Aku akhir-akhir ini lagi sering nanya ke diri sendiri.
“Do I actually like this… or do I just like the validation that comes with it?”
Karena jujur aja, timeline sekarang penuh banget sama “must-have items.”
Hari ini Samba.
Besok ballet sneakers.
Lusa mungkin tas A.
Minggu depan ada lagi yang baru.
And suddenly, everyone wants the same thing.
Padahal, pernah nggak sih kita pause sebentar?
Kalau besok barang itu udah nggak trending, nggak viral, nggak muncul terus di FYP…
would I still buy it?
Aku sempat sadar dari hal sesimpel sepatu. Dari dulu, aku sebenarnya nggak terlalu suka model yang outsole-nya warna gum kayak Samba. Itu memang bukan seleraku.
Tapi waktu semua orang pakai, semua orang bilang itu “the shoes to have”, aku jadi mikir, “Apa aku juga harus punya ya?”
Di situ aku sadar…
Kadang yang berubah bukan selera kita.
Tapi rasa takut buat kelihatan “nggak update”.
Dan menurutku, itu yang bahaya.
Because trends are supposed to inspire you, not define you. Nggak ada yang salah kok suka barang yang lagi hype. Kalau memang itu selera kamu, go for it. Tapi kalau alasannya cuma biar masuk circle tertentu, biar kelihatan “cultured”, biar nggak dibilang ketinggalan zaman…Maybe it’s worth asking ourselves one more question:
“Am I choosing this… or is the algorithm choosing it for me?”
Kita hidup di zaman ketika identitas sering diukur dari apa yang dipakai. Padahal yang bikin seseorang interesting bukan logonya. Bukan sepatunya. Bukan tasnya.
It’s the way they think.
The way they speak.
The way they treat people.
The value they bring.
Barang bisa nunjukkin taste. Tapi taste is not the same as identity.
Aku justru pengen kita mulai normalisasi satu hal:
Pakai yang memang kita suka.
Beli yang memang kita butuh.
Nggak malu karena barang itu “udah nggak hits”.
Nggak maksa beli cuma karena semua orang lagi punya.
Because the coolest thing you can wear is actually…
your own taste.
Not everyone else’s.






