Sedang luka
Belum sembuh

Discoholic 🪩
Peter Solarz
One Nice Bug Per Day
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
NASA

pixel skylines
Noah Kahan
hello vonnie
h
wallacepolsom

blake kathryn
Lint Roller? I Barely Know Her
tumblr dot com

★
d e v o n
untitled
art blog(derogatory)

#extradirty

oozey mess

No title available
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany
seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from India

seen from Italy
seen from Jordan
seen from Türkiye
seen from Iraq
seen from United States

seen from Germany
seen from Spain

seen from Morocco

seen from Türkiye

seen from United States

seen from T1
@myaurantiacus
Sedang luka
Belum sembuh
258.
Puan mengira tuan telah melupakannya, tuan menerka puan telah menemukan penggantinya.
Puan merasa tuan tidak akan menujunya, tuan berfikir puan tidak menginginkan kedatangannya.
Ratusan purnama berlalu dalam pertimbangan dan lamunan yang panjang; iya atau tidak, tidak atau iya.
Setiap malam puan dan tuan memohon jawaban melalui istikharahnya.
Di kesunyian paling temaram, pada ketidaktahuan yang nyata tuan dan puan saling mendo'a dan mendamba.
Mudah-mudahan akhir yang bahagia untuk keduanya, entah dibersamakan atau membersamai seseorang lainnya.
Tuhan, Engkau lebih tahu yang terbaik untuk keduanya.
Kesambirata, 19.32 | 3 November 2020.
Ruang Sama Rasa Beda
terasa sesak memang, melihatmu setiap hari di ruangan yang sama.
terasa sesak memang, dekat denganmu tapi tak bisa bersama denganmu.
Aku lelah, aku mengalah.
aku pindah dulu di ruangan yang berbeda.
Kadang, rasa rindu itu muncul tak terbendung.
menjalar ke seluruh tubuh.
Aku lelah Tuhan.
Aku ingin berhenti mencintainya.
Bayangan yang tidak akan pernah aku share ke siapapun kecuali disini, tumblr.
Selamat tinggal kamu, A.
Selamat tinggal Kelana.
Teruntuk kamu, yang dulunya selalu ku doakan disepertiga malamku, tapi kini tak lagi.
Terima kasih untuk segala hal yang kamu lakukan.
Diri ini sedang di fase healing dan hiatus.
-M&A-
K&K untuk nama belakang
Jika tulisan bisa jadi doa.
Jika tulisan mampu jadi doa.
Maka biarlah tulisan ku jadi doa.
Puisi ku jadi doa untuk ku.
Puisi ku jadi doa untuk mu.
Biarkan buku yang ku tulis jadi doa untuk kita.
Selamat Hari Buku Nasional 2020.
Terik mentari menyengat tak tertahan. Roda-roda motor melintasi dermaga kecil itu. Bersandar di sudut dermaga. Sungguh estetik disinari teriknya mentari. Raga diam. Hati menunjukkan gejolaknya. Besepai, bederai, bekecai, punah ranah, masih ada. Terselip rindu oleh insan tak berdaya ini. Aurantiacus, aku rindu. Sekali lagi, raga diam, rindu menyebar tanpa jeda. Sendiri tanpa tapi. Aku dibelakang mu. Merindukan punggung dan bahu mu. Terdiam tak berdaya. Hari ini, semesta seolah kembali berpihak. Berserah pada sang pencipta. Semesta yang berpikir. Semesta yang bekerja. Caeruleus dan griseo yang mendominasi pakaian-pakaian itu. Kaki pun melangkah menuruni tiap anak tangga. Memilih ruber atau caeruleus? Caeruleus tak pernah hilang dari ingatan semu dua sejoli itu. Sampan bergerak meninggalkan dermaga. Kita sama. Pada satu sampan yang sama, kita kembali dekat. Walau hanya singkat. Pada satu sampan yang sama. Rindu semakin egois. Rindu semakin tak ada akhlak. Pada satu sampan yang sama. Ketika langit senja memberi pertanda ingin pamit. Aku berbalik menghadapmu. Aurantiacus salah tingkah. Swastamita pun hanya tersenyum merindukan. Aurantiacus ku, aku masih merindukanmu. Desa Madong, 7 Mei 2020
3 Hari Menuju ¼ Abad
