Respon diri kita terhadap orang lain mencerminkan nilai diri kita sesungguhnya. Seringkali kita merasa tidak terima dengan tanggapan orang lain yang menurut kita negatif, sehingga tumbuh rasa ingin membalas perbuatannya; ingin orang itu segera mendapat balasannya; atau buru-buru memberi label buruk terhadapnya
Padahal rasa tidak nyaman itu justru membuat kita semakin bertumbuh. Mengoreksi pada diri sendiri apa yang salah dan perlu diperbaiki
Ini bukan soal personality saja, melainkan dalam hal berdagang juga demikian; dalam hal desain juga demikian; bahkan dalam hal dakwah sekalipun juga demikian. Atau dalam hal transaksional lainnya, apalagi kalau kita memiliki peran yang berhubungan dengan klien atau konsumen
Ada seseorang yang kukenal dekat, bekerja sebagai desain marketing dalam sebuah perusahaan. Ini pengalaman pertamanya sebagai desainer perusahaan dan seringkali mendapat komentar buruk atasannya
"Lama banget sih desainnya, ini harusnya sebentar aja udah jadi". Atau "Jangan bikin template sendiri, ini norak, harusnya bla bla bla". Atau "Presentasimu itu bertele-tele, langsung aja". Dan semisalnya yang mungkin kata-kata bos nya itu sering jlab jleb jlab jleb
Wajar karena baru pertama kali, ia masih berbaiksangka pada atasannya, "oh iya aku harus belajar lagi, ya mungkin pembawaan beliau memang begitu", dalam hatinya
Selang beberapa waktu, ia menemani atasannya keluar dan sempat berbincang meski tidak seharian. Atasannya itu memberikan banyak insight, mumpung masih muda harus perbanyak belajar dan pengalaman, juga menceritakan pengalaman beliau. Ternyata orangnya asik, tapi kalo urusan kerjaan beliau sedikit keras, karena mungkin begitulah cara beliau mengarahkan orang lain untuk bertumbuh, dan bisa jadi memang beliau terdidik demikian. "Harus dikejar, mungkin 10 tahun kedepan kamu sakit, tapi nanti kamu merasakan hasilnya", kata beliau pada juniornya
Beliau berasal dari kampung dengan keluarganya yang sederhana. Mungkin beliau tumbuh selaras dengan kerasnya hidup, juga ambisinya yang ingin sukses mengejar karir. Tentu, semuanya tidak dengan rasa nyaman, sampai sudah pernah menempati level vice president beberapa perusahaan besar di umur 30-an ini
Sedangkan teman si junior desainer yang lainnya ini saat melihat atasannya sering ketus dan marah, mereka malah menyerang personality atasannya, bukan melihat kesalahan kinerja mereka sendiri. Mereka tidak siap ditekan dengan perubahan kultur perusahaan karena terbiasa dengan zona nyaman. Mereka tidak suka dengan kritikan yang kalau dilihat dari sisi lain, merupakan sebuah lecutan diri untuk lebih bertumbuh lagi
Bertumbuh memang tidak akan pernah nyaman. Sekalipun kita merasa personality kita baik, tentu ada masanya kita dikritik pedas untuk perlu naik level
Semoga rasa tidak nyaman itu selalu bersandar kepada Allah, barangkali itu memang sinyal dari Allah melalui perantara orang lain. Entah apa tujuannya, barangkali kita hanya perlu melihat pada diri. Dan apapun yang terjadi tentu atas izin-Nya, bukan?
Jakarta, 1 Juni 2023 | Pena Imaji