Selamat lebaran,
Jangan lupa, Al Aqsha masih dalam penjajahan
todays bird

⁂
Not today Justin
DEAR READER
Stranger Things
I'd rather be in outer space 🛸
Cosimo Galluzzi
🪼
No title available
Keni

祝日 / Permanent Vacation
hello vonnie

Kiana Khansmith
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
macklin celebrini has autism
he wasn't even looking at me and he found me
Three Goblin Art

shark vs the universe
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

PR's Tumblrdome
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Canada

seen from Palestinian Territories
seen from United States
seen from United States
@nadriana
Selamat lebaran,
Jangan lupa, Al Aqsha masih dalam penjajahan
on Eid: a Reflective Thought
Setelah melalui sekitar 20++ momen Ramadhan dan Idulfitri (the first five definitely are not counted, right?), tahun ini terasa berbeda sekali.
Di beberapa momen sebelumnya, aku hampir selalu punya resolusi-resolusi yang ingin dijalankan. Contohnya, saat memutuskan untuk tetap berkerudung saat SMP, ingin konsisten untuk shalat rawatib--minimal untuk Subuh dan Magrib dulu aja--, mencoba untuk baca Al-Qur'an setiap hari, atau ingin memperpanjang sujud dengan berdoa di setiap shalat.
Untukku, Ramadhan dan Idulfitri jadi pengganti momen Tahun Baru yang biasanya diisi dengan berbagai harapan-harapan baru.
Apa yang membuat tahun ini begitu berbeda?
Salah satunya adalah keinginan untuk memperbaiki. Bukan hanya diri sendiri, tapi juga hubunganku dengan orang lain. Sejujurnya, hal ini jadi salah satu caraku untuk mengobati luka-luka juga sih. Aku pikir, kalau lukanya ingin sembuh, artinya kita harus berani untuk pakai obat, bukan? Jadi, aku memutuskan untuk menyapa lagi luka yang hampir enam bulan aku abaikan.
Unexpectedly, it was so much easy in the beginning. Mengabaikan rasa malu, gengsi, juga ego yang setebal lapisan langit. Bisa aku lalui ternyata. Rasa rindu dengan masa lalu yang menyenangkan juga turut membantu untuk mendorong aku sehingga akhirnya berani untuk mengambil sebuah langkah besar, yaitu meminta maaf.
Alhamdulillaah, Allah beri jalan dengan memberi kemudahan di proses awalnya. Dimulai dari bertanya, mengungkapkan perasaan, mendengarkan, hingga meminta maaf berjalan sangat baik. Terima kasih juga untuk teman favoritku yang sangat considerate dan pengertian selama proses ngobrol itu. Once again, he did proves that he is really a gentle, caring, and wonderful person. Seiring prosesnya, perlahan lukanya mulai membaik karena obatnya sudah mulai meresap ke dalam jaringan. It does sting a little, as the iodine tries to kill the bacteria first.
Memang, tidak serta merta lukanya langsung sembuh. Ada proses di depannya yang tetap harus aku hadapi. Seperti ketika minum obat, terkadang ada efek samping dari bahan-bahan aktif yang terkandung di dalamnya. Salah satunya, respon lingkungan yang benar-benar di luar kuasaku.
Tampaknya, Allah masih ingin lihat bagaimana aku berhadapan dengan ekspektasi dan realita. Bagaimana aku--sebagai manusia--yang selalu punya harapan baru dan akan terus aku perjuangkan. Tapi di satu sisi, aku pun hidup di lingkungan sosial berlapis. Orang yang kukenal, punya orang lain yang dikenalnya. Orang lain pun, pasti punya harapannya sendiri.
Sometimes, things that we have been praying for are exactly what others wish to come true as well. But, sometimes they are not.
Kembali, aku harus belajar untuk bersabar. Mungkin Allah sangat senang ketika aku berkomunikasi dengan-Nya, dengan cara: meminta, menangis, atau sekedar membatin. Sehingga, Allah buat prosesnya sedikit lebih panjang. Karena semua rasa itu Allah yang kasih. Sekarang, ketika lukanya mulai sakit lagi, aku tau bahwa aku tinggal minta saja ke Allah untuk dihilangkan.
Selain itu, Allah juga Maha Lembut, Maha Mendengar, Maha Pemberi Ketenangan, dan tentu saja, Maha Pemberi Kasih Sayang. Jadi, ketika khawatir mulai muncul, you know who you're gonna call.
