Ketika seseorang membuatmu nyaman, bukan selalu memberimu rumah. Hanya saja menghargaimu sebagai manusia, bukan sebagai pasangan.
Keni
🪼
art blog(derogatory)

ellievsbear

Kaledo Art

Janaina Medeiros
Sade Olutola
One Nice Bug Per Day

#extradirty
Cosimo Galluzzi
Not today Justin
Monterey Bay Aquarium
official daine visual archive
Noah Kahan

Andulka
ojovivo
Game of Thrones Daily
sheepfilms
cherry valley forever
he wasn't even looking at me and he found me

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Germany
seen from Ukraine
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Canada

seen from Türkiye
seen from T1

seen from Germany

seen from Oman
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from India
@novrinpn
Ketika seseorang membuatmu nyaman, bukan selalu memberimu rumah. Hanya saja menghargaimu sebagai manusia, bukan sebagai pasangan.
Datang dan pergi seperti sudah jadi makanan sehari-hari. Selalu ada dan jadi terbiasa. Meskipun terkadang masih sulit menerima, harus tetap dijalani dengan lapang dada. Menyalahkan keadaan rasanya percuma, karena memang sudah garis-Nya. Sungguh, memang menyiksa. Tapi, beberapa badai sudah aku lewati. Jadi, tenang saja.
Katanya, "Terkadang kasih sayang Tuhan itu bukan apa yang diberi padamu, tapi apa yang disingkirkan darimu."
Oke, baik.
Seketika semua sunyi senyap, tak ada suara yang biasa terdengar, tak ada gerak yang biasa terlihat. Yasudah tak apa, pada akhirnya pun semua akan kembali pada kesendirian. Mungkin waktunya sudah benar-benar habis, tak tersisa sedikit pun. Berjalanlah terus, jangan berhenti apalagi berputar arah. Berbahagialah selalu, doa baik yang selama ini ada, mengiringi langkah dimanapun kamu berada.
Setelah apa-apa yang diusahakan ternyata tetap bukan milik, ya tak apa. Sesungguhnya tak ada yang cuma-cuma, semua memiliki hikmah. Pertemuan yang tak sengaja pun memiliki tujuan, bukan sekedar singgah. Percayalah, Tuhan selalu menyiapkan hal baik dibalik sesuatu yang tidak kita sangka. Ya semoga benar apa yang terucap dipikiran.
Putus asa hanya menjadi sesal semata
Tak akan berakhir baik
Berjalan terus lebih baik
Menata apapun yang kau bisa usahakan
Tak mungkin sama sekali tak ada
Semangat lah jangan hilang asa
Bersyukur lah agar tak hilang akal
Terima kasih telah menjadi alasan
Di mata seseorang mau seraksasa apa pun kamu, kamu akan tetap kerdil. Mau sehebat apa pun kamu, baginya kamu akan tetap payah. Di mata seseorang yang mampu memfungsikan penglihatan keduanya, tetap baginya bayanganmu hanya terpantul sebelah. Kamu bukan apa-apa, bukan siapa-siapa.
Tidak perlu berkecil hati. Besarkan saja dengan ‘Aku ada bukan untuk membuatmu terkesima. Aku ada untuk menjadi sebaik-baiknya aku.’
#aksarannyta (at Depan Rumah Pak Joko) https://www.instagram.com/p/CFCfg9AAVvc/?igshid=sqsvnobxi8ty
Mungkin sebagian manusia lainnya terlalu mudah menilai seakan paling tahu apa yang tengah ia perbincangkan. Karya seseorang memang patut dikritik, akan tetapi tidak dengan cara menjatuhkan, itu jelas tidak adil bagi si pembuat karya yang memiliki mimpi yang sama. Memang mereka yang merasa senior seakan-akan paling benar dan paling tahu dalam segala hal tapi mereka juga lupa bahwa ilmu yang mereka dapat masih kecil dibanding pembuat karya terdahulu. Jadi, sebenarnya sama-sama mayoritas hanya rasanya seperti minoritas. Kita tidak perlu mencari-cari kesalahan orang lain yang sudah melalui proses. Ketika dijatuhkan sedangkan karya tersebut sudah lulus melalui proses jatuh bangun, rasanya sangat sakit. Mungkin jika diibaratkan seperti seluruh alam semesta mengusirnya dari dunia, tak ada yang mendukung sama sekali. Salut jika ada manusia yang bermental baja, tak peduli bagaimana orang lain memperlakukan. Mental seperti ini memang harus dimiliki siapapun, agar mimpi yang sedang diusahakan tidak mati oleh bacotan sampah.
Jangan lupa menjadi manusia yang sebenar-benarnya, karena tidak semua manusia adalah manusia. Terlalu buta dengan duniawi, hingga lupa akal dan budi. Terlalu buta hati nurani, hingga ia lupa empati dan simpati.
Semua sedang berjuang, jangan kau hancurkan dengan ego beriming iming senang. Rasanya ingin gantung diri, menahan rindu dengan terkasih. Tolong kali ini saja pahami apa arti memanusiakan manusia dan sembuhkan hati nurani yang hampir buta.
The latest Tweets from Novrin Putri (@Novputr)
Dengan mendengarkan saja itu sudah membantu menyembuhkan.
Teman Biasa
Pernah tidak punya kawan yang kini menjadi terkenal, misalnya di sosial media apapun yang intinya kini pengikutnya banyak dan komersil, menjadi penulis terkenal, sukses di bisnis besar atau menjadi karyawan top-management, atau sudah naik tingkat level kehidupannya dari dahulu yang kita kenal, lalu sekarang terasa begitu susah untuk berkomunikasi dengan dirinya?
