Alpha
Cerita berawal dari saat diriku SMP. Saat itu aku, Zaklan Syukur, merupakan siswa kelas 8 B SMP Negeri 7 di bilangan Telanaipura, Jambi. Bisa dibilang aku adalah orang yang biasa saja, dibilang cupu tapi teman banyak, di bilang keren namun badan bulat tak menarik. Jadilah diriku duduk di ruang kelas, menunggu sanggar belajar dimulai. Suasana kelas itu agak gelap, mengingat lebatnya pohon di depan maupun belakang ruang kelas. Ditambah cat warna kuning merah muda khas SMP, yang mana di dindingnya penuh foto pahlawan, maket jadwal piket, struktur kelas, foto Presiden dan hal lainnya khas kelas di SMP. Sungguh nostalgia. Sambil menunggu, aku melihat ke luar kelas. Terlihat beberapa orang bermain gitar sambil duduk-duduk di Taman sekolah, ada yang bermain basket, tepatnya latihan shooting bergiliran, padahal itu siang bolong. Dan ada yang hanya berdiri di depan kelas sambil bercerita mengenai permainan CS tadi mereka mainkan, berdebat tentang mana lebih bagus Bullpup atau M4A1. Aku memandangi mereka dengan berpikir “membosankan sekali sekolah ini”. Lalu tiba-tiba Udin menghampiri anak-anak di depan kelas. Aku yang penasaran melangkah keluar kelas dan menghampiri mereka juga. “Eh, nanti bakal ado tes buat Olimpiade sains loh!” Udin berkata dengan terengos-engos kecapekan. “Terus ngapolah?” Ujar Reza, salah satu anak kelas. “Kan Kito hari pahlawan disuruh nyanyi di kantor gubernur, nah tes tahap duanya pas 9 November, makonyo yang ikut tes dak apo dak ikut upacara” Iya sih ya, enak kalo kayak gitu. Memang kau nak ngambek apo?” Kata Karim, sambil ngemil gorengan yang dibeli di belakang sekolah. “Aku paling ikut matematika, kan aku hebat matematika” celetuk Safri “Alah, kau bae MTK remed tiga kali,” lalu teman-teman tertawa “Memang bidangnya apo bae din?” Tanyaku “ini lan, MTK, fisika, biologi, astronomi. Emang kau nak ikut?” “Ntahlah, tapi aku dk biso MTK, paling astro bae. Modal baco Doraemon” “Emang ado Doraemon belajar astronomi?” “Idak tau juga sih aku. Hahaha” tawaku garing. Kemudian aku dijitak Udin. Tak lama guru kami masuk ke kelas, dan sanggar belajar Biologi dimulai. Sampai dirumah, aku langsung berbaring di kasur. “Karena ga ada kerjaan, mending aku ikut ajalah astro” pikirku. Kemudian aku ke kamar mama buat nonton Animax, kebetulan yang tayang Air Gear. Hari Sabtu diadakan tes Olimpiade, dan aku ikut bidang Astronomi. Yang ikut agak banyak, seperti Immanudi terlihat membaca buku yang bahkan tebalnya mengalahkan buku biologi kelas 8 punyaku yang merupakan buku tertebal. Lalu ada Ina, anak yang terkenal pintar dan masuk kelas 8 F atau kelas unggul. Akupun pasrah saja melihatnya, berharap semoga aku yang lolos. Tes dimulai, dan waktunya sekitar 60 menit. Aku mengerjakan soal logika tersebut menggunakan kemampuan “mengarang bebas”-ku yang terkenal cukup ampuh, bagiku. Terus menulis tanpa sadar keadaan kelas 8 B bagaimana, apakah di luar hujan, yang eskul masih ada atau Warung sate uda sudah tutup atau belum. Waktu habis, aku kumpul soal tersebut dan keluar kelas. Terlihat beberapa teman membahas soal yang mereka kerjakan tadi. “Wah lumayan banyak yang masuk tadi yang aku pelajari. Luluslah ini”. Kata Immanudi dengan nada agak sombong. Aku pun berlalu keluar ke arah pagar, sambil menunggu pagar dibuka. Berharap semoga lulus, dan ada yang bisa aku banggakan kepada orang tuaku. Seminggu kemudian hasil tes keluar. Dan saat itu yang namanya disebut dapat mengikuti tes tahap dua tanggal 9 November. Dan secara ajaib aku lulus, dengan nilai 60! Nilai yang paling tinggi adalah 70, milik ketua OSIS kami, Ike. Beberapa nama yang kukenal lolos seperti yaris di Matematika, Adi di biologi dan Odin di Astronomi. Kami sendiri berasal dari kelas reguler. Dan Selebrasi yang kulakukan adalah angkat telunjuk keatas sambil goyang dombret. Hahaha tentu saja tidak. Yah, Immanudi tidak lulus di tes, terlihat wajah agak kecewa dan terkejut sembari bertanya padaku “kok kau biso lolos.” “Ntahlah, mungkin intuisi aku bagus.” “padahal kau dak tau apo-apo tapi biso lolos” “Yosudah, diamlah kau” kataku sembari pergi. Akupun pulang dengan riang, bangga karena diriku bisa juga berprestasi. Tes kedua dimulai, aku bertemu teman-teman dari kelas Unggul seperti Fadhan, Alan dan Fauzi. Tentu kami berempat terlihat seperti orang linglung di tes tersebut. Tapi daripada kosong, ya aku mengerjakan dengan seadanya. Tes selesai, Kami hanya tertawa sambil bertanya-tanya “kau isi berapo tadi?” Akhirnya aku berpisah dengan mereka, karena ada kelas lanjutan buat mereka, dan aku ada les bahasa Inggris saat itu. Terus apa apa asiknya cerita tadi? Itu tadi adalah pengenalan. Cerita awal dari hal yang akan mengubah hidupku drastis. Dimana aku bertemu hal spesial. Hingga sekarang.









