Aku begitu lama menjauh dari lingkup nyamanku
mencoba menapaki jalan baru yang sungguh bukan aku
mencari tau dan belajar hal baru
namun rasanya aku rindu
untuk pulang kembali ke duniaku
🩵 avery cochrane 🩵

if i look back, i am lost
Cookie Run:Kingdom Official!
h
hello vonnie
YOU ARE THE REASON
The Bowery Presents
Not today Justin

roma★
Game of Thrones Daily

#extradirty
Fai_Ryy
Show & Tell
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
𓃗

Game Changer & Make Some Noise

Jimmy Eat World

oozey mess

izzy's playlists!
seen from Jersey
seen from Colombia
seen from United States
seen from United States

seen from Austria
seen from United States

seen from Bolivia
seen from Russia

seen from Armenia
seen from Australia

seen from Canada
seen from Colombia
seen from Australia
seen from Mozambique
seen from Brazil
seen from Morocco

seen from Italy
seen from United States
seen from Thailand

seen from United States
@nomadicpursuer
Aku begitu lama menjauh dari lingkup nyamanku
mencoba menapaki jalan baru yang sungguh bukan aku
mencari tau dan belajar hal baru
namun rasanya aku rindu
untuk pulang kembali ke duniaku
Red Adidas shirt, blue Under Armour apparel, blue Converse. A big hearted - prodigious mind man on it. Do you know it’s our farewell?
hey, you. may I still call you Abang? It’s rain, and I stil say the same prayer like many time before. Asking God to guarding your body from illness. To guarding your heart from hurt, regret, and vanity. To guarding your hope from discouraged. And asking if there’s anyway for me to be yours. hahaha should I givin up now? Well I just wanna say goodbye, because tomorrow I’ll be on my way to another place. Here I am staring at you from a distance, across your desk -well, I couldn’t find my legacy there- behind this screen. Laughing out loud - totally a fake for sure. so you know that I’m fine after our last time, that worst nite I’ll never forget - instead of following my feeling that willing to cry.
Good luck for your final assignment. Ton of lucks for you. Break a leg, I know you can. I trust on you.
hmm....Should I say goodbye, or see you later?
Semarang, Nov 12th 2015
Studio TA JAFT
aku masih ingat waktu..., kamu? #3
sepatu kanvas biru : kamu nggak keujanan? soalnya disini hujan.
sepatu kanvas hitam : maapin, keujanan. jaketmu jadi basah.
sepatu kanvas biru : basah juga gapapa. yang penting jaket itu bisa ngelindungin kamu dikala yang punya nggak bisa :)
***
sepatu kanvas hitam : *buka lemari baju* *miris lihat salah satu jaketnya masih nongkrong manis di situ*
.
.
.
.
.
...dan aku percaya kamu.
aku masih ingat waktu..., kamu? #2
sepatu kanvas hitam : Bang, ada rencana ke kampus?
sepatu kanvas biru : ada, tapi males ik. hahaha..
sepatu kanvas hitam : mau daftar TA sih. tapi kayaknya malesmu nular ik. hoam..
sepatu kanvas biru : yauda aku nggak jadi males. Ayoook!
.
.
.
.
.
...dan aku percaya kamu
cintaku padamu berbanding lurus dengan rasa benciku pada diriku sendiri
seperti sudah hukum alam, bahwa orang orang yang paling bisa bikin kamu bangkit, mereka juga yang paling berbakat buat kamu terpuruk. karena sekecil apapun hal yang mereka lakukan, berarti besar buat kamu. setiap hal kecil yang tepat waktu menjadi penyemangat, setiap hal kecil yang tidak pada tempat dan waktunya membawa keresahan. sayangnya tidak setiap saat kamu cukup waras untuk berfikir bijak. akhirnya, segala sesuatu semakin kacau dan diluar kendalimu, salah paham semakin menjadi, hingga berujung pada timbulnya rasa benci. entah, benci kenapa, rasanya hanya ingin menjauh. mungkin itu kenapa ada pepatah cinta dan benci sangat tipis bedanya. mungkin, mungkin itu benar.