Dia tidak lagi berada pada level ketika kita; kirim pesan, dia langsung jawab; ajak jalan, langsung kemon; mau curhat, dia selalu ada untuk mendengarkan.
Kita tidak bisa naif bahwa kehidupan itu berputar dan mimpi-mimpi adalah realitasnya. Tiap kita punya tujuan dan hak menggapainya adalah keasasian. Teman terbaik pun adalah bagian dari proses gapaian-gapaian hal tersebut.
Di situasi yang pernah saya alami ini, ketika kita kehilangan teman-teman yang dulu begitu mudahnya kita berfantasi tentang hal-hal sederhana–tak ada mimpi-mimpi besar atau bahkan diskusi peradaban, hanya sekadar obrolan ngalur-ngidul di 7-Eleven tengah malam–saya justru merasa menjadi biasa itu sungguh anugerah. Ketika kita begitu miskin hingga harus saling tethering bergantian; ketika tiap malam hanya bubur pinggir jalan yang sanggup dikonsumsi; ketika kenangan waktu SMA mendominasi pembicaraan; ketika segala hal-hal biasa dari orang-orang biasa menjadi sebuah keistimewaan.
Kontras dengan mereka yang untuk membalas pesan kita pun butuh berhari-hari. Bertemu dengan kita pun penuh dengan drama. Postingan-postingan-nya berbeda; kaku hingga kita sungkan untuk berinteraksi. Apalagi soal jalan; tidak ada waktu.
Saya meyakini bahwa keistimewaan dari orang-orang biasa adalah waktu yang sedemikian lapang, pikiran yang sedemikian merdeka, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak perlu akan masa depan. Teman biasa yang bukan siapa-siapa itu sesuatu. Ibarat kata dalam Instagram, kita adalah “fans berat” karena satu-satunya akun yang paling sering nge-likes postingan-nya di Instagram. Sebaliknya, postingan kita juga hanya dia yang selalu likes “Pertamax” duluan. Ini terjadi dalam kehidupan nyata yang jauh-jauh sederhana. Jika kalian masih berada pada situasi ini, ucapkan terima kasih atas “pertemanan biasa” kalian itu. Karena itu adalah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang-orang penting. Berusahalah menjadi teman yang istimewa karena kebiasaan.
Sebab itu saya sulit untuk berteman dengan orang-orang penting karena saya tidak mau membuang-buang waktu mengikuti ritme hidupnya. Lebih memilih untuk berteman dengan mereka yang biasa-biasa saja. Ini opini saya pribadi dan tidak tahu orang lain seperti apa.
Saya pernah menulis soal yang sama di sini: Menjadi Biasa (Saja).
“Hanya karena berbeda dan merasa berdiri sendirian, tidak berarti menjadi sama seperti mereka adalah sesuatu yang benar untukmu saat ini.”
— (via mbeeer)
Hai, calon suamiku.
Aku masih tidak menyangka ternyata kamu orangnya.
Padahal aku kira kita hanya akan menjadi seorang teman,
karena aku masih meragukan keseriusanmu.
Tetapi aku punya alasan mengapa aku ragu, calon suamiku.
Aku ragu karena aku takut kamu tidak bisa menerima segala kekurangan yang ada padaku.
Aku takut kamu masih ingin mencari perempuan yang lebih baik.
Nyatanya, kau bisa menerima hingga keluargamu juga.
Aku sangat bersyukur bukan main asal kau tahu.
Aku pikir manusia tidak ada lagi yang bisa aku percaya,
tapi kamu mengembalikan rasa percayaku.
Terima kasih, calon suamiku.
Semoga kita abadi hingga ujung usia.
Dari aku, calon ibu dari anak-anakmu. 🤭
Terkadang yang memang seharusnya ditinggalkan itu justru hal paling baik yang seringkali dilupakan. Hanya saja manusia sulit menyadari bahkan terlalu dalam mencintai hingga lupa diri. Semoga waktu bisa memulihkan segala yang terasa sakit, agar bisa terus berjalan tanpa terasa sulit.
Satu Premis Sederhana
Selalu ada penjelasan untuk setiap perasaan cinta yang datang. Hanya saja fasihnya perkataan tak semuanya mampu mewakilkan.
Kadang mencintai dan dicintai tak selalu harus saling bersahutan. Seperti halnya ombak yang datang ke pinggir pantai tak selalu pulang membawa pasir ke lautan.
Sungguh tak ada orang yang mampu menyangkal bagaimana cinta itu bisa tumbuh dan mekar dalam hatimu. Tak ada pula orang yang bisa menerka sedalam apa perasaanmu.
Tak ada kehilangan yang tak menyisakan pilu. Entah dari mana muasalnya, kehilangan selalu menyakitkan. Bahkan jika itu hanya kehilangan kesempatan. Kesempatan untuk menyatakan dan kesempatan untuk memiliki.
Tapi kamu masih bisa mencintai dengan merelakan. Karena yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti.
Pada akhirnya, kamu akan sampai pada sebuah premis sederhana: mungkin bukan dia orangnya.
— Taufik Aulia
Menulis adalah cara memuntahkan segala asa dan rasa yang bergelut di pikiran. Katamu, aku abadi dalam ingatan tetapi tanpa aku ada di tulisan semua menjadi bukan apa-apa.