ketahui, Anda akan kewalahan dan mungkin berakhir depresi kala menghadapi berbagai tantangannya. Contoh yang lebih gamblang, coba baca kisah Nabi Yusuf a.s. Beliau dibuang saudara-saudaranya ke sumur, dijual sebagai budak, dijebloskan ke penjara tanpa salah apapun, sampai dilupakan teman sepenjara yang telah ia bantu. Jika mendengar dari sisi ini semata, kita akan berpikir “Anak ini salah apa ya sampai tertimpa begitu banyak kemalangan. Sial banget kayaknya.” Padahal, setelah melewati segala musibah tersebut, Nabi Yusuf a.s. pada akhirnya dapat mencegah ratusan ribu rakyat Mesir (atau ribuan deng saya gak tahu detailnya) dari bencana kekeringan bertahun-tahun. Allah Swt. memang perencana yang paling baik dari segala perencana.
Rasulullah saw. mungkin kehilangan Ibrahim r.a., keturunan beliau mungkin terputus, namun pada akhirnya Allah memberikannya gelar mulia daripada segala manusia dan namanya tak pernah absen disebut sampai sekarang. Sedangkan Abu Lahab malah dipandang sebagai orang paling keji dan namanya diumpat-umpat sampai sekarang.
Islam is the religion of optimism. Jadi, bersyukurlah terhadap segala realita hidup yang Anda hadapi. Saya pernah baca trik dalam suatu buku tentang bersyukur, yaitu coba pikirkan sepuluh hal positif dari situasi yang menyulitkan. Mau sampai ngarang juga gak apa-apa. Trik ini telah membantu saya untuk menemukan nikmat pada sudut-sudut yang tidak kelihatan.
2. Pray (shalat)
Salah satu cara terbaik dalam memperlihatkan rasa syukur adalah shalat. Shalat karena berterimakasih kepada Allah yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepada Anda (Islam), yang telah mencegah Anda dari rasa lapar, memberi atap di atas rumah Anda, dan masiiihhhh banyak lagi. Nikmat dari-Nya tidak akan terhitung. Maka dari itu, shalat yang bener! Setidaknya penuhi shalat lima waktu yang wajib. Itulah yang paling dasar dari segalanya.
3. Sacrifice (berkorban)
Ketika baru saja diberi anak, kita disuruh untuk melakukan aqiqah. Menyembelih binatang yang lalu dibagikan pada sesama untuk merayakan peristiwa membahagiakan tersebut. Dari sini kita belajar bahwa kita harus sering-sering berkorban dan bersedekah terutama setelah dianugerahi nikmat yang besar. Lagi-lagi, ini merupakan bentuk dari rasa syukur kita kepada Allah Swt.
Maaf jika poin kedua dan ketiga kurang detail, karena peristiwa turunnya Al-Kautsar setelah wafatnya anak Nabi begitu berkesan bagi saya pribadi. Semoga kita semua dapat dipertemukan dengan beliau di surga-Nya nanti. Aamiin ya rabbal alamin.
"Kenapa ya dulu menyekolahkan kakak kamu di sekolah yang bukan sekolah Islam." Curhat Ibuku tiba-tiba.
"Kenapa emang?" Tanyaku heran karena merasa tak ada yang salah dengan hal itu.
"Setidaknya kalau sekolah di sekolah Islam yang siswinya berpakaian tertutup, bisa mengurangi peluang melihat aurat perempuan yang terumbar."
Aku terdiam sejenak merenungi jawaban Ibuku. Ibuku seperti sangat menyesali keputusannya mengizinkan kakakku bersekolah sesuai pilihannya sendiri.
"Kenapa ya dulu nggak pernah terpikir sampai ke situ."
Usut punya usut, Ibuku baru saja nonton ceramah soal keberkahan bahwasannya ketika seseorang bekerja di suatu tempat dimana banyak karyawati yang auratnya terumbar, sebenarnya itu merupakan dosa yang tidak disengaja ketika melihatnya, tetapi sebagian dari kita mungkin selalu punya pilihan untuk memilih di tempat seperti apa kita bekerja, di tempat seperti apa yang lebih berkah.
Rupanya kalau dipikir-pikir, sama halnya dengan sekolah. Ibuku menyesali sekolah yang dimasuki kakak laki-lakiku dulu, dimana di sana para siswi banyak yang tidak mengenakan hijab dan berbaju seragam pendek.
