قصة مناسبة للقراءة عن قضية فلسطين، وأحداث حي الشيخ جراح، برسم جميل، وتسلسل أحداث يناسب الأطفال، ومن لم يسمع بالقضية:
todays bird
Jules of Nature
One Nice Bug Per Day
$LAYYYTER
Cosimo Galluzzi
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
KIROKAZE
occasionally subtle
Show & Tell
Three Goblin Art
No title available
Not today Justin
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor

⁂

No title available
AnasAbdin

izzy's playlists!
No title available
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from France

seen from Spain

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from Venezuela

seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
@norabudy
قصة مناسبة للقراءة عن قضية فلسطين، وأحداث حي الشيخ جراح، برسم جميل، وتسلسل أحداث يناسب الأطفال، ومن لم يسمع بالقضية:
The Prophet ﷺ said:
"A pious woman who helps you in religious and wordly affairs is better than any treasure!"
• [Sahih Al-Jami No. 5355]
VIDEO: Living Under Israel’s Missiles
Four boys of the Bakr family were killed by a missile strike during last year’s incursion. Their surviving family members are still scarred from the attack.
More than anyone, children bear the brunt of regular Israeli military assaults on the Gaza Strip. During the 51-day war in the summer of 2014, 551 children were killed and 3,436 were injured. But these gruesome figures say little about the psychological state of the nearly 800,000 children who have survived the periodic bombing campaigns. After the final cease-fire that ended Israel’s Operation Protective Edge on August 26 of last year, UNICEF estimated that at least 425,000 Palestinian children in the besieged Gaza Strip require “immediate psychosocial and child protection support.”
[ The physical wounds of Gaza children might have healed, but they live with enduring psychological trauma ]
Di sela perbincangan ketika hujan, istri tiba-tiba bertanya. "Apa yang paling menenangkan di dunia ini?"
"Bisa merasa cukup. Mau makan ada, mau belanja ada, butuh apa kebeli". Jawabku.
"Bukan" timpalnya. "Tapi sholat tepat waktu".
Mau sebanyak apa yang dikejar, yang lagi diusahakan, sesibuk apapun yang dikerjakan. Kalau sholatnya selalu terlambat, tidak akan merasa tenang.
Kita baru bisa merasa tenang mengerjakan segala sesuatu, selepas sholat.
Deg... rasanya tertampar. Bisa jadi selama ini tidak pernah merasa cukup waktu, mencemaskan tentang banyak hal di masa depan. Karena kita sudah terlalu seringnya meninggalkan waktu.
Sampai kita lupa memasrahkan diri, memasrahkan setiap ikhtiar yang kita lakukan.
Kita merasa mampu menaklukan segalanya dengan bekerja keras. Tapi ternyata ada banyak keajaiban yang tidak mampu kita jangkau dengan logika.
Bahkan pencapaian-pencapaian kita sekarang, barangkali bukan hanya karena kerja keras kita. Tapi dari doa kedua orang tua kita yang tidak pernah terlambat dari sholatnya.
Barangkali juga bukan karena keberuntungan kita. Tapi dari doa orang-orang yang pernah kita beri pertolongan, doa orang-orang yang pernah kita mudahkan urusannya.
Astaghfirullah... betapa sombongnya diri ini.
"Terus apalagi yang paling menenangkan?" Ia melanjutkan pertanyaan seraya menjawabnya sendiri "Yaitu orang yang tidak terbiasa berhutang".
Seberapa banyakpun asetnya, semewah apapun hidupnya, kalau masih punya hutang tidak mungkin bisa merasa tenang.
Jadi bukan soal merasa cukupnya. Tapi juga soal menjadi sederhana, bisa menyesuaikan kemampuan.
Kemudian aku jadi merenung. Jangan-jangan kesulitanku selama ini karena aku melewatkan banyak kesempatan berbuat baik.
Seseorang yang semestinya diberi pertolongan, diringankan bebannya, tapi justru aku bantu untuk berhutang. Aku tambah bebannya untuk mencicil.
Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni kita semua.
—ibnufir
Benih yang baik, dicampak kelaut menjadi pulau, dilontar ke langit menjadi bintang, dan jatuh kedaratan menjadi pohon berbuah nan rendang
#kebaikan #islam #akhlak#budi
Bicara tidak selalu. Namun setiap sujud dan doa tentang bicaranya sentiasa ada.
#islam
It’s the prettiest ring I have ever seen. I won’t take it off for the rest of my life. No matter what happens, I will remember you.
The Help is Near
Saat berhadapan dengan ujian, pernahkah kamu bertanya-tanya dimanakah Allah berada?
Pekan lalu, saat mengendarai motor di jalanan yang basah akibat hujan besar, saya jatuh. Saat itu, lalu lintas cukup padat sehingga kecepatan rata-rata saya berkendara paling hanya 20-30 km/jam. Namun, jalanan tiba-tiba berubah menjadi sangat licin, saya kesulitan mengendalikan kemudi.
Empat motor berjatuhan sekaligus pada saat itu. Dari belakang, terdengar suara bapak-bapak berteriak, “Hati-hati! Ini ada oli tumpah, jalanan licin!” Bapak-bapak tadi kemudian membantu saya membangunkan motor dan beralih ke tepi. Di tepi jalan, saya mengecek seluruh tubuh. Alhamdulillah aman. Saya pun berterima kasih kepada si bapak dan mempersilakannya pergi meninggalkan saya yang sedang menenangkan diri. Namun ternyata, setelah bapak tadi pergi, motor saya mati! Oh no, bagaimana ini?
Saya mencoba menyalakan motor kembali, tetap tidak bisa. Sebagai perempuan, saya tidak punya ide sama sekali bagaimana harus membetulkannya. Akhirnya saya mencari bengkel terdekat. Melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada. Kemudian saya berbalik badan, sebuah bengkel ternyata ada tepat di seberang saya. Ya, tepat di tempat saya jatuh tadi, sebrangnya adalah bengkel. Saya jadi terharu, betapa mudah bagi Allah untuk menolong saya.
Sambil duduk menunggu motor saya diperbaiki, saya merenungi sesuatu, terutama tentang masalah yang sedang saya hadapi saat itu, yang saya pikir lebih besar dari kemampuan saya menyelesaikannya. Jangan-jangan, pertolongan Allah itu sebenarnya dekat. Seketika, muncul satu per satu wajah, kondisi, atau apapun yang mengingatkan saya bahwa saya telah, sedang, dan selalu mendapat bantuan dari Allah, dengan cara-Nya. Sayangnya, saya sering tidak peka. Iya, pertolongan-Nya selalu ada, tapi kepekaan hati saya yang terkadang tidak menangkap keberadaannya. Barangkali, semua tersebab terlalu banyaknya dosa.
Bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga telah, sedang, dan selalu mendapatkan pertolongan-Nya?