aku masih ingat waktu... , kamu? #1
sepatu kanvas hitam : aku ga mau ke rumah sakit.
sepatu kanvas biru : aku ga bakal anter kamu kemanapun dalam kondisi sakit begini.
sepatu kanvas hitam : aku gapapa. cuma sesek sedikit. please, antar aku ke kosan.
sepatu kanvas biru : sekali ini, tolong nurut aku. kamu berobat, setelah itu aku bakal turutin apapun maumu.
***
sepatu kanvas hitam : *selesai berobat* sekarang giliran aku minta
sepatu kanvas biru : iya, kamu mau minta apa?
sepatu kanvas hitam : pakai helmmu dengan benar.
***
sepatu kanvas hitam : *di masa kemudian* tau begini akhirnya, waktu itu aku minta kamu jadi imamku.
.
.
.
.
.
...dan aku percaya kamu.
6 hari lagi menuju hari penentuan. banyak hal yang harus dilakukan, banyak catatan yang harus dibenahi, banyak yang harus dipersiapkan, lebih lebih yang harus diselesaikan, sedangkan waktu yang tersisa tak cukup banyak.
tapi bukan aku namanya jika fokus di satu pemikiran saja. karena banyak detik yang tercuri oleh angan bawah sadar tentang yang telah lalu, tentang yang akan datang, semua pertanyaan yang belum terjawab, tentang yang kembali, ataupun yang justru pergi. serta rindu tentang kamu.
dan hal ini menimbulkan resah yang tak kunjung surut. yang satu menyarankan berdoalah, berceritalah tentangnya pada Tuhan. yang lain bilang, betapa Tuhan berhak untuk mencemburuinya ketika kau sebut namanya dalam doa. lalu aku harus apa? dan kamu, semoga kamu tetap baik baik saja.
do i deserve for this new age
do i deserve to meet this day
I’m getting myself lost, don’t know where to go, don’t know what to do
I just wanna ended my trip. I wanna lay down on my knee and giving up.
everything, everything going wrong. And the truth I ever trusted on, just went away.
I have to say goodbye to you, I wanna say goodbye to my dreams that still alive.
well, every years it the same date, I always asking the same sceptical question.
do I deserve to meet this date again? because I just wanna go.
Dan akhirnya aku patah hati sekali lagi. Baru saja, di percakapan yang baru 5 menit yang lalu berakhir. Di sepanjang kurang lebih 15 menit terakhir perjalanan. Rasanya seperti ada pasir yang hanyut terbawa ombak ditempatku menapakkan kaki. Ditempat dimana aku mulai jenak menetap, ditempat dimana aku menemukan keyakinan bahwa aku berhak berlabuh, ditempat dimana aku terus menengadahkan tangan memohon pada Ilahi agar dijodohkan untuk terus disini. Tepi pantai ini menyelamatkanku, lalu tepi pantai ini juga yang menenggelamkanku, lagi. Aku tak paham, tapi mencoba untuk menerima. Aku ingat tadi malam aku memohon dalam sujudku, untuk satu kesempatan menemukan penjelasan. Yang Maha Pemurah memberikan waktu singkat, mengatur semesta agar meminjamkan waktunya untuk kami, untuk aku tepatnya. Mungkin aku dapatkan kata kata yang lebih dari cukup. Makna yang terungkap secara tersirat. Cukup jelas untuk kubaca, walau aku tak yakin benar apa yang sesungguhnya ada di lubuk hatinya. Dan semua menuju kepada ketiadaan. Aku, remuk redam. Aku betul betul tak paham, tapi harus menerima. Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Mungkin dia tak pernah sadar. Tapi aku yang sering bergumam sedih jika dia berlaku kurang baik kepada pintu surganya. Aku berharap dalam doa, agar ia menjadi kebanggaan keluarga dunia akhirat. Bahkan aku buatkan sebuah lagu dengan sebait pengingat agar ia membahagiakan orang tuanya. Lalu, haruskah aku memaksanya berdebat justru ketika dia bertekad untuk berbakti ? Aku tidak marah, aku hanya bertanya. Apa ini Tuhan ? Aku harus berbuat apa ?
