Dulu tuh aku cuma temenan sama kaktus doang lho.. tapi aku bahagia. Kenapa sekarang ngga?
Not today Justin

oozey mess
One Nice Bug Per Day

Product Placement

shark vs the universe
Claire Keane
hello vonnie
almost home

pixel skylines
todays bird
Sade Olutola

PR's Tumblrdome
d e v o n

Love Begins
$LAYYYTER
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Kiana Khansmith
i don't do bad sauce passes
No title available
Xuebing Du
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Arab Emirates

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Austria
seen from United States
seen from Iceland
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@nadasilvia
Dulu tuh aku cuma temenan sama kaktus doang lho.. tapi aku bahagia. Kenapa sekarang ngga?
Titik awal setiap orang dan pasangan itu berbeda,
Ada yg baru nikah udh nyampe di poin 10
Ada yg baru nikah baru poin 1
Ada yang mereka berdua sama sama dari 0
Nah kebetulan nih aku sama adit mulainya dari -5 😂
Life is a puzzles.
But idk where am standing at or where should I head at
Setelah kekacauan kemarin, rupanya kepalaku masih pengar, mataku masih sembab, dan tanganku masih gemetar.
Lampu indikator telepon genggamku menunjukkan warna merah, semalaman aku hampir terjaga, jika saja suara pintu kamar sebelahku yang nyaring terbuka tidak menyadarkanku bahwa sudah dini hari, aku mungkin tidak akan sadarkan diri untuk kembali bekerja pagi ini.
Kupikir jika semua ini terjadi pada umurku yang sudah tidak muda ini, rasa sakit itu tidak akan terlalu kentara atau setidaknya aku akan sedikit mati rasa. Nyatanya tidak.
Sudah hampir satu tahun berlalu sejak putusan pengadilan yang menyatakan perpisahan untuk kedua orang tuaku diterbitkan, kemarin-kemarin rasanya sama saja.
Sampai tiba pada suatu hari aku menerima surel dari perusahaan asuransi ibukku bahwa jaminan kesehatannya sudah resmi berhenti, bersamaan dengan itu jantungku pun sepertinya sedikit berdecit hampir berhenti. Ayahku sudah mengeluarkan nama ibu dari kartu keluarga dan menggantinya dengan nama baru, nama yang dibicarakan orang-orang membawa perubahan baik untuknya.
Kenyataan baru yang baru sekarang aku sadari, aku tertampar, kukira hal kemarin hanya mimpi.
Pagi itu, aku mendapati ibu masih tertidur di atas sejadahnya, masih memakai mukena berwarna cream, selepas shalat tahajud biasanya ibu langsung beraktifitas, hari ini ia terlihat lelap dan kelelahan, hatiku semakin tercabik-cabik.
Perempuan yang memakai mukena ini, hatinya terbuat dari tempaan baja, zirah yang tidak bisa dilihat siapapun kecuali anak-anaknya. Sandal jepit jelek yang hampir putus, bagi kami adalah sepatu besi yang kuat mengantarnya ke segala medan. Jari-jari tangan yang kapalan, bagi kami begitu selembut sutera, aku rindu rambutku dibuai, aku rindu menangis karena rabutku tak kunjung rapi dan ibu akan balik merajuk dengan nada tinggi, aku rindu bu.
Aku kembali menutup pintu kamarnya, membiarkannya tertidur beberapa waktu lagi, sebelum ia akan mengeluhkan sakit bahunya karena untuk kesekian kali ia ketiduran di atas lantai sejadah. Bahu yang entah bagaimana bisa bertahan dari beban yang sebegitu besar seumur hidupnya, namun tak pernah ia memutuskan untuk menyerah. Ia bisa saja pergi, menjadi pengecut yang meninggalkan kami, namun.. ia tetap memasang badan pagi-pagi buta, menyiapkan sarapan yang akan berakhir sama dengan layangan piring terbang dan tamparan tidak berkesudahan. Sampai kami anak-anaknya lelah dan membujuknya untuk menyerah saja kali ini.
Hati berliannya sudah hampir retak, zirahnya sudah compang-camping, namun kami masih melihat mahkota kecil tersemat di balik rambutnya yang tipis dan beruban. "Kami sudah tidak sanggup lagi" ujarku dan adikku setahun yang lalu, kami membulatkan tekad, kubawa malaikat kami pergi dari sana.
Hingga pada suatu hari itu, baru aku sadari, ternyata rasanya sesakit itu.
Bler,
Kamu tempat persembunyianku yang terakhir.
Aku berharap tidak ada seorangpun yang menyadari aku kembali kesini
Dari semua tempat di dunia ini, dengan radius 5km (karena terbatas kendaraan)
Aku memilih menginjakan kaki di MCD.
Disini rasanya seperti "rumah", rumah orang lain yang begitu hangat.
Banyak keluarga yang mampir sekadar makan bersama, ini malam minggu rupanya.
