How Dare You!!
Tobatlah tobat! Kalau kamu ngelakuin dosa, inget besok akan ada tayangan ulang di akhirat yang akan ditonton oleh manusia semua umat, dan dihadapan Allah Yang Maha Melihat.
#jurnalbaiq | 1 Juni 2021

titsay
cherry valley forever

oozey mess

Andulka

@theartofmadeline
Lint Roller? I Barely Know Her

Love Begins
Three Goblin Art

⁂
d e v o n
he wasn't even looking at me and he found me

roma★

Origami Around
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Kaledo Art

tannertan36
Cosmic Funnies

Product Placement
Claire Keane
Alisa U Zemlji Chuda
seen from United States
seen from United States
seen from Norway

seen from United Kingdom
seen from Netherlands

seen from United States

seen from India
seen from United States

seen from Brazil
seen from Germany
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Brazil

seen from Malaysia
@bulaanbaaiq
How Dare You!!
Tobatlah tobat! Kalau kamu ngelakuin dosa, inget besok akan ada tayangan ulang di akhirat yang akan ditonton oleh manusia semua umat, dan dihadapan Allah Yang Maha Melihat.
#jurnalbaiq | 1 Juni 2021
Gelembung Emosi.
"Marah aja mba, gapapa diluapin. Ga baik juga kalo ditahan-tahan. Kalau udah rilis emosinya kan jadi lebih tenang."
—kurang lebih begitu kata seorang teman kepadaku, setelah akhirnya aku 'meletupkan' gelembung emosiku sore tadi.
Ceritanya, aku sedang bertugas mengerjakan suatu hal. Setelah duduk lama depan laptop, dan hampir tidak beranjak sejak pagi ke sore (kecuali saat ishoma dzhuhur), aku izin sebentar untuk menunaikan sholat ashar. Sebentar. Sekitar 10 menit kurang lebihnya.
Yang lelah tentu saja bukan hanya fisik dan ragaku tapi jiwa dan mentalku juga. Itulah kenapa, bagiku sholat adalah salah satu waktu tenang yang kusuka untuk mengadu, menguraikan segala kecamuk perasaan, dan mengistirahatkan riuhnya otak dan pikiranku tentang dunia —yang mostly berkaitan dengan pekerjaanku.
Belum ada 10 menit, hp-ku bergetar tak henti. Perasaanku mulai tak enak. Kuabaikan sebentar karena masih ingin menengadahkan tangan pada-Nya. Kembali hp-ku bergetar, kali ini kuangkat karena aku sudah kehilangan fokusku berdoa. Sebuah panggilan masuk untuk kembali bekerja.
Yaa Allah, maafkan hamba-Mu ini. Kali ini marahku bukan karena harus bekerja. Aku tahu bekerja adalah kewajibanku dan tanggungjawab yang harus kutunaikan. Tapi aku marah karena waktu berdoa-ku yang singkat ini diinterupsi untuk pada akhirnya tak terpakai setergesa itu. Apasih yang dikejar?
Aku bahkan sudah menurunkan ekspektasi ke orang-orang, aku ga berharap banyak akan ada yang berinisiatif membuka laptopku dan mencoba berusaha mengerti dan mencari jalan keluar sementara sambil menungguku berjalan sejauh 3 meter. Iya, 3 meter atau paling jauh 4 meter dari mushola ke kursi yang kududuki untuk bekerja.
Silakan telpon kalau memang aku mengobrol, keliling, jalan-jalan. Tapi, kan, aku sholat.. Dia bahkan tahu aku tak beranjak kemanapun sejak pagi tadi.
Dan sampailah aku di meja kerja, meletupkan gelembung emosiku. Kusampaikan aku marah. Tapi tetap kulanjutkan pekerjaanku. Seorang teman memahami kemarahanku, menepuk-nepuk bahuku. Aku diam karena takut semakin jadi emosi.
Sampai setelah kehebohan itu mereda, aku duduk berdua dengan salah seorang temanku tadi. Kubisikkan pelan padanya, "Kenapa ya tadi aku harus marah segitunya mba. Kok kaya ga pantes ya." Sambil menatap dan mengangguk pelan, dia memberi validasi atas kemarahanku.
Dan malam ini, sepulang kerja, aku merenungi ulang kejadian sore tadi. Tentu kita kesal saat diinterupsi ketika sedang dalam momen penting, atau obrolan berharga, atau di kegiatan-kegiatan tertentu lainnya. Lalu apa bedanya aku, masih sering menginterupsi waktu panggilan-Nya dengan urusan-urusan kecil duniawiku yang bahkan tak pantas dibandingkan ini?
(Semarang, 26 Agustus 2025. 22:22. Kamar kosan, ha(AAArRrggghhh)i yang mantap, aduh sedap. Merenung)
168
“Jangan playing victim sama Allah.”
Kami—aku dan tiga temanku, sedang quality time setelah sekian lama tidak bertemu, makan-makan, biasalah: update masalah hidup tanpa berbagi solusi.
Lalu sampai giliran salah satu kawan kami, berbagi masalah yang solusinya, entah... Hanya Allah yang tahu. Berulang kali menceritakan hal yang sama, berulang kali kami berikan alternatif solusi, berulang kali juga masalah itu kembali lagi.
