Relativitas (tak) berujung.
Milyaran manusia, milyaran pemikiran, milyaran pula ukuran kesuksesan.
Banyak orang ingin sukses dengan ukuran kesuksesan orang lain, banyak orang ingin bermanfaat dengan melihat ke diagram kebermanfaatan orang lain, bahkan banyak orang ingin berbuat baik juga dengan melihat dahulu seberapa banyak perbuatan baik orang lain.
Sebenarnya, bagaimana ukuran kesuksesan yang paling tinggi?
Ada satu kalimat yang masih ngena sampai sekarang di hati saya, "Dunia ini sebenarnya mudah sekali, rezeki itu sudah akurat, yang membuat rumit adalah manusianya". Setelah mendengar itu, saya terdiam sebentar. Masih mencerna bagaimana bisa seseorang itu berkata bahwa dunia ini mudah, dan nyatanya banyak sekali manusia yang mengeluh tentang sulitnya hidup yang ia jalani.
Dan hari ini, saya mendapatkan jawabannya. Sepulang dari kuliah, menaiki tangga di perjalanan pulang, berpikir sembari berjalan santai, saya benar-benar menemukan jawabannya.
Pernahkah kita berpikir, bahwa sungguh sangat berarti peran seseorang saat sekitarnya merasa nyaman dengan kehadirannya?
Pernahkah kita merenungi, bahwa sungguh sangat bermanfaat sekali hidup seseorang saat sekitarnya bisa tiba-tiba tersenyum dan bahagia dengan kehadirannya?
Pernahkah kita berpikir, bahwa dengan membuat sekitar merasa mereka adalah orang yang paling berharga di dunia ini adalah justru sebuah ukuran kesuksesan yang paling tinggi?
Karena sejatinya, sementereng apapun karir yang kita miliki, sebagus apapun pekerjaan yang kita lakoni, sebanyak apapun uang yang kita dapati, dan semewah apapun barang yang kita punya, semuanya kita usahakan untuk meraih tujuan-tujuan kebermanfaatan kepada sesama, bukan?
Bahwa teladan kita, nabi Muhammad saw adalah manusia yang saat bersamanya, semua orang merasa bahwa ialah yang paling beliau cintai. Saat berbicara dengannya, saat mendengarkannya, semua orang merasa bahwa ialah yang paling istimewa bagi beliau.
Walau menyandang gelar sebagai utusan dari Sang Khaliq, beliau tidak pernah sekalipun melupakan keberadaan orang lain. Dan pada akhirnya, lisan dan seluruh perbuatan beliau adalah daya tarik paling tinggi yang membuat banyak manusia jatuh cinta kepada islam.
Berbuat baik kepada sesama dan menyelaraskannya dengan peran, beliau akhirnya sukses menjadi manusia inspiratif bagi dunia. Abadi dan terkenang.
Ukuran kesuksesan paling tinggi yang saya simpulkan adalah saat dimana kita mampu membuat sekitar bahagia dan sejahtera dengan apa yang kita miliki. Tidak harus besar jumlahnya, namun besar dampak kebermanfaatannya.
Tidak harus dengan memiliki rezeki yang berlimpah baru kita mampu membahagiakan orang lain. Tapi justru dengan membuat orang lain bahagia terlebih dahulu, kita akan tertuntun untuk mencapai mimpi yang lebih besar lagi.
Dan ukuran ini, yang paling sering kita lupa. Seringkali saat kita sudah mencapai langit, kita lupa dengan daratan. Saat sudah mencapai puncak, lupa dengan seberapa terjalnya jalan di bawah.
Padahal, sebelum kita sejauh itu, setinggi itu, kita pernah jauh di bawah, serendah itu.
Jangan pernah lupa dengan sekitar, jangan pernah lupa bahwa banyak tangan yang menanti uluran kebahagiaan.
Bukan hanya materi sebagai tujuan, tetapi bermanfaat yang membahagiakan sekitar lah yang lebih dinanti.
Agar ketika sudah habis masa kita untuk bertahan, dunia akan mencatat kita sebagai salah satu orang penting yang pernah mempengaruhi hidup mereka. Menganggap kita sebagai salah satu orang yang pernah menjadikan kehidupan mereka jauh lebih baik, lebih berarti, dan lebih berharga.
Sesederhana itu, tetapi memang biasanya yang sederhana itu yang sering dilewatkan.
Dan menurut saya, di antara banyaknya perdebatan tentang ukuran kesuksesan, ukuran ini lah yang paling indah:)
Buat kita, sembari mengejar mimpi, jangan lupakan kebahagiaan sekitar ya!
Kairo, 23 Desember 2019 || 23.30 clt

















