It's my 4 year anniversary on Tumblr 🥳
we're not kids anymore.

Andulka
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Product Placement
Xuebing Du
Lint Roller? I Barely Know Her

⁂
Today's Document
Game of Thrones Daily
Peter Solarz
tumblr dot com
🪼

祝日 / Permanent Vacation
noise dept.

#extradirty
NASA
KIROKAZE
TVSTRANGERTHINGS
Not today Justin
Stranger Things

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Taiwan
seen from Russia

seen from New Zealand
seen from India
seen from Russia

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Vietnam

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Taiwan
seen from United States
seen from Chile
seen from T1
seen from Malaysia
@nindische
It's my 4 year anniversary on Tumblr 🥳
Serial Tadzkirah - Integritas Seorang Da'i
Pernahkah suatu kali, karena ucapan kita seseorang tersadar? Atau mungkin karena tulisan kita, seseorang merenung? Atau juga karena tindakan kita, orang lain bermuhasabah?
MasyaAllah, betapa luar biasa ketika kita bisa menyentuh hati orang lain. Terkadang, "tamparan" kecil dari kita dapat menggerakkan mereka untuk berbenah.
Namun pertanyaannya, bagaimana dengan diri kita sendiri? Kadang kita terjebak dalam keinginan ingin mengoreksi orang lain, tetapi sulit menerima koreksi. Ucapan, tulisan, atau perbuatan kita yang menginspirasi orang lain, justru kerap kita abaikan sendiri.
Ini berbahaya!
Allah sangat membenci sikap seperti ini, sebagaimana dalam firman-Nya pada Q.S. Ash-Shaff: 2-3:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Integritas itu adalah soal keselarasan antara ucapan/tulisan dengan tindakan kita. Ini berarti seseorang da'i yang memiliki integritas tidak hanya menginspirasi orang lain dengan kata-kata atau nasihatnya, tetapi juga menuntut untuk menjalani kehidupan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ia bagikan. Tanpa keselarasan ini, kepercayaan akan luntur, dan pesan yang disampaikan akan kehilangan kekuatan.
Teringat kisah Ibnu Umar, yang tidak hanya membaca Al-Qur'an dengan penuh perhatian, tetapi dia juga tidak akan berpindah ke ayat atau surah berikutnya sampai ia memahami dan mengamalkan, lalu setelahnya menyampaikan ajaran dari ayat yang telah dibacanya.
Ayat tersebut bukan bermaksud tentu bukan untuk menakut-nakuti kita, melainkan sebagai pengingat bahwa ketika kita berikhtiar dalam mengajak kebaikan kepada orang lain, perlu juga kita perhatikan bagaimana penerapannya dalam kehidupan kita sendiri.
Ini menjadi pengingat kita bahwa teladan adalah bagian penting dari dakwah. Perkataan yang selaras dengan perbuatan memiliki kekuatan lebih besar. Dengan begitu, ajakan kebaikan bukan hanya kata-kata, tapi menjadi tindakan nyata yang dapat ditiru orang lain.
Semoga kita terhindar dari sikap ini dan semoga apa yang kita ucapkan, tuliskan, dan lakukan jauh dari dorongan untuk hanya sekedar mendapat pujian dari orang lain.
"Kami akan membiarkan mereka dalam keburukan dari jalan yang tak mereka ketahui." (Al-Haqqah : 44)
Waspadalah jika engkau mendapati kemudahan dalam berbuat maksiat, jangan sampai menerjangnya! Itu adalah ujian. Allah menguji hamba-Nya dengan dimudahkan berbuat maksiat, mana yang mau sabar, mana yang terjerumus.
— Ibnu Utsaimin Rahimahullah
Respect sama orang yang mental healthnya berantakan tapi tetap hidup semestinya, ga milih ngerusak diri, ga salah pergaulan, selalu self improvement dan tetap perjuangin masa depan, kamu hebat! cuma orang pilihan yang mampu seperti itu.
believe your life will change. trust me -sajak.moodbooster
“Jika hatimu percaya akan sesuatu yang pasti datang. Maka, seharusnya tidak perlu resah. Lalu, apa yang membuatmu tetap bertahan kalau bukan karena percaya, bahwa hal-hal baik ada pada waktu-waktunya.”