Teman kami satunya lagi bersuara, “Coba deh lu tahajjud. Solusi lu itu udah bukan ranah manusia lagi, itu udah harus ngadu langsung, minta solusi langsung sama Allah. Apalagi masalah hati, Allah yang bisa bolak-balik hati seseorang tuh."
Aku masih belum ikut membuka suara. Mendengarkan mereka beradu pandangan.
“Tapi aku tuh malu mau tahajjud. Bacaanku itu-itu doang, mana sholat wajibku nggak on time. Nggak enak sama Allah. Hehe.” Jawabnya antara serius dan tidak.
“Heh, jangan playing victim lu sama Allah! Lu pikir Allah apaan? ”
Lalu kami tertawa, namun dengan hati yang tercubit, aku turut membenarkan: Kalau kita terus-menerus malu menghadap Allah dalam keadaan tidak terbaik, bukankah itu tanda kita harus memperbaiki? Bukankah ketika kita sadar sedang dalam keadaan yang tidak baik, itu artinya kita selangkah menuju kebaikan?
Allah memang menerima yang baik-baik, tapi Allah juga bukakan pintu untuk mereka yang tertatih ke arah-Nya ketika luka dan penuh noda untuk bertaubat. Allah adalah satu-satunya tempat dimana mereka yang penuh dosa mengadu ketika manusia enggan mendengar dan sibuk memilih.
jika seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sejengkal, maka Allah akan mendekat kepadanya sehasta; jika ia mendekat sehasta, Allah akan mendekat sedepa; dan jika ia berjalan mendekat, Allah akan mendatanginya dengan berlari.
Selamat menemukan kembali jalan pulangmu.
@ffahraa
Marry someone who reminds you of Allah, someone who is deeply interested in deen, someone who will teach your children the meaning of loving Allah and push you towards Jannah.
Hajj 2026
Green is Heal☘️🌱🤍
Sebut saja dia F.
Di setiap jurnal yang ku tulis sejak SMA, kuliah hingga bekerja, tokoh utamanya masih sama. Nama yang paling sering kusebut masih satu orang.
F.
Itulah inisial yang aku tulis dalam jurnalku, sosok laki-laki yang baik, pintar, soft spoken, friendly dan bonus cakep. Selama ini aku selalu merasa beruntung bisa mengenalnya, padahal kami tak punya circle untuk punya kesempatan bertemu.
Sudah hampir 11 tahun dia menjadi tokoh utama dalam jurnalku. Dan diujung tahun 2024 ini, aku ingin menghapusnya dalam jurnalku. Namun bisakah aku menemukan sosok lain yang akan menggantikan dirinya di jurnalku?
Bulan Bercerita | 30 Desember 2024
Hari ini lelaki baik itu sudah membuka lembaran hidup baru bersama pasangannya.
Ga ada lagi si F dalam jurnalku.
16 Mei 2026
مهما عز طلبك تذكر قُدرة الله.
No matter how difficult your request is, remember the power of Allah.
Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dengan mengharap ridhoMu. Ya Rabb... Jauhkan hamba dari apa yang Engkau murkai.
dan hamba berlindung kepadaMu ya Rabb, dengan segala penjagaan dan pemaafanMu. Tolong jaga hamba dari segala hukuman-hukuman di dunia dan di akhirat.
Jangan pernah berharap kepada manusia, sebab hal-hal baik hanya datang dari Allah bukan dari mereka.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Pelajaran hari ini;
Kenapa manusia lebih malu di hadapan manusia hanya karena sesuatu yang tidak disengaja sedang ia tidak malu di hadapan Allah dengan sengaja berbuat dosa?
Saya adalah perempuan yang jarang bercermin tapi mungkin mulai hari ini saya akan lebih rajin bercermin.
Saya menghadiri pertemuan dengan teman-teman dan tidak menyadari apa yang ada di wajah saya. Orang-orang menatap dan saya menganggap biasa saja, seolah tidak ada yang salah. Pertemuan itu di tempat umum dan berlangsung kurang lebih dua jam lamanya.
Saya meninggalkan pertemuan pertama menuju pertemuan selanjutnya. Dan jreeng, saya baru menyadari ternyata ada noda debu hitam menempel di hidung dan meleber kemana-mana karena usapan tangan. Saya tidak tau pasti, adanya debu itu sejak kapan. Dan parahnya lagi, tidak ada yang menegur. Mungkin menjaga perasaanku atau memang tidak ada yang berani menegur. Qadarullah.
Saya kemudian malu bukan main. Namun, saya juga jadi belajar banyak hal;
Tentang rasa malu, bukankah wajar jika kita malu? Manusiawi
Tentang malu, bukankah lebih memalukan jika dosa kita tampak di wajah?
Tentang debu, bukankah manusia, bahkan tidak seukuran debu jika dilihat dari langit?
Tentang debu, ada manusia yang menyesal kelak tertutup debu hitam karena dosa dan ketakutan karena amalnya membawanya ke dalam neraka