Membayangkan hal itu, tiba-tiba aku bergidik. Teringat pula pada foto-foto momen-momen ulang tahun teman-teman SMA kakakku. Tentu saat itu menggunakan gaun pendek adalah hal yang dianggap wajar.
Seperti halnya Ibuku, aku pun tak pernah membayangkan 'dosa yang tidak disengaja' ini.
Ini bukan ngomongin soal perbedaan apalagi mengaitkannya dengan hal rasis. Hanya menuliskan apa yang menjadi curhatan Ibuku hari ini. Semoga dengan menuliskannya, aku akan ingat dan berharap bila nanti tiba masaku menyekolahkan anak-anakku, aku bisa lebih selektif dalam memilihkan sekolah terbaik untuk mereka. Aamiin ♥️
Buletin Ajakan Taqwa INDAH MULYA Edisi No. 02
Jumadil Akhir 1441H
Februari 2020
Waktu Jum’at pukul 12:05 WIB
Dunia Sebagai Sarana Bukan Tujuan
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia dalam mengarungi kehidupan dunia ini untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Dalam surat Al-Hadid ayat 20 dijelaskan:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS. Al Hadid: 20)
Dunia adalah sarana bukan tujuan, sebagaimana permainan dan senda gurau itu sendiri menjadi sarana bagi pencapaian pada tujuan tertentu. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa meskipun dunia ini disebut sebagai permainan, ternyata tidak ada permainan di dunia ini kecuali menggunakan peraturan. Ini berarti kehidupan dunia ini harus kita jalankan dengan peraturan atau ketentuan sebagaimana yang telah Allah SWT gariskan dalam firman-Nya Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 32:
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya. (QS. Al An’am: 20)
Oleh karena itu, kita harus sadari bahwa kehidupan di dunia memiliki aturan yang telah Allah gariskan melalui Al-Qur’an dan Hadist nabi. Setiap manusia pasti memiliki berbagai kebutuhan dalam hidupnya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan itu manusia harus berusaha untuk mencari rejeki atau harta, bahkan bila perlu harta itu dicarinya meskipun dengan susah payah dan harus pergi hingga ke ujung duniapun. Al-Qur’an juga menegaskan tentang keharusan mencari karunia Allah untuk mencukupi kebutuhannya, cukup untuk menunaikan perintah Allah yang terkait dengan harta, bahkan untuk bisa menunaikan ibadah pun harus ditopang dengan harta seperti zakat, shadaqoh, haji, umroh, dan lain sebagainya.
Harta akan melalaikan manusia dan anak-anak serta bisa membuat manusia tidak taat pada Allah SWT. Betapa banyak manusia yang dahulunya belum memegang jabatan dengan gelar professor doktor namun ketika gelarnya diraih akhirnya berubah menjadi koruptor. Betapa jabatan dan harta bisa melalaikan orang dan itu sudah dibuktikan oleh nabi Adam as, setelah melakukan pelanggaran kepada Allah yang bukan karena tiada prasarana dan sarana tapi justru nabi Adam lalai terhadap perintah Allah SWT. Bukankah telah banyak orang-orang yang sekarang tidak sholat, lalai karena dagangannya, lalai karena usahanya, lalai karena pekerjaan kantor. Jadi kalau ada orang yang hartanya banyak, super sibuk, tapi lalai dari sholat itu namanya bukan rijal dan tidak disebut sebagai pahlawan atau tokoh dalam Al-Qur’an. Justru yang disebut sebagai tokoh adalah yang berdagang, yang berbisnis, dan yang mempunyai jabatan, tetapi dia tidak dilalaikan olehnya dan tetap taat kepada Allah SWT.
Orang Cerdas Selalu Ingat Akan Kematian
Jadi, orang yang cerdas akan membekali dirinya dengan perbuatan baik. Di antara banyaknya perbuatan baik, ada beberapa amal yang ganjaran kebaikannya terus mengalir.
Menurut Imam Al-Suyuti, bila semua hadist mengenai amal yang pahalanya terus mengalir walau pelakunya sudah meninggal dunia dikumpulkan, semuanya berjumlah 10 amal, yaitu:
Ilmu yang bermanfaat
Doa anak shaleh
Sedekah Jariyah (wakaf)
Menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan
Mewakafkan buku, kitab, atau Al-Qur’an
Berjuang membela tanah air
Membuat sumur
Membuat irigasi
Membangun tempat penginapan bagi para musafir
Membangun tempat ibadah dan belajar
Orang sukses adalah orang yang sudah menyiapkan dirinya untuk kematian dan orang yang sukses adalah orang yang pulang kepada Allah dengan kerinduan.
Ayat kedua dalam At-Takaatsur untuk kita cermati:
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ
Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. At Takaatsur: 2)
Kalian akan dilalaikan terus menerus tidak ada ujungnya, baru ada ujungnya kalau sudah masuk kuburan. Di dalam hadist Rasulullah SAW bersabda:
Manusia itu pasti tua. Ada 2 yang tidak perah tua, yaitu rakus dan angan-angan.
Tidak pandang umur, tidak pandang kaya, tidak pandang prestige, yang namanya rakus dan angan-angan tidak pernah tua. Karena itu ambisi mencari harta tidak ada ujungya dan baru akan selesai kalau sudah masuk ke liang lahat. Kalau tidak mau dilalaikan oleh harta dan kesibukan, maka jalan keluarnya adalah sering-seringlah mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk setelah kematian. Karena rata-rata orang yang tidak mengingat mati lebih banyak dilalaikan oleh dunia dan bukan lagi menggunakan dunia untuk ketaatan kepada Allah tapi dilalaikan oleh dunia. Hal itu disebabkan tidak pernah datang ke kuburan untuk mengingat kematian, Bodoh sekali kalau engkau dilalaikan oleh harta. Bodoh sekali kalau engkau dilalaikan oleh jabatan. Karena pada akhirnya kamu masuk ke dalam kuburan. Artinya sebesar apapun kebahagiaan dan kesuksesan kita di dunia, kalau ujungnya mati maka betapa pendek dan singkatnya kesuksesan dunia itu. Di dalam hadistnya Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila cahaya masuk ke dalam hati seseorang, maka dia akan merasakan kelapangan dan keluasan hatinya.” Kemudian sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana ciri-cirinya cahaya itu jika sudah masuk ke dalam dada seseorang?” Rasulullah menjawab, “Ketika seseorang itu suka mempersiapkan akhirat, mempersiapkan kematiannya, dan tidak terperdaya oleh dunia. Itulah ciri orang yang sudah masuk cahaya dan dadanya menjadi lapang.“
Dalam hadist lain para sahabat bertanya kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling cerdas, pandai, dan intelek diantara manusia?” Kemudian dijawab oleh Rasulullah, “adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk hal itu.“
Bukankah kalau kita pergi haji ke tanah suci kita semuanya mengingat kematian makanya menjadi cerdas, baik yang berangkat para selebritis dan para koruptor kalau pergi haji semuanya mengingat akan dosanya. Ingat Ini adalah bukti kecerdasan kalau seseorang professor, kiyai, ketika dia lupa akan kematian maka turun derajat menjadi orang bodoh. Oleh karena itu di ayat lain Allah SWT mengingatkan kepada kita:
Jangan mau kalian dilalaikan
Akibat kelalaian yang dilakukan karena jabatan, harta, dan fasilitas yang didapatkan, kita menemukan banyak orang mempunyai harta tapi dikejar-kejar oleh waktu sampai-sampai anak-anaknya diurus oleh pembantu.
Sebuah syair bertutur:
Kamu itu budaknya harta kalau kamu tahan harta itu dan harta itu menjadi budakmu kalau kamu nafkahkan
Kemudian Allah SWT mengancam lagi:
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ
Janganlah begiu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. (QS. At Takaatsur: 5)
Seandainya engkau mempunyai ilmu pengetahuan yang meyakinkan, jika kalian itu cerdas dan mempunyai ilmu maka jawabannya adalah tak mungkin kalian dilalaikan dengan bermegah-megahan, kalau kalian mempunyai ilmu.
Makanya kita tidak boleh iri kepada orang yang mempunyai harta, punya jabatan, tetapi jauh dari Allah. Bagaimana mungkin kalau kita iri kepada orang yang di dalam Al-Qur’an manusia yang mengabaikan kematian disebut dengan orang-orang yang bodoh, orang yang lalai tidak mempunyai ilmu yang yakin. Tetapi kita boleh iri bila melihat ada orang kaya dan siang malam dia menafkahkan hartanya serta siang malam dia sembunyi dan terang-terangan menafkahkan hartanya. Tidak ada hadist yang mengatakan bahwa kita boleh iri kepada orang yang punya harta tetapi dia bermaksiat kepada Allah SWT. Seandainya engkau mempunyai ilmu yakin, kalian itu pasti menyesal dari perbuatan kalian. Dan seandainya kalian mempunyai ilmu meyakinkan tak mungkin kalian dilalaikan dengan kenikmatan sesaat.
Kemudian Allah menegaskan dalam kelanjutan surat At Takaatsur ayat 6-8:
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ - ٦
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ - ٧
ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ - ٨
Kalau kalian dilalaikan nanti di akhirat akan melihat neraka jahanam. (6)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dan tercebur dalam neraka. (7)
Setelah tercebur neraka kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (8)
Pada suatu ketika ada seorang yang miskin datang kepada Rasulullah:
“Wahai Rasulullah, kami ini orang miskin. Apakah kami ini memiliki nikmat?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Ya dan kalian memiliki nikmat seperti air yang kalian minum, pohon tempat kalian berteduh itu nikmat yang pasti ditanya oleh Allah SWT.“
Maka kita yang diberikan sedikit rejeki dari Allah SWT janganlah kita merasa bahwa Allah tidak sayang kepada kita, karena mungkin saja kita tidak kuat memikulnya kalau mempunyai banyak harta. Maka bagi orang-orang yang mempunyai banyak harta, ayat At Takaatsur ini mengingatkan engkau agar jangan lalai oleh harta, jabatan, dan kedudukan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan keimanan dan ketaqwaan agar kita dapat menjalani kehidupan dunia ini untuk beramal sholeh sebagai bekal menuju akhirat. Semoga harta, kedudukan, dan jabatan adalah sarana yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT agar kehidupan dunia akan diraih dan kebahagiaan akhirat kelak diperoleh. Dan semoga Allah SWT memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, padang makhsyar, hisab, mizan, dan sirath serta ditempatkan di surga Allah SWT. Aamiin ya Robbal ‘alaamiin.
Ajakan Taqwa INDAH MULYA
Penerbit: Indah Mulya Pres.
Penanggung Jawab: Syamsul Marlin, M.Ag.
Pemasaran: H.Saih, SE.
Dewan Redaksi:
• H.Ika Ahmad Furqon, LC.
• H. Purwoto, SH.
• H.Rusmono, S.Pd.I
• H.Fatah Mutabik, S.Ag
• H. Mukhlis, AK.
• Lilis Sa’adah, S.Ag. MM
Redaksi & Tata Usaha:
Jl. Sultan Iskandar Muda No. 1, Pondok Indah, Jakarta. 12310. Telp: 021-75906311. Fax: 021-75905868. www.masjidrayapondokindah.org
oleh Ust.Oemar Mita, Lc, yang tiba tiba muncul di beranda youtube ku pagi ini, didengarkan sambil sarapan nasi, ikan goreng, tahu dan sayur buncis, dikamar 113.
Apakah kamu tahu puncak karier sebagai seorang wanita?
1. Mendapatkan ridho dari suaminya
2. Berhasil mencetak generasi yang sholeh dan taat kepada Allah
- Fainnama hua jannatuki wanaruki -
Apapun kondisi suami mu, sesungguhnya ia yang bisa menjadi pintu surgamu dan sebagaimana iya juga bisa menjadi pintu neraka mu.
Jadi keberkahan seorang wanita tergantung bagaimana iya mendapatkan keridhoan dari suaminya dan posisi di dihati suaminya.
Maka jihad terbesar wanita, bukan dimedan jihad layaknya di Palestina, tapi jihad wanita tertinggi adalah ketika ia berkhidmah semaksimal mungkin sepenuh hatinya sampai ia mampu menundukkan hati suaminya hingga hati suaminya memberikan keridho-an dan kecintaan kepada dirinya, maka 8 pintu surga akan ia dapatkan dan memanggil namanya, ketika ia berhasil mengalahkan nafsunya, perasaannya, pemikirannya, was-wasnya, sampai ia mendapatkan ridho dari suaminya, maka sesungguhnya Allah akan memberikan balasan yang cash dan kontan karena besarnya kecintaan Allah kepada wanita yang mendapatkan ridho dari suaminya.
Mungkin kalangan kapitalis atau feminis akan mengatakan, enak betul ya jadi laki-laki, bukan berarti mendapatkan ridho sebagai alasan. Tapi memang komitmen laki-laki itu setelah menghalalkan wanita, maka itu adalah komitmen yang besar yang harus ia pertanggung jawabkan dunia dan akhirat.