Evyta,
It's been two years since you left. I know, we were never any way closer than a classmate back in high school. I always see you as the popular student who stood in the top hierarchy amongst everyone in SMA 3 Bandung. Meanwhile, I stayed invisible behind the angklung tubes.
But unexpectedly, we shared some particular moments which created a special bond between us--and we probably haven't told anyone some of the stories until today.
I know, we were the unusual. Since almost everyone in our class went to ITB or UNPAD. We--with Arin, Mpi, Laras, and probably more or less 10 other students from our school--decided to go to UNPAR instead. Whatever the reason it was.
I was very surprised when you asked me to stay over in my house because your parents went to another city. My mom also found you exceptional because of your-not-very-common dietary habit by not eating rice. But, it is very common nowadays, right? Haha!
Anyway, she still happily made a spaghetti for you. And, you also told me where are the spooky corners of my house. (And again, you were right).
Evyta, I am really sorry for not bringing you souvenirs from ESA :( Things were overwhelming during the trip and I was really really clueless about that.
It was completely random. We took Gedebage-St. Hall Angkot because you wanted to go to Pasar Gedebage. Should I keep my reputation as Duta Gedebage again?
I did not quite remember what happened after we graduated from college. But I heard that you got married during the pandemic. I was so glad to hear that. And you are very lucky that he is a good person.
In 2023, I got shocked by the news. Allah must be love you soooo much, He took you first and insyaAllah you came back clean.
I am glad, I had the opportunity to see you twice before you went away.
So, have a good rest up there, Evyta. You are always in our prayers.
Kalau Allah yang Mengatur
Pernah nggak, kamu membuat rencana hidupmu sedemikian rapi selama beberapa tahun ke depan. Tiba-tiba, seketika, semua rencana itu berubah karena ada satu kejadian besar. Entah karena orang tua meninggal, tiba-tiba kamu terdiagnosa sakit kronis, apapun. Dan semua rencanamu itu tak lagi berbentuk karena kini kamu harus menjalani sesuatu yang menurutmu "terpaksa" dibelokkan. Tapi kemudian, seiring berjalannya waktu. Kamu lambat laun menyadari kenapa kamu harus mengalami semua kejadian besar itu. Sesuatu yang tidak pernah kamu rencanakan, harus kamu jalani. Karena kamu lagi ditempa untuk menjalani sesuatu yang lebih besar dan itu jauh lebih baik dari rencana hidup yang kamu miliki. Nah, itulah yang tengah kujalani. Sebagai orang yang well-planning, rasanya pasti pusing sekali saat rencana kita berantakan. Tapi, aku punya narasi komedi untuk diriku sendiri : ternyata hidupku makin berantakan karena aku yang berusaha keras mengaturnya, berharap semua sesuai dengan rencanaku!
Saat ini aku sedang terkesima dengan apa yang Dia rencanakan, meski baru di permulaaan. Aku merasa telah berhasil mengambil beberapa tarikan benang merahnya bahwa selama 5 tahun terakhir, aku memang disiapkan untuk menghadapi hal ini. Meski selama lima tahun terakhir rasanya sangat rollcoaster, pernah ada di fase "makan tabungan", bolak balik rumah sakit, dan lain-lain.
Ternyata aku sedang disiapkan untuk menghadapi sebuah hal besar yang tidak pernah ada dalam imajinasiku, berangan pun tidak. Kalau kemarin aku tidak ditempa dengan segala dinamika di lima tahun, aku nggak akan sanggup mengemban amanah yang sekarang.
Bismillah.
Ini akan jadi perjalanan panjang, semoga bisa menyelesaikan dengan baik. Dan nanti kalau sudah selesai, baru akan kuceritakan. Jika masih dikasih umur panjang :) Buat kamu yang sekarang lagi mengalami fase dinamika yang kayaknya tanpa arah dan ujung. Kunci satu-satunya adalah, jalani sebaik mungkin. Mungkin 5-10 tahun mendatang, kamu baru akan mengetahui kenapa kamu harus melewati hal yang kamu lalui sekarang ini. Memang nggak nyaman, tapi itu worth-it banget :)
Beberapa catatan lama
Belajar buat menghargai diri sendiri, termasuk berhusnudzon sama takdir yang lagi dijalani. Itu bakal bikin kita lebih tenang.
Nggak usah takut jatuh cinta sama orang baik - ya meski kamu ngga berjodoh sama dia. Paling nggak kamu tahu satu hal, karena kamu masih normal dan lurus pikirannya nggak jatuh cinta sama orang yang RED FLAG.