Tentang wajah, bukankah itu hanya hal kecil yang sewaktu-waktu dan pasti akan berubah
Tentang wajah, manusia kelak ada yang tertunduk malu di hadapan Allah karena dosa
Tentang wajah, bagaimana ia akan menghadap kepada Allah?
Tentang wajah, akankah kelak akan tertawa riang karena usaha amalnya di dunia?
Tentang wajah, sudahkah ia lebih sering tunduk kepada Rabbnya?
Tentang wajah, kemana ia selalu dihadapkan selama di dunia?
Tentang wajah, ah kadang lebih sering dijaga di hadapan manusia daripada di hadapan Rabbnya.
Tentang wajah, sudahkah ia senantiasa beramal, meski hanya berwajah sumringah di hadapan saudaranya, atau justru sebaliknya?
Jadi? Masihkah kau malu wahai diri hanya dengan setitik debu? Bagaimana dengan segudang dosamu?
Rabbanaa, ajarkan aku ilmuMu, yang menghidupkan bukan menyesatkan, yang bermanfaat bukan melalaikan, yang menundukkan bukan yang meninggikan. Rabbanaa berilah aku hidayah-Mu.
#sepenggal hikmah hari ini.
“Whoever hides their hardships (from people) while relying on Allah, Allah will resolve their hardship and please them.”
The beauty of nature in Uzbekistan
Uzbekistan is one of the most beautiful countries in Asia
Saat di titik terendah, aku selalu ingat kalimat itu. Bagaimana pun, meskipun aku merasa sangat kecil dan tak berharga, bagi trilyunan sel di dalam tubuhku, aku adalah semesta mereka. Aku adalah kehidupan yang mereka syukuri. Jadi, apapun yang terjadi, bertahan lah!
Berjalan
Kadang kita merasa lelah bukan karena terlalu banyak berjalan, tapi karena kita tidak tahu lagi untuk apa kita berjalan. Mungkin selama ini kita memang berjalan. Bangun, bekerja, tidur, makan dan bangun lagi, melakukan hal yang sama setiap hari, tapi rasanya seperti tidak benar-benar pergi ke mana-mana.
Kaki ini memang bergerak, tapi rasanya tetap diam di tempat yang sama. Itulah yang sedang aku rasakan beberapa hari ini, sampai akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri "sebenarnya aku sedang menuju ke mana?" "apa yang aku usahakan setiap hari?" "untuk apa semua ini?"
Beberapa hari pertanyaan itu terus muncul dalam pikiranku, sampai akhirnya aku teringat dengan ayat ini "Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (Q.S. Al-Hajj ayat 46)
Aku jadi berpikir, mungkin selama ini aku memang berjalan— tapi hanya sebatas melihat, mendengar, menjalankan bukan memahami.
Aku sibuk bergerak, tapi tidak benar-benar memahami. Aku sibuk mengejar hasil, tapi lupa merasakan proses. Aku terlalu sering menilai hidup dari apa yang tampak di luar, dari harta benda, status sosial, hingga pencapian dunia. Astagfirullah.
Dari ayat ini aku sadar. Berjalan tidak selalu tentang seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa dalam kita memahami setiap langkah itu. Mungkin yang perlu kita perbaiki bukan hidup kita dulu, tapi cara hati kita memandang hidup itu sendiri.
Karena bisa jadi, yang membuat semuanya terasa kosong bukan karena hidup ini tidak berarti, tapi karena hati kita belum benar-benar hadir untuk memaknai hidup ini.
jurnal baiq | 30 Maret 2026
Semoga.
Semoga amalan kita tidak berhenti pada takbir yang menggema, atau pada haru yang mengalir di penutup Ramadhan. Semoga ia justru menemukan jalannya untuk terus hidup di sebelas bulan berikutnya—tumbuh perlahan melalui kebiasaan kecil, lewat niat yang terus diperbaiki, dalam langkah tertatih yang berusaha kembali.
Karena sesungguhnya, bulan suci bukan sekedar untuk dimaknai sebagai momen yang dikenang, melebihi dari itu, yaitu sebagai titik pulang—pulang pada diri yang lebih jujur, lebih sadar bahwa ternyata banyak kebaikan yang selama ini kita mampu lakukan, namun belum kita biasakan.
Maka, mari menyambut kemenangan dengan keberanian menjaga nyala itu tetap ada. Tentang tekad untuk tidak kembali menjadi diri yang lalai setelah sempat begitu dekat kepada-Nya.
Semoga Allah memeluk kita selalu dengan kasih sayang-Nya, menuntun langkah kita meski jalan terasa panjang, menguatkan hati yang lemah pun mudah berbalik, dan menerima setiap amalan yang dipersembahkan dengan penuh harap.
Semoga hari Raya menjadi awal -bukan akhir- dari perjalanan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berarti.
تقبل الله منا و منكم 🌙 || 1447 H
Eid Al-Fitr Prayer In Indonesia