Sedikit merenung di pagi ini. Aku terbangun sesak bermimpi kamu. Ingat terakhir kali aku lihat kamu tersengal dalam setiap helaan nafas. Sedih, Mas. Aku paham betul rasanya sesak, saat sekedar bernafas saja butuh usaha besar. Dan aku paham juga, hidupmu, adalah rangkaian 36 tahun perjuangan berat. Mas, waktu kamu terkapar lemah, dengan rangkaian selang bantu nafasmu, tiap kugenggam tanganmu - bahkan tanpa aku tau sadarkah kamu siapa yang menggenggam tanganmu - aku menarik memoriku pada tahun tahun di belakang. Siapa lagi adikmu yang mau berdekatan denganmu. Pemikiran bahwa mereka jauh lebih baik dari kamu, tidak meninggalkan sedikitpun rasa hormat padamu sebagai yang tertua. Maaf, aku tidak bisa merubah perilaku buruk mereka kepadamu. Aku hanya bisa mendekatkan diriku sendiri setiap melihat kamu terabaikan sendiri. Melihat kamu yang terbaring, membuka mata, tapi tidak cukup sadar untuk mengenali siapapun di sekitarmu. Aku beberapakali mencoba berbisik, doa dan cerita singkat. Bahwa kedua orang, yang seharusnya membesarkan kamu penuh kesabaran - dari dulu, seharusnya dari dulu - menangis cemas di sisimu. Kedua orang yang seharusnya paling mendalami kekuranganmu dan seharusnya menggali potensi dirimu - tapi tidak- justru membuat kamu terlihat selalu tampak buruk di depan kerabat. Sesungguhnya Tuhan maha adil, Mas. Anak adalah rejeki, bagaimanapun keadaannya. Aku mencoba paham mengapa kedua orang tuaku, yang begitu berusaha untuk kedua anaknya, jatah rejekinya tidak begitu melimpah. Ya, karena aku dan adek mampu turut berjuang mengusahakan kelancaran jalannya sendiri. Sedangkan kedua orang tuamu, berlimpah harta, sesungguhnya bagiku itu adalah rejekimu sebagai anak. Untuk kamu yang sulit untuk mengusahakan sendiri kebutuhanmu. Aku yakin itu diamanahkan Tuhan pada mereka untuk merawatmu, memberikan yang terbaik untuk kemajuanmu yang terhambat. Sayang sekali, mereka lalai. Betul betul lalai. Mereka berlimpahan sedangkan kamu hidup dalam kesulitan. Mereka, membuatmu selalu tampak salah dan tanpa harapan. Ingat ketika kamu memperjuangkan satu satunya cinta di hidupmu? Ketika mereka bersikukuh kamu salah memilih. Ya, aku tau betul, ketika kita serba kurang dan punya 'lubang hidup' , betapa berharganya orang yang rela menerima dan rela menjalani hidup bersama kita. Sekali lagi, mereka tidak mencoba paham. Betapa bagi aku, itulah cinta sejati. Sayangnya orang orang itu terlalu buta untuk menyadari bahwa berharga tak harus berkilauan. Bersyukur aku punya Ibu yang mengajarkan aku untuk teguh berdiri pada sisi yang benar sekalipun aku harus berdiri sendiri. Maaf, aku tidak bisa berbuat banyak untuk melunakkan hati keras mereka. Aku hanya bisa memberikan apa yang kamu butuh, dari apa yang aku punya. Meski harus diam diam dan kena murka mereka yang merasa berkuasa ketika ketahuan. Sabar ya, Mas. Mungkin mereka hanya kurang mampu untuk melihat dari segala sisi, agar paham betul. Bahwa berbeda belum tentu salah. Bahwa kurang bukan berarti tidak berharga. Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling pembaringan terakhirmu kemarin, melihat wajah wajah penyesalan dan tangisan histeris di wajah orang orang yang selalu membuat hidupmu seakan tak patut diperjuangkan, aku sempat kesal, jijik bahkan. Susah payah aku menghilangkan pemikiran skeptis bahwa mereka hanya bermain peran. Tapi aku berfikir, lalu apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini kubenci tindak tanduknya. Lagipula, sudah hukum alam bukan ketika orang yang tak amanah menjaga titipan Tuhan akan merasakan kehilangan. Dan kini mereka sendiri yang kesusahan menahan sesal. Yaa, mungkin Yang Maha Membolak Balikkan hati manusia memang bekerja secara diam diam. Mas, kemarin aku rasanya seperti berbicara padamu. Jika kuboleh jujur, sesungguhnya aku lega kamu pergi. Bukan karena aku benci. Aku lega, perjuanganmu usai. Segala sakit yang kamu rasa kemarin, semoga cukup untuk menghapuskan segala dosamu. Sehingga saat ini, kamu pergi dengan senyum mengembang, meninggalkan mereka yang menangis tersesu penuh penyesalan. Aku disini, mungkin jadi satu dari segelintir orang yang melambaikan tangan dengan senyum. Karena akhirnya beban hidupmu lepas. Istirahatlah, Mas. Tidur nyenyak tanpa perlu takut bangun dan merasakan lagi ketidak adilan dunia padamu. Kakakku yang mengajarkan banyak tentang menerima dan diterima apa adanya, justru dari ketidak tahuanmu. Kamu sungguh istimewa dibalik kekuranganmu. Maafkan aku yang tidak banyak bisa membantu. Tapi yakinlah, rencana Tuhan tidak cacat seujung kukupun. Semoga akupun bisa melewati semua, memperbaiki dunia di sekitar kita yang kusam. Dan kamu, siap siap kirimkan senyum Surga buat aku ya, Mas. Aku sayang kamu, Mas.
Jarak. Ya, kita akan berjarak. Menciptakan ruang gerak yang lebih lebar untuk kita merenungkan segala rasa dan asa yang sempat terlintas di benak, atau mungkin sempat bersemayan di hati. Di titik tersembunyi. Nyatanya seberapapun kita mencoba diam, hasrat ini toh akhirnya mencoba melesak keluar. Mencari celah celah sekecil apapun, agar eksistensinya diakui. Dia minta diakui. Kita terlalu pengecut untuk berurusan dengan hati orang lain. Tersakiti, menyakiti. Rasa rasanya terlalu klise tentamg bertahan dan menerima satu sama lain apa adanya. Jarak. Ya, kita akan berjarak. Justru saat kita meragu, merajuk. Kata orang jarak itu cobaan. Kataku jarak itu anugerah. Kita bisa bebas menghela nafas yang bersih dari bayang bayang satu sama lain. Membuat ekspektasi tentang kita liar berkembang terlalu jauh. Fluktuatif. Subjektif. Bukan sesuatu yang dewasa dan bisa dibanggakan, dibagikan, apalagi ditetapkan. Tanpa jarak, tidak ada pwrjuangan. Tanpa perjuangan, apa ada yang namanya sayang? Lalu, bagaimana jika merindu? Tidur, bermimpilah. Dan bilamana jika hati resah, khawatir? Sujud, berdoalah. Keduanya membuat sukma jauh lebih cepat tiba di sisi yang dirindu. Jarak. Ya, kita akan berjarak. Dengan jarak kita mendewasa. Sampai bertemu lagi, sembari bawa jawaban -suatu keyakinan, entah ke arah mana- yang ketika bersama justru terlihat samar. Entah butuh, atau hanya ingin. Ruang yang lapang akan membuat kita bijak menentukan. Mari berterima kasih untuk jarak di waktu yang tepat. Jarak. Ya, kita akan berjarak. Hahaha. Rasanya terlalu bercanda untuk merangkum kita dalam sebuah untaian opini semata. Karena, mungkin ini tak sedikitpun menggambarkan rasa yang kita alami. Sepertinya ini hanya khayalan atau keusilan anak muda. Lalu apa yang serius dan jujur? Aku.
