Harapan malah melemahkan mu.

Product Placement

izzy's playlists!
h

blake kathryn

Discoholic πͺ©
occasionally subtle
No title available

Janaina Medeiros
trying on a metaphor
Not today Justin
sheepfilms
Alisa U Zemlji Chuda
RMH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

#extradirty
No title available
Cosmic Funnies
he wasn't even looking at me and he found me
taylor price
Show & Tell
seen from United States
seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Chile

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from TΓΌrkiye
seen from TΓΌrkiye

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from France

seen from China

seen from T1
seen from T1
@no---home
Harapan malah melemahkan mu.
ya Allah, buat aku lebih banyak menangis karena dosa-dosaku daripada karena luka-lukaku. ampuni aku dan sembuhkan aku ya Allah. ya Jabbar, Engkau Maha Perkasa dan Maha Berkehendak.
Barusan ada omongan tentang memindahkan simbah ke rumah tante inun sementara.
Tentu saja ibu dan adek tidak setuju.
Kenapa repotΒ², kenapa membuat pilihan yg membuat tidak nyaman.
Tentu saja. Selama masih ada aku sebagai mesin yg berfungsi di sini, kenapa tidak.
1 mei ibuku datang. Prepare pakde mau bertamu. Ku bilang inginku bertemu pakde sebentar saja, karna ingin gateball, ku butuh refresh pikiran. Komentar ibuk : "jangan menghindar dari ketemu sodara." Luka pertama. Persepsi ibuku terhadapku masih saja buruknya.
2 mei rencana ibuk pengen hidup di solo pasca pensiun. Aku disuruh ambil kpr rumah dengan gajiku. Katanya biar gajiku ada wujudnya. Luka kedua. Seakan aku menggunakan gajiku untuk foyaΒ² untuk diriku sendiri.
Mulai hari itu aku seakan berhenti.
6 mei aku sakit panas sakit kepala. Untuk pertama kali aku merasakan sakit seperti itu pasca covid. Sepertinya tubuhku mulai meminta bayarannya.
9 mei simbah dari lelaki itu meninggal. Tentu saja aku harus datang.
9 mei ibu angkatku meninggal. Menyesal sekali aku. Sampai detik ini.
17 mei aku kembali ke solo, disuguhi simbah yg sedang sakit.
18 mei simbah rawat inap di rs. Sampai hari ini 28 mei. Dan tiap malam tiap ada waktu jeda dari kantor aku selalu berjaga di rs.
28 mei hanya ku hiraukan saja. Tp entah mengapa perkataan ibu kepada ku seakanΒ² aku orang bodoh sedunia. Negative judgement lagi dan lagi.
29 mei aku mengantar ayah periksa ke jogja. Aku merasa ayah lebih bisa menghargai effortku. Aku menangis kencang sepanjang perjalanan ke solo. Karna berat sekali rasanya harus kembali ke rumah dan situasi yg tidak melindungiku yg tidak menganggapku sebagai manusia.
30 mei ada kalanya aku merasa pandangan ayah dan ibu sekarang sama. Tidak respek. Memandang rendah οΌ hina. Tapi bukan kah aku sudah bertekad untuk melepaskan diri sepenuhnya?
Broken Inner Child
Ada luka yang tidak lahir kemarin.
Ada rasa takut, rasa kosong, dan rasa tidak berharga yang ternyata tumbuh sejak lama. Sejak kecil, banyak orang belajar memendam perasaan, menahan tangis, dan berpura-pura kuat hanya agar diterima. Mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya merasa aman menjadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, luka itu ikut bertumbuh hingga dewasa.
Inner child yang terluka tidak selalu terlihat sedih. Kadang justru terlihat paling ceria, paling dewasa, atau paling kuat. Padahal di dalam dirinya masih ada anak kecil yang terus bertanya, βApa aku memang tidak cukup untuk dicintai?β Thatβs why beberapa orang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan, takut mengecewakan orang lain, atau terlalu keras pada dirinya sendiri. Bukan karena mereka berlebihan, tapi karena ada bagian dalam dirinya yang belum pernah benar-benar sembuh.
