
JVL
No title available
No title available
almost home
wallacepolsom
YOU ARE THE REASON
I'd rather be in outer space 🛸
hello vonnie

#extradirty

No title available
ojovivo
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

No title available
One Nice Bug Per Day
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Game of Thrones Daily
$LAYYYTER

if i look back, i am lost
Claire Keane
he wasn't even looking at me and he found me

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Spain
seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from Brazil
@nuzeey
Risau
Teruntuk kamu,
Yang hatinya entah berada di mana...
Jika kamu bahkan tidak bisa memilih,
Maka jangan memintaku untuk bertahan,
Karena baru aku sadari bahwa...
Mencintaimu sudah tak sesederhana itu...
Mencintaimu membuatku serakah,
Serakah untuk memilikimu...
Hanya untuk diriku saja.
Mencipta Sunyi
Aku berlari,
Menjauhi keramaian,
Dan menemui keramaian yang lain,
Bersembunyi di balik bisingnya sunyi,
Bersembunyi di balik riuhnya keadaan.
Hingga tanpa sadar,
Merubah segala yang ada di permukaan,
Airnya tak lagi tenang,
Riaknya mulai terdengar ke pelosok,
Menimbulkan ketakutan.
Yang terpenting bagiku,
Aku berada di dataran yang aman,
Meskipun aku mengerti,
Tak ada diam yang memberi jaminan.
Ketenangan ini,
Sangat tidak aku nikmati.
Gemuruh yang memburu ini,
Sangat menyiksaku tanpa ampun.
Membuatku tak mengerti,
Apa yang seharusnya aku pilih?
Menjadi diriku sendiri,
Tetapi merusak istana kerajaan yang aku dirikan.
Atau bersembunyi di balik topeng,
Tetapi mempertahankan kokohnya kerajaan tersebut.
Duniaku mulai goyah,
Mulai berubah arusnya,
Menjadi tidak seperti yang biasa aku lihat.
Terseok-seok aku berlari,
Mencoba mempertahankan apa yang tidak ingin kuubah,
Tetapi,
Terlalu susah untuk menahan godaan yang ada di depan mata,
Terlalu susah untuk mengabaikan sesuatu yang berharga.
Hingga akhirnya,
Aku menemui keramaian yang lain,
Mengabaikan gemuruh yang bergetar menakutkan,
Mengabaikan teriakan yang meronta-ronta,
Mengabaikan apapun yang sedang terjadi dalam duniaku.
Aku bersembunyi di balik keramaian,
Untuk mencipta sunyi.
Teruntuk Pemilik Hati
Teruntuk pemilik hati,
Ijinkan aku untuk menulis surat terbuka kepadamu,
Dan jika kamu membaca surat ini,
Maka simpan untukmu sendiri.
Aku akhirnya memilih untuk tidak menyeberang.
Memilih bertahan di jalan ini,
Dan berhasil memenangkan egoku.
Aku tidak ingin merusak tatanan yang sudah ada.
Tidak ingin melukai siapapun.
Maka,
Kamu juga berhenti.
Berhenti membuatku bimbang.
Berhenti untuk merayuku agar menyeberang.
Karena kamu tak pernah tau seberapa besar pengaruhmu terhadapku.
Aku memilih untuk tetap berada di jalanku.
Memilih untuk menyerah.
Karena,
Kamu terlalu berharga untuk seseorang sepertiku.
Karena,
Kamu terlalu berharga untuk dipandang buruk oleh orang lain,
Karena,
Kamu terlalu berharga untuk menjadi antagonis.
Jadi,
Biarlah aku menyerah,
Menyimpan hati yang mulai terukir namamu dalam diam,
Tersenyum dari jarak aman ketika melihatmu bahagia,
Dan berharap suatu saat pangeranku bisa mengalahkan pengaruhmu.
Aku tidak akan menghapus rasaku,
Aku hanya membiarkannya bebas berkeliaran,
Dan jika suatu saat nanti semesta merestuimu denganku,
Aku percaya kita akan bertemu di persimpangan.
Dengan keadaan yang tepat,
Dengan waktu yang tepat,
Dan rasa yang tepat.
Tugasku dan kamu hanyalah tetap berjalan di jalan kita masing-masing,
Dan membiarkan semesta melakukan tugasnya.
Kota Istimewa
Pada jalan yang kata orang istimewa ini,
Aku dan kamu pernah menghabiskan waktu,
Berjalan berdua tanpa peduli keadaan,
Menghabiskan senja untuk mengukir kenangan,
Dulu,
Sebelum setelahnya kamu memilih beranjak.
Kota ini masih indah,
Masih sama istimewanya seperti beberapa tahun aku dan kamu pernah berkunjung.
Kota ini tak pernah bisa membuatku membencinya,
Karena kota ini terlalu istimewa untuk dibenci.
