Ada-ada saja ya, kalau memutarbalikkan lagi segala sesuatu yang berubah di setiap zaman tetapi yang namanya perasaan ya sepertinya tetap begitu-begitu saja.
Centang dua biru, barangkali hanyalah fenomena yang dialami oleh kita yang menjalani hidup di rentang dekade pertama di awal milenium kedua ini. Tentu saja ini soal aplikasi apa yang kita pakai, dan kita tahu persis namanya apa. Tapi, barangkali sepuluh-dua puluh tahun ke depan, anak cucu kita takkan tahu ini apa. Entah teknologi apalagi yang akan mereka gunakan, meninggalkan cerita ini menjadi tidak relevan karena mereka sudah jauh lebih canggih yang barangkali dari sekarang tak dapat kita bayangkan.
Juga, tampaknya perkembangan itu mestinya dicatat. Hanya kita-kita sajalah yang tahu apa itu terminologi DM, mention, stories, atau bahkan istilah ‘is typing….’. Jangan tertawa, karena berbilang tahun lagi mungkin semua ini akan punah termakan zaman. Sama seperti kita kebingungan ketika membaca roman lama yang menyajikan teater bisu mengenai dua insan yang saling membalas surat, yang bisa sampai uring-uringan dalam sekian lama menunggu kedatangannya. Bila surat itu sampai maka cara pertama yang dilakukan adalah mencium wangi amplopnya, sembari membaca tulisan dari yang terkasih itu lamat-lamat. Coba reka ulang lagi, ada berapa lagu klasik yang menyangkut-pautkan romansa dengan kata surat, materai, bahkan tukang pos? Banyak sekali. Mungkin bagi kita, itu hanyalah peninggalan zaman.
Tapi, kembali kuulang. Ada yang tetap sama. Perasaan.
Kalau dulu di zaman ayah-ibu kita bersua sapa dengan surat, maka kita bersua sapa dengan si dia dengan pesan Whatsapp atau Instagram, misalnya. Pada dasarnya, perasaan tetap perasaan. Menyapa yang terkasih dengan menuliskan menggunakan pena di lembaran putih kertas yang kadang bikin tergagu dan salah kalimat hingga akhirnya diremas-remas dan dibuang itu, sama saja, dengan menyapa yang terkasih dengan mengetikkan kalimat di keypad yang statusnya sedang online dengan pertanda ‘is typing….’ Sial, kadang bilang kata “hai” saja butuh lima-sepuluh menit dengan berulang-ulang menekan tombol backspace.
Kau tahu, perasaan itu tetap sama, kan? Bayangkan, ketika kau kangen dengan seseorang di masa lalu lalu berkutat dengan majas-majas puitis yang mampu membuat isi pikiranmu jadi keriting karena kesulitan menarikannya di lembaran kertas, toh sama saja, dengan mengetikkan pesan singkat dengan pemilihan kata ‘hei, aku kangen kamu’ yang tampaknya terlalu ofensif sekaligus kikuk sehingga menggantinya dengan kalimat bersayap seperti ‘hei, apa kabar?’. Teknologi tak pernah bisa menerjemahkan perasaan, sebab fungsinya hanya menyampaikan. Teknologi secanggih apapun takkan bisa mengartikan maksud ‘bertanya kabar’ itu sebenarnya condong ke maksud ‘rasa kangen’. Hei, jangan menyindirku. Kita sama-sama tahu, kan?
Seperti hari ini, ketika aku mengirimkan sebuah pesan singkat. Sebagaimana isi pikiran dalam kepalaku ingin jujur, tetapi peruntunganku tak mujur.
Lalu, kurasakan dalam hitungan menit, dadaku rasanya hancur lebur. Hanya kau balas dengan diam yang ditandai hanya dengan centang dua biru. Sial, rasanya ibarat seperti menunggu pesan dari tukang pos yang bertahun-tahun tak kunjung datang. Kalaulah dulu, pesan perantara perasaan yang tak sampai itu sebabnya karena hilang atau tersangkut di brankas surat pos, maka kali ini pesan perantara perasaan yang tak sampai itu tersangkut dalam bahasa pemrograman berupa teknologi enkripsi.
Demi Tuhan, rasa patah hatinya sama saja.