Yang paling menyedihkan, banyak orang dewasa sebenarnya hanyalah anak kecil yang dipaksa bertahan terlalu cepat. Mereka belajar menyembunyikan luka di balik senyum, humor, dan kalimat βaku gapapa.β Padahal jauh di dalam dirinya, masih ada versi kecil yang diam-diam menunggu dipeluk, didengarkan, dan diterima apa adanya. Maybe healing begins ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas luka yang dulu bahkan bukan salah kita.
Written by Aftansa
Salah ngomong. Karna aku bodoh makanya bisa salah ngomong hehe.
Aku lupa harusnya aku ga usah sok ngide, sok keminter, ngasih pendapat. Cukup ya gausah gitu. Hehe.
Ngurus simbah tidak menjadikanmu cukup untuk dianggap ya. Jangan sombong. Jangan menganggap penting dirimu. Sedari awal dirimu tidak pernah dilihat dilibatkan dianggap sebagai bagian.
Keberadaanmu hanya sebagai fungsi. Hanya berperan jika disuruh. Hanya berfungsi jika dibutuhkan.
Fungsimu ini hanya pelayan, pesuruh.
Dan apapun yg kamu lakukan tak akan pernah cukup, tak akan pernah cukup. Karna fungsi keberadaanmu ya untuk itu. Sudah sewajarnya. Jadi ketika kamu sudah tak lagi berfungsi, tak bisa melayani, maka kamu akan dianggap sebagai produk gagal. Mengecewakan.
Aku lupa betapa menyakitkan nya jika menganggap diriku bagian dari keluarga ini.
Ya Allah.
Jangan buat aku lupa posisi diriku.
Semua akan lebih menenangkan jika aku menganggap diriku sebagai orang asing.
Jadi aku bisa menerima semua perlakuan mereka. Semuanya.
Dan tidak berharap apapun. Dan tidak membuktikan apapun.
Jangan buat aku lupa bahwa aku melakukan hal baik hanya karna memang harus ada yg melakukannya.
Buat aku mati rasa. Buat aku tidak bisa berfikir macamΒ².
dan dunia
seperti biasa,
tetap menawarkan dirinya
dengan sangat cantik:
angka rekening,
pujian manusia,
serta kesibukan yang membuat seseorang lupa
bahwa ruhnya sedang kehausan
maka puasa itu menyapa
bukan untuk melemahkan tubuh,
tetapi untuk membangunkan sesuatu
yang terlalu lama tertidur di dalam dada
sesuatu yang dulu sering menangis saat sujud,
lalu perlahan mengeras
karena terlalu sering bersentuhan dengan dunia
barangkali itulah mengapa
di padang arafah orang-orang memakai pakaian serupa kematian..
agar manusia ingat,
bahwa yang paling mahal dari hidup
bukanlah umur yang panjang,
melainkan hati yang berhasil pulang sebelum dipanggil pulang
"Ada hal-hal yang ternyata cuma diberi satu kali kesempatan oleh semesta- pelukan terakhir, tatapan terakhir, atau obrolan sederhana yang dulu kita anggap bisa diulang kapan saja.
Kita terlalu sering percaya bahwa waktu akan selalu duduk menunggu di teras rumah, padahal ia berjalan diam-diam sambil membawa orang-orang pergi tanpa aba-aba, tanpa permisi.
Dan lucunya,
penyesalan selalu datang paling akhir- saat kursi yang biasa terisi tawa itu kosong, saat pesan terakhir tak lagi mendapat balasan, saat nama seseorang berubah menjadi rindu yang cuma bisa dipanggil dalam doa.
Sebab pada akhirnya,
yang paling menyakitkan bukan kehilangan, melainkan sadar bahwa dulu kita sempat memiliki waktu, namun tidak cukup menghargainya. "
9 mei 2026
21.33
Aku mulai kesulitan mengenali perasaaanku sendiri
Ya Allah aku bukan hamba yg baik.
Tapi Engkau yg paling tahu aku tak pernah punya niatan mendzalimi orang lain.
Ya Allah aku penuh kekurangan.
Tapi apakah suatu hal yg berlebihan bila aku hanya meminta untuk diberikan hati yg tenang οΌ damai?
Aku tak meminta bahagia. Aku tak meminta semua inginku bs terwujud.
Hanya 1 saja, diberikan kehidupan yg tenang.
Terlalu berlebihan kah untuk orang sepertiku?
Ya Allah lembutkanlah hati kami untuk terus bersangka baik terhadap segala bentuk takdir-Mu
Ya Allah bimbinglah diri kami dalam kehidupan ini dengan hidayah-Mu agar kami tidak tersesat dan tidak lena dengan kehidupan yang sekejap ini