Berita virus corona atau Covid-19 sungguh memuakkan menurutku. AKu tahu bahwa virus itu berbahaya, tetapi alangkah lebih baiknya kita tidak membuat kepanikan satu dengan yang lainnya bukan? Aku juga hanya bosan dengan berita yang itu-itu saja. Kantor dimana aku bekerja pun masih belum melakukan social distancing. Aku tidak mempersilahkan itu, tapi bukankah kesehatan manusia itu adalah prioritas diri sendiri dan bersama.
Jika pada akhirnya kami harus bekerja dari rumah, berarti aku tidak akan bertemu dengannya selama 14 hari ke depan. Aku malah bersyukur. Rasanya lega walaupun ada pastinya sedikit rasa rindu itu. Ah.. tapi untuk apa rindu padanya, dia saja tidak begitu padaku.
Melewati beberapa hari menuju ¼ abad diriku, aku kembali merenung. Merenung betapa bodohnya aku mencintainya. Bodohnya diri ku mengeluarkan air mata ku untuknya setiap malam. Bodohnya diriku memberikan perhatian padanya. Aku kembali menertawakan diriku sendiri.
Belajar ikhlas dengan semuanya adalah solusi paling ampuh untuk memulai hidup baru. Banyak yang berubah memang karena semua ini, tapi aku tak menyesal. Tuhan selalu punya cara indah untuk membuat makkhluknya bahagia.
Terhitung 16 Maret 2020, aku sudah tidak mendoakannya lagi. Doa ku tentang pendamping hidup pun sudah berganti. Tak ada nama dia atau siapapun yang ku doakan. Aku hanya menyerahkan kepada Tuhan Sang Pemberi Tanpa Batas untuk diberikan yang terbaik. Dia sudah aku ikhlaskan. Ikhlas tentang semua yang terjadi, ikhlas tentang apa yang dia sikap dan perbuatannya pada ku.
Teruntuk kamu, yang hanya berjarak satu meja denganku.
Teruntuk kamu, yang selalu aku temui setiap harinya.
Semoga semakin hari aku terbiasa untuk biasa saja melihatmu.
Mencoba ikhlas memang pada akhirnya membuat aku bahagia.
Semoga setiap melihat mu aku mengingat betapa lucunya sikap ku telah menyukaimu.
Jika kau tahu, bahwa kau dengan dia yang sedang berada di kota istimewa saja tidak apa-apanya, mungkin kau tidak akan menyakitiku sebegitunya. Seandainya dia tahu siapa kau, mungkin dia akan mentertawakan ku.
Betapa bodohnya aku bukan.
Aku juga harus terbiasa untuk tidak sering melirikmu dari jauh atau bahkan dari dekat.
Betapa beruntungnya mereka yang dipertemukan dalam keadaan sudah selesai dengan urusan perasaan masalalu. Tidak ada gagu, apalagi ragu, hanya ada malu-malu.
Ah, sesuatu.
Ketika aku bertemu dengannya, dia belum selesa dengan masa lalunya. Pada akhirnya, aku lah yang terluka.
Menuju 1/4 abad diriku.
20 hari bercerita.
Senin pertama di awal maret. Hari ini aku melakukan perubahan dalam hidupku. Sedikit demi sedikit berubah ke arah lebih baik.
Aku mengenakan kerudung yang lebih besar dan lebar. Aku merasakan ketenangan di dalamnya. Terima kasih Tuhan.
Hari ini dia juga melakukan perubahan. Perubahan hanya pada gaya rambut. Memotong rambutnya menjadi lebih botak dan mencukur semua rambut di wajahnya.
Aku jelas kaget. Kenapa dia memotong rambutnya. Bukan kah dia sudah cukup botak untuknya memotong rambut lagi. Tapi terserah dia lah. Aku tak berhak berkomentar.
Dia hanya ingin memulai kehidupan baru tanpa ku. Memulai kehidupan baru dengan masa lalunya.
Aku juga begitu. Aku akan melupakannya. Menghapus semua tentangnya.
Hari ini, pagi ini. Aku sudah memutuskan untuk tidak mendoakannya lagi. Doa ku berubah. Bukan meminta mu menjadi milikku tetapi meminta diberikan yang terbaik. Selamat tinggal Pengelana ku.
Hari ini aku kaget, karena kami berdua membuat perubahan penampilan dan akan menjadi perbincangan orang kantor lagi.
Aku hanya ingin melupakan mu, walau sulit.
Setiap hari bertemu dan di ruangan yang sama. Diriku sungguh hebat bukan? Berusaha melupakan disaat setiap hari bertemu. Sungguh sakit tapi harus dilalui. Semoga aku bisa.
2 Maret 2020