Kenangan tentang aku dan kamu terlalu indah untuk aku benci.
Pada jalan dimana kata kita masih dapat digunakan,
Kenangan yang terukir berbondong menyerobok,
Mengoyakku tanpa ampun,
Membuatku sesak,
Sekaligus bahagia.
Bagaimanapun,
Kota ini tetap menjadi hal terindah tentang kita.
Satu dari sekian banyak luka yang sempat tercipta.
Karenanya,
Aku tak pernah membenci kota,
Bukan,
Lebih tepatnya aku tak bisa membenci kota ini.
Karena hanya di kota inilah,
Aku dapat mengerti bahwa aku dan kamu pernah menjadi kita.
Runaway
Aku berdiri di depan cermin,
Dan melihat bayangan aneh,
Gadis di depanku memiliki senyumku,
Tapi bukan seperti senyumku,
Gadis di depanku memiliki binar mataku,
Tapi bukan seperti binar mataku.
Tapi dia terlihat sepertiku.
Lalu, aku termenung.
Semengerikan itu?
Tali-tali yang mengikat pikiranku,
Ternyata sehebat itu merubah sosok di cermin itu.
Mimpi yang terasa jauh,
Kenyataan yang menjerat.
Semua terasa berat.
Tanggung jawab itu tetaplah milikku.
Untuk sejenak,
Aku ingin berlalu.
Menuju ke kota baru,
Menuju ke manapun yang tak mengenalku.
Agar aku tak perlu berpura.
Agar aku dapat menjadi aku lagi.
Agar tak perlu ada kekhawatiran lagi.
Untuk sejenak,
Aku ingin berlari.
Bertaruh dengan angin,
Bertaruh dengan jejak,
Untuk menemukan senang kembali.
Bawa aku,
Untuk menemukan diriku lagi.
Kemanapun.
Di mana pun tempat yang dapat mengembalikanku kembali.
New version of Arkaana Risjad
Seandainya saja malam itu aku mengatakan yang sejujurnya, Mengatakan bahwa aku memiliki rasa, Mengungkapkan bahwa aku mencintaimu, Mengutarakan bahwa aku memiliki rasa yang sama, Pasti penyesalan ini tak perlu aku rasakan.
My favorite scene 💕
Sekali lagi, Kala malam hari bara emosimu menyala, Kamu menghubungiku, Dan aku dengan senang hati berlari ke tempatmu, Lalu memberimu pelukan dari belakang, Karena aku tahu bahwa hanya dengan itu bara emosimu mereda. Pelukan dari belakang itu, Sekaligus menjadi tanda bahwa aku memendam rasa. Bagiku, cukup seperti ini, Kamu selalu membutuhkanku, Maka aku tak mengharap lebih, Cukup dengan kamu berada di sisiku, Maka semua terasa pas.
Habis banget baca ulang novel yang lama dipinjem baru balik. Wedding Rush judulnya. Intinya itu tentang sahabat yang saling jatuh cinta gitu. Demi apa dah, cobaan persahabatannya mereka gede banget. Sampai akhirnya sama-sama sadar kalo saling jatuh cinta gitu.
Dulu banget, aku masih yakin kalo prinsipku nggak akan jatuh cinta sama sahabat sendiri. Jujur aja, aku punya beberapa sahabat cowok yang selalu aku andalkan di segala situasi. Dan dalam pikiranku, jatuh cinta sama sahabat sendiri itu nggak enak. Kek main judi, kalo kamu hoki kamu menang, kalo kalah kamu bakal kehilangan dua hal, sahabat dan orang yang kamu cinta.
Aku selalu yakin sama diriku sendiri bahwa aku bisa memberi batasan antara persahabatan dan cinta. Sampai di titik aku baca ulang novel itu. Gara-gara buku itu, sekali lagi aku memikirkan prinsipku. Bisakah? Karena seperti kata Daka dalam buku itu, terlalu lamanya mereka bersahabat membuat mereka tidak bisa membedakan antara rasa sayang persahabatan dan sayang antar cowok sama cewek, semua jadi nggak jelas.
Dan saat aku merasa bahwa aku perlu membuat batasan dan jarak terhadap suatu hal. Aku saat ini berpikir bahwa itu mungkin hal yang benar untuk dilakukan. Untuk menghindari dari aku yang terlalu bergantung pada seseorang. Yang mungkin saja nantinya membuat rasaku berubah.
Jatuh cinta pada orang asing mungkin lebih enak, karena saat kita patah hati, masih ada sosok sahabat yang ada di sekitar kita untuk menghibur dan menata kembali hati kita. Lalu, saat jatuh cinta pada sahabat dan hubungan itu tidak berjalan baik, maka tak ada yang membantu dalam menata serpihan itu kembali.