Ya Allah rahmati lah kami dengan kasih sayang-Mu. Lindungi kami agar tidak pernah berputus asa dalam mengharap rahmat dari sisi-Mu
Jadikanlah kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar, dan semoga dari kesabaran itu, Engkau meridhai kami, mengampuni dosa-dosa kami dan memberikan kami kebaikan yang indah. Aamiin ya Rabbi..
Ramadhan ke 25, 15 Maret 2026 09.59 wita
Seringkali orang baik menjadi sasaran luka. Bukan karena ia salah, tapi karena kelembutannya memantulkan apa yang tak ingin dilihat orang lain yang hatinya masih penuh dengan rasa iri.
Namun mereka percaya, cahaya tak pernah berhenti bersinar hanya karena langit yang tertutup awan.
Pada akhirnya, mereka yang terus menabur kebaikan akan menemukan pelukan semesta yang diam-diam merangkai balasan paling indah di waktu yang tepat.
@muarakatahati
Mudahkan, cukupkan dan tenangkan.
Kamu tidak akan pernah menyesal menghabiskan waktu dengan Tuhanmu serta memberi-Nya seluruh pertamamu dan terbaikmu.
Rahasia hidup yang aku pelajari adalah: aku bertemu Tuhanku di pagi hari dan ternyata itulah yang aku butuhkan untuk bertahan sepanjang hari. Ketika kamu ada dalam kehadiran-Nya dan mencerna seluruh perkataan-Nya dengan baik, segala jenis godaan tidak lagi menarik sebab waktu yang dihabiskan dengan Dia selalu lebih baik dan tak tergantikan.
Kalau dipikir-pikir: Tuhan pantas mendapatkan yang terbaik dariku, bukan hanya sisa-sisaku.
β Jonalyn San Diego
Dulu, ia adalah seorang kolektor. Ia memungut setiap kata, setiap kejadian, setiap perasaan. Ia membawanya pulang, membedahnya di atas meja analisis, mencari retakan, sebab, dan makna tersembunyi hingga larut malam. Rumah pikirannya penuh sesak oleh koleksi yang tak berharga itu.
Sekarang, ia telah menjadi seorang pejalan biasa. Ia melihat sebuah bunga, dan hanya melihatnya sebagai bunga. Bukan sebagai simbol kerapuhan atau metafora keindahan. Ia mendengar sebuah kritik, dan membiarkannya lewat seperti angin, tak perlu ditangkap atau ditimbang. Ia merasakan kesedihan, dan membiarkannya mengalir seperti sungai, tanpa perlu membangun bendungan untuk bertanya "mengapa?".
Ia tidak lagi mencoba memecahkan teka-teki dunia. Ia hanya menjadi bagian darinya. Beberapa hal jauh lebih indah saat dibiarkan utuh.
16 November 2025
Ketika aku mencoba menjadi hanya pikiran, aku kehilangan makna yang hanya bisa dihadirkan oleh hati.
Menghidupi Kematian Hidup
β Tentang Diriku yang Pernah Mati dan Belajar Hidup Kembali β
ββββββββββ
Ada masa dalam hidupku ketika aku merasa telah kehilangan segalanya β
entah karena dunia merampasnya,
atau karena aku sendiri yang mematikannya.
Aku pernah mencoba membunuh emosiku,
menyingkirkan setiap denyut yang membuatku manusia.
Aku ingin menjadi sesuatu yang murni logis, efisien,
bebas dari kerentanan.
Moral bagiku waktu itu hanyalah alat β
bisa dipakai atau dilepaskan sesuai kebutuhan.
Aku ingin bergerak seperti mesin yang berpikir jernih:
tanpa getir, tanpa air mata, tanpa takut salah.
ββββββββββ
Namun di sanalah aku justru kehilangan arah.
Tanpa emosi, segala hal kehilangan bentuknya.
Dunia tampak steril, tapi tak berjiwa.
Logika memberiku kendali,
namun mencabut makna dari segala yang kujalani.
Aku bisa berpikir tajam,
tapi tidak bisa merasakan mengapa aku harus berpikir.
Seperti kapal yang berlayar tanpa pelabuhan β
bergerak hanya karena masih bisa,
bukan karena tahu ke mana.
ββββββββββ
Dari situ aku mulai melihat absurditas kehidupan dengan telanjang.
Kebahagiaan datang dan pergi tanpa alasan.
Penderitaan tak selalu mengubah manusia β
sebagian hanya hancur, sebagian balas dendam,
sebagian melupakan, sebagian berpura-pura kuat.
Segalanya terasa acak, tak punya pola,
tak punya moral yang sejati.
Aku pun mulai meragukan nilai dari kehidupan itu sendiri:
βKalau semua ini fana dan tanpa kepastian,
