UI Goes To Sambas (Part 3)
Hari ketiga di Kalimantan Barat kami menghabiskan waktu di Pontianak, mencoba berkeliling di Pontianak untuk berbelanja oleh-oleh dan wisata budaya disana.
Di Pontianak kami menginap di Harris Hotel Pontianak di jalan Gajah Mada. Rate di hotel ini per malamnya berkisar Rp500,000 - Rp800,000.
Jalan Gadjah Mada ini berada ditengah-tengah kota sehingga memudahkan saya dan tim untuk berkeliling kota Pontianak.
Transportasi di kota Pontianak agak sulit hanya ada sewa mobil, taksi dan angkutan kota yang disebut oto (angkot) namun oto ini sangat jarang. Taksi disini pun tidak seperti taksi yang ada di Jakarta, taksi disini yaitu mobil avanza, innova, dan mobil-mobil sedan kecil. Mayoritas warga Pontianak menggunakan kendaraan pribadi : motor-mobil-sepeda.
Kami memutuskan untuk memesan taksi dari hotel. Minimal pemesanan taksi yaitu 2 jam dengan tarif 1 jam Rp80,000 - 2 jam Rp150,000.
Tujuan pertama kami yaitu ke jalan Pattimura untuk membeli oleh-oleh. Saya membeli makanan khas pontianak. Di jalan Pattimura tersebut adalah tempat khusus menjual oleh-oleh. Sepanjang jalan Pattimura terjejer toko-toko penjual oleh-oleh, kain-baju, dan souvenir khas Kalimantan Barat.
Setelah puas berbelanja Saya dan tim menuju Universitas Tanjung Pura-salah satu perguruan tinggi negeri di Kalimantan Barat. Kampusnya berada ditengah kota juga, kondisi kampus cukup asri karena banyak ditumbuhi pohon-pohon. Untan memiliki 2 kampus yang letaknya bersebrang-sebrangan dengan jalan. Saya dan tim ke kampus utamanya yang terdapat gedung rektorat. Ingin melihat bentuk bangunan rektorat disana-ingin membandingkan pula dengan rektorat UI hehehe.
Setelah mengelilingi Untan kami melanjutkan wisata budaya ke Rumah Radangk dan Rumah Melayu. Di kawasan ini kedepannya akan dijadikan kawasan budaya dimana terlihat ada beberapa bangunan rumah-rumah adat yang sedang dibangun dan direnovasi. Salah satu rumah yang dapat saya kunjungi yaitu Rumah Radangk merupakan balai pertemuan. Rumah Radangk merupakan rumah adat Kalimantan Barat dimana rumah yang berbentuk rumah panggung dengan kaki-kaki penyangga yang ditinggi dengan ukiran khas suku dayak. Ciri khas rumah adat ini memiliki tangga yang pada bagian atasnya berbentuk patung manusia. Namun di rumah Radangk ini juga disediakan tangga biasa supaya pengunjung bisa naik ke atas.
Tangga berbentuk patung manusia itu digunakan saat upacara adat. Ketika itulah suku Dayak naik ke atas menggunakan tangga patung tersebut. Warna dominan dari rumah Radangk adalah hitam dan merah.
Rumah adat Kalimantan Barat selanjutnya yang kami kunjungi yaitu rumah Melayu. Rumah Melayu ini juga memiliki banyak ukiran. Jika dilihat sekilas rumah melayu mirip dengan rumah adat betawi. Rumah Melayu ini didominasi oleh warna kuning kulit jeruk lemon. Rumah Melayu ini juga berbentuk panggung.
Setelah foto-foto di rumah adat, sata dan tim menuju Kampung Beting namanya. Disana ada Istana Alkadri -Kesultanan Pontianak. Sebagai informasi bahwa Kampung Beting adalah kampung Bandar Narkoba di Kota Pontianak.
Saat ke sana suasana kampung Beting dan didalam istana Al Kadri banyak pasukan pengamanan presiden (paspampres) karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan bahwa di besok (di tanggal 16 Maret 2017) presiden RI akan hadir ke Pontianak sehingga pengamanan sudah mulai dilakukan.
Istana Al Kadri, merupakan istana kesultanan Pontianak. Sultan disini beragama Muslim. Ada yang unik di Kesultanan Pontianak yaitu selain ada Sultan ada pula yang disebut Syekh. Syekh ini merupakan panglima dalam kesultanan Pontianak. Ciri khas dari Syekh ini adalah memiliki hidung yang mancung dan berwajah arab.
Kesultanan di Kalimantan Barat memiliki ciri khas warna yaitu warna kuning seperti keraton yang berada di Sambas. Istana Alkadri ini berbentuk rumah panggung, terbuat dari kayu. Bagian-bagian dari istana ini yaitu teras istana-di dalam ruang utama ditengah-tengah terdapat singgasana sultan dengan nuansa warna kuning. Selanjutnya sisi-sisi kanan istana merupakan kamar-kamar. Namun kamar-kamar ini tidak dibuka untuk umum.
Saat berkunjung ke Istana Alkadri, beruntungnya saya dan tim bisa bertemu dan berfoto dengan sultan al kadri.
Begitu cerita perjalanan saya di Kalimantan Barat, walaupun sangat panas namun saya bersyukur bahwa saya masih bisa diberikan kesempatan untuk menapakkan kaki ditanah milik Allah SWT. ๐
Oia ada satu cerita bahwa saya ketika disana di hari kedua saya mengalami kampunan-namanya.
Saya jatuh dari tangga masjid di keraton sambas, saya berfikir karena saya tidak hati-hati dan lantai yang licin.
Namun ternyata itu akibat saya tidak mencicipi hidangan yang diberikan oleh tuan rumah. Saran dari teman saya yang orang Kalimantan Barat, sebaiknya ketika kita bertamu atau berkunjung ke suatu tempat disana dan disajikan makanan oleh tuan rumah-walaupun kita tidak menyukai sajian tersebut sebaiknya kita menyentuh tempat hidangan dan seolah-olah menikmati sajian tersebut. Dengan begitu mereka sudah merasa dihargai atas sajian yang diberikan untuk kita.
So, cukup rasanya cerita Kalimantan Barat kali ini. Semoga saya bisa kesana lagi satu waktu supaya bisa mengelilingi wilayah kalimantan barat lainnya.
See you on another my trip guys!!