Katanya, Nanti Akan Ada Masanya
Saat aku masih menikmati masa lajangku, berada dalam penantian tentang seseorang yang akan hadir menemani perjalanan, aku diminta untuk tak tergesa. Santai saja, nanti akan ada masanya kamu justru merindukan momen di masa sendiri ini. Bebas dengan segala aktivitas dan produktivitas. Aku mengiyakan. Tentu, pasti akan ada masanya.
Saat aku akhirnya menikah selepas wisuda, hatiku membuncah dan lega. Aku sudah menemukannya. Orangtuaku sudah bebas tanggung jawab terhadapku. Namun sebentar saja, sebelum aku dihadapi realita selanjutnya: mau bekerja atau di rumah saja? Ah, pilihan yang jatuh pada tawaran pekerjaan saat itu menghampiriku. Katanya, nanti akan ada masanya, bekerja tidak akan sebebas ini jika sudah ada anak. Aku mengiyakan. Dan benar saja, pada bulan ke-6 bekerja, aku dikaruniai kehamilan dan akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaanku.
Transisi peran ini cukup membuatku terombang-ambing. Aku masih mengambil tawaran pekerjaan freelance pada saat itu. Aku dan suami juga memutuskan untuk memulai babak kehidupan sendiri--berpindah ke rumah kontrakan. Tapi tetap saja, tidak cukup untuk membuat diriku merasa utuh. Sampai akhirnya, aku melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan sempurna. Bagai baru bertemu setelah sekian lama, aku kebingungan, ada perasaan bahwa aku amat menyayangi makhluk kecil ini. Namun di satu sisi, ada bagian lain dalam diriku yang mempertanyakan, "Apakah aku sesayang itu padanya? Bagaimana jika aku tidak menjadi orangtua yang baik? Bagaimana jika..." disertai sederet pertanyaan lainnya. Lagi-lagi, aku percaya, nanti akan ada masanya, kamu merindukan anakmu tetap menjadi bayi mungil seperti ini. Mereka tumbuh dengan pesat dari waktu ke waktu. Ah, begitulah awal mula aku menjalani hari-hari dengan "biasa saja" dalam peran bernama ibu.
Benar saja, anak sulungku tumbuh dengan pesat. Dua tahun berlalu, kemudian aku melahirkan anak kedua. Tidak ada yang jauh berbeda. Ah, ya. Saat itu aku juga sedang merintis bisnis daring mainan edukatif anak. Saat anak keduaku lahir, aku tidak sanggup melanjutkannya. Jadilah bisnis ini vakum hingga setahun lamanya. Sempat aktif kembali saat pandemi, namun karena manajemenku yang kurang baik, belum juga aku berhasil fokus pada bisnis ini. It's okay, nanti akan ada masanya, anak-anak tumbuh besar, kamu bisa fokus pada apa yang ingin kamu lakukan. Untuk kesekian kali, aku menyerah pada mimpi. Tidak mengupayakannya dengan baik. Tidak memiliki supporting group yang memadai untuk memahami apa yang sedang kualami pada fase ini.
Kemudian, selama pandemi, pekerjaan suami juga sangat terdampak. Kami sempat berjualan masker, disinfektan, dan hand sanitizer. Awalnya hanya untuk menyambung hidup, namun alhamdulillah, setelah berjualan tiga bulan, omzet kami sudah mencapai tiga digit. Hasil keuntungan berjualan itu kemudian kami gunakan untuk berbisnis kembali, yaitu di bidang peternakan. Ya, suami memang memiliki hobi dan merasa terpanggil untuk serius di bidang peternakan. Jadilah kami berhijrah dari ibukota menuju sebuah "desa" di perbatasan Depok-Bogor.
Namun, belum selesai masa adaptasi, Allah memberiku hadiah berupa kehamilan anak ketiga. Qadarullah, kehamilan ini gugur pada jelang bulan keempat akibat pendarahan tiba-tiba yang membuatku hampir kehilangan nyawa. Alhamdulillah wa innalillaah. Pulang dari rumah sakit, kukira semua akan baik-baik saja. Memang awalnya demikian. Namun selang sebulan dua bulan sejak kejadian itu, aku memiliki ketakutan yang tidak bisa kujelaskan. Mulailah gejolak emosi yang tidak tervalidasi. Amarah kian meledak-ledak. Yang terburuk, aku kerap memikirkan untuk menyakiti diriku sendiri di dalam kegelapan.
Aku takut dihakimi bahwa aku adalah ibu yang buruk, bahwa aku manusia yang "lemah iman" karena emosiku ini. Namun, aku memberanikan diri untuk terbuka menceritakan semua kepada suamiku. Ia pula yang akhirnya menenangkanku dan menawarkan solusi untuk dijalankan bersama. Pada titik terendah ini, aku menyadari, bahwa Allah begitu Mahabaik dengan mengirimkan sosoknya menjadi imam sekaligus teman hidupku.
Alhamdulillah. Gejolak dan berbagai energi negatif perlahan menghilang dengan upaya kami bersama. Aku mulai bangkit dengan menulis journaling. Aku mulai kembali berani merancang mimpi, rencana ke depan, dan apa yang ingin kulakukan. Suami memfasilitasi dengan laptop dan juga biaya kelas daring yang ingin kuikuti. Aku mulai ikut dalam kelas Kaizen Writing yang diadakan oleh penulis panutanku, Dee Lestari. Setelahnya, aku memberanikan diri bergabung menjadi pengurus dalam sebuah komunitas pemberdayaan ibu yang digagas oleh ibu awardee LPDP. Peranku memang tidak seberapa, kontribusiku juga masih jauh dari sempurna, namun setidaknya, aku tidak berada dalam titik yang sama dengan hari-hari kemarin.
Small progress is still progress.
Hari ini, aku mulai mengenal diriku lebih jauh. Bahwa hidup dan mimpiku tidak akan berhenti meski peran kian bertambah. Bahkan, dengan peranku kini sebagai ibu, menjadi motivasi terbesarku untuk tidak boleh berhenti mengakselerasi diri. Anak-anakku harus tahu, bahwa ibunya masih tetap berjuang untuk mimpinya, untuk hal-hal baru yang ingin dipelajarinya. Tangan ini memang hanya dua, terlihat sama dengan jumlah anak-anakku saat ini. Namun dengan dukungan dari keluarga--khususnya suami--segalanya menjadi mungkin.
------
Sekian celoteh malam karena tadi sore sudah ketiduran dengan begitu lelap.
-------
Rumah, Juni 2022




