— @quotezie
"Barangkali rasa khawatirmu terhadap kehidupan dan masa depan, adalah cara Allah untuk menjagamu agar tetap taat"
Alhamdulillah. Jalani, nikmati sambil terus disyukuri :)
Justru jika doamu belum terkabul, itu berarti kamu hidup dalam takdir terbaik-Nya.
Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ‘kan?
Yang hilang kan arahnya, bukan kamu :)
“Perasaan hilang arah adalah saat kamu merasa bingung, bukan?” Ini sebuah pertanyaan sekaligua pernyataan.
Aku tersentuh mendapati pesan cintaNya yang tersirat dalam Q.S Luqman ayat 31, yang juga mengajarkanku, bahwa kita sebagai manusia diibaratkan kapal yang sedang berlayar dalam lautan kehidupan.
Allah berfirman bahwa kapal yang berlayar di laut adalah salah satu dari banyak nikmat yang diberikan-Nya kepada manusia. Tanpa izin dan kekuasaan-Nya, kapal tidak akan bisa berlayar dengan aman.
Kita sering berpikir bahwa arah angin yang mengarahkan kapal, namun sejatinya, Allah-lah yang mengarahkan kapal tersebut.
Jadi, tidak apa jika merasa hilang arah; yang penting, kamu tidak kehilangan diri sendiri. Karena identitas dan nilai seseorang tetap utuh, meskipun kita mungkin merasa tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh.
Jika dirasa ombak terlalu kencang dan membuatmu kehilangan arah, tenanglah, nikmati pemandangan lautan yang luas itu. Sebab Allah tak memberi kita sisa-sisa rahmatNya.
If Allah want it to be, it will be.
Ruang semesta, 16624.
Jangan mempersulit jalanmu menggapai impian dengan bermaksiat kepada Allah
Karena bagaimanapun, Ia yang menggenggam mimpi dan harapanmu
Allah membawamu hingga ke titik saat ini bukan tanpa maksud dan tujuan
Barangkali masih panjang perjalanan untuk kamu bisa mengetahui apa yang menjadi maksud-Nya
Barangkali masih banyak yang perlu kamu upayakan untuk kamu bisa mengetahui keindahan hasil yang dijanjikan-Nya
Jikapun tidak di dunia, di akhirat nanti
Amanah dan tanggungjawab itu bak dua sisi koin yang saling berkelindan. Keduanya memiliki kesamaan bahwa tidak dapat diukur di awal maupun pertengahan. Mereka hanya dapat diukur di akhir.
Maka, jika hari ini kamu merasa kurang atau belum optimal akan hal itu, sedangkan kamu masih memiliki kesempatan, maka tidak ada satupun yang berhak menilaimu buruk akan perkara itu, bahkan termasuk dirimu sendiri.
Teringat bagaimana dulu berupaya untuk memahami diri sendiri. Dan ternyata, itu tidak mudah; banyak dinamikanya. Sampai sekarang pun masih bertanya-tanya, "Apa yang aku mau? Aku suka? Apa yang harus aku prioritaskan? Apa yang harus aku dahulukan?"
Pencarian makna hidup akan terus dilakukan; seumur hidup. Dan sangat mungkin tidak akan pernah selesai, kecuali mati. Oleh sebab itu, aku mulai terpicu lagi untuk rutin menulis. Tidak hanya menulis prosa ataupu karya fiksi, melainkan menulis nonfiksi seperti journaling. Sungguh, memang kita perlu sering-sering menguraikan benang kusut yang ada di pikiran dan hati. Jika tidak, khawatirnya menjadi emosi yang menumpuk; bisa meledak kapan saja.
Aku menyadari bahwa menulis adalah teman terbaik. Menulis apapun itu. Yang semula kegiatan menulis sekadar kebutuhan transaksional, sekarang menulis menjadi kebutuhan jiwa. Agar jiwa dalam diri dapat tetap sehat dan waras. Agar tahu apa-apa yang memang perlu dipikirkan secara serius, dan mana yang tidak atau ditunda.
Ah, rasanya ingin sekali menulis buku. Ini mimpi sejak aku di bangku biru-putih. Aku sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, dan aku ingin mewujudkan kecintaanku ini dalam sebuah karya buku. Entah kapan akan terwujud. Mungkinkah di tahun ini? We'll see.