Nggak apa-apa ambil jarak sama orang yang hidupnya ruwet (entah karena masa lalu, trauma, macem-macem), karena kalau dia nggak bisa handle dirinya, kemungkinan besar keruwetannya akan merembet ke hidupmu.
Teman-teman kita yang baik saat ini mungkin nanti akan sibuk sama keluarganya dan nggak punya waktu bersama kayak sekarang, itu normal. Makin dewasa, membangun silaturahmi itu perlu modal, jangan ragu buat sisihkan uangmu untuk menyambung silaturahmi sama orang baik, entah untuk perjalanan atau pun bingkisan. Nggak akan rugi.
Orang tua kita tu pada dasarnya pengin yang terbaik buat kita, cuma masalahnya versi terbaik kita sama versi terbaik yang mereka tahu itu beda banget. Tugas kita membangun jembatannya.
Kalau kamu lagi jatuh cinta, lingkupi diri kamu sama orang-orang baik yang jalan logikanya. Karena orang yang jatuh cinta suka buta buat melihat hal-hal detail.
Jangan iri sama rezeki orang lain. Kalau kamu punya catatan-catatan kecil yang bermakna, boleh di lanjutin :D
Aku sudah gak marah.
Tapi aku lepas semuanya ya.
What should I put on the title?
Did I just waste my two years of time? The guy whom I met back in the 2023, whom I thought to be the right one, whom I put my trust and looked up to, who used to be my go to person, and he is also one of the people who always in my prayers.
Turns out into a whole different person in just one single click.
He's not even cheating. Since we are never really date each other anyway. But it does feel like one, because I feel like he's not being honest with me. The worst part is, it might happen when I started to think that he was becoming more open about his life. He did not hesitate to talk about his life, family, or even his most personal things. And it becomes worse, he did all those things in the name of "do not want to hurt my feeling" while he was actually killing me.
Do you think I'm stupid enough to let that happen? Well, I do think I was completely a fool.
I know he never said if he has a feeling for me. But he listened to all my stories. He also knew exactly how's my feeling towards him. Though there was never a promise between us, but he made me think that he is willing to be there for me.
The last time we met, we held each other's hand while he was telling me not to worry about my life. He told me about everything he had been through and what he want to pursue in his job. And that night, my dim-witted ass really thought that he showed his trust to me.
I might be exaggerating a little bit on here and there. But, knowing all the truth in just two days before my thesis defense, is not something I could ever have imagined.
When he was telling me the truth about he is starting a relationship with another woman, he did ask for my apology. But what should I forgive him? He was indeed do it with a full of awareness. He was in a full state of mind knowing that I might get hurt. But he did it anyway.
I still wish him all the best things in life. I am sure, I will forgive him, eventually. But not today, or tomorrow.
23.24
Am I too old for a heart break? But everything seems falling apart.
It's been a long time since I feel the heat on my chest, something rushing in my throat, but not powerful enough to make the tears slide away.
There was never a promise. Because you already knew that we never become anything.
You should have said no, anyway.
Prague , Czech Republic
Prague (by Maksim)
by Big Dodzy
14 years later
Tulisan ini pertama kali dibuat (berdasarkan data di Tumblr) pada 5 Oktober 2011. Mungkin sekitar 2-3 bulan setelah kelulusan SMA, saat aku berusia 18 tahun.
Kenapa tulisan ini mengendap di draft dan pada akhirnya ga selesai, pun aku sudah ga ingat alasannya kenapa.
Di tanggal segitu, kemungkinan aku sudah punya tujuan jurusan akan kuliah di mana. Karena aku ikut seleksi PMDK di Unpar, sehingga aku sudah punya tempat kuliah sebelum pengumuman kelulusan UN. Yang pasti, aku sama sekali ga pernah kepikiran untuk ambil kuliah di bidang pendidikan.
