Apa kabar? Lama tak melihat langkah kaki dengan sepatu nike abu-abu menghampiriku. Sudah sebulan lebih kamu berangkat lagi ke ibukota, meninggalkan keluarga di rumah.
Dan membiarkan aku, ditemani nestapa.
Terbiasa berada dalam jarak yang cukup dekat memang membuat susah jauh walau barang seminggu. Begitulah aku. Kamu tahu.
Petang itu, rupanya Big Mac masih jadi favorit untuk bekal selama perjalanan. Aku bisa pastikan itu dari sosial mediamu, serta dari percakapanku dengan dia yang baru saja mengantarmu menuju stasiun. Sengaja aku mengajaknya untuk bertemu, membagikan luka yang sungguh belum sanggup aku bawa seorang diri sepenuhnya. Dia, adikmu, yang juga kurasa adikku juga. Sehingga dengan gampangnya aku menumpahkan air mata yang entah tidak pernah berhenti sejak siang itu. Siang itu, di mana aku kira sedang mimpi buruk. Namun nyatanya aku sedang bangun, tidak sedang tidur.
Sampai detik ini aku masih ingat jelas semuanya. Masih tidak mau menerima mentah-mentah kalimat yang kamu kirim cukup panjang lewat pesan. Sekalipun berulang kali kamu meyakinkan semua kesalahanmu, berulang kali pula aku meyakini kamu tetap seperti yang dulu. Bagaimana mungkin aku percaya kamu akan berpaling jika hatimu saja terluka membayangkan aku menangis. Sadarkah kamu? Hari ketika kamu memutuskan untuk mengakui segalanya adalah hari Minggu. Hari yang sama di mana kamu turun dari bus untuk menghampiriku di sebuah taman baca. Hari di mana kamu malu-malu memintaku untuk jadi kekasihmu. Ah, indah ya masa SMA dulu. Tapi kenapa hari Minggu kali ini lain? Bukan kabar bahagia yang kamu bawa, melainkan kabar duka yang ku kira akan fana.
Sejak akhirnya aku mengalah mengikuti maumu untuk berpisah, semua semakin tak karuan. Aku semakin berantakan. Hari-hari selalu saja penuh tangisan. Kamu sangat tahu, bagaimana aku kepadamu. Bagaimana aku rela kisah yang kukira selamanya ternyata cuma sementara? Sejak itu aku selalu menatap kosong pada pagar rumah, tempatmu biasa menjemputku. Aku selalu termenung melihat teras dan ruang tamu yang lebih sering hening karena tak ada lagi yang berkunjung. Sepanjang jalan di kota kelahiran ini semua selalu tentangmu, tentang kita. Di setiap persimpangan ada saja memori di kepala. Tak ada habisnya. Tak akan pernah bisa lupa. Tujuh tahun itu waktu yang lama untuk sepasang kekasih menjalin cinta. Jangan salahkan aku jika terus saja mencoba mengubah keputusanmu.
Sebenarnya ketika menulis surat pertama ini, aku sudah kembali pula ke perantauan. Kota yang harusnya semakin dekat dengan keberadaanmu sekarang. Namun sayangnya aku sudah bukan siapa-siapa yang bisa mengunjungimu kapan saja. Jangankan menemui, menelepon atau berkirim pesan pun tak kamu ijinkan. “Hargailah dia yang sekarang bersamaku.”, begitu kamu bilang. Lucu hahaha. Apa kabar sewaktu aku di sampingmu dulu? Bolehkah dia sesuka hati menghubungimu?
Tadi siang ibu kembali menanyakan keadaanku di sini melalui pesan singkatnya. Kembali mengingatkan aku untuk menjaga ibadah dan terus berdoa. Aku bersyukur ibu masih sama kepadaku, walaupun kita sudah tidak saling sapa. Dulu susah sekali rasanya untuk memulai percakapan dengan ibu. Aku pikirkan semalaman sebelum berangkat ke rumahmu. Sekali lagi aku juga masih ingat betul kali pertama aku datang dan bagaimana ibumu menyambutku. Brownis buatan ibu yang manis membantu mencairkan suasana. Kami mulai bicara tipis-tipis tentang apa saja. Dan dari ruang belakang kamu sembunyi dengan sengaja lalu diam-diam tertawa. Beberapa kali kamu mengajakku ke rumah, sampai akhirnya berdua saja dengan ibu sambil menonton televisi pun aku sudah terbiasa. Suasana ramah di rumahmu itu adalah salah satu dari sekian banyak hal tentang kita yang membuatku susah lupa.
Kamu sedang apa di sana? Apa kesibukan masih menyita waktu makan malammu? Jangan tunda untuk Bebek Madura di depan kantor, atau barangkali Mie Luwes di seberang stasiun baru. Kasihani lambung yang sudah bosan berteman dengan obat-obat maag. Seharusnya itu tak lagi menjadi masalah, karena aku rasa di sana ada yang selalu mengingatkanmu soal itu.
Bandung sedang cukup dingin, aku banyak menghabiskan waktu di kamar saja seusai kuliah. Aku lebih tertarik meringkuk di bawah selimut sambil mendengarkan playlist lagu kesukaanmu sebagai pelipur lara daripada menerima ajakan teman-teman untuk bersua di Toko Kopi Djawa. Jika kiranya mulai bosan, aku berganti duduk bersandar pada tembok untuk sekedar membolak-balikkan album foto kita berdua. Entahlah, manusia suka sekali menyakiti dirinya. Tapi bagaimana lagi aku harus mengobati kerinduanku terhadapmu?
Jadi apa kabar kamu di sana?