04 Februari 2024, pukul 13.59 WIB - Sedang memanifestasikan mimpi-mimpi baik dalam karya tulis. Semoga tahun ini bisa punya buku sendiri, dipajang, dan dijual di toko-toko buku. Aamiin. Mohon bantu doa, ya?
Ternyata benar, kalau salatnya berantakan, dunianya akan lebih tak beraturan 😔
Kamu tak perlu menurunkan standarmu agar ada satu orang yang mendekat kepadamu.
Kamu tak perlu menggunakan banyak topeng hanya agar terlihat menarik bagi orang lain.
Kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dan terus meningkatkan kualitasmu. Biarkan dirimu ditemukan oleh orang yang tepat, yang jatuh cinta karena pemikiran dan rencana-rencana besarmu.
34 Tahun
Hi semuanya, mungkin ada di antara teman-teman di sini yang telah mengikuti akun ini sejak tahun 2014? Artinya itu sudah 10 tahun yang lalu dan 10 tahun yang lalu, tepat di bulan Januari 2014 saya baru menyelesaikan sidang tugas akhir di ITB saat itu. Kemudian mengerjakan revisi dan akhirnya wisuda di bulan Mei nanti. Di tahun 2014 juga lahir buku pertamaku, Hujan Matahari. Buku yang menjadi penanda titik balik hidup dan jalan pintu gerbang keluar dari Quarter Life Crisis. Hehe...
Tahun itu, umurku masih 23 tahun - mau 24 ditahun 2014 akhir. Bagaimana rasanya melewati 10 tahun dari masa itu ke sekarang, nah ini yang ingin kucatat dalam tulisan panjang kali ini. Barangkali, ada teman-teman baru di sini yang baru mengikuti akun ini beberapa waktu lalu, sementara akun ini telah aktif sejak 2010 (14 tahun lalu!). Barangkali juga, saat 2014 lalu beberapa teman-teman di sini yang baru mengikuti halaman ini, mungkin masih SD, SMP, atau SMA mungkin? Sehingga dinamika di tahun yang sama saat itu, tahun2014, antara kita berbedanya luar biasa. Dinamika mahasiswa yang baru lulus kuliah dan dinamika anak SD/SMP/SMA. Tapi sekarang, di tahun 2024 ini, saat usiamu mungkin seusiaku pada saat itu. Jarak usia kita yang 10 tahun mungkin tidak begitu terasa, apalagi jika bertemu langsung. Kamu sudah cukup dewasa bahkan untuk memulai berumah tangga, dan seharusnya sudah cukup matang untuk menghadapi beragam dinamika kehidupan dewasa.
Pertama, jangan pernah takut buat memiliki mimpi. Sekalipun hanya kamu yang memiliki mimpi itu sendirian diantara keluargamu atau teman-temanmu. Nanti seiring berjalan waktu, saat tanggungjawab bertambah dan mungkin membuatmu semakin realistis, kamu akan berhitung dengan mimpimu sendiri. Justru pada saat ini, saat masih besar energinya - beranikan diri untuk mengejarnya.
Kedua, setahun-dua tahun atau bahkan beberapa tahun yang kamu perlukan untuk mengenal dirimu sendiri, ambilah! Karena setahun-dua tahun itu tidak akan ada artinya sama sekali dibandingkan dengan puluhan tahun berikutnya yang akan kamu jalani dengan badan dan pikiranmu sendiri.
Kalau kamu ingin pekerjaan A dan itu mentuntutmu untuk belajar 2 tahun lagi, ambil!
Kalau kamu ingin memperbaiki diri - berjuang- apapun itu untuk mendapatkan pasangan hidup yang paling ideal menurutmu dan itu membutuhkan beberapa tahun ke depan, ambil!
Kalau kamu ingin membangun usahamu dan itu butuh waktu beberapa tahun untuk sampai ke titik idealnya, ambil!
Kalau kamu perlu beberapa tahun untuk membujuk orang tuamu agar merestui jalan hidup yang sedang kamu perjuangkan demi memperbaiki pola kehidupan keluarga kecilmu nanti, ambil!
Jangan takut untuk mengorbankan beberapa tahunmu untuk puluhan tahun berikutnya. Apalagi kalau kamu tahu itu sangat berharga. Anggap aja kamu seperti lagi ngambil gap year, lulus SMA - jeda dulu untuk mempersiapkan diri lagi demi mendapatkan bidang/jurusan kuliah yang benar-benar sesuai keinginanmu.
Ketiga, jangan takut untuk jatuh cinta tapi bersikaplah dewasa. Kalau kamu suka sama seseorang,