untuk apa semuanya ada?β
ββββββββββ
Lalu datang masa paling hening β
masa di mana aku bahkan tak mampu merasa kehilangan.
Pernahkah kau membayangkan:
merasa βmerasa kehilanganβ saja sudah tak mampu?
Bahkan mampu merasa kehilangan pun patut disyukuri.
Untuk merasa kehilangan,
kau perlu sesuatu yang masih hidup di dalam diri.
Tapi ketika yang hidup itu ikut diam,
yang tersisa hanya ruang hampa.
ββββββββββ
Sebagai seseorang yang pernah merasakannya,
aku harap kamu tak akan pernah mengalaminya seumur hidupmu.
Namun aku sendirian,
mungkin karena ditinggalkan,
dan mungkin pula karena aku sendiri yang mengunci pintu dari dalam.
Dalam keramaian aku tetap sunyi;
dalam tawa aku tetap asing.
Aku tidak dekat dengan siapa pun,
bahkan dengan diriku sendiri.
ββββββββββ
Dan di titik itu,
aku benar-benar menjadi makhluk logika β
hidup tanpa alasan,
berjalan tanpa arah,
hanya mempertahankan eksistensi
seperti detak jam yang terus berdetak;
karena begitulah ia diciptakan.
Namun, seperti sebutir debu yang menolak lenyap,
ada sesuatu yang masih ingin hidup.
Kecil, samar, tapi nyata.
ββββββββββ
Aku tidak tahu kapan ia mulai bergetar kembali,
tapi perlahan aku merindukan dunia.
Aku ingin lagi merasakan lelah saat berjuang,
pedih saat tersakiti,
haru saat bertemu seseorang yang berarti.
Aku ingin lagi merasakan hangatnya sinar matahari,
lembutnya air di kulit,
teduh senyum ibuku yang dulu tak lagi kupedulikan.
Dan dari kerinduan kecil itulah,
hidup perlahan kembali.
ββββββββββ
Sejak saat itu,
aku mulai belajar mencintai yang sederhana.
Aku tak lagi menuntut makna besar dari penderitaan,
tak lagi memaksa bahagia untuk abadi.
Aku belajar bahwa hidup tidak perlu selalu bisa dijelaskan β
cukup dijalani,
dengan kesadaran penuh,
dengan hati yang mau hadir.
Sebab bagiku, bahagia dan derita
adalah dua sisi dari pengalaman yang sama;
keduanya membuatku merasa ada.
ββββββββββ
Kini aku bersyukur,
bukan karena aku sudah menemukan kebenaran,
melainkan karena aku masih bisa merasakan sesuatu β
hangatnya cahaya pagi,
sapaan kecil yang tulus,
tawa yang sederhana.
Aku bersyukur karena bumi masih sudi menampung langkahku,
mentari masih menyentuh kulitku,
dan air masih setia mengalir di sela jariku.
ββββββββββ
Aku tahu aku tak sempurna sebagai manusia,
apalagi sebagai hamba.
Namun bila kelak aku mati,
aku hanya ingin bumi tetap membuka tanahnya untukku β
sebagaimana ia pernah membuka dirinya
bagi setiap langkahku yang tersesat.
Itu saja sudah cukup.
ββββββββββ
Kini aku tak lagi menuntut arti dari setiap luka,
atau keabadian dari setiap bahagia.
Keduanya telah menjadi serpihan diriku,
menyatu dalam tubuh yang terus berubah.
Aku tak sepenting itu di alam semesta yang luas ini β
dan justru karena itu,
aku bisa merasa tenang.
ββββββββββ
Sebab pada akhirnya,
aku menemukan satu hal
yang tak pernah benar-benar hilang:
diriku sendiri.
Kesadaranku.
Keberadaanku.
Napas yang masih mau bertahan β
itulah alasan satu-satunya bahwa aku sungguh hidup.
ββββββββββ
Dan mungkin inilah inti dari semuanya β
bukan skenario kehidupan yang membuatku merasa ada,
melainkan:
Aku ada, maka aku hidup.
Dan jika aku bisa berbicara kepada diriku yang dulu,
diriku yang terjebak di ruang hampa dan kehilangan makna,
mungkin aku hanya akan berbisik pelan:
βTeruslah hidup, diri.
Tatap hampa itu dengan jujur.
Jangan lari dari sunyi yang melahirkanmu kembali.
Meski kau tersesat, meski kau menangis, meski kau terluka,
teruslah hidup.
Karena setiap napas yang bertahan adalah doa yang belum selesai.β
ββββββββββ
Dan itulah yang kupahami kini:
bahwa hidup bukan tentang menemukan makna,
melainkan menjadi makna itu sendiri β
setiap kali kita memilih untuk tetap hadir,
ada,
dan hidup,
disitulah letak makna sejati menatap.