Tapi, di akhir tulisan, ada plot twist yang sama sekali ga ketebak.
sebenernya saya ga terlalu punya banyak memori dengan pertanyaan ''nanti kalau udah besar mau jadi apa?"
kalaupun ada yang nanya, saya ga pernah jawab dengan 'dokter' atau 'polisi' atau 'presiden', seperti yang orang2 selalu bilang kalau anak kecil ditanya seperti itu.
saya pasti jawabnya dengan gelengan kepala-bocah-polos-gaktauapa2. seriously, karena waktu itu saya memang ga ngerti kalau dunia kerja itu seperti apa dan apa yang orang lakukan saat mereka melakukan kegiatan 'kerja'.
pertama kalinya saya tau saya mau jadi apa adalah ketika saya kelas 4-5 SD, karena waktu itu saya suka main baju-bajuan atau istilah kerennya BP
BP itu ternyata singkatan dari Berbi Pesyen, wanjeeeng oke banget ya namanya :)) eh beneran loh, saya pernah beli BP lagi waktu SMA, dan tukang jualnya emang bilang Berbi Pesyen
selain itu, saya juga suka iseng bikin gambar denah rumah, bukan denah yg suka digambar arsitek loh, yang ada arsirannya, tampak depan, tampak samping, skala dll, tapi denah sederhana yang cuma bermodal buku kotak-kotak, pensil, penghapus, dan penggaris, saya gambar ada kamarnya, kamar mandi, kamar pembantu, tangga, ruang tamu, dapur, bahkan ada carport. karena dua hobi tadi, akhirnya saya jadi punya jawaban kalau ditanya soal cita-cita, saya jawab, 'mau jadi desainer'. alasan lain kenapa saya jawabnya itu adalah kata 'desainer' terdengar cukup keren buat saya. so, what else? haha :p
kenginan buat jadi seorang desainer cukup bertahan lama juga, sampai akhirnya waktu smp saya mulai tertarik dengan profesi 'guru'. saya maunya jadi guru TK atau SD aja
Tulisan ini aku biarkan ga selesai. Karena sudah ga ingat juga akan dilanjutkan apa. Yang pasti, pada akhirnya aku punya jawaban untuk pertanyaan di atas.
Yang lagi dipikirkan
Sebagai freelancer, karyawan, dan bussiner owner sekaligus. Dengan keadaan sosial, politik, dan ekonomi saat ini. Rasanya deg-degan bangettt. Tapi emang udah biasa deg-degan terus sih, karena selama ini memilih jalan hidup ketidakpastian. Cuma, kondisi sekarang itu bikin deg-degannya makin-makin.
Ada beberapa hal yang kadang bikin nggak habis pikir. Seperti tiap bulan kita bayar pajak itu belasan juta lebih dari bisnis, ini masih angka kecil dibanding temanku yang lain yang sekali bayar pajak sebulan bisa dapat alphard sebiji, terus duitnya dihambur-hamburkan buat hal-hal yang tidak berfaedah kayak berita sewa Alphard 25jt sehari kemarin. Dan itu sebenarnya memang uang konsumen (yang PPN 11% - konon mau naik jadi 12%, apa orang makin jadi males belanjaa kalau tiap belanja malah jadi makin mahal harga barangnya) alias teman-teman yang bayar pajaknya ketika beli makanan/produk2 apapun di toko/rumah makan, dsb itu. Belum pajak dari hasil usaha. Nyesek asli. Belum pajak dari royalti buku-buku di Bentang yang harus dilaporin juga tiap SPT, belum pajak penghasilan dari kantor, belum yang lain-lain. Gimana coba orang mau percaya sama alokasi-alokasi uang pajak begitu. Bingung.
