Gak semua harus Krn uang.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Love Begins
TVSTRANGERTHINGS
art blog(derogatory)
Jules of Nature
sheepfilms
almost home

oozey mess

Origami Around
🪼
$LAYYYTER
h
cherry valley forever

#extradirty
Misplaced Lens Cap
YOU ARE THE REASON
will byers stan first human second
Today's Document

if i look back, i am lost
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from Japan
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from India
seen from United States

seen from France
seen from United Kingdom

seen from Ireland

seen from United States

seen from United States
seen from Australia

seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from T1

seen from Australia
seen from Sweden

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
@novirindawati
Gak semua harus Krn uang.
Not the Same Energy
Beberapa hari yang lalu, agak kaget pas lagi ngobrol santai. Entah darimana pembicaraannya, beberapa temanku ini menganggapku ambisius. Padahal aku nggak ada capaian apa-apa. Namun, bagi mereka tidak begitu. Aku dianggap membuat arena persaingan, dianggap perfeksionis dan ambisius. Agak aneh sih menurutku. Aku cuma melakukan sesuatu yang memang tugasku semaksimal mungkin. Bukankah ini hal yang wajar?
Jujur aku emang ambis dari kecil, orang tuaku mendidik seperti itu. Namun, semenjak punya anak dengan neurodivergent, aku sering merasa stuck, gak punya capaian apa-apa karena energiku banyak terkuras disitu.
Selama ini aku cuma mengajar, membersamai, memberikan yang terbaik untuk murid-muridku, melakukan tugasku dengan baik. Tidak menyenggol orang lain, tidak merasa bersaing dengan siapapun. Apa ada yang aneh?
Jadi pertanyaanku selama ini mulai tercerahkan. Sepertinya kebiasaanku inilah yang membuat beberapa orang di sekitarku terganggu, sampai-sampai awal aku masuk, aku dianggap tidak kompeten karena bukan lulusan LIPIA. Mau lulusan manapun, tetaplah belajar dan rendah hati. Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang kita dapat di bangku kuliah. Bukankah belajar itu seumur hidup?
Meninggilah tidak mengapa, kalau memang kamu percaya dengan value yang kamu punya, tapi bukan dengan cara mengerdilkan orang lain.
Bukan aku yang salah, bukan pula mereka. Hanya saja energi ini berbeda. Yang kelihatan mencolok dicurigai; yang bekerja dengan sungguh dianggap ambisius, ternyata karena kebiasaan, standar, dan mental setiap orang berbeda.
Well, setiap orang memiliki kapasitas, kesempatan, dan energi yang berbeda. Perbedaan itu juga tidak menjadikan siapapun lebih baik atau lebih buruk.
Barangkali kita punya standar yang tinggi untuk kata "ambisius", namun yang perlu kita pahami, tidak harus menjadikannya sebagai standar pada orang lain.
Tidak perlu mengecilkan standar diri agar orang lain nyaman. At the same time, kita juga tidak perlu memaksakan orang lain agar memiliki standar yang sama.
Ditulis di Jakarta, sebelum kembali menjadi warga kabupaten
Kata orang : kamu sih, dulu padahal dia suka sama kamu tapi kamu gak mau. Sekarang dia sudah nikah sama orang lain bla bla bla.
Kata aku : aku fokus sekolah dulu
Jangan berandai-andai, kalau memang serius. Pasti sabar buat nunggu sampai apa yang menjadi tugas seorang anak selesai. Saat itu aku hanya berfikir untuk bisa selesaikan sekolah di jenjang yg lebih tinggi. Tidak berfikiran punya pasangan bahkan pacaran pun tidak terpikirkan sama sekali. Ketika sekarang ybs punya pasangan ya artinya bukan jodoh dan dia tidak berniat untuk serius, tapi hanya sekedar suka tanpa mau berusaha dan sabar.
