Jalan yang begitu panjang dan melelahkan..
Seorang anak laki-laki yang kini berusia 10 tahun. Ibunya memberikanku sebuah nasihat yang mungkin menjadi penguat setelah keguguran kandunganku yang kedua.
"aku dan suami menjalani kehidupan rumah tangga 11 tahun lamanya. Dalam masa yang panjang itu telah banyak ikhtiar yang kami lakukan untuk memiliki anak. Berbagai macam program bahkan inseminasi sudah kami jalani kala itu. Dan solusi terkakhirnya adalah *bayi tabung*. Waktu itu suami bilang, "kalau bayi tabung bisa-bisa terjual 10/11 rumah dek." Sambil bercanda. Suamiku memang orang yang sangat humoris, segala upaya ia lakukan agar aku tetap bahagia bersamanya.
Lalu kami berdua bersepakat untuk pasrah atas ketetapan takdir Allaah. Kalau dikasih Alhamdulillaah, kalau enggak Insya Allaah jadi ladang pahala untuk kami berdua.
Dan setelah dititik pasrah tahun ke 11 itu, aku hamil. Tanpa menjalani promil apapun. Bener-bener menjalaninya dengan alami saja. Aku masih ingat raut kebahagiaan suamiku, ketika tahu aku hamil. Dia jaga aku untuk tidak melakukan aktivitas apapun yang memberatkanku termasuk bersih-bersih rumah dan memasak. Dia sibuk bertanya kesana kemari tentang bagaimana agar ibu dan bayi tetap sehat selama kehamilan hingga persalinan nanti.
Sampailah hari persalinan itu tiba, seperti yang kau tahu. Aku meminta tolong ibumu untuk menemaniku diruang bersalin. Sebab suamiku memiliki trauma tentang proses persalinan. Saudara kandungnya pernah meninggal ketika melahirkan. Itu yang membuat suamiku takut untuk menemaniku.
Saat tahu anak pertama kali lahir seorang laki-laki bahagia sekali dia. Anak pertamaku tumbuh dengan paras yang tampan dan kulit yang bersih. Tidak seperti bapaknya. Banyak orang mengatakan kalau anaknya ini lebih cocok sebagai majikannya dibandingkan dengan anaknya. Sebab kontras sekali dengan bapaknya.
Umur tiga bulan, saat sedang difase senang-senangnya menjadi orangtua, merawat bayi pada umumnya. Allaah uji suamiku dengan sakit. Tidak sampai sebulan penyakit itu menggerogotinya. Dua hari sebelum meninggal, aku mengatakan bahwa ia harus bertahan dan bertekad untuk sembuh. Karena anaknya sedang lucu-lucunya saat itu seperti yang ia inginkan dulu. Namun dia sudah tidak meresponku, bahkan tak berselera untuk sekadar melihat anaknya. Dua hari setelah itu Allaah memanggilnya. Suamiku meninggal.
11 tahun lamanya ia menunggu waktu untuk memiliki anak. Setelah waktu itu tiba, ia pergi meninggalkanku dan anak yang sudah lama ia tunggu. Anakku tak pernah tahu seperti apa bapaknya. Yang membuatku miris, dia selalu dikatakan yatim, yatim, dan yatim. Yang membuatnya seringkali dijauhi oleh teman-temannya. Kalau sudah begitu, dia selalu pulang dengan menangis. Minta agar mempunyai bapak untuknya.
Sampai saat ini usianya sudah 10 tahun, ketika sedih dan sakit dia selalu melihat foto bapaknya. Meminta kepada Allaah agar kelak ia dipertemukan dengan bapaknya.
Aku tidak pernah bertanya mengapa ujian yang datang silih berganti kepadaku begitu menyakitkan. Aku menikah sebulan setelah kehilangan bapakku. Aku memiliki anak dua bulan kemudian aku kehilangan suamiku. Aku hanya minta kepada Allaah untuk selalu Ridha dan diberi kekuatan atas apapun ujian nantinya.
Allaah tahu kapan waktu terbaik untuk kita. Mungkin menyakitkan kala menjalaninya, tapi akan ada banyak hikmah yang bisa kita petik sekalipun pahit. Ketika sudah dititik pasrah, Allaah akan hadirkan sesuatu yang mungkin sudah lama kita butuhkan dan minta dengan sungguh-sungguh. Maka jaga selagi ada, nikmati setiap prosesnya dan tetap baik sangka kepada Allaah atas apapun itu."
Untukmu, wahai diriku utamanya..
Jangan merasa paling menderita dan sengsara, ia yang tampak selalu kuat dan tanpa beban sebenarnya sama denganmu. Bukan ia tak pernah di beri ujian oleh Allah, bisa saja ujian yang ia sembunyikan lebih berat dari punyamu, hanya saja ia ridho dan tetap berusaha untuk bersabar dengan apa yang menimpanya. ia pandai dalam mengimani takdirNya secara penuh, dan mungkin kita hanya pandai mengeluh saja, kita sama menghadapi ujian yg masing-masing Allah beri. Jadi, jangan merasa bahwa kamu yang paling susah, paling menderita yaa, tetap berdoa dan semangaat menjalani kehidupan ini. Ketika semua orang meninggalkanmu bahkan orang yang paling kau cintai sekalipun. Allaah selalu ada untukmu. Allaah ada lebih dari apapun.