Ada seorang ayah yang menenteng belanjaan karena mcd tempat aku berteduh bersebelahan dengan swalayan. Sang ibu menggandeng kedua anak mereka, merencanakan kepergian mereka dengan memesan taksi online.
Ada keluarga yang terlihat saling akrab dan dekat, ayah yang gembul berkemeja putih, dua anak perempuan berhijab yang ayu, dan seorang wanita paruh baya yang begitu keibuan, mereka memasuki mobil yang terparkir di depan sambil bercerita sambil lalu.
Hahahahah
Seumur hidupku, tidak pernah aku merasakan momen seperti itu, apalagi saat aku kecil.
Saat ini, ketika hatiku riuh,
Aku yang melarikan diri ini, berharap pulang.
Pulang dengan diminta.
Namun nyatanya.. tidak ada ucapan apapun di kotak masuk pesanku.
Terdampar di sini.
Sendirian.
Feel worthless.
Feel unwanted.
Setiap kali aku mendapati jalan buntu, pintu yang selalu aku lewati untuk pulang adalam menulis.
Menulis apapun, diam-diam saja.
Bukannya menampilkan kanvas hitam dengan tulisan sekecil biji sawi di beranda sosial media.
Disini, tempat tidak seorangpun menemukanku.
...
Saat ini, tubuhku sedang terduduk di meja kerja berukuran 120cm bersampingan dan berhadapan dengan kawan kerja lainnya,
Rasanya ketika perasaan kalut ini membuncah, ingin aku menguap saja, bernapas pun takut ada yang tahu aku sedang pilu.
Biasanya jika kupikir aku tidak mampu lagi membendung, aku lari ke toilet dan mendekap diri sendiri sembari berdamai dengan bau pesing dan taik.
Tidak ada pilihan lain.
...
Rasanya setelah berbagi hidup dengan orang lain, aku tidak punya lagi tempat dengan diriku sendiri, bahkan pulang dan beristirahat pun, aku merasa ditelanjangi.
Cuma toilet dan pikiranku sendiri saja yang sesekali jadi tempat persinggahan kalau kalau ga sanggup tahan tangis malam malam.
...
Kuputuskan menulis saja, dibanding menunggu kerjaan yang belum juga rampung.
...
Aku rindu diriku,
Aku rindu mementingkan diriku sendiri saja.
Biar kata orang aku egois,
Tapi aku tahu, se sendiri apapun aku, aku masih bertemu diriku.
Tidak sebentar aku sadar, setelah bertemu denganmu, aku kehilangan diriku
Cara Tuhan memang aneh.
Tujuanku sudah di depan mata,
Dia belokkan jalanku sedemikian rupa, sampai kukira aku tersesat, sampai aku lupa mau kemana.
Di akhir cerita, Tuhan tunjukkan yang semestinya.
“Stay single until someone actually complements your life in a way that makes it better not to be single. If not, it’s not worth it.”
— KUSHANDWIZDOM
“My biggest regrets in life are being too damn nice, apologizing when I didn’t do anything wrong, and making unworthy people a priority in my life.”
— LOMASDOPE.COM
Hai sil
Kamu tau ga.
Sampai sekarang kamu belum juga berubah jadi kupi-kupu.
Apa kamu sempat berpikir? Kamu ga pernah berubah jadi cantik, mungkin karena sebenarnya kamu bahkan bukan seekor ulat.
Bagaimana kalau kamu cuma seekor kecebong yang sekarang malah berubah jadi kodok jelek?
Kita berdua hanya dua manusia penuh ego yang selalu mau belajar, berjuang, dan bersama.
Manakala ujian demi ujian datang, kita beradu kepala, menangis dan saling menuduh, namun pada akhirnya kita tahu, kita hanya punya kita. Orang tua akan "pergi", anak akan membesar dan dewasa. Tinggal kita yang menua berdua.
Awal kehidupan bersama, kata orang adalah masa paling berat-beratnya. Masing-masing dari kita tahu, apa yang kita simpan baik-baik ada kalanya tersingkap dan kita pada akhirnya akan saling telanjang bukan?
Kalau "Dunia" se-nyaman itu,
Adam dan hawa tidak akan Tuhan "uji" dengan menurunkannya ke Bumi.
Katanya selepas menikah, pasangan akan berubah.
Iya berubah.
Jadi orang yang lebih baik.
Ternyata menikah sangat menyenangkan.
Bukan berarti kami tidak pernah menemukan kekesalan atau masalah. Masalah datang setiap hari.
Tapi bersamanya, rasa-rasanya aku bisa melewati masalah seberat apapun.
Mencintaimu hari ini tidaklah cukup. Mencintaimu selamanya terlalu mengada-ngada.
Mencintaimu selama sisa waktu hidupku, adalah hal yang tepat.
Dan aku merasa, setiap kali melihatmu, rasanya seperti pertama kali bertemu.
Aku masih sering dag dig dug tidak keruan. Aku masih sering baper dan salting dengan hal hal kecil yang kamu lakukan untukku.
Terima kasih ya, kamu.
Sekarang kamu kupanggil ayah dari anak-anakku.
I have best husband everrrrrr