Kecewa? No Way!
Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2: 216)
Salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang selalu berhasil membuat saya tersenyum dan semangat kembali ketika ditimpa musibah. Sebab, menurut saya, itu adalah 'kado cinta' terbaik dari Allah untuk saya—yang selalu berdo'a semoga sampai akhir hayat termasuk sebagai hambaNya.
Manusia selalu memiliki banyak harapan, akan tetapi dari sekian banyak pengharapan itu, mungkin tidak semuanya Dia kabulkan, persis seperti apa yang kita mintakan. Banyak dari kita yang mungkin ketika dihadapkan dengan persoalan itu, akan bersedih bahkan putus asa dibuatnya.
Suatu ketika, ada seorang adik yang mendatangi saya dengan keadaan sedih dan kecewa, karena ia merasa do'a-do'anya selama ini Allah abaikan. Lalu saya katakan kepadanya:
"Bersyukur atas segala pemberian yang kita inginkan itu meskipun susah diistiqomahkan, tapi masih mudah untuk dilakukan. Naluri manusia memang seperti itu, ketika diberi bahagia akan berterimakasih kepada penyebabnya. Tapi ada hal yang lebih hebat dari pada itu?" kataku.
Dia bertanya, "Apa itu mas?"
"... adalah ketika kita mampu untuk tetap bersyukur atas segala ketidakinginan yang kita terima saat ini." jawabku.
"Maksdunya, mas?" sambungnya.
"Allah adalah Yang Maha Bijaksana. Allah juga adalah sebaik-baik pemberi keputusan. Cukuplah kita yakini atas segala pemberian dari Allah sebagai bentuk cintaNya kepada kita. Semua hal yang kita panjatkan yang kamu yakini itu baik, mungkin Allah tunda atau bahkan tidak kabulkan do'amu itu, sebab lagi-lagi Dia lebih tahu apa yang lebih baik untukmu. Bersabarlah sedikit lagi." pungkasku.
Selalu ada sebab Allah memberi satu hal kepada kita, ketika Allah hendak memutuskan sesuatu, Allah akan hadirkan terlebih dahulu sebab-musababnya, sebelum akhirnya hal itu benar-benar hadir di tangan kita. Coba lihatlah itu, renungilah dengan penuh keimanan. Dengan izin-Nya, kamu akan temukan jawabannya, kenapa seperti ini seperti itu.
Memang tidaklah mudah untuk selalu berperasangka baik kepadaNya. Apalagi jika keputusanNya justru bertolak-belakang dengan keinginanmu. Kuncinya adalah yakin, keyakinan yang utuh tanpa terdistorsi dengan segala bentuk penyangkalan. Sebab, dengan keyakinan yang parsial kita akan kesusahan untuk meyakini segala pemberianNya.
Jadi, masih perlu kecewa? Nggak usah lah yaa :)
Jika ia bersungguh-sungguh maka ia akan berusaha, berjuang untuk mendapatkan mu.
Jika ia bersungguh-sungguh maka ia akan berusaha untuk memperbaiki diri.
Jika ia bersungguh-sungguh maka ia tidak akan memberikan harapan, perhatian lebih.
Jika ia bersungguh-sungguh, maka ia akan tetap menanti mu hingga pendidikan mu selesai. Membiarkan mu fokus terhadap pendidikan terlebih dahulu.
Jika ia bersungguh-sungguh, maka ia akan sabar dalam penantian waktu yg lebih baik.
Dari Nol
Pernah nggak dalam hidup, Allah menempatkanmu dari awal lagi. Dari titik nol. Takdir-Nya mengantarkanmu pada keadaan, dimana kamu harus memulai segala sesuatunya lagi dari awal. Dan itu, terjadi saat usiamu tak lagi semuda dulu, mungkin sudah menjelang tiga puluh, bahkan mungkin sudah tiga puluhan atau empat puluhan? Kita ditempatkan di sebuah keadaan yang membuat kita bertanya-tanya. Bahkan, mungkin menyangsikan kemampuan diri sendiri. Padahal, justru dititik itulah kita diajarkan dengan keras untuk tidak terlalu mengandalkan diri sendiri.