Meskipun aku telah paham bahwa kamu tak mungkin mengangkatnya, Tapi hatiku yang percaya bahwa kamu tak seburuk itu masih saja menelponmu, Aku hanya terlalu merindu suaramu, Angkat saja telpon dariku! Katakan apa saja, Bahkan jika kamu memakiku dan mengatakan untuk berhenti menelpon, Aku tak apa, Karena yang kubutuhkan adalah suaramu. Untukmu, Aku rela menjadi orang bodoh yang setiap saat bermain dengan peluang, Berharap di suatu malam, Kamu akan mengangkat teleponku, Dan aku dapat mendengar suaramu.
Aku membutuhkanmu, Untuk kita. Aku membutuhkanmu, Untukku sendiri. Lalu, jika hubungan ini tentang kita, Ijinkan aku bertanya, Mengapa hanya aku yang merasakan cinta? Mengapa hanya aku yang terluka? Mengapa kurasakan bahwa kamu mencipta jarak? Lalu, jika hubungan ini melukaiku, Mengapa kamu tetap terlihat mempesona? Mengapa aku tak mampu melangkah? Mengapa kamu masih menahanku? Aku benci, Aku benci keadaan di mana aku tak bisa membencimu, Atau melepasmu pergi.
Pada jalanan yang tersemat rangkaian kisah kala itu,
Aku ingin mengucapkan terima kasih,
Karena telah sudi tersenyum dan menulis kisah kita,
Teruntukmu yang kini beralih di persimpangan kala itu,
Ijinkan aku untuk menemuimu, sekali lagi,
Untuk menuntaskan rindu.
Aku ingin memelukmu.
Ijinkan aku memelukmu.
Hanya sepuluh detik.
Aku hanya membutuhkan sepuluh detik untuk memelukmu,
Aku hanya membutuhkan sepuluh detik untuk menuntaskan rindu,
Hanya sepuluh detik.
Ijinkan aku hanya sepuluh detik berpura menjadi kekasihmu.
Sebelum aku terlempar pada kenyataan,
Bahwa kamu adalah miliknya.
Teruntuk Kamu
Hal yang paling aku ingat diantara semua kenangan kita adalah
Saat kamu berjalan di depan rumahku,
Dan aku hanya memandangmu dari jendela,
Hanya sesederhana itu, namun mampu membuatku tersenyum.
Lalu, ketika semesta memihak kepadaku,
Aku mampu untuk berbincang ringan denganmu,
Kamu perlu tau betapa bahagianya aku berbagi tawa denganmu,
Atau saat kita sedang berlomba mengayuh sepeda,
Atau saat kamu memberiku sebungkus permen,
Atau saat kamu menceritakan tentang band kesukaanmu.
Banyak yang membuatku bahagia disebabkan olehmu,
Termasuk saat aku mengetahui bahwa ternyata aku masuk di sekolah yang sama denganmu dulu.
Yang pertama memang tak akan pernah tergantikan, bukan?
Karena tak ada kata yang kedua ataupun ketiga,
Begitu pun kamu,
Bagiku, kamu adalah pengalaman pertamaku merasakan sesuatu yang baru,
Sebuah rasa yang banyak mereka namakan dengan cinta.
Kamu adalah sebuah lagu yang selalu kudengar,
Tokoh utama dari film yang aku tonton,
Dan peran utama dari semua tulisan yang aku buat,
Dulu.
Sebelum aku sadar bahwa cinta bukan hanya persoalan tentang memiliki,
Meskipun aku ingin.
Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat aku mengenalmu,
Bukan juga waktu yang lama mengenalmu,
Aku masih belum paham kamu,
Dan aku telah lama berhenti untuk menjadi serakah,
Kebahagiaanmu belum tentu kebahagiaanku,
Meskipun begitu, aku tak pernah menyesal pernah mengenalmu,
Meskipun tak semua rasa itu bernamakan bahagia,
Meskipun perih pernah kurasa,
Meskipun air mataku pernah disebabkan olehmu,
Aku tak menyesal,
Termasuk saat sekali lagi aku membuat karya tentangmu saat ini,
Aku membuatnya sambil tersenyum,
Seraya mengingat kembali kenangan kita kala itu,
Teruntuk kakak kelasku di masa putih biru,
Selamat ulang tahun,
Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi,
Dan semua yang kamu inginkan tercapai.
Aku hanya tidak bisa mencintaimu, Seberapa besar pengorbananmu, Seberapa banyak yang kamu berikan, Seberapa tulus rasamu padaku, Aku tetap tak bisa mencintaimu, Karena... Ada hati yang aku jaga, Ada cinta lain yang tulus, Di mana hatiku juga memihak padanya.
Jika aku boleh meminta, Aku ingin sehari saja waktumu, Dan sepuluh detik berada di pelukanmu, Untuk mengatakan bahwa aku memiliki rasa, Untuk mengabarkan bahwa akhirnya aku jatuh hati, Ijinkan aku untuk berada di pelukanmu, Sebelum nantinya aku kembali pada realita, Bahwa kamu adalah miliknya.