Kalau kamu laki-laki - maka lihat keadaan dirimu apakah sudah cukup mampu untuk bertanggungjawab pada kehidupan lain, kalau masih ngandelin duit orang tua, lupakan! Kalau ngaji aja gak bisa, belajar dulu! Kalau masih belum bisa ngatur skala prioritas diri, lupakan! Pesanku, kalau sudah yakin siap - yakin matang emosinya dan pikirannya - berani menjadi imam yang baik, kalau suka sama seseorang, sampaikan langsung aja, kalau diterima ya dinikahi, kalau ditolak - cari yang lain, tidak perlu diperjuangkan berkali-kali. Kalimat terakhir barusan memang sangat subjektif, tapi based on experience, xixixii.... Apalagi kalau yang nolak orang tuanya, dah lupakan aja, segera move on!
Kalau kamu perempuan (ditambah sekarang saya udah punya 2 anak perempuan, heuheu...). Memiliki perasaan kepada lawan jenis itu wajar sekali, tapi terbukalah dan diskusikanlah dengan orang yang cukup matang pikirannya menurutmu, bisa orang tua, guru, mentor, siapapun yang menurutmu - pendapatnya bisa menjadi dasar dari keputusan-keputusan baikmu. Sebab, salah satu tantangannya di sini adalah dominasi perasaan, sehingga ketika perasaan itu muncul, logikanya agak eror. Padahal, di momen seperti itu sangat dibutuhkan pikiran yang jernih dan terang benderang. Agar jangan sampai mengorbankan hal-hal yang fundamental dan esensial dalam hidupmu. Apalagi sampai terjebak dalam toxic relationship, dsb. Belajarlah untuk memiliki sikap yang teguh, kuat, dan yakin. Fokus aja sama impianmu, nanti pasti ada orang yang sejalan di impian itu.(Ini agaknya nasihatku buat anak-anakku nanti). Keempat. Bekerja karena uang, di awal, itu nggak apa-apa, apalagi kalau memang ada tuntutan finansial misal membiayai adik-keluarga, dsb. Namun, tetaplah cari sebanyak-banyaknya pengalaman. Jika ada kesempatan, jangan langsung mengkonversi kesempatan tersebut dengan uang. Lihat lebih teliti, benefit apa yang bisa kamu dapatkan dengan kesempatan itu, apa yang bisa kamu pelajari, jaringan apa yang bisa kamu dapatkan, dan sebagainya. Kalau pun orang lain menilaimu - gampang dimanfaatin orang - eits, tunggu dulu dan jangan langsung menelan itu mentah-mentah ya. Lihat lagi, lebih cermat, seberapa besar manfaat yang kamu bisa dapatkan dari kesempatan. Dan kamu perlu tahu dan menyadari, kenapa kesempatan belajar itu hadir ke kamu, bukan ke orang lain? Kelima. WAJIB BANGET PUNYA MENTOR! Kalau belum ada, cari sampai ketemu - sampai dapat. Orang yang bisa kamu jadikan sebagai guru-penasihat untuk bertanya dan bertukar pikiran. Cari untuk mengisi ruang kosong dan gap yang kamu miliki. Tahukah gap nya apa? Kebijaksanaan dan pengalaman!
Anak muda itu penuh semangat, minim pengalaman. Orang tua itu, energinya udah abis, tapi pengalamannya sangat kaya. Nah, ambil kebijaksanaan dan pengalaman itu. Dari orang-orang yang lebih senior, lebih berilmu. Cari mentor di pekerjaanmu, di kehidupan spiritualmu, di soal asmaramu, apapun. Itu benar-benar akan membantumu melewati fase krisis dengan lebih efektif. Membantumu mengurai benang kusut di pikiran, membantumu melihat jauh ke depan terhadap masalah yang sedang kamu hadapi. Bahkan, sesekali membantumu membuat keputusan saat logikamu lagi super eror karena jatuh cinta.
Keenam, ketujuh, ke seterusnya mungkin lain kali kuteruskan. Hehe.. punten XD. Tapi mungkin teman-teman di sini, yang mungkin sudah umur 30an dan mau berbagi pelajaran-pelajaran berharganya, boleh banget lengkapi di fitur komentar ya. Akan senang sekali jika tulisan ini menjadi ruang refleksi bersama-sama. Salam hangat, Kurniawan Gunadi
Buah dari ilmu adalah karakter dan sikap.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.