Mudah bagi Allah untuk berkehendak, mudah bagiNya untuk membuat kita ada dalam keadaan tertentu. Tapi, di keadaan itulah kita semakin menyadari kalau rencana kita takkan berarti apa-apa tanpa keridhaanNya.
Mungkin, diantara kita ada yang harus memulai karir dari awal lagi. Mungkin, diantara kita ada yang harus memulai hubungan (untuk mencari pasangan hidup) dari awal lagi. Mungkin, diantara kita ada yang harus mengubah keputusannya, dari awal lagi. Dan banyak hal lain yang mungkin terjadi di hidup kita masing-masing.
Untuk bisa melewati keadaan ini, tenangkanlah hati. Tenangkanlah diri. Karena hidup ini tidak serta merta gagal hanya karena tidak sesuai dengan rencana kita. Yang gagal hanya rencana kita, bukan hidup kita.
Saat ini, kita sedang berjalan di atas rencana terbaik, ialah rencanaNya. KG
Tidak semua proses harus diketahui orang lain. Karena hidup bukan panggung pembuktian terus-menerus. Ada orang yang diam, tapi diam-diam menjaga shalatnya, memperbaiki lisannya, menahan dirinya dari maksiat setelah mendengar satu nasihat sederhana. Dan itu cukup berarti meski tidak ada yang tahu.
Saat di titik terendah, aku selalu ingat kalimat itu. Bagaimana pun, meskipun aku merasa sangat kecil dan tak berharga, bagi trilyunan sel di dalam tubuhku, aku adalah semesta mereka. Aku adalah kehidupan yang mereka syukuri. Jadi, apapun yang terjadi, bertahan lah!
Jarak terjauh bukanlah ruang, melainkan masa lalu yang tak akan kembali.
Rindu yang paling berat adalah mengenang orang-orang tercinta yang telah lebih dulu berpulang.
Dan nyatanya cinta itu tidak akan pernah hilang. Ia menjelma menjadi doa-doa yang kian dalam.
Maka, sungguh beruntung bagi orang-orang yang lebih dulu berpulang, dan meninggalkan anak-anak soleh yang senantiasa mau mendoakan.
Karena, hanya itu yang bisa menjangkau rindu yang melampaui ruang dan waktu. Sampai dan terdengar, hingga menggembirakan hatinya.
@azurazie
Pertemanan yang Baik
Selama ini, menyadari kalau banyak sekali berbuat salah kepada orang lain. Baik itu sengaja maupun tidak. Bahkan, dalam hati ini pun seringkali masih ada rasa tidak nyaman saat berhubungan dengan nama-nama tertentu dalam hidup.
Beberapa kesalahan sudah lewat bertahun-tahun, tapi langkah kaki untuk meminta maaf secara langsung terasa begitu berat. Untuk itu, semoga Allah semakin melembutkan hatiku, menguatkan keberanianku, dan tetap menghitung niat ini sebagai sebuah langkah untuk menebus rasa bersalah.
Banyak hal yang kusadari, semakin dewasa, membangun relasi kini sudah berbeda sekali cara melihatnya. Dulu mungkin kita mengejar pertemanan karena bisnis, karena ada kepentingan. Kini pun sebenarnya ada kepentingan, tapi kepentingan untuk meminta tolong pada mereka dalam kebaikan. Mengingatkan jika salah langkah. Mencariku saat tidak mereka temukan di surga.
Banyak pelajaran yang kudapatkan dari berbagai macam kesalahan, semoga Allah mengampuni masa lalu dan masa depanku yang mungkin juga tanpa sengaja salah langkah.
Semoga kita semua, diberikan kenikmatan berupa pertemanan yang baik. Aamiin.
Tak semua bagian dari hidup kita harus diceritakan kepada orang lain, ada yang harus disimpan sendiri, ada yang harus dikisahkan, dan ada yang hanya bisa kita ceritakan pada seseorang yang istimewa bagi kita.
