Niat Hati Perlu Perangkat
ΛΛΛ κ° βοΈ κ± ΛΛΛ
kayaknya aku tuh udah sering ditegur sama orang, tapi yang ini bahasa tegurannya tuh langsung aku paham. Yahh.. walau aku yakin aku bakal lupa setelahnya dan tujuanku ngetik disini supaya ga lupa dan siapa tau ada yang bisa ngasih insight πΉ
setelah dipikir-pikir, aku tuh kehilangan banyak kemampuan berkomunikasi secara positif dan baru sadar hampir 1 tahun ini. aku sekarang lebih sering terpapar dengan komunikasi yang pasif-agresif atau nggak ya mengandalkan kata tanpa rasa yang jadi kesannya kurang tulus kalau didengar/dibaca karna mulut bilang iya tapi nada dan wajah tuh bilang nggak.
Misal ada temen ngabarin kalau dia mau main sama orang, terus aku jawab: "yaudah main aja gapapa" tapi wajah, badan dan hati aku tuh in rush gasuka, padahal aku ngomong kayak gitu dengan kesadaran yaudah gapapa main lah.
Nah, menurutnya, seharusnya bisa lebih supportif/positif, "bolehh, have fun ya mainnya" atau kalimat lain yang positif yang bahkan di kepala aku tuh udah sangat samar dan aku udah gak familiar sama ucapan ucapan itu.
aku semakin keras sama diri aku untuk memilih kata tanpa rasa. even respon aku gaenak, yang penting adalah ucapan aku bisa mendukung/bermaksud positif.
karna keadaan itu, bahkan yang aku pikir tindakan aku adalah bentuk dukungan ternyata malah salah arti jadi bentuk 'mocking' atau 'mengejek' dan careless lainnya. Sama kayak kasus dimana aku pengen menyampaikan duka, eh malah dikira aku mengejek padahal tujuannya ingin menyampaikan duka dan memberi dukungan.
Ada penyebabnya nggak?
Banyak. Kalau kasusnya aku ini, karna aku ngerasa buat apa? Aku terbiasa dengan pemikiran gak ada siapapun yang mau ngeliat aku ekspresif, seneng, sedih apalagi marah atau negatif. Jadi, yang penting buat aku (saat ini) aku bisa komunikasiin sesuai kosakata aja despite perasaan aku. Dan gak ada yang peduli juga sama perasaan aku, dan perasaan aku bukan urusan orang lain.
Diluar itu, aku tuh sebenernya dulu pernah kok ngalamin dimana aku ekspresif banget, pokonya dikejar semua muanya, bener-bener nyari tahu. Tapi, pelan-pelan karna aku sendiri gak tahu bagaimana harus nyalurinnya, dimana tempatnya, siapa orang yang tepat dsb, akhirnya aku tuh merasa terjebak untuk mengekspresikan itu. Karna yang excited cuma aku aja, atau ketika aku excited yang satu nggak, dan sebaliknya. Atau pas lagi excited malah dicemooh, "game apa itu? kamu suka game begituan? idihhh, kureng kurengg", atau, "kamu harusnya bisa gambar lebih bagus loh, itu tuh coba belajar sama inii", "tulisan kamu tuh gajelas banget" atau cemoohan lainnya yang mungkin niatnya becanda atau membantu/mendukung padahal itu mengurangi banget keinginan aku untuk menunjukkan excitement.
Ada lagi, ketika temen aku tuh sebenernya bukan yang lebay/ekspresif juga, akhirnya aku mengikuti cara temen aku berekspresi atau cara lingkungan aku berkata, bertindak dan merasa. Sehingga, aku akhirnya berada di kesimpulan sekarang, gak semua orang punya ruang dan lingkungan yang menerima kondisi dan cara aku berkomunikasi, diluar itu, punya lingkungan yang diam dan asal nerima aja juga gaenak, ketambahan misal ada orang yang cara negurnya itu gak nyampe ke aku (akunya yang gaenak: jadi ada perasaan ga suka, ga nyaman, ngerasa di serang atau bahkan gak ngerti maksud orangnya ngomong atau negur gitu tuh apa).
πΉ poin yang aku dapet: 1. niat dan penyampaian adalah dua hal berbeda. 2. lingkungan membentuk cara bicara 3. aku sadar kalau aku lebih fokus pada akurasi kata tapi sinyal perasaan tidak ikut tersampaikan.
Komunikasi bukan hanya tentang mengatakan apa yang benar, tapi membantu orang lain merasakan dan memahami apa yang sebenarnya kita maksud.
Terus, mungkin ada yang sering dapet judge cara komunikasinya buruk, manipulatif, controlling, people pleasing dsb.. Sebenernya aku ga terlalu setuju dengan pengotak kotakan cara komunikasi orang lain apalagi menyangkut identitas diri, bisa jadi memang itu adalah cara yang paling familiar untuk orang tersebut berkomunikasi.
Tapi bukan berarti menormalisasi. Cara aku menanggapinya adalah tuh cukup paham aja kalau cara komunikasi orang itu beda-beda dengan pengalaman, pemahaman dan lingkungannya. Kalau ada hal yang nggak cocok, jadi salah paham atau apa antara komunikasiku atau komunikasi orang lain, yah berarti emang ga cocok aja atau justru..
belum menemukan cara berkomunikasi yang cocok?
dan kita gabisa menuntut diri kita bahkan orang lain untuk memahami kecuali kalau keduanya mau saling belajar, memahami dan mau belajar cocoknya gimana komunikasi satu sama lainnya itu..
Yang salah buat aku dan valid adalah.. udah tahu komunikasinya nggak jalan, maksain yang akhirnya menyimpan kebencian atau bahkan dendam perkara komunikasi.
Ini masukan untuk diri aku setelah aku baca-baca dan berbincang sama temenku,
makanya ada istilah komunikasi itu bisa dilatih.