Perdagangan lagi lesu, kalau usahamu rame - alhamdulilah. Tapi sebagian besar mengeluhkan daya beli masyarakat yang turun. Dan ini berdampak pada perputaran uang di masyarakat. Tau nggak sih, ekonomi akan seret kalau duitnya ga muter. Sementara para pelaku usaha itu perlu untuk bayar operasional, gaji karyawan, dsb. Hal yang pasti akan terjadi dan sudah terjadi ketika perputaran itu berhenti salah satunya adalah efisiensi, alias pengurangan jumlah tenaga kerja. Dan itu pun terjadi di usaha yang kujalani, mau gimana lagi :( Di berita, pengangguran itu banyak banget. Selain karena dampak dari gelombang pemutusan hubungan kerja yang lagi marak diberitakan. Sebelum terjadi itu, memang banyak. Tapi apakah lowongan pekerjaan itu tidak ada? Ada banget. Cuma aku sendiri bingung karena seringkali lowongan yang dibuka ini, yang daftar bener-bener nggak memahami apa yang didaftar. Nggak riset, nggak sesuai requirement, dsb. Beberapa kali juga terjadi over-qualified, lulusan S2 daftar di bagian X yang sama sekali ga ada hubungannya dgn latar belakang pendidikan dia. Intinya, dia melebihi requirement kita, shg juga tidak diterima. Bingung kan :( Belum lagi, ngomongin biaya pendidikan yang aduhai. Aku sempat survey ke orang-orang yang kukenal terkait pilihan pendidikan anak-anak mereka. Pergeseran dari opsi-opsi sekolah negeri ke swasta itu kerasa banget. Bahkan bapak/ibuku yang dulu guru SD pun bisa memvalidasi kenapa di sekolah negeri, kualitasnya menurun. Dan kerasa banget bedanya sama zamanku dulu SD skitar tahun 1996-2003. Sementara duit pajak yang banyak banget itu, kayak tidak dioptimalkan di sektor pengembangan SDM ini yang justru sangat krusial biar orang-orang literasinya bagus, punya daya nalar yang baik, kritis, dsb. Yang cita-citanya bukan pengen jadi content creator, selebtok, dsb biar cepet dapat duit. Sementara yang ingin menjadi profesional dan ahli, malah jarang. Sekolah kayak malah makin sulit dengan mahalnya UKT, dsb. Bingung ga sihhh... Kami yang terbiasa hidup dalam "ketidakpastian" dan udah biasa deg-degan tiap bulan, kayaknya nggak pernah sedeg-degan ini. Oh ya, terakhir pas COVID 2020 kemarin kayaknya. Tapi pada waktu itu, kondisi sosial masyarakatnya bersatu padu saling bantu. Sekarang, kondisinya berbeda.
Buat teman-teman yang mungkin tidak terbiasa dengan ketidakpastian, mungkin ini salah satu momen yang amat menegangkan. Tapi sungguh, jangan pernah berputus asa. Jangan!
Everything you prayed for either will happen or something more good will come your way. إن شاء الله
Do you think we’re gonna make it?
kenyataannya memang begitu sayang. Allaah menyayangimu menurut caraNya yang mungkin tidak akan pernah bisa kau pahami mengapa demikian mengapa tidak begitu saja menurut pengetahuanmu yang serba terbatas itu. Allaah menyayangimu dengan begitu luas sampai-sampai tidak akan pernah bisa kau mengerti mengapa bisa sedalam itu. lalu kamu menangis sebab merasa begitu takjub mengapa Allaah sebaik itu kepadamu..
Jatuh cinta tidak seperti di film-film
Ketika kamu jatuh cinta, semua akan berjalan biasa-biasa saja.
Tidak ada musik mengalun di setiap langkahmu. Tidak ada angin yang bertiup di rambutmu. Tidak ada adegan slow motion, meskipun dadamu bergemuruh saat melihat pria yang kau kagumi sukai itu.
Kamu mungkin akan mematung saat melihatnya turun dari tangga di depan gedung kantornya. Atau mencuri beberapa detik untuk mengagumi potongan rambutnya yang baru. Kamu akan menarik nafas dalam-dalam, berharap bisa menyimpan wangi parfumnya di dalam ingatan.
Setiap gerakannya kamu perhatikan. Dia terlihat tampan saat bercerita tentang hidupnya sambil mengunyah makanan. Bahkan saat mulutnya belepotan karena sambal ayam pedas. Cerita tentang penjual ayam goreng kesukaannya pun terdengar sangat menarik untukmu.
Begitulah saat jatuh cinta, walau kamu bukan pemeran dalam film.
Pun ketika kamu patah hati.
Tidak ada penonton yang ikut merasakan hancurnya hatimu. Tidak ada musik bernada minor dan hujan yang tiba-tiba turun. Kamu mungkin akan kesal, marah, dan menangis. Tapi kamu akan melaluinya sendirian.
Pria yang kau kagumi itu tidak akan sadar dengan perasaanmu. Hidupnya terus berjalan. Sedangkan kamu harus berkutat dengan segala kekhawatiran.
Setiap hari mencoba mencari tentang kabarnya. Menatap kosong pesan-pesanmu yang tidak ia balas. Rasanya sedih, apalagi ketika harus disimpan rapat-rapat. Karena percuma juga diceritakan pada orang.
Kamu menunggu seseorang berkata, “Cut!”. Tapi suara itu tidak pernah datang. Mau seberapa beratnya bangun pagi saat patah hati, hidup akan terus mendesakmu dengan tantangan baru. Orang juga tidak akan peduli. Tidak ada pengecualian bagi orang yang sedang patah hati.
Karena kamu bukan pemeran dalam film.