Dulu, belum terlalu mengerti mengapa harus memahami kalimat-kalimat ini, tapi seiring berjalannya waktu dan usia, barulah tahu, ternyata perjumpaan kita dengan banyaknya manusia, dan beragamnya latar belakang mereka, menjadikan kita harus waspada dan memilih kisah mana yang layak kita bagi kepada mereka.
Aku pernah berjumpa pada seorang yang introvert luar biasa, menutup dirinya dengan sangat-sangat menutup. Namun karena seringnya berjumpa, seringnya aku mengajaknya bicara dan terkadang ia menjadi teman yang mendengarkan semua kisahku, aku memang ekstrovert, mungkin bisa dibilang ekstrovert parah.
Pada satu titik, ia membuka sebagian kisah hidupnya, ia menangis...
Dan aku baru pertama kali melihatnya menangis sembari bercerita, dan aku akhirnya tahu mengapa ia begitu banyak diam. Bukan karena pahitnya luka masa lalu, atau sakitnya hidup di masa lampau. Tapi... ah, aku bingung menjelaskannya.
Dan kamu tahu, bisa jadi, seseorang yang terbiasa menjadi pendengar yang baik, ia juga butuh didengarkan kisahnya. Dan sesekali, seseorang yang terbiasa bercerita, ia harus menjadi pendengar yang baik, agar lebih arif dan bijaksana dalam mendengar dan berbicara.
@jndmmsyhd
TEGUR DIRI SENDIRI
Rasanya, memang lebih mudah jika sok paling benar dengan menasehati orang lain, dibanding muhasabah untuk diri sendiri. Mungkin memang begitulah sifat manusia pada dasarnya. Maka, izinkanlah saya dengan tulisan ini untuk sekadar menuangkan keresahan-keresahan yang tiba-tiba membenak di pikiran. Di awali dengan pertanyaan :
Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Mungkin kita pernah mendengar bahwa dosa yang paling sulit dihindari adalah dari penglihatan mata. Karena, biasanya yang pertama kali kita kenali atau kita cari itu diawali dengan melihatnya. Baik sengaja maupun awalnya tidak sengaja. Mata menjadi penentu tindakan kita selanjutnya akan berdampak apa. Untuk menambah kebaikan, atau menambah tumpukan aib sendiri yang suatu saat akan ditampakkan juga.
Tapi, pernahkan kita merenungi bahwa kita tidak bisa menampik, sebenarnya lebih terbiasa menumpuk dosa dengan jemari kita. Dengan ponsel yang lebih sering berada di genggaman. Apalagi kalau bukan interaksi di social media. Entah itu secara personal maupun yang bertebaran di grup-grup sejenis whatsapp dan lainnya. Ngerumpi online istilahnya, jika tidak ingin dibilang ghibah yang modern.
Seberapa sering di dalam sharing sesuatu itu, kita melupakan istilah ‘saring’ lebih dulu. Adakah manfaatnya membagikan sesuatu itu? Adakah nilai kebaikannya? Perlukah kita sebar? Semisal membagikan potongan video atau membagikan potongan gambar yang sebenarnya tidak menambah nilai kebaikan apa-apa.
Jemari tangan kita dengan mudahnya menumpuk dosa, dengan dalih hanya guyon, untuk lucu-lucuan, biar seru-seruan. Padahal kalau dipikirkan ulang, kelak dihari perhitungan semua itu akan di nampakkan kembali dengan detail, lengkap dengan historynya. Bahwa si fulan bin fulan pada tanggal sekian, waktu sekian, membagikan dosa jariah kepada si fulan, si fulan dan si fulan lainnya. Yang si fulan tersebut membagikan kembali kepada si fulan bin fulan, dan seterusnya, dan seterusnya. Hingga panjang sekali daftar riwayatnya.
Innalillah, maka, pertanyaan itu layak sekali untuk kita renungkan sesering mungkin,
Hari ini sudahkah kita menegur jemari tangan kita, tentang apa-apa yang sudah ia perbuat?