Segitu resahnya kah? Selarut ini masih terjaga. Entah apa yang diharap menyapa. Lalu bertanya 'ada apa?' . Kecewa kah? Jantung itu masih berdegup kencang. Tersirat kesal di helaan nafas yang begitu berat. Menahan amarah yang entah apa obatnya. Berfikir keras kah? Lekuk di dahi begitu dalam dan jelas. Seakan ada beribu tanya yang kamu simpan sendiri di bibir yang terkatup erat. Kuku yang hampir tandas, biasanya digigit tiap mencari jawaban dan bimbang tanpa titik terang. Berharapkah? Apa? Siapa? Sudahlah, kan dari awal memang harusnya jangan goyah. Coba lihat sekarang sejauh apa pertahananmu dilanggar. Kalau sudah terlanjur basah begini, lalu bisa apa? Pasrah saja kan? Yah, tinggal tunggu siklusnya berulang. Gimana? Sudah jera? Masih mau coba mencari yang hendak tinggal? Besok besok masih mau percaya? Terserahlah.
"buat saya, berhubungan dengan orang yang semua orang pandang dia memang baik itu menyenangkan. tapi saya akan merasa sangat spesial jika saya bisa menjalin hubungan dengan orang yang berusaha keras untuk menjadi lebih baik untuk saya, tanpa orang lain pahami kenapa saya memilih dia."
- nomad
apalah kita berdua ini sayang
mesra di luar, saling curiga di dalam
untuk apa berjuang keras untuk sesuatu yang tidak kita mau
untuk sesuatu yang tidak kamu butuhkan
kita
seperti hanya membuat waktu terbuang sia sia
hanya menempuh jalan yang lebih panjang untuk kemudian berpisah
beserta sakit hati yang lebih dalam
harus ada jenis hubungan yang direvisi
As I grow up, I realize that its not too important anymore to get a lot of friends. I prefer to have a few friends, but real instead. And, I'm not believe in "bestfriend" nowadays.
Kata sahabat terlalu berlebihan dan khayal rasa rasanya. Saya lebih percaya bahwa manusia pada dasarnya lebih condong memenuhi kodratnya sebagai makhluk individualis. Selalu sah sah aja buat seseorang punya kepentingan lalu merasa terganggu 'teritorinya' , kemudian merasa lebih nyaman di suatu lingkungan baru, dan terakhir pergi.
Easy come, and so much easier to go. Sangat sangat sangat mudah buat orang orang di sekeliling merasa suka dan benci karena suatu hal, entah besar atau kecil (terlalu relatif juga standar untuk setiap individu). Manusia, makhluk paling dinamis sejagad raya, saking dinamisnya sangat sulit buat mereka menjaga hati dan pikirannya. Dan sungguh kita punya Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati manusia.
Well, saya berencana merevisi nama jenis hubungan di kamus vocab pribadi saya. SAHABAT , TEMAN, dan KENALAN. Sepertinya lebih sederhana dan realistis buat dipahami, lebih lebih dijalani :))
Ini bukan berarti saya apatis. Buat yang ber-'keyakinan' beda? Sah-sah aja kok, saya nggak terlalu peduli dengan urusan orang lain yang bukan orang dekat buat saya. Ini cuma tindakan preventif buat saya pribadi. Guys, jaga perasaan itu bukan tanggung jawab orang lain, itu tanggung jawab pribadi. Seperti bernafas, setiap orang punya paru parunya sendiri buat diisi oksigen. Sama juga dengan perasaan kamu. Dunia kejam? Hahaha welcome to the jungle!!! huba, huba, huba...
saya punya satu hati
diberikan oleh Tuhan dengan segala kemurahanNya
kemudian hati ini retak dan terbagi berkeping keping
karena tergenggam terlalu keras oleh tangan dunia
dari awal ketika saya belum paham arti cinta yang sesungguhnya
hati ini telah hancur dan tak lagi utuh
baiknya?
saya kaya hati untuk berbagi
buruknya?
saya tak bisa lagi menetap di hanya satu hati yang lain
terlalu banyak bagian di dalam sini yang membutuhkan jenis cintanya masing -masing
ya, maafkan saya yang tak mampu lagi memilih
ya, saya selalu bisa mencintai banyak pemilik hati
tulus, tanpa bermaksud menyakiti
easy come easy go you and the year i'm afraid, very scared to face the new one but i try to be brave may God will be kind to give me hand bismillahirrahmanirrahim happy new year eve everyone and you :)