Dia saja tak pernah memikirkan ku? Ngapain aku repot” memikirkannya.
Masih mendoakannya tidak? Kalau ini aku masih bingung. Biarkan besok saja aku bercerita. Hati lah yang akan menentukan aku mendoakannya atau tidak.
Teruntuk laki-laki yang menemani ku tadi, terima kasih. Jogja memang masih istimewa untuk ku. Aku ingin kembali ke Jogja saja. Aku menjadi diriku sendiri jika disana.
Menuju 1/4 Abad Diriku
Terima kasih untuk diri sendiri yang telah berjuang sampai sejauh ini. Terima kasih untuk diri ini yang telah sekuat ini.
Miracle of March
Husnuzon pada takdir Tuhan.
65.
Sabar itu bukan yang berdiam diri tanpa gerak apapun, itu namanya pasrah.
Sabar itu; tidak berhenti berdoa dan ikhtiar meski belum tahu hasilnya akan bagaimana.
Perhatikan lagi, posisimu di mana?
Menjemput fajar, 04.57 | 29 Februari 2020.
doaku masih tetap sama untuknya. Level tertinggi sabarkah?
Setidaknya sebelum kamu pergi, katakanlah padaku, “Dulu kamu pernah membuatku bahagia,” agar aku bisa tahu kalau kenangan bahagia kita itu bukan hanya khayalan di benakku saja.
We were happy, weren’t we? // A. W. (via surat-pendek)
Wajah
Mereka bilang wajah kami mirip. Beberapa orang mengatakan seperti itu. Aku sempat berpikir demikian, bahkan ikut meng-aamiin-kan ucapan yang lain.
Tapi aku kembali berpikir lagi, mana mungkin. Ngaco kalian. Dia saja sudah tak memikirkan ku lagi. Dia membenci ku, padahal yang harus membenci itu adalah aku.Tapi dia membuat seolah-olah dia lah yang tersakiti.
Apakah kami bisa kembali bersama? entahlah. Biarkan semesta yang bekerja menentukan arahnya.
Aku hanya ingin bersikap baik kepada siapapun termasuk dia walaupun dia menyakiti ku, kenapa? karena aku lelah untuk berbuat yang sama dengannya. Jika salah satu membenci, maka yang lain tidak boleh ikut membenci.
Di satu ruangan yang sama dalam bekerja itu melelahkan jika seperti ini. Bagaimana aku bisa melupakannya.
Pernah Tulus
Beberapa dari kita pernah tahu rasanya menyayangi. Merasakan bagaimana bisa begitu sayang terhadap orang lain, dengan perasaan yang takkan pernah bisa terlukiskan. Menyayangi penuh dengan ketulusan. Meski ia tidak peduli, kita tetap tulus. Bahkan kapanpun ia butuh, kita berusaha tetap selalu ada untuknya. Meski ia lebih memilih yang lain, kita masih saja tetap tulus menyayanginya.
Tampak begitu sederhana, namun terasa begitu berat. Mereka yang sekadar melihat bisa saja mengatakan bodoh. Malah boleh jadi suatu hari nanti kita sendiri yang merasa begitu bodoh pada masa itu.
Meski begitu, pada akhirnya perlahan kita pasti mulai paham, bahwa mencintai seseorang dengan tulus belum tentu bisa mengetuk hatinya, apalagi membuatnya jatuh kembali pada kita. Sebab kita pernah merasakannya, maka jangan pernah sekalipun kita kehilangan ketulusan itu pada orang lain.
Dari persoalan yang tampak sepele itu, kita pernah tahu bahwa sebuah ketulusan itu mahal sekali harganya, dari sana kita bisa belajar melihat orang-orang yang menyayangi kita, serta tidak perlu terlalu buta untuk melihat siapa yang sungguh menyayangi.
Paling tidak, jangan pernah sekalipun kita kehilangan ketulusan itu pada siapapun mereka yang nanti hadir. Jangan sampai.
Jakarta Pusat, 15 Januari 2020 | Pino G Bastian
"Aku tak membencimu, tak pula berniat balas dendam. Sebab, melihatmu hidup dengan rasa bersalah dalam waktu yang lama jauh lebih riuh daripada tepuk tangan kemenangan"
Selamat menikmati karma, kamu :)
Rfabs 1996 - 2020 Masehi
Hahaha
Ketika motor kita berdekatan. Aku ingin pemiliknya juga begitu. Akankah kita begitu lagi?
Aku rindu.
Aku hanya perlu kuat bukan? Hanya perlu untuk tidak mengingat lagi hubungan kita ini.
Semoga kamu segera sadar.