Alih-alih menambah kebaikan-kebaikan dengan sharing yang bermanfaat, dan menjaga kualitas diri dengan setiap harinya menjadi pribadi yang lebih baik. Kita lebih sering lupa untuk menjaga kehormatan diri sendiri dengan tidak bijak dalam membagikan sesuatu di social media. Perkara sederhana yang perlu kita renungi dalam-dalam.
Dan bagaimana dengan anggota tubuh yang lain?
@azurazie_
Setelah ini, Semuanya Bisa Kita Kejar
Kami menandai sebuah hal dalam hidup yang selama sepuluh tahun terakhir adalah hal yang paling pertama kami kejar dalam batas maksimal kemampuan. Dan sebentar lagi, hal itu akan tercapai, insyaallah.
Ada sebuah kelegaan, saat kami dimampukan untuk bisa mendapatkannya. Di tengah iman yang naik turun dan compang-camping. Di tengah-tengah kemelut masalah. Di tengah-tengah fase terendah dalam hidup kami.
Bagi kami, peristiwa ini sangat menakjubkan. Kami mendapatkannya bukan pada saat kami memiliki segalanya, justru saat kami merasa tidak memiliki apa-apa. Saat usaha lagi turun, bisnis lagi tutup, kami harus menyelesaikan berbagai masalah yang bukan disebabkan oleh kami, saat kami harus memulai segala sesuatunya dari awal.
Benar-benar kuasa-Nya. Kami mendapatkan hadiahNya di saat kami sangat membutuhkan pertolongan-Nya.
Setelah ini, semuanya bisa kami kejar satu per satu.
Doa apa yang bisa membuatmu menangis?
Bukan doa yang paling panjang, bukan pula yang paling indah susunan katanya. Tapi doa yang keluar dari hati yang benar-benar merasa butuh…
Saat seseorang berhenti berpura-pura kuat, dan akhirnya berkata dengan jujur di hadapan Rabb-nya: “Ya Allah… aku lelah. Tolong aku.”
Di situlah air mata jatuh, bukan karena kata-kata, tapi karena hati yang akhirnya pulang, hati yang butuh sandaran dan butuh bantuan.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk meminta hal besar, hingga lupa menangis untuk hal yang paling sederhana: ampunan, kecukupan, ketenangan, dan dekat dengan-Nya. Apalagi jika untuk keluarga.
Lalu, doa seperti apa yang jika kamu ucapkan hari ini… akan membuat hatimu bergetar dan matamu basah?
@jndmmsyhd
Obat terbaik untuk menghibur diri dari 'ekspetasi yang berlebihan' adalah :
ALLAH LEBIH TAHU APA YANG AKU BUTUHKAN.
Maka, jangan mudah berkecil hati.
@azurazie
Barangkali, Allah memanggil kita (utk Haji / Umroh) bukan karena kebaikan kita, bukan karena keikhlasan kita. Tapi karena dosa² kita, maksiat² kita. Sebab Dia ingin memaafkan kita, Dia kasihan sama kita, Dia ingin kita berubah.
- Ust Salim A Fillah
Sabar itu seperti menanam benih di tanah yang terlihat tandus. Tak ada suara, tak ada gerak, tak ada tanda-tanda. Hanya keheningan. Lalu tiba-tiba, pada suatu waktu yang tidak kita duga, Allah menumbuhkan tunas kecil, tanda bahwa usaha diam dan panjang itu ternyata sedang diperhatikan-Nya.
Pada akhirnya, semuanya akan kembali. Namun kitalah yang menentukan bagaimana kita kembali.
Hidup ini memang selalu memutar. Luka akan pulang, bahagia pun akan kembali. Tapi bagaimana bentuk diri kita ketika semua itu kembali, lebih matang atau lebih patah, kitalah yang memilih.
Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya fokus pada sakitnya. Fokuslah pada dirimu yang sedang dibentuk. Karena bisa jadi, Allah tidak sedang menunda apa yang engkau minta; Ia sedang menyiapkan engkau agar pantas menerimanya.
Kadang Allah tidak langsung memberi, bukan karena Ia tidak sayang, tetapi karena Ia ingin menghadiahkan sesuatu yang tidak akan kita sia-siakan nanti.
@jndmmsyhd
Baru aktif lagi nulis di tumblr, insyaallah bakal banyak hal yang